Tag Archives: Jihad

Berbakti Adalah Jihad

Di zaman Rasulullah Saw, pernah suatu ketika ada seorang lelaki berkebangsaan Yaman berhijrah menemui Rasulullah. Tujuan lelaki tersebut tak lain ialah untuk bergabung untuk berjihad bersama pasukan Islam.

Melihat semangat yang sangat menggebu dari lelaki tersebut, Rasulullah Saw bertanya “Apakah di Yaman masih ada kedua orang tuamu”.

Ya, wahai Rasulullah” jawab lelaki itu.

Apakah mereka berdua mengizinimu untuk berjihad?” Rasulullah Saw kembali bertanya.

Tidak” jawab lelaki itu singkat.

Kembalilah kepada orang tuamu. Dan mintalah izin pada keduanya. Apabila mereka berdua mengizinimu, maka berjihadlah. Namun apabila kedua orang tuamu tidak mengizinkan, maka berbaktilah pada keduanya. Karena hal itu (berbakti) adalah kebaikan yang bisa mempertemukanmu pada Allah setelah mengesakan-Nya” kata Rasulullah Saw pada lelaki tersebut.

 

____________________

Disarikan dari kitab Ihya’ Ulumuddin (II/189), karya al-Ghazali.

 

 

 

 

 

Bedah Buku “Fatwa & Resolusi Jihad”

LirboyoNet, Kediri- Peranan pesantren dalam membangun dan mempertahankan kemerdekaan bangsa adalah salah satu catatan sejarah yang tidak memiliki celah untuk membantahnya. Keberadaan fatwa dan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari menjadi bukti konkret untuk mematahkan klaim sebagian pihak yang berusaha mengkaburkan sejarah tersebut. Namun dalam realitanya, sampai detik ini belum ada satu pun buku yang secara khusus mengupas secara rinci tentang fatwa dan resolusi jihad Pengurus Besar Nahdlatul Ulama melalui KH. Hasyim Asy’ari tersebut. Itu lah yang melatarbelakangi penulisan buku “Fatwa & Resolusi Jihad” yang ditulis oleh KH. Agus Sunyoto, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin (Lesbumi) PBNU.

Sebenarnya, buku yang mengungkap fakta sejarah perang rakyat semesta pertempuran Surabaya 10 november 1945 tersebut sebenarnya akan dilaunching secara resmi saat peringatan Hari Pahlawan Nasional di Jakarta dan berlanjut di 20 kota lain se-Indonesia. Menjadi sebuah kehormatan yang besar, meskipun buku tersebut belum dilaunching secara resmi, kemarin (03/10), sang penulis telah membedahnya terlebih dahulu di gedung Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Acara didahului sambutan panitia pelaksana, yaitu H. Abdul Muid Shohib. Selanjutnya KH. Abu Bakar Abdul Jalil tampil untuk membuka acara selaku Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kediri yang menyelenggarakan acara tersebut.

Sesi pembahasan bedah buku yang menapaki tangga acara selanjutnya dipandu dan dimoderatori oleh Agus Muhammad Hamim Hr. Dalam sesi ini, seluruh peserta sangat antusias mendengarkan pemaparan tentang latarbelakang, urgensitas, proses penulisan, dan isi buku “Fatwa & Resolusi Jihad” secara langsung dari penulisnya, KH. Agus Sunyoto.

“Buku ini adalah buku pertama yang membahas tentang fatwa dan resolusi jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasym Asy’ari sebagai jawaban atas pertanyaan Ir. Soekarno berkenaan dengan sikap yang harus diambil ketika musuh datang menduduki Tanah Air. Karena selam ini masih banyak kalangan yang mengaburkan sejarah ini dan menganggapnya hanya sekedar dongeng warga Nahdliyin,” ungkap pria kelahiran Surabaya tersebut.

Gelak tawa para hadirin pun pecah disaat narasumber menceritakan peristiwa-peristiwa kocak dan lucu yang benar-benar terjadi dan turut mewarnai pertempuran 10 november 1945 di Surabaya.

Sebagai Pembanding, ketua Lesbumi PCNU Kota Kediri, Taufiq Al-Amin, memberikan kritik dan apresiasinya terhadap buku yang disusun sejak bulan november 2015 tersebut. Dalam pemaparannya, dia mengatakan bahwa buku “Fatwa & Resolusi Jihad” memang benar-benar menunjukkan bukti peranan pesantren dalam mengawal kemerdekaan Republik Indonesia.

“Hadirnya buku “Fatwa & Resolusi Jihad” akan membongkar paradigma akut dalam perjalanan penulisan sejarah di Indonesia,” tegasnya.

Di penghujung acara, sesi tanya jawab menjadi acara penutup. Meskipun demikian, nuansa santai dan humor yang sangat kental sebagai sebagai ciri khas warga Nahdliyin begitu mewarnai jalannya acara hingga selesai. []

[Untuk Video lengkapnya, dapat dilihat di sini]

Ramadan Tiba, Santri Lirboyo Turun Gunung ke SMA

LirboyoNet, Kediri—Untuk menyukseskan agenda Pesantren Ramadlan (PESRA), Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Pondok Pesantren Lirboyo mengadakan pembekalan bagi para tenaga ajar Jumat malam (26/05) kemarin.

Untuk diketahui, PESRA adalah program dakwah LIM yang berorientasi pendidikan formal. Dengan PESRA, para santri diberi amanat untuk menularkan ilmu-ilmu agama mereka kepada para siswa sekolah formal, baik di tingkat dasar (SD), maupun menengah (SMP-SMA). Para santri yang terbiasa dengan pola belajar-mengajar ala pesantren, dalam program ini harus berupaya merekonstruksi sejenak metode mereka agar materi ajar mereka dapat diterima dengan baik di ranah formal.

Sebagaimana yang diingatkan oleh Agus M. Aminulloh, medan dakwah yang akan mereka hadapi akan berbeda dengan yang biasa ditemuia sehari-hari di pesantren. “SDM-nya sudah berbeda dengan MHM (Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, tempat belajar mereka sehari-hari -red). Kalian harus jeli dan teliti. Kalau di MHM, siswa nakal disuruh berdiri, selesai. Kalau di sekolahan formal jangan seperti itu. Bisa-bisa kalian ditegur pihak sekolah.”

Yang harus lebih diperhatikan adalah, masih menurut Agus Amin, tujuan utama PESRA adalah menanamkan dasar-dasar agama pada setiap siswa. “Paling tidak, kalian  harus membantu mereka menguasai ilmu dasar agama. Terutama akidah. Akhir-akhir ini kajian akidah sudah semakin urgen untuk diketahui para siswa. Kelompok-kelompok separatis dan radikal sudah banyak menyusup di lembaga-lembaga pendidikan formal,” tekannya.

Pembekalan tenaga PESRA tahun ini diberikan oleh Drs. Saiful Asyhad SH., seorang orator ulung yang sering memberikan penyuluhan dan pelatihan komunikasi dakwah di banyak forum. Namanya telah dikenal mayoritas santri Ponpes Lirboyo. Pasalnya, hampir setiap pekan ia memberikan materi ekstrakurikuler ceramah dan orasi bagi para santri. “Kalian jangan malu-malu saat menyampaikan materi. Harus gagah. Harus berkelas. Jangan malah lembek,” tuturnya. “Jangan lupa, kalian sedang membawa nama Lirboyo. Jawablah ekspektasi dunia pendidikan luar dengan kerja keras dan cerdas,” tutupnya.][

Haflah Mubtadiaat, Menelusuri Makna Jihad

LirboyoNet, Kediri – “Wahai Nabi, siapa yang memerintahkanmu. Allah, atau keinginanmu sendiri?” Siti Hajar bertanya kepada suaminya, Nabiyullah Ibrahim. Pertanyaan itu mengemuka setelah Nabi Ibrahim berpamitan, “aku akan meninggalkanmu, Hajar. Aku akan kembali ke Palestina.” Beberapa waktu sebelumnya, beliau membawa Siti Hajar serta putranya, Ismail yang masih merah, berjalan jauh. Dari Palestina hingga tanah yang sekarang bernama Makkah. “Allah yang menyuruhku,” jawab Nabi Ibrahim. Sesak. Siapa yang sudi meninggalkan istri dan bayi di tanah pasir tak bersumur? “Allah yang menyuruhku, Hajar.” Ternyata kekasih yang dikhawatirkannya luar biasa tegar. “Jika Allah yang memerintahmu, laksanakan. Pulanglah ke Palestina.” “Jangan kau khawatirkan kami. Dia yang menyuruhmu akan menjagamu, dan akan menjagaku dan anakku.”

Habib Umar bin Ahmad Al Muthohar mengisahkan ini kepada para santri Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM), Sabtu (07/05). Malam itu adalah peringatan Haul dan Haflah Akhirussanah Pondok Dan Madrasah Putri Hidayatul Mubtadiaat yang ke-31.

Dimulai sejak ba’da isya, para santri berkumpul di halaman dalam P3HM. Sementara Habib Umar memberikan ceramah di aula, di depan para tamu undangan, wali santri, dan dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo. Namun para santri tidak kecewa, karena di halaman telah terpasang layar lebar guna menayangkan aktivitas yang terlaksana di aula.

Sebelum tausyiah Habib Umar, terlebih dahulu acara diisi dengan penampilan seni hadrah dari para santri. Setelah sambutan dari wali santri dan pengasuh, baru Habib yang berasal dari Semarang ini dipersilahkan menuju panggung.

“Zaman sekarang, orang-orang terbagi dua macam: satu, orang yang salah paham. Dua, mereka yang pahamnya salah. Orang-orang yang salah paham ini akibat dari orang-orang berpaham salah,” ungkap beliau. “Ada orang pernah bertanya kepada saya, ‘Bib, kejadian di Jalan Thamrin (peristiwa bom bunuh diri di salah satu kawasan di Jakarta, -red) itu jihad nopo mboten?’ ‘Loh, ya bukan. Jihad itu di jalan Allah. Bukan di Jalan Thamrin,'” tukas beliau disertai tawa hadirin.

Peristiwa-peristiwa seperti ini, terang beliau, yang menjadikan banyak orang awam menjadi salah paham. Penyebabnya, tindakan yang dilakukan orang-orang berpaham salah itu.

Dalam mauidhoh beliau selanjutnya, beliau mewanti-wanti para santri, khususnya para santri yang hendak pulang ke tengah masyarakat. “Kalian, para santri, sudah dibekali oleh Kiai Anwar (KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadiaat, -red). Kalian sudah dibekali guru-guru kalian. Jangan menjadi orang yang ikut-ikutan.”

Beliau kemudian menyitir Hadits Rasulullah, “Laa takun ma’ah. In ahsanu ahsantu. In asaa’u, asa’tu. Kalau mereka baik, saya juga baik. Kalau mereka buruk, saya juga buruk. Jangan begitu. Kalau mereka baik, kalian harus lebih baik. Kalau mereka buruk, arsyiduu hum wa ansya’uu hum. Tunjukkan mereka. bimbing mereka kepada jalan yang baik.”

Tugas bagi santri adalah mengajak mereka yang menggok, agar kembali kepada jalan yang benar dan baik. Inilah bentuk jihad yang seharusnya. Entah itu berupa ibadah, muamalah, munakahah, dan sebagainya. “Juga ibadah haji. Jenengan nate (pernah) haji? Purun haji? Jenengan cukup maos surat Al-Fatihah ping telu, surat Al-Ikhlas ping telu, kale surat tanah telung lembar. Niku pun cekap damel haji (Anda cukup membaca surat Al-Fatihah tiga kali, surat Al-Ikhlas tiga kali, dan surat tanah tiga lembar. itu sudah cukup buat naik haji),” tawa kembali meledak di tengah hadirin.

Nabi mengaku diutus oleh Allah dari sebagus-bagus suku. Lahir dari sebagus-bagus rumah tangga. Maka Habib Umar berharap, para santri putri dapat mewujudkan rumah tangga yang baik. Karena kunci rumah tangga adalah perempuan. Setelah kelurga baik, akan tercipta lingkungan sekitar yang baik pula. Dengan demikian, para santri ikut berperan dalam membangun masyarakat yang baik pula.][