HomeSantri MenulisDi Sudut Peta Kehidupan

Di Sudut Peta Kehidupan

0 6 likes 86 views share

Liku kehidupan memang tidak bisa dihindari. Sebagai makhluk sosial, manusia sudah seharusnya berinteraksi dengan yang lain baik sesama manusia atau dengan makhluk lainnya. Dalam hal ini, berarti manusia sudah seharusnya bisa mengetahui keadaan sosialnya seperti: dia siapa, dimana dan harus bagaimana. Artinya, dia harus paham letak dirinya dalam peta dan pola kehidupan yang sedang terjadi. Ini rumus dasar kehidupan yang sudah semestinya dijalankan oleh tiap-tiap individu.

Dalam kaitannya dengan status mahluk sosial, setidaknya interaksi manusia bisa diklasifikasikan menjadi tiga. Yang pertama adalah manusia dengan penciptanya, manusia dengan manusia lalu manusia dengan mahluk lainnya atau alam.

Untuk interaksi manusia dengan alam, hal itu terlihat dengan bukti adanya lembaga-lembaga khusus untuk fokus menangani dan menjaga kelestarian alam. Alam sendiri memang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia di belahan dunia mana pun. Dingin salju, terik matahari di gurun, angin pantai, tornado yang melanda Florida, kekeringan, banjir dan beberapa hal yang ada adalah salah satu dinamika alam yang menuntut tanggap-sikap yang tepat.

Untungnya hal itu adalah perkara yang masuk ruang nalar walaupun terkadang terlalu jauh untuk menjangkaunya. Memang keanekaan ragam seolah menjadi sulit untuk menembusnya dan menyatukan dalam batas-batas. Walau demikian, hal itu tidak sampai mengganggu kerangka emosi dan pikiran manusia pada umumnya. Jika di bandingkan dengan kasus interaksi manusia dengan manusia, kiranya dalam permasalahan ini akan bertolak belakang disebabkan faktor yang bermacam macam.

Kesadaran manusia tentang statusnya sebagai makhluk sosial, ini membuatnya berusaha menciptakan kaidah kaidah berbaur dengan sesama melalui para cendekia, pemikir, para ahli yang tertuang lewat tradisi dan budaya pada tiap masa dan lingkungannya; Dan pada gilirannya otomatis akan  timbul perbedaan aturan dan gaya baur mereka. Sederhananya, setiap pergaulan mempunyai budayanya masing-masing.

Sebagai contoh, jika ada pemuka adat jawa  datang di suatu acara, maka sebagai rakyat biasa sudah seharusnya duduk atau setidaknya agak membungkukkan badan seraya menundukkan kepala sebagai simbol penghormatan untuk pemukanya. Lain dari itu, etnis arab justru akan berdiri jika ada tokoh yang menurutnya harus dihormati. Ini menunjukkan jika dalam bersikap banyak terpengaruh oleh tradisi yang melekat pada individunya.

Melihat rumusan analisa ini, sudah sewajarnya ada perkara yang pasti timbul dalam ruang kehidupan. Yaitu, perbedaan. Disini literasi dan pengetahuan mutlak diperlukan guna melangsungkan pemahaman yang sesuai dengan tradisi sosial yang bersinggungan dengan budaya bahkan agama.

Sebagai contoh, sudah seharusnya pemeluk agama islam menggali ajaran islam demi kelangsungan hidup yang tidak menembus batas norma-norma yang telah di tentukan. Miris, banyak pihak yang mengedepankan literasi yang sebenarnya disadari atau tidak, hal itu kurang sesuai dengan keadaan individualnya. Mengapa banyak yang mengedepankan ideologi-ideologi yang dalam penerapannya terlihat tabu dan bahkan menjadi sumber huru-hara. Hal ini memberikan kesan seolah-olah literaturnya begitu sempit.

Sebagai muslim, sudah seharusnya menggali pengetahuan melalui literaturnya. Sebagai rakyat Jawa misalnya, sudah semestinya belajar tradisi Jawa melalui literaturnya sehingga tidak tercampur aduk yang pada gilirannya akan menghantarkan pada batas semu antara ajaran agama dan tradisi.

Berbicara soal masalah, orang dengan standar nalar sehat akan meminta bantuan pada pakarnya jika orang tersebut kurang dan tidak mampu menghadapi. Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam surat al-Anbiya’ ayat 7 :

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

“Maka bertanyalah kepada orang yang tahu jika kamu tidak tahu”

Orang akan pergi ke bengkel, kiai, penjahit dan pakar lain sesuai kebutuhan.

Namun akhir-akhir ini prinsip tadi terlesan begitu jarang terlihat. Dalam permasalahan agama banyak pihak mendadak menjadi pakar agama, begitu pun dalam hal-hal lainnya. Pendeknya, yang terjadi sekarang adalah “Tontonan jadi tuntunan, tuntunan hanya jadi tontonan,” lebih-lebih dizaman medsos yang meraja ini; Siapa viral, dia jadi panutan. Maka muncullah panutan-panutan atau ‘ulama-ulama’ dadakan yang kapasitasnya masih belum jelas atau bahkan diragukan. Oleh karenanya, kita harus teliti menyikapi keadaan yang semakin lucu ini, tidak mudah terseret dalam arus medsos dsb. Malu bertanya sesat di jalan. Orang Jawa bilang: “Sopo tekun golek teken bakal tekan”. Wallahu a’lam.

Penulis: M. Ibnu Najib, santri Ma’had Aly PP. Lirboyo semester VII asal Magelang.