HomeKonsultasiHukum Mengubah Nama setelah Menunaikan Ibadah Haji

Hukum Mengubah Nama setelah Menunaikan Ibadah Haji

Konsultasi 0 0 likes 300 views share

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Di daerah saya, sering kali orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji mengubah namanya dengan nama-nama Islam. Contohnya seorang perempuan yang mulanya bernama Painem, setelah menunaikan ibadah haji berubah menjadi Hj. Maimunah. Bagaimanakah hukum mengganti nama seperti itu? Mohon penjelasannya. Termakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Evi, Surabaya-Jawa Timur)

______________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Musim haji telah usai, para jamaah haji pun sudah mulai berdatangan. Tak jarang, para jamaah yang baru pulang menunaikan ibadah haji memengubah namanya. Hal ini sering terjadi apabila sebelumnya ia memiliki nama non-Arab kemudian diubah dengan nama yang lebih islami.

Apabila dipahami, pada dasarnya mengubah nama ada kalanya wajib apabila nama yang dimiliki mengandung unsur keharaman, misalkan seseorang bernama Abdus Syaithan (hamba setan). Adapula mengubah nama itu hukumnya sunah apabila nama itu hukumnya makruh, misalkan seseorang bernama “Keledai” atau nama-nama yang tidak jelas artinya. Ada pula hukum mengubah nama sekedar mubah (boleh) apabila nama seseorang itu tidak mengandung unsur keharaman dan kemakruhan. Sebagaimana penjelasan imam Al-Bajuri:

وَتُكْرَهُ الْاَسْمَاءُ الْقَبِيْحَةُ كَحِمَارٍ وَكُلِّ مَا يَتَطَيَّرُ نَفْيُهُ اَوْ اِثْبَاتُهُ وَتَحْرُمُ التَّسْمِيَّةُ بِعَبْدِ الْكَعْبَةِ اَوْ عَبْدِ الْحَسَنِ اوَ عَبْدِ عَلِيٍّ ويَجِبُ تَغْيِيْرُ الْاِسْم الْحَرَامِ عَلَى الْأَقْرَبِ لِأَنَّهُ مِنْ اِزَالَةِ الْمُنْكَرِ

Dimakruhkan nama-nama yang memiliki arti buruk, seperti “Keledai” dan segala nama yang tidak jelas eksistensinya. Haram pula memberi nama Abdul Ka’bah, Abdul Hasan, Abdu Ali (Hamba Ka’bah, hamba Hasan, hamba Ali). Maka wajib mengubah nama-nama yang memiliki unsur haram semacam itu dalam rangka menghilangkan kemungkaran.”[1]

Dan yang perlu dipahami, hukum-hukum mengubah nama tidak ada kaitannya dengan prosesi ibadah haji. Jadi kapan pun dapat dilakukan sesuai dengan perincian hukumnya. []WaAllahu a’lam


[1] Al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri, (Surabaya: Maktabah Dar al-Ilmi, t.t.) II/305.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.