Tag Archives: sosial

Dakwah Syariah Santri |Resolusi Sosial Dan Moral

Oleh: Muhammad Daffa

Musthofa al-Gholayani. Seorang politikus, aktivis sosial, pakar bahasa, dan sastra Arab asli Syiria menyimpulkan: “Seluruh bangsa yang sedang mengidap penyakit sosial (disease) lebih membutuhkan dokter sosial ketimbang pengobat jasad kasar masyarakatnya. Ketika anak-anak bangsa lebih banyak dikirimkan ke sekolah kedokteran dan sedikit sekali yang dididik di madrasah moral dan sosial, maka hal ini adalah suatu tanda kerusakan moral di hati mereka. Sementara kemajuan bangsa tidak akan tercapai kecuali moral sosial diobati oleh pegiat yang tumbuh aktif dalam diri bangsa itu sendiri”.

Apa yang disampaikan beliau, hari ini sudah terasa. Saat ini, umat muslim sedang berada pada masalah internal maupun di luar dirinya. Maka satu-satunya kelompok masyarakat Indonesia yang ideal untuk memperbaiki komponen sosial adalah santri.

Penyimpangan moral (Social contagion) kaum muslimin sampai penetrasi negara-negara adidaya yang menyisakan perasaan kekalahan (social lag) Islam, serta persaingan antar lapisan sosial dunia untuk mendapatkan posisi terdepan, yang hanya menciptakan konflik pergolakan (confusion) dengan diperparah oleh jaringan informasi internet—mengharuskan santri sebagai social worker (aktivis sosial), untuk lebih serius dalam melecutkan aktivitas sosialnya.

Peran Santri

Santri sebagai penyerap dan penghayat ajaran Islam di pesantren (lembaga paling efektif dan fokus di bidang agama), haruslah bisa memberikan wujud perbaikan dalam komunitas komunal. Karena sungguh pegiat sosial seperti santri, memiliki manhaj istimewa rekonstruksi sosial integral (metode perbaikan sosial yang menyeluruh) dalam bidangnya. Mengingat Islam sendiri membawa pesan-pesan perbaikan (sosial rekonstruktion), diantaranya budaya dakwah.

Dalil (Judgement law) dakwah termaktub dalam firman Allah swt:

ولتكن منكم امة يدعون الى الخير و يامرون بالمعروف وينهون عن المنكر و اولئك هم المفلحون

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang meyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung”. (Q.S. Ali-Imron 104)

Arahan dakwah kepada kebajikan menurut al-Baidhowi, menyeluruh pada segala hal bermuatan kebaikan duniawi atau ukhrawi. Bahkan Habib Abdullah bin Alawy al-Haddad menegaskan artian dakwah memuat segala dalil yang menjelaskan keutamaan mengajar, belajar, ceramah, mengingatkan, jihad dan amar ma’ruf nahi mungkar adalah satuan cabang dakwah. Kandungan luas ini akan menyentuh seluruh problem yang ada sekarang.

Dalam ayat di atas, selain memberikan legalitas dakwah, terselip kewajiban secara terbuka (fardlu kifayah) untuk orang-orang berilmu supaya aktif dalam menggencarkan dakwah. Sebab alasan ini diperjelas dengan ayat:

فلولا نفرمن كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم اذا رجعوا اليهم لعلهم يحذرون.

“Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)

Syarat Pendakwah

Konklusinya, dakwah sebagai pekerjaan sosial hanya legal dan wajib dijalankan oleh orang-orang berlimu (kompatibel). Karena jika tidak, muatan dakwah hanya menimbulkan kegaduhan berupa bid’ah, kafir, cenderung ekstrim, dan radikal. Bahkan sampai penghalalan darah sesama.

Menariknya, upaya rekonstruksi sosial menurut sociology of religion ini, merupakan cara untuk menyatukan dan merawat masyarakat bangsa. Sebab ayat dakwah di atas adalah penjelasan ayat sebelumnya, berupa:

واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا ( ال عمران : 103 )

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali agama Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (Ali-imron 103)

Al-Muraghy menjelaskan ayat ini bahwa sebuah bangsa tidak akan maju kecuali dengan persatuan seluruh masyarakatnya, tidak berdasarkan saling membenci dan memusuhi. Maka agama menyerukan persatuan seluruh elemen yang terakomodir dalam bumi yang satu, meski berbeda agama dan jenis. Dan memerintahkan semua elemen berpengang teguh dengan ajaran Allah Swt.

Kita dapat membuktikan kesohihan statement ini dengan merujuk sejarah negara Islam pertama, Madinah dengan piagamnya sebagai undang-undang dasar yang disusun sendiri oleh Rasulullah Saw. Harmonisasi antar umat beragama, ragam suku dan ras, memiliki kewajiban dan hak sama di mata hukum, serta saling peduli untuk melindungi negara.

Merawat Persatuan

Lanjut al-Muraghy, setelah perintah persatuan, dalam surat Ali-Imron 14 (ayat dakwah), Allah Swt. menyerukan untuk memotifasi semua personal umat untuk mengikuti, melestarikan, menjaga ajaran agama, menanamkan rasa kecintaan dan simpati individu, untuk menebar kebaikan bagi seluruh umat. Bukan mencintai diri sendiri dan kepentingannya. Dengan demikian, masyarakat memiliki ikatan yang kuat dalam persatuan, guna meraih kebaikan bersama, layaknya tubuh yang satu.

Artinya, dakwah adalah kontrol sosial yang mempersatukan dan mengisinya dalam kebaikan bersama. Sangat irasional bila dakwah dijadikan bilah pedang untuk memecah belah umat. Padahal perpecahan begitu mengerikan. Sehingga Syekh Yasir, Direktur Madrasah Al-Ghozaliyah Syiria, mewanti-wanti agar keadaan yang menimpa Syiria tidak terjadi di Indonesia. Dalam urgensi mejaga persatuan dan keamanan ini, beliau sampai berpesan:

الحاكم الظلوم خيرمن فتنة تدوم

“Pemerintah yang berbuat lalim labih baik dari fitnah ) perpecahan dan penumpahan darah) yang berlarut-larut.”
Maka dalam dakwah diperlukan kesabaran dan kelembutan, karena tujuan maslahat tidak mungkin dicapai dengan cara menempuh mafsadah. Meski pemerintahan seakan membuta tulikan diri terhadap aktifitas penyimpangan. Walaupun seakan perbuatan itu tidak dapat dihentikan kecuali ‘membakar sarang’. Sekalipun Muslimin memiliki power sosial, namun jika ada perlawanan kembali dengan cara yang sama, tidak dalam waktu lama—yang tersisa hanyalah darah, puing, dan kebodohan.

Mengenai wasilah dakwah, As-Sa’di berpendapat; “Perintah tentang sesuatu adalah mengerjakan hal itu sekaligus untuk melaksanakan penyempurnanya jika tidak dapat disempurnakan kecuali dengan hal tersebut. Maka seluruh penyaluran dakwah berhukum sama dengan dakwah itu sendiri.” Dan segala hal yang dapat mewujudkan tujuan dakwah mungkin bisa untuk ditempuh selagi tidak diharamkan secara syara’. Dengan arti mendirikan sekolah dan membantu pemerintah untuk menerapkan hukum bernafas syariat. Baik apresiasi melalui ucapan, tindakan, dan harta—sama hukumnya dengan dakwah. Substansi ini memiliki pemahaman kegiatan dakwah di dunia maya, baik konten berupa tulisan, gambar, suara, dan video, memiliki hukum yang yang sama.

Ciri Peradaban yang Maju

Menurut teori Ibnu khaldun, fenomena sosial yang terjadi saat sebuah peradaban mulai maju ialah masyarakatnya akan peduli pada hal tersier (tahsiniah). Salah satunya adalah kesenian. Kesenian dalam arti umum yaitu karya yang mewujudkan keindahan yang dapat dinikmati fikiran dan sanubari. Dalam konteks ini, maka keindahan bintang, bulan, gugusan gunung, dan bukit—keterampilan, kecantikan, dan ayat-ayat Tuhan, adalah kesenian tidak tertandingi dalam arti verbal yang umum. Dan, dalam kesenian juga dapat memasukan syair atau puisi, prosa, novel, tabloid kekinian dalam artian yang sama.

Kesenian Dakwah

Di era digital, film dan musik dengan ragamnya adalah bentuk hiburan kesenian modern. Yahya Ridho Jadd, ulama kontemporer Mesir menyampaikan, harusnya kaum Muslimin mulai merintis dakwah melalui kesenian, bukan lagi membahas landasan dasar hukumnya. Pasalnya saat ini, umat manusia tidak dapat terlepas dari kesenian. Bahkan menurutnya, sangat aneh bila para Mufti mengharamkan kesenian, karena mereka tidak mengerti apa itu seni. Uraian Yahya berikutnya, selagi sebuah kesenian diformulasikan dengan moral dan ajaran syara’, maka kesenian adalah metode dakwah yang dapat bertrasformasi hukum; baik mubah, mandub, atau wajib disesuaikan dengan keadaan.

Sebuah analisa yang baik ini, dapat dijadikan perbandingan. Khususnya dalam dunia perfilman kita, baik melalui TV nasional atau layar lebar—sudah terjadi perang budaya yang jomplang dan menyedihkan. Padahal aktor, sutradara, produsen, dan mayoritas penonton adalah Muslim. Belum lagi hiburan sejenis yang dipancarkan jaringan internet. Di dunia musik juga tak jauh bebeda.

Yahya Ridlo Jadd menuturkan, pertama muncul seni teather sandiwara di Mesir, dimulai dan dipelopori oleh Abdurrahman al-Bana (ayah Hasan al-Bana pendiri Ikhwanul Muslimin) sebelum abad 20. Sementara beribu kilo meter, berbeda pulau, bahasa, jauh sekali sebelum di Mesir itu, guru seluruh santri, Sunan Kalijaga telah bersafari dakwah dengan kesenian wayang, tari, musiknya. Bahkan masjidnya dibangun sesuai seni dan falsafah yang elok memikat masyarakat. Hari ini, santri adalah pewarisnya. Cukup sudah mengimpor metode dan tatbik (penerapan) dari Timur Tengah. Sebab kita memiliki metode yang lebih mapan, moderat, damai, dan jauh dari kontradiksi, ketidakpastian serta perang seperti negara-negara jauh di sana.[]

Tentang penulis:
Nama : Muhammad Daffa
TLL : Chilegon, 04 Juni 2001
Wali : H. Rohmatullah
Alamat : JL. Kubangwates RT. 01 RW. 02 Ciorawaseh Grogol Cilegon BANTEN
Pondok : HMC

Baca juga:
HARGA SEBUAH RASA AMAN

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Santri Mengaji
LIM Production

# DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL
# DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL
# DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL
# DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL
# DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL

Di Sudut Peta Kehidupan

Liku kehidupan memang tidak bisa dihindari. Sebagai makhluk sosial, manusia sudah seharusnya berinteraksi dengan yang lain baik sesama manusia atau dengan makhluk lainnya. Dalam hal ini, berarti manusia sudah seharusnya bisa mengetahui keadaan sosialnya seperti: dia siapa, dimana dan harus bagaimana. Artinya, dia harus paham letak dirinya dalam peta dan pola kehidupan yang sedang terjadi. Ini rumus dasar kehidupan yang sudah semestinya dijalankan oleh tiap-tiap individu.

Dalam kaitannya dengan status mahluk sosial, setidaknya interaksi manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga. Yang pertama adalah manusia dengan penciptanya, manusia dengan manusia lalu manusia dengan mahluk lainnya atau alam.

Untuk interaksi manusia dengan alam, hal itu terlihat dengan bukti adanya lembaga-lembaga khusus untuk fokus menangani dan menjaga kelestarian alam. Alam sendiri memang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia di belahan dunia mana pun. Dingin salju, terik matahari di gurun, angin pantai, tornado yang melanda Florida, kekeringan, banjir dan beberapa hal yang ada adalah salah satu dinamika alam yang menuntut tanggap-sikap yang tepat.

Untungnya hal itu adalah perkara yang masuk ruang nalar walaupun terkadang terlalu jauh untuk menjangkaunya. Memang keanekaan ragam seolah menjadi sulit untuk menembusnya dan menyatukan dalam batas-batas. Walau demikian, hal itu tidak sampai mengganggu kerangka emosi dan pikiran manusia pada umumnya. Jika di bandingkan dengan kasus interaksi manusia dengan manusia, kiranya dalam permasalahan ini akan bertolak belakang disebabkan faktor yang bermacam macam.

Kesadaran manusia tentang statusnya sebagai makhluk sosial, ini membuatnya berusaha menciptakan kaidah kaidah berbaur dengan sesama melalui para cendekia, pemikir, para ahli yang tertuang lewat tradisi dan budaya pada tiap masa dan lingkungannya; Dan pada gilirannya otomatis akan  timbul perbedaan aturan dan gaya baur mereka. Sederhananya, setiap pergaulan mempunyai budayanya masing-masing.

Sebagai contoh, jika ada pemuka adat jawa  datang di suatu acara, maka sebagai rakyat biasa sudah seharusnya duduk atau setidaknya agak membungkukkan badan seraya menundukkan kepala sebagai simbol penghormatan untuk pemukanya. Lain dari itu, etnis arab justru akan berdiri jika ada tokoh yang menurutnya harus dihormati. Ini menunjukkan jika dalam bersikap banyak terpengaruh oleh tradisi yang melekat pada individunya.

Melihat rumusan analisa ini, sudah sewajarnya ada perkara yang pasti timbul dalam ruang kehidupan. Yaitu, perbedaan. Disini literasi dan pengetahuan mutlak diperlukan guna melangsungkan pemahaman yang sesuai dengan tradisi sosial yang bersinggungan dengan budaya bahkan agama.

Sebagai contoh, sudah seharusnya pemeluk agama islam menggali ajaran islam demi kelangsungan hidup yang tidak menembus batas norma-norma yang telah di tentukan. Miris, banyak pihak yang mengedepankan literasi yang sebenarnya disadari atau tidak, hal itu kurang sesuai dengan keadaan individualnya. Mengapa banyak yang mengedepankan ideologi-ideologi yang dalam penerapannya terlihat tabu dan bahkan menjadi sumber huru-hara. Hal ini memberikan kesan seolah-olah literaturnya begitu sempit.

Sebagai muslim, sudah seharusnya menggali pengetahuan melalui literaturnya. Sebagai rakyat Jawa misalnya, sudah semestinya belajar tradisi Jawa melalui literaturnya sehingga tidak tercampur aduk yang pada gilirannya akan menghantarkan pada batas semu antara ajaran agama dan tradisi.

Berbicara soal masalah, orang dengan standar nalar sehat akan meminta bantuan pada pakarnya jika orang tersebut kurang dan tidak mampu menghadapi. Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surat al-Anbiya’ ayat 7 :

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

“Maka bertanyalah kepada orang yang tahu jika kamu tidak tahu”

Orang akan pergi ke bengkel, kiai, penjahit dan pakar lain sesuai kebutuhan.

Namun akhir-akhir ini prinsip tadi terlesan begitu jarang terlihat. Dalam permasalahan agama banyak pihak mendadak menjadi pakar agama, begitu pun dalam hal-hal lainnya. Pendeknya, yang terjadi sekarang adalah “Tontonan jadi tuntunan, tuntunan hanya jadi tontonan,” lebih-lebih dizaman medsos yang meraja ini; Siapa viral, dia jadi panutan. Maka muncullah panutan-panutan atau ‘ulama-ulama’ dadakan yang kapasitasnya masih belum jelas atau bahkan diragukan. Oleh karenanya, kita harus teliti menyikapi keadaan yang semakin lucu ini, tidak mudah terseret dalam arus medsos dsb. Malu bertanya sesat di jalan. Orang Jawa bilang: “Sopo tekun golek teken bakal tekan”. Wallahu a’lam.

Penulis: M. Ibnu Najib, santri Ma’had Aly PP. Lirboyo semester VII asal Magelang.

Mengapa Harus Fiqih Muamalah?

Sebagai makhluk sosial yang hidup di tengah-tengah masyarakat, manusia tidak pernah terlepas dengan kehidupan yang ada di sekitarnya. Dalam teori ilmu sosial, interaksi antar sesama manusia tidak akan pernah terlepas selama manusia tidak mampu untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya.

Sudah diketahui bersama bahwa Islam adalah agama yang universal dan paripurna. Di dalamnya mengatur seluruh tatanan kehidupan, seakan tidak memberi peluang celah sedikitpun untuk meloloskan perkara tanpa sentuhan hukum syariat. Selain mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, Islam juga mengatur hubungan horisontal antar sesama manusia. Maka dari sinilah muncul istilah Fiqih Muamalah yang merupakan implementasi dari hubungan antar manusia tersebut.

Dalam term Fiqih klasik, Fiqih Muamalah menempati tangga urutan kedua setelah pembahasan mengenai praktek ibadah sehari-hari (‘Ubudiyah). Hal ini bukan berarti tanpa dasar, mayoritas para ulama berargumen bahwa hubungan muamalah antar manusia merupakan kebutuhan sekunder yang paling dibutuhkan setelah kebutuhan primer untuk beribadah kepada Tuhannya. Bahkan seluruh pembahasan Fiqih Muamalah telah mencakup seperempat dari semua pembahasan mengenai Ilmu Fiqih.

Urgensitas Fiqih Muamalah

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”, (QS. An-Nisa’: 29).

Islam memiliki perhatian serius terhadap dinamika sosial dan ekonomi umat. Sebab, aktivitas sosial-ekonomi merupakan salah satu pilar dari enam asas primer kehidupan (Al-Mabadi’ As-Sittah) yang menjadi cita-cita Islam (Maqashid As-Syari’ah), dimana Islam hadir untuk melindunginya. Yaitu perlindungan agama (Hifdhu Ad-Din), perlindungan jiwa (Hifdhu An-Nafs), perlindungan intelektual (Hifdhu Al-‘Aqli), perlindungan garis keturunan (Hifdhu An-Nasli), perlindungan harta (Hifdhu Al-Mal), dan perlindungan harga diri (Hifdhu Al-‘Irdhi).

Proyek dari perhatian serius yang diberikan Islam terhadap aktivitas sosial dan ekonomi adalah melalui legislasi konsep-konsep interaksi sosial (Fiqih Muamalah) dalam khazanah fiqih. Hal ini ditujukan dalam rangka memberikan penjagaan dan perlindungan terhadap asas-asas primer kehidupan tersebut, agar memungkinkan terciptanya kemaslahatan.

Secara pengertian sederhana, dapat dipahamai bahwa Fiqih Muamalah merupakan sebuah hukum Islam yang mengatur hubungan antara satu individu dengan individu lainnya, yang bertujuan untuk menjaga hak-hak manusia, merealisasikan keadilan, rasa aman, terwujudnya keadilan dan persamaan antara individu dalam masyarakat (maslahat), serta menjauhkan segala kemadaratan yang akan menimpa mereka.

Esensi dan konsep interaksi sosial-ekonomi (Muamalah) yang ditawarkan oleh Islam bukanlah sistem yang berorientasi pada kalkulasi antara untung dan rugi belaka, seperti esensi dari konsep yang ditawarkan sistem ekonomi kapitalisme yang hanya melahirkan kesenjangan sosial semata. Namun, konsep muamalah yang diusung Islam adalah konsep hubungan interaksi dalam kehidupan yang berorientasi pada nilai-nilai kemaslahatan dan keadilan.

Konsep kajian muamalah ini dapat dibuktikan dengan model kajian dan aturan yang dibahas di dalamnya. Seperti pelarangan praktek riba yang menindas, praktek manipulasi (Gharar) yang merugikan, praktek perjudian (Qimar) yang kotor, serta praktek spekulasi (Majhul) yang tidak jelas. Karena pada dasarnya, Islam melalui kajian Fiqih Muamalah melandaskan legalitas di setiap interaksinya, yang mana hal tersebut didasari atas saling rela dari pihak yang melakukan transaksi (An Taradlin). Sebagaimana sebuah hadis:

إِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ

Sesungguhnya Akad Jual-Beli hanya dilandasi saling rela”, (HR. Ibnu Majah).

Dari uraian tersebut, tidak berlebihan kiranya apabila dikatakan bahwa pemahaman, pengamalan, dan penyebaran Fiqih Muamalah menjadi suatu yang mendesak untuk saat ini.  Fiqih Muamalah merupakan solusi dan inovasi mutakhir di tengah kegersangan spiritual ekonomi umat. Karena prinsip dasar yang ditanamkan Islam dalam proyek membumikan Fiqih Muamalah adalah sukarela (Taradlin), keadilan (Ta’adul), saling membantu (Ta’awun), dan menciptakan kemaslahatan global (Rahmatan lil ‘alamin).

[]waAllahu a’lam

 

 

Hari Santri, Pesantren se-Jawa-Madura Berbahtsul Masail di Cirebon

LirboyoNet, Kediri — Ratusan santri dari 41 pondok pesantren se-Jawa Timur berkumpul di pondok pesantren Lirboyo, Kamis pagi (20/10/16).  Rencananya, mereka akan berangkat bersama-sama ke Pesantren Babakan, Ciwaringin, Jawa Barat. Jauh-jauh ke sana, untuk apa?

Dengan diantar tiga bus, mereka akan mengikuti Bahtsul Masail ke-30 yang diselenggarakan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-Jawa Madura. Rincinya, bahtsul masail dilaksanakan pada Jum’at-Sabtu, 20-21 Muharram/21-22 Oktober.

Bukan kebetulan jika agenda bahtsul masail ini bertepatan dengan Hari Santri Nasional (22 Oktober). Karena, sebagaimana yang diberitakan radarcirebon.com,  selain bahtsul masail, panitia telah menyiapkan beberapa agenda bagi para peserta. Diantaranya, pemutaran film “Jalan Dakwah Pesantren” dan halaqah kebangsaan.

Demam “pesantren dan nasionalisme” memang sangat kentara dalam agenda FMPP kali ini. Ketua panitia, KH. Arwani Syaerozi menyatakan, dalam kesempatan ini, banyak isu nasional yang menjadi tema masalah untuk dirumuskan nantinya oleh para peserta. Diantaranya, “Implementasi Resolusi Jihad di Era Post Modern”, “Piagam Madinah sebagai Konstitusi Negara untuk Masyarakat Plural”, dan “Menggugat Perda Syariat”. Materi soal yang akan dibahas selengkapnya bisa didownload di link ini.

Terlepas dari apapun yang dihasilkan nanti, forum ini adalah usaha untuk mencari dan menemukan rumusan intelektual atas studi kasus terkini, dari tema politik (siyasah), tema global (mashlahah ‘ammah), hingga sosial (ijtima’iyah) semisal . Tentu saja, konsep rumusan ini memiliki jangkauan superluas, karena fikih memang sebuah ranah yang tak akan habis dan mentok untuk dikaji. Karenanya pula, santri, yang notabene hari-harinya ditenggelamkan oleh kajian fikih, menanggung sebuah peran berat: mentransformasi nilai-nilai fikih itu dalam tema-tema yang tak berhenti berkembang di dalam masyarakat.][