All posts by Nasikhun Amin

Memilih Imam Salat yang Pandai Fikih atau Hafal Al-Qur’an?

Dalam salat berjamaah, sosok Imam menjadi hal yang sangat urgen. Untuk itu, ada beberapa orang dengan kriteria tertentu yang lebih diprioritaskan dan dinilai lebih layak untuk menjadi imam salat jamaah.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam salah satu hadisnya:

إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ، وَأَحَقُّهُمْ بالإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ

“Kalau ada tiga orang, maka hendaklah salah satu dari mereka menjadi imam. Dan yang lebih berhak menjadi imam adalah yang paling pandai bacaan Al-Qur’an-nya.” (HR Muslim)

Dari hadis tersebut dijelaskan bahwa orang yang pandai bacaan Al-Qur’annya lebih didahulukan untuk menjadi imam memiliki konteks yang berbeda. Namun menurut fakta yang ada pada zaman Rasulullah SAW, seluruh Sahabat Nabi SAW lebih dulu belajar fikih kemudian menghafal Al-Qur’an. Sehingga dapat dipastikan semua Sahabat yang hafal Al-Qur’an pasti dia sudah pandai fikih. (Lihat: Zakaria al-Anshari, Asna al-Mathalib, I/220)

Dengan hadis ini, secara sekilas pertanyaan di judul telah terjawab. Namun kenyataannya, para ulama ahli fikih justru mengatakan bahwa orang yang pandai fikih lebih layak menjadi imam salat jamaah daripada orang hafal Al-Qur’an (hafidz).

Di antaranya adalah penjelasan Syekh Khatib asy-Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj berikut:

(وَالْأَصَحُّ أَنَّ الْأَفْقَهَ) فِي بَابِ الصَّلَاةِ وَإِنْ لَمْ يَحْفَظْ قُرْآنًا غَيْرَ الْفَاتِحَةِ (أَوْلَى مِنْ الْأَقْرَأِ) وَإِنْ حَفِظَ جَمِيعَ الْقُرْآنِ. لِأَنَّ الْحَاجَةَ إلَى الْفِقْهِ أَهَمُّ لِكَوْنِ الْوَاجِبِ مِنْ الْقُرْآنِ فِي الصَّلَاةِ مَحْصُورًا وَالْحَوَادِثُ فِيهَا لَا تَنْحَصِرُ، وَلِتَقْدِيمِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَبَا بَكْرٍ فِي الصَّلَاةِ عَلَى غَيْرِهِ مَعَ وُجُودِ مَنْ هُوَ أَحْفَظُ مِنْهُ لِلْقُرْآنِ.

“Menurut pendapat yang lebih sahih: Sesungguhnya orang yang pandai fikih, dalam bab salat, meskipun tidak hafal Al-Qur’an lebih didahulukan daripada orang pandai bacaan dan hafal seluruh Al-Qur’an. Sebab kebutuhan akan fikih jauh lebih penting karena kewajiban yang berkaitan dengan Al-Qur’an dalam salat sangat terbatas, sementara permasalahan hukum fikih di dalamnya tidak terbatas. Hal itu juga bertendensi dari Rasulullah SAW yang lebih mendahulukan Sahabat Abu Bakar RA daripada Sahabat yang lain dalam hal mengimami salat meski kenyataannya ada Sahabat yang lebih baik hafalan Al-Qur’annya.” (Lihat: Khatib asy-Syirbini, Mughni al-Muhtaj, I/486)

Dengan demikian, untuk konteks zaman sekarang, ketika dihadapkan pada pilihan di atas maka yang paling diprioritaskan untuk menjadi imam salat adalah orang yang pandai fikih daripada orang yang hafal Al-Qur’an. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
SALAT DISENTUH ANAK KECIL YANG BELUM KHITAN, BENARKAH SALATNYA BATAL?

Simak juga:
Pengajian Kitab Al-Hikam

# Memilih Imam Salat yang Pandai Fikih atau Hafal Al-Qur’an?
# Memilih Imam Salat yang Pandai Fikih atau Hafal Al-Qur’an?

Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani

Saat masih belia, Syekh Abdul Qodir Al-Jilani mencari ilmu dengan melakukan perjalanan dari Kota Mekah menuju Kota Baghdad, Irak. Sang ibu pun membekalinya uang sebanyak 40 dinar yang dijahit di dalam ketiak bajunya. Sang ibu juga berpesan agar ia senantiasa menjaga kejujuran.

Ketika sampai di wilayah Hamdzan, datanglah sekelompok orang yang berusaha menghadang dan merampok rombongan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

Saat yang lain merampas harta para rombongan, salah seorang perampok menghampiri Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil dan bertanya, “Apa yang kau miliki?”

Mendengar pertanyaan itu, Syekh Abdul Qodir Al-Jilani pun memberitahu apa yang ia miliki, yakni uang saku sebanyak 40 dinar pemberian ibunya yang diletakkan di jahitan ketiak.

Perampok itu pun merasa aneh dan kemudian membawa Syekh Abdul Qodir Al-Jilani untuk dihadapkan pada pimpinannya. Pemimpin perampok itu pun menanyakan hal serupa. Dan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kembali mengulangi jawaban yang sama.

Mendengar jawaban itu, pemimpin perampok itu pun curiga dan bertanya, “Apa yang membuat engkau berkata jujur wahai anak kecil?”

“Ibu berpesan kepadaku agar aku senantiasa jujur. Dan aku takut untuk berkhianat terhadap pesan ibuku.” Jawab Syekh Abdul Qodir Al-Jilani dengan polosnya.

Untuk membuktikan kejujuran itu, pemimpin perampok itu pun menyobek pakaian Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. Dan benar, di dalamnya ada uang 40 dinar.

Meleleh

Sambil terharu, pemimpin perampok berkata, “Engkau takut untuk mengkhianati pesan ibumu. Sementara aku tidak sekali pun takut mengkhianati Allah.”

Ia pun memerintahkan para anak buahnya untuk mengembalikan semua barang hasil rampokan dari rombongan Syekh Abdul Qodir Al-Jilani.

“Aku bertobat kepada Allah di depanmu.” Kata pemimpin perampok kepada Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil.

Ia pun bertobat dan disusul para anak buahnya. Salah satu dari mereka pun berkata, “Engkau (pemimpin rampok) adalah pembesar kita dalam hal merampok. Dan Engkau (Syekh Abdul Qodir Al-Jilani kecil) adalah pembesar kita dalam bertobat.”

Sejak saat itu, semua perampok bertobat berkat kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani. []WaAllahu a’lam


Disarikan dari kitab Irsyad al-Ibad, halaman 71, karya Syekh Zainuddin al-Malibari.

Baca juga:
KISAH IMAM IBNU HAJAR DAN SEORANG YAHUDI PENJUAL MINYAK

Ikuti Juga:
Pengajian Kemis Legi 04 Februari 2021

# Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani
# Kisah Kawanan Perampok Tobat Berkat Kejujuran Syekh Abdul Qodir Al-Jilani

Mengenal Kitab Fathul Mu’in Karya Syekh Zainuddin Al-Malibari

Kitab Fathul Mu’in termasuk salah satu literatur fikih monumental yang sering dikaji dan dijadikan kurikulum disiplin ilmu fikih sebagian besar pondok pesantren di Indonesia. Umumnya, kitab ini menjadi bahan kajian atau kurikulum tingkat menengah bagi para santri atau pelajar yang telah menghatamkan kitab Fathul Qorib karya Syekh Ibnu Qasim al-Ghazi di tingkat dasar.

Memiliki nama lengkap Fathul Mu’in bi Syarh Qurrah al-‘Ain, kitab ini ditulis sebagai penjelas (Syarah) dari kitab sebelumnya, yakni Qurrah al-‘Ain bi Muhimmat ad-Din. Kedua kitab tersebut merupakan buah karya seorang ulama di wilayah Malaibar, India yang bernama Syekh Zainuddin al-Malibari (w. 987 H). Beliau termasuk salah satu murid Imam Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H), ulama terkemuka Mazhab Syafi’i.

Menurut penuturan penulisnya, kitab Fathul Mu’in ini merupakan kitab yang isinya merupakan kajian-kajian disiplin ilmu fikih pilihan yang merujuk pada kitab-kitab pegangan buah karya ulama-ulama besar sebelumnya. Di antaranya adalah dari kitab-kitab karangan guru beliau yakni Ibnu Hajar al-Haitami, juga kitab-kitab karangan Wajhuddin Abdurahman bin Ziyad Az-Zubaidi, dan lain-lain.

Metode Penulisan

Dalam hal metodologi penulisannya, kitab ini terkenal memiliki keunikan tersendiri, berbeda dengan kitab-kitab fikih pada umumnya. Hal ini dapat kita lihat dari kepiawaian Syekh Zainuddin al-Malibari dalam mengkolaborasikan bab-bab tertentu yang memiliki titik kesamaan ke dalam satu tema pembahasan. Salah satu contoh adalah mengkolaborasikan materi mengenai Qurban dan Aqiqah di akhir pembahasan-pembahasan terkait Haji.

Di sisi lain, Syekh Zainuddin al-Malibari tidak terpaku pada model penulisan yang terlalu sistematis dan penuh dengan konsep belaka. Akan tetapi beliau lebih memilih pada cara penulisan yang aplikatif. Sehingga dalam mengupas sebuah pembahasan tertentu, penulis sering kali memberikan contoh kasus permasalahan. Tentu saja model penulisan semacam ini lebih membantu pembaca dalam menerapkan hukum yang ada.

Di antara keistimewaan lain kitab ini adalah menyebutkan beberpa khilaf ulama yang beliau nukil dari kitab-kitab mereka yang mu’tabar dengan mentarjih pendapat mereka, baik secara langsung maupun secara isyarat.

Meskipun bobot pembahasan yang diusung terbilang berat, namun bahasa yang digunakan dalam kitab Fathul Mu’in terbilang ringkas. Untuk itu, demi mempermudah pembelajaran dan pengkajian terhadap kitab ini, banyak para ulama yang membuat karya lanjutan yang berupa Hasyiyyah (komentar penjelas). Di antara karya yang paling populer di Indonesia adalah Hasyiyah I’anah at-Thalibin karya Sayyid Abi Bakar Syato ad-Dimyati (w. 1310 H) dan Tarsyih al-Mustafidin karya Sayyid Alawi bin Ahmad Assegaf (w. 1335 H). []WaAllahu a’lam

Baca juga:
SEKILAS TENTANG KITAB FATHUL WAHHAB

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal

# MENGENAL KITAB FATHUL MU’IN
# MENGENAL KITAB FATHUL MU’IN

Pembagian Air dalam Fikih

Dalam fikih, keberadaan air memiliki peran penting sebagai salah satu media utama yang digunakan dalam bersuci, baik bersuci dari hadas atau bersuci dari najis. Karena itu, Islam memberikan aturan yang sangat ketat terhadap kriteria air yang dapat digunakan untuk bersuci.

Dari karakteristiknya, dalam Mazhab Syafi’i air terbagi menjadi empat kategori:

Pertama, air suci dan mensucikan serta tidak makruh untuk digunakan. Nama lainnya adalah air mutlak. Yaitu air murni yang menetapi sifat aslinya serta tidak terikat dengan nama yang selalu mengikat. Air Mutlak termasuk air suci dan mensucikan serta tidak makruh untuk digunakan. Menurut Imam Ibnu Qasim al-Ghazi, ada tujuh macam air yang termasuk air mutlak, yakni air hujan, air laut, air sungai, air sumur, air mata air, air salju, dan air dari hasil hujan es.

Air Mutlak

Secara ringkas air mutlak adalah air yang turun dari langit atau yang bersumber dari bumi dengan sifat asli penciptaannya. Bila sifat asli penciptaannya berubah maka ia tak lagi disebut air mutlak dan hukum penggunaannya pun berubah. Hanya saja perubahan air bisa tidak menghilangkan kemutlakannya apabila perubahan itu terjadi karena air tersebut diam pada waktu yang lama, karena tercampur sesuatu yang tidak bisa dihindarkan seperti lempung, debu, dan lumut, atau karena pengaruh tempatnya seperti air yang berada di daerah yang mengandung banyak belerang.

Air Musyammas

Kedua, air suci dan mensucikan namun makruh untuk digunakan, yakni Air Musyammas. Secara definisi, air Musyammas ialah air yang dipanaskan di bawah terik sinar matahari dengan menggunakan wadah yang terbuat dari logam selain emas dan perak, seperti besi atau tembaga. Air ini hukumnya suci dan menyucikan, hanya saja makruh bila dipakai untuk bersuci. Secara umum air ini juga makruh digunakan bila pada anggota badan manusia atau hewan yang bisa terkena kusta seperti kuda, namun tak mengapa bila dipakai untuk mencuci pakaian atau lainnya. Meski demikian air ini tidak lagi makruh dipakai bersuci apabila telah dingin kembali.

Air Musta’mal & Air Mutaghayyir

Ketiga, air suci namun tidak dapat mensucikan. Dalam hal ini ada dua macam yakni Air Musta’mal (yang telah digunakan) dan Air Mutaghayyir (yang telah berubah).

Air Musta’mal yaitu air yang telah digunakan untuk bersuci baik untuk menghilangkan hadas seperti wudlu dan mandi ataupun untuk menghilangkan najis bila air tersebut tidak berubah dan tidak bertambah volumenya setelah terpisah dari air yang terserap oleh barang yang dibasuh. Air Musta’mal ini tidak bisa digunakan untuk bersuci apabila tidak mencapai dua Qullah. Sedangkan bila volume air tersebut mencapai dua Qullah maka tidak disebut sebagai air Musta’mal dan bisa digunakan untuk bersuci.

Para ulama Madzhab Syafi’i menyatakan bahwa air dianggap banyak atau mencapai dua Qullah apabila volumenya mencapai kurang lebih 192,857 kilogram atau 191,25 liter.

Adapun air Mutaghayyir adalah air yang mengalami perubahan salah satu sifatnya yang disebabkan tercampur dengan barang suci yang lain dengan perubahan yang menghilangkan kemutlakan nama air tersebut. Berdasarkan sebabnya, air muthaghayyir dibagi menjadi tiga macam, yaitu;

(a) Mutaghayyir bi al-Mukhalith

Mutaghayyir bi al-Mukhalith merupakan air yang berubah sifat-sifatnya sebab bercampur dengan benda suci lainnya hingga mempengaruhi terhadap nama dan statusnya, semisal air teh dan semacamnya.

(b) Mutaghayyir bi al-Mujawir

Mutaghayyir bi al-Mujawir merupakan air yang berubah sifat-sifatnya sebab terpengaruh benda lain yang ada di sekitarnya. Contohnya adalah air yang berdekatan dengan bunga mawar sehingga tercium aroma mawar pada air tersebut.

(c) Mutaghayyir bi Thuli al-Muktsi

Mutaghayyir bi Thuli al-Muktsi merupakan air yang berubah sifat-sifatnya sebab terlalu lama diam. Seperti air kolam yang tidak pernah digunakan oleh seseorang sehingga berubah sifatnya.

Di antara ketiga jenis air Mutaghayyir tersebut hanya dua yang bisa kita gunakan untuk bersuci yaitu air Mutaghayyir bi al-Mujawir dan Mutaghayyir bi Thuli al-Muktsi. Dan yang tidak bisa digunakan untuk bersuci adalah air mutaghayyir bi al-Mukhalith.

Air Mutanajis

Keempat, Air Mutanajis. Yaitu air yang terkena barang najis yang volumenya kurang dari dua qullah atau volumenya mencapai dua qullah atau lebih namun berubah salah satu sifatnya—warna, bau, atau rasa—karena terkena najis tersebut. Air sedikit apabila terkena najis maka secara otomatis air tersebut menjadi Mutanajis meskipun tidak ada sifatnya yang berubah. Sedangkan air banyak bila terkena najis tidak menjadi mutanajis bila ia tetap pada kemutlakannya, tidak ada sifat yang berubah. Adapun bila karena terkena najis ada satu atau lebih sifatnya yang berubah maka air banyak tersebut menjadi air Mutanajis.

Air Mutanajis ini tidak bisa digunakan untuk bersuci, karena dzatnya air itu sendiri tidak suci sehingga tidak bisa dipakai untuk menyucikan. []waAllahu a’lam


Referensi:
Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, I/25-37, cet. al-Haramain.
Al-Fiqh al-Manhaji, I/34, cet. Dar al-Qalam.

# PEMBAGIAN AIR DALAM FIKIH

Baca juga:
KOTORAN DI BAWAH KUKU, BAGAIMANA WUDLUNYA?

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal

# PEMBAGIAN AIR DALAM FIKIH
# PEMBAGIAN AIR DALAM FIKIH

Mendoakan Kebaikan untuk Pemimpin Bangsa

Suatu ketika, Imam Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, niscaya aku tidak menggunakan doa itu kecuali untuk kebaikan pemimpin.”

“Mengapa bisa begitu?” tanya seseorang.

“Sebab, jika aku menggunakan doa itu hanya untukku, maka kemanfaatannya juga pada diriku saja. Namun jika aku menggunakan doa itu untuk pemimpinku, maka kemanfaatannya akan kembali pada rakyat dan negara.” jawab Fudhail bin ‘Iyadh.

Ketika ditanyakan tentang maksudnya, maka Fudhail bin ‘Iyadh berkata, “Jika saya jadikan doa itu pada diriku maka tidak akan melampauiku, sedangkan jika saya jadikan pada penguasa maka dengan kebaikannya akan baiklah para hamba dan negeri,”


Disarikan dari kitab Hilyah al-Aulia’, VIII/91, karya Abu Nu’aim al-Ashfihani.

Baca juga: METODE SALAT KHUSYUK HATIM AL-ASHAM

Simak juga: Prinsip dalam Beramal