All posts by Nasikhun Amin

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Beserta Terjemahannya

Datangnya tahun baru 1442 Hijriyah menandai dimulainya sebuah babak baru dalam episode-episode kehidupan yang akan dijalani oleh setiap orang, setiap umat, atau setiap bangsa dalam suatu periode tertentu.

Salah satu cara ikhtiar yang dapat dilakukan ialah melakukan hal positif bernilai ibadah serta doa.

Bacaan Doa Akhir Tahun

Doa akhir tahun dibaca pada waktu akhir bulan Dzulhijjah sebanyak tiga kali setelah usai salat Asar:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي السَّنَةِ الْمَاضِيَةِ وَلَمْ تَرْضَهُ ، وَنَسِيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ ، وَحَلُمْتَ عَنِّيْ مَعَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ ، وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَيْكَ. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَغْفِرُكَ مِنْهُ فَاغْفِرْ لِيْ اَللَّهُمَّ وَمَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ وَالْغُفْرَانَ فَتَقَبَّلْهُ مِنِّيْ ، وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, amal yang telah aku lakukan pada tahun lalu, namun tidak Engkau ridhai, amal yang telah aku lupakan namun tidak Engkau lupakan, Engkau telah berbuat bijak kepadaku meskipun sebenarnya mampu untuk menghukumku.

Engkau menyeru kepadaku untuk bertobat setelah kenekatanku (bermaksiat) kepada-Mu. Ya Allah sungguh Aku memohon ampunan kepadamu dari amal itu, maka ampunilah diriku. Ya Allah, dan amal yang telah aku lakukan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan pahala dan ampunan atasnya, maka terimalah amal itu dariku. Jangan engkau putus harapanku kepada-Mu, wahai Zat Yang Maha Mulia, wahai Zat Yang Paling Maha Pengasih dari para kekasih. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”

Bacaan Doa Awal Tahun

Sebelum membaca doa awal tahun, sebaiknya membaca ayat kursi sebanyak 360 kali, dengan diiringi basmalah di setiap permulaannya.

Kemudian membaca doa berikut sebanyak tiga ratus kali:

اللّهُمَّ يَا مُحَوِّلَ الأَحْوَالِ حَوِّلْ حَالِيْ إِلَى أَحْسَنِ الأَحْوَالِ بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ يَا عَزِيْزُ يَا مُتَعَال، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

“Ya Allah Zat pemindah berbagai kondisi, pindahlah kondisiku pada kondisi terbaik dengan daya dan kekuatan-Mu, wahai Zat Yang Maha Agung dan Maha Tinggi. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.”

Setelah itu dilanjutkan membaca doa awal tahun sebanyak tiga kali:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ.
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تَمْلَأُ خَزَائِنَ اللهِ نُوْرًا ، وَتَكُوْنُ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ فَرَجًا وَفَرْحًا وَسُرُوْرًا ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الْأَوَّلُ ، وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ الْعَمِيْمِ الْمُعَوَّلِ ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ ، أَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ ، وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الْأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ ، وَالْاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

“Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Ya Allah, limpahkanlah shalawat, yaitu shalawat yang dapat memenuhi berbagai simpanan-Mu dengan cahaya, shalawat yang menjadi solusi, kebahagiaan dan kesukacitaan bagi kami dan orang-orang beriman, dan juga limpahkanlah keselamatan yang banyak kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, Engkau Zat Yang Maha Abadi, Maha Qadim, Maha Awal.

Yang menjadi andalan manusia hanyalah anugerah-Mu yang agung dan kemurahanmu yang mulia. Ini tahun baru telah tiba. Di dalamnya Aku memohon penjagaan kepada-Mu dari setan dan kekasih-kekasihnya, memohon pertolongan atas nafsu amarah yang memerintahkan keburukan dan memohon tersibukkan diri dengan aktifitas yang dapat lebih mendekatkan diriku kepada-Mu dengan sedekat-dekatnya, wahai Zat Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan shalawat dan keselamatan kepada Sayyidina Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.”

Baca juga:
KHOTBAH JUMAT: AMALAN PERGANTIAN TAHUN

Follow juga:
Instagram: @pondoklirboyo

Kupas Tuntas Pandangan Ulama Kontemporer tentang Penggunaan Alkohol sebagai Komposisi Hand Sanitizer

Di tengah pandemi Covid-19, membiasakan pola hidup sehat secara disiplin dinilai efektif dalam mencegah dan mengantisipasi penyebaran virus Corona. Untuk itu, himbauan kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan dilakukan secara masif.

Salah satu cara menerapkan pola hidup sehat di tengah pandemi Covid-19 ialah penggunaan cairan antiseptik pembersih tangan atau dikenal dengan nama hand sanitizer. Kendati hand sanitizer dapat dibuat dengan berbagai macam jenis bahan dasar, namun zat alkohol menjadi komposisi utama dengan kadar di atas 60 persen. Realita tersebut masih menyisakan pertanyaan, khususnya terkait hukum penggunaan zat alkohol serta status kesuciannya sebagai bahan baku utama pembuatan hand sanitizer.

Dalam sudut pandang syariat, pada dasarnya tidak ada keterangan definitif nash Alquran, Sunnah, dan fikih klasik yang secara jelas (shorih) mengenai status alkohol. Dalam fikih klasik, persoalan semacam ini diklasifikasikan ke dalam pembahasan arak (khamr), yaitu zat cair yang dapat memabukkan (muskir) serta dihasilkan dari ekstrak anggur basah. Sebagaimana penjelasan Sayyid Abi Bakr Syato ad-Dimyati dalam kitab I’anah at-Thalibin berikut:

إِنَّ الْخَمْرَ هِيَ الْمُتَّخَذَةُ مِنْ عَصِيْرِ الْعِنَبِ، وَهَذَا بِاعْتِبَارِ حَقِيْقَتِهَا اللُّغَوِيَّةِ. وَأَمَّا بِاعْتِبَارِ حَقِيْقَتِهَا الشَّرْعِيَّةِ فَهِيَ كُلُّ مُسْكِرٍ وَلَوْ مِنْ نَبِيْذِ التَّمْر أَوِ الْقَصْبِ أَوِ الْعَسَلِ أَوْ غَيْرِهَا، لِخَبَرٍ كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ خَمْرٍ حَرَامٌ

Sesungguhnya khamr merupakan sesuatu yang diambil dari perasan anggur basah. Pengertian ini menimbang sudut pandang kata. Adapun apabila menimbang sudut pandang syariat, khamr merupakan setiap sesuatu yang memabukkan walau berasal dari perasan kurma, tebu, madu atau selainnya. Berdasarkan hadis: setiap perkara yang memabukkan termasuk khamr dan setiap khamr hukumnya haram.” (Al-Bakri, I’anah at-Thalibin, vol. I hlm. 110)

Pada titik ini, ketika zat alkohol dianalogikan dengan khamr dengan illat (alasan) hukum berupa kemampuannya yang dapat memabukkan, maka menurut teori ini alkohol dihukumi najis menurut madzhab Syafi’i. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Fiqh al-Manhaji:

اَلْخَمْرُ وَكُلُّ مَائِعٍ مُسْكِرٍ نَجِسٌ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيَّةِ وَدَلِيْلُ ذَلِكَ قَوْلُ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلّ: [إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ]

Khamr dan setiap benda cair yang memabukkan statusnya najis dalam madzhab Syafi’i. Dalilnya ialah firman Allah, sesungguhnya (minum) khamr, judi, (berkorban untuk) berhala dan mengadu nasib dengan panah adalah dosa.” (Tim, Al-Fiqh al-Manhaji, vol. III hlm. 77)

Keterangan mengenai pembahasan alkohol secara langsung baru ditemukan dalam beberapa literatur fikih kontemporer yang mana keberadaan zat alkohol sudah ditemukan. Dan tentu saja para ulama masih berbeda pendapat dalam kasus ini. Sebagian ulama memasukkannya dalam kategori zat yang memabukkan (muskir) karena digolongkan khamr yang haram dikonsumsi serta berstatus najis. Tetapi sebagian ulama lain tidak menggolongkannya sebagai khamr memandang khamr hanya tertentu untuk ekstrak anggur basah, sebagaimana pandangan Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam kitabnya, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu:

مَادَةُ الْكُحُوْلِ غَيْرُ نَجِسَةٍ شَرْعًا بِنَاءً عَلَى مَا سَبَقَ تَقْرِيْرُهُ مِنْ أَنَّ الْأَصْلَ فِي الأَشْيَاءِ الطَّهَارَة، سَوَاءٌ كَانَ الْكُحُوْلُ صَرْفًا أَمْ مُخَفَّفًا بِالْمَاءِ تَرْجِيْحًا لِلْقَوْلِ بِأَنَّ نَجَاسَةَ الْخَمْرِ وَسَائِرِ الْمُسْكِرَاتِ مَعْنَوِيَّةٌ غَيْرُ حِسِّيَّةٍ لِاِعْتِبَارِهَا رِجْسًا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ. وَعَلَيْهِ فَلَا حَرَجَ شَرْعًا مِنِ اسْتِخْدَامِ الْكُحُوْلِ طِبِّيًّا كَمُطَهِّرٍ لِلْجِلْدِ وَالْجُرُوْحِ وَالْأَدَوَاتِ وَقَاتِلٍ لِلْجَرَاثِيْمِ

Zat alkohol tidak najis menurut syariat dengan pertimbangan ketetapan yang telah lewat, yaitu segala hal yang asalnya suci baik berupa alkohol murni atau alkohol yang dikurangi kadar kandungannya menggunakan campuran air dengan mengunggulkan pendapat yang mengatakan bahwa najis khamr dan semua yang memabukkan bersifat maknawi, bukan yang terlihat secara kasat mata, dengan memperhatikan bahwa khamr itu kotor serta sebagian dari perbuatan setan. Maka tidak ada kesalahan menurut syariat atas pemanfaatan alkohol dalam dunia medis, seperti pembersih kulit, luka, obat-obatan, dan pembunuh kuman.” (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, vol. VII hlm. 2564)

Bahkan apabila penggunaan alkohol menjadi kebutuhan seperti campuran obat-obatan dan kebutuhan medis lain, maka hukumnya najis namun ditolerir (ma’fu). Secara tegas, Dr. Wahbah Az-Zuhaili menegaskan dalam keterangan lain:

لِلْمَرِيْضِ الْمُسْلِمِ تَنَاوُلُ الْأَدْوِيَّةِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى نِسْبَةٍ مِنَ الْكُحُوْلِ إِذَا لَمْ يَتَيَسَّرْ دَوَاءٌ خَالٍ مِنْهَا، وَوَصَفَ ذَلِكَ الدَّوَاءَ طَبِيْبٌ ثِقَّةٌ أَمِيْنٌ فِيْ مِهْنَتِهِ

Diperbolehkan bagi orang muslim yang sakit untuk menggunakan obat medis (antiseptik) yang mengandung alkohol apabila sulit menemukan obat nonalkohol. Dan obat (antiseptik) tersebut merupakan rekomendasi dokter ahli yang berkompeten di bidangnya.” (Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, vol. VII hlm. 5111)

Senada dengan apa yang disampaikan di atas, dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, Syekh Abdurrahman al-Jaziri juga menjelaskan:

وَمِنْهَا الْمَائِعَاتُ النَّجَسَةُ الَّتِي تُضَافُ إِلَى الْأَدْوِيَّةِ وَالرَّوَائِحِ الْعَطَرِيَّةِ لِإِصْلَاحِهَا فَإِنَّهُ يُعْفَى عَنْ الْقَدْرِ الَّذِي بِهِ الْإِصْلَاحُ

Termasuk bagian barang najis yang ditolerir adalah cairan najis yang terdapat pada obat-obatan dan wewangian harum dengan tujuan menjaga kelayakannya. Maka (keberadaan barang najis) itu ditolerir cukup sesuai kadar yang dipakai untuk menjaga kelayakannya.” (Abdurrahman al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, I/21)

Dengan demikian, sudah jelas bahwa penggunaan hand sanitizer yang mengandung alkohol untuk menjaga kebersihan serta upaya mencegah dan mengantisipasi penularan virus Corona atau Covid-19 dapat dibenarkan (tidak haram) serta status kenajisannya ditolerir (ma’fu).
[]waAllahu a’lam

Penulis : Nasikhun Amin, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

Peran Nasionalisme sebagai Pondasi Kemerdekaan

Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan momentum sejarah yang akan terus diingat bahkan tertulis rapi dalam sejarah bangsa Indonesia. Betapa tidak, selama lebih dari tiga abad bangsa Indonesia merasakan kepahitan dan kesengsaraan belenggu penjajahan. Tidak terhitung lagi seberapa banyak darah para pejuang yang telah dikorbankan.

Namun, kemerdekaan yang sebenarnya belum mencapai titik final. Selang beberapa saat setelah bangsa Indonesia merdeka, masih banyak upaya-upaya yang ingin merebut kemerdekaan bangsa Indonesia seperti agresi militer asing di Surabaya pada bulan oktober 1945 maupun di Yogyakarta pada 21 Juli sampai 5 Agustus 1947 (aksi pertama) dan dari 19 Desember 1948 sampai 5 Januari 1949 (aksi kedua).

Berkat persatuan dan semangat nasionalisme yang membara, aksi perlawanan rakyat dikobarkan dimana-mana. Dan pada akhirnya, seluruh agresi yang berusaha merebut kembali kemerdekaan dapat diredam dan terus dapat dirasakan hingga sekarang. Semua perjuangan yang telah dilakukan bangsa Indonesia tersebut tidak lain karena rasa nasionalisme sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap tanah air Indonesia.

Nasionalisme & Keimanan

Dalam kaca mata Islam, nasionalisme dipandang sebagai wujud keimanan. Wacana ini juga senada dengan apa yang disampaikan Hadlratus Syaikh, KH. Hasyim Asy’ari, “Cinta tanah air sebagian dari iman.” Meskipun penggalan kalimat singkat tersebut bukan termasuk hadis, namun secara esensial tidak jauh beda dengan hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang ungkapan kecintaannya terhadap kota Madinah. Dalam kitab Shahih al-Bukhari, volume III halaman 23 disebutkan:

كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

“Ketika Rasulullah Saw pulang dari bepergian dan melihat dinding kota madinah, beliau mempercepat laju ontanya. Dan bila mengendarai tunggangan (seperti kuda), maka beliau menggerak-gerakkan karena cintanya kepada madinah” (HR. al-Bukhari)

Substansi kandungan hadis tersebut dikemukakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-‘Asqolani. Ia menegaskan bahwa “Dalam hadis itu terdapat petunjuk atas keutamaan Madinah dan disyariatkannya mencintai tanah air serta merindukannya”. (Fath al-Bari, III/705)

Dalam penerapannya, semangat nasionalisme dan bela negara mampu menciptakan dialog kehidupan yang rukun dan damai. Bahkan sangat diperlukan untuk memperkuat sendi-sendi kenegaraan dari berbagai paham radikalisme, ekstremisme, dan semacamnya yang merongrong kebhinnekaan bangsa ini. Sahabat Umar Ra mengatakan:

لَوْلَا حُبُّ الْوَطَنِ لَخَرُبَ بَلَدُ السُّوْءِ فَبِحُبِّ الْأَوْطَانِ عُمِرَتِ الْبُلْدَانِ

“Seandainya tidak ada cinta tanah air, niscaya akan semakin hancur negeri yang terpuruk. Maka dengan cinta tanah air, negeri-negeri termakmurkan.” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, juz 1 hal 17, cet. Al-Haromain)

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa Islam sebagai ajaran tidak hanya terbatas pada dimensi doktrinal keagamaan. Namun cakupan Islam yang sebenarnya lebih luas, yakni membangun peradaban masyarakat dengan prinsip kemaslahatan, termasuk menjadikannya sebagai upaya untuk mengobarkan semangat kemerdekaan bangsa Indonesia. []waAllahu a’lam

Baca juga:
BENARKAH HORMAT BENDERA MERAH PUTIH SYIRIK?

Supaya tidak ketinggalan acara Launching Buku Fikih Kebangsaan III, subscribe channel youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Hukum Menghadiri Resepsi Pernikahan Tanpa Diundang

Assalamualaikum Wr. Wb.
Sekarang musimnya orang melangsungkan resepsi pernikahan. Realita mengatakan, yang hadir dalam acara tersebut bukan hanya orang-orang yang diundang. Namun banyak orang-orang yang tak diundang hadir dalam resepsi pernikahan tersebut. Bagaimana hukumnya? Boleh atau tidak? Mohon penjelasannya, terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
(Sholahuddin, Kediri)


Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Dalam sebuah acara resepsi pernikahan atau sejenisnya tak jarang ditemukan orang-orang yang ikut hadir dalam acara tersebut kendati ia tidak diundang secara resmi oleh pihak tuan rumah. Tentunya keberadaan orang yang tidak diundang hakikatnya tidak mendapatkan izin dari pihak tuan rumah untuk hadir dalam acaranya.

Untuk itu, menjadi tamu liar yang tak diundang hukumnya adalah haram kecuali diketahui bahwa pihak tuan rumah akan rela atau tidak keberatan dengan kehadirannya. Syekh Zakaria al-Anshari mengatakan dalam kitab Asna al-Mathalib:

وَيَحْرُمُ التَّطَفُّلُ وَهُوَ حُضُورُ الْوَلِيمَةِ مِنْ غَيْرِ دَعْوَةٍ إلَّا إذَا عَلِمَ رِضَا الْمَالِكِ بِهِ لِمَا بَيْنَهُمَا مِنْ الْأُنْسِ وَالِانْبِسَاطِ.

“Dan haram tathafful, yaitu menghadiri walimah tanpa diundang kecuali apabila mengetahui kerelaan pemilik (tuan rumah) dengan kehadirannya karena atas dasar ramah dan gembira di antara keduanya.” (Asna al-Mathalib, III/227)

Dalam kelanjutannya, Imam al-Haramain menegaskan bahwa larangan menghadiri walimah tanpa diundang hanya ditentukan apabila orang tersebut dipastikan tidak masuk dalam orang-orang yang dikehendaki pihak tuan rumah. Sehingga jika pihak tuan rumah menghendaki siapa saja boleh menghadiri atau undangannya yang bersifat umum, misalkan mengundang seluruh teman sekolah, seluruh rekan kerja, atau seluruh tetangga, maka boleh untuk menghadirinya. Karena dalam hal ini indikasi kerelaan pihak tuan rumah sudah sangat jelas.

Syekh Khatib as-Syirbini mengutip pendapat imam al-Haramain dalam kitab Mughni al-Muhtaj berikut:

وَقَيَّدَ ذَلِكَ الْإِمَامُ بِالدَّعْوَةِ الْخَاصَّةِ، أَمَّا الْعَامَّةُ كَأَنْ فَتَحَ الْبَابَ لِيَدْخُلَ مَنْ شَاءَ فَلَا تَطَفُّلَ

“Imam al-Haramain memberikan ketentuan haramnya apabila ada undangan khusus. Adapun undangan yang bersifat umum, seperti orang yang membuka pintu dan mempersilahkan siapa saja yang berkenan, maka keharaman menghadiri walimah tanpa diundang tidak berlaku lagi.” (Mughni al-Muhtaj, IV/410) []waAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM AMPLOP KONDANGAN, TERMASUK HUTANG ATAU HADIAH?

Subscribe juga:
Youtube: Pondok Pesantren Lirboyo

Hukum Amplop Kondangan, Termasuk Hutang atau Hadiah?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Dalam perayaan semisal walimah, hal yang sering ditemukan adalah pihak tamu undangan yang memberikan amplop berisi uang kepada tuan rumah. Yang menjadi kejanggalan, apakah hal tersebut termasuk hutang atau murni hadiah? Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di era kenormalan baru ini berbagai perayaan dan kondangan semisal walimah pernikahan atau sesamanya, sudah mulai banyak digelar. Dan hal yang tidak pernah terlepas dari acara semacam itu ialah amplop berisi uang dari para undangan untuk pihak tuan rumah.

Mengenai status pemberian tersebut, Sayyid Abi Bakr Syato ad-Dimyati menjelaskan dalam kitab I’anah at-Thalibin demikian:

وَمَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِيْ زَمَانِنَا مِنْ دَفْعِ النُّقُوْطِ فِي الْأَفْرَاحِ لِصَاحِبِ الْفَرْحِ فِيْ يَدِهِ أَوْ يَدِ مَأْذُوْنِهِ هَلْ يَكُوْنُ هِبَّةً أَوْ قَرْضًا؟ أَطْلَقَ الثَّانِيَ جمْعٌ وَجَرَى عَلَى الْأَوَّلِ بَعْضُهُمْ… وَجَمَّعَ بَعْضُهُمْ بَيْنَهُمَا بِحَمْلِ الْأَوَّلِ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يُعْتَدِ الرُّجُوُعُ وَيَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ وَالْمِقْدَارِ وَالْبِلَادِ وَالثَّانِيْ عَلَى مَا إِذَا اِعْتِيْدَ وَحَيْثُ عُلِمَ اخْتِلَافٌ تَعَيَّنَ مَا ذُكِرَ

“Kebiasaan yang berlaku di zaman kita, yaitu memberikan semacam kado hadiah perkawinan dalam sebuah kondangan, baik secara langsung kepada orangnya atau kepada wakilnya, apakah semacam itu termasuk ketegori pemberian cuma-cuma atau dikategorikan sebagai hutang?Maka mayoritas ulama memilih mengkategorikannya sebagai hutang. Namun ulama lain lebih memilih untuk mengkategorikannya sebagai pemberian cuma-cuma…. Dari perbedaan pendapat ini para ulama mencari titik temu dan menggabungkan dua pendapat tersebut dengan kesimpulan bahwa status pemberian itu dihukumi pemberian cuma-cuma apabila kebiasaan di daerah itu tidak menuntut untuk dikembalikan. Konteks ini akan bermacam-macam sesuai dengan keadaan pemberi, jumlah pemberian, dan daerah yang sangat beragam. Adapun pemberian yang distatuskan sebagai hutang apabila memang di daerah tersebut ada kebiasaan untuk mengembalikan. Apabila terjadi praktek pemberian yang berbeda dengan kebiasaan, maka dikembalikan pada motif pihak yang memberikan” (I’anah at-Thalibin, III/48).

Kesimpulan

Kesimpulannya, amplop tersebut statusnya sesuai tujuan orang yang memberi. Namun jika tidak diketahui, maka diperinci:
Pertama berstatus Hibah (pemberian cuma-cuma) apabila kebiasaan yang berlaku di daerah tersebut tidak ada tuntutan untuk mengembalikan. Kedua berstatus Qordlu (hutang) apabila kebiasaan yang berlaku di daerah tersebut menuntut adanya pengembalian. []waAllahu a’lam

Baca juga:
BENARKAH HORMAT BENDERA MERAH PUTIH SYIRIK?
-PROBLEMATIKA HADIAH DALAM TRADISI WALIMAH

Follow juga:
– instagram: @pondoklirboyo