Jam’iyyah Nahdliyah: Sejarah ASWAJA dan Sanad Makna Kitab

Seminar Jam'iyah Nahdliyah-Sanad Makna kitab pesantren

[Lirboyo, 25 Juli 2024 M.] – “Sejarah Berkembangnya Paham ASWAJA di Bumi Nusantara” diangkat menjadi tema Seminar Jam’iyyah Nahdliyah kali dan sukses dilaksanakan dengan berbagai rangkaian acara yang memukau.

Pra Acara: Seminar dimulai dengan gema sholawat yang mengisi suasana penuh keberkahan.

Acara:

1. Pembawa Acara Multibahasa

mc tiga bahasa-Sanad Makna kitab pesantren

Acara dipandu secara profesional oleh tiga pembawa acara yang memanfaatkan tiga bahasa:

    • Bahasa Arab: Ibnu Rosani
    • Bahasa Inggris: Muhammad Khidir
    • Bahasa Indonesia: M. Husni Ulil Azmi Aulawi

2. Pembacaan Ayat-Ayat Suci Al-Quran

Sdr. M. Yusuf membacakan ayat-ayat suci Al-Quran dengan salah satu qiroah dari tujuh imam, menghadirkan suasana khidmat dalam acara.

3. Drama Tentang Santri Baru

drama-Sanad Makna kitab pesantren

Para alumnus Kursus Bahasa M3HM, memberikan drama dengan konsep menggunakan tiga bahasa yang sangat memukau para santri yang lain:

    • Ma’mun Hasyim (3 Aliyah)
    • Aang Haikal Muslim (3 Aliyah)
    • Ismed Muhim Muhammad (Smt. 1)

4. Penyerahan Hadiah Lomba Kreasi Santri Mading Hidayah

Agus Aminulloh Mahin dan Agus Arif Ridlwan Akbar selaku mudir MHM dan Ma’had Aly Lirboyo menyerahkan hadiah kepada para pemenang . Berikut adalah pemenang lomba beserta kategorinya:

    • Cerpen:
      • Juara 1: M. Iqbal (2 Aliyah)
      • Juara 2: Ainul Yaqin (I’dadiyah 3)

Sang Juara-Sanad Makna kitab pesantren

    • Puisi:
      • Juara 1: Wahidun Ramadani (1 Aliyah)
      • Juara 2: Agung Pratama (MAS. 1-2)
    • Karikatur:
      • Juara 1: Kemal Fasya Fadilah (2 Tsanawiyah)
      • Juara 2: M. Haris Al-Anshori (MAS. 1-2)

Sang Juara-Sanad Makna kitab pesantren

    • Esai:
      • Juara 1: Azkal Azkia (MAS. 1-2)
      • Juara 2: M. Kholad Imdad (2 Aliyah)

5. Penampilan Pembacaan Puisi

Pemenang juara 1 lomba Kreasi Santri Mading Hidayah menampilkan puisi mereka dengan penuh rasa dan ekspresi, menambah kemeriahan acara.

6. Sambutan dari Mudir MHM dan Ma’had Aly Lirboyo

Agus Aminulloh Mahin menyampaikan sambutan yang menekankan pentingnya M3HM sekarang sebagai wadah pengembangan skill santri. M3HM tidak hanya berfungsi sebagai pengatur musyawarah, tetapi juga sebagai pusat pengembangan keterampilan seperti kursus Bahasa Inggris, Arab, Kepenulisan, Ushul Fikih, dan Komputer, yang semua disediakan secara gratis.

7. Seminar

KH. Muchlasin Maqsudi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Inayah, Wareng Magelang menjadi tutor Seminar dengan tema “Sejarah Berkembangnya Paham ASWAJA di Bumi Nusantara. Sedangkan Bpk. M. Mundzir Zainudin, menjadi moderator pada acara kali ini.

Pesan Utama dari Mbah Kyai:

Dalam sebuah kisah, Mbah Kyai Abdul Karim menunjukkan kebijaksanaan dalam memaknai kitab. Suatu saat, beliau tidak memaknai dua baris lafadz yang membuat para santri penasaran. Mbah Kyai Abdul Karim menjelaskan, “Purun nggeh monggo, mboten nggeh monggo. Kulo kaliyan Mbah Kyai Kholil Bangkalan Madura, ngoten niku.” Ini menegaskan bahwa tanpa sanad yang jelas, makna kitab bisa menjadi tidak akurat. Kemudian KH. Muchlasin Maqsudi menyampaikan bahwasannya, sepintar apapun kalian janganlah sampai membaca ataupun memaknai kitab tanpa sanad yang jelas. Karena, hal ini sangat berpengaruh terhadap kebarokahan ilmu yang akan kita dapat.

Sanad dalam Tradisi Lirboyo:

Tradisi pesantren Lirboyo memiliki pandangan yang khas tentang sanad. KH. Idris Marzuqi, dalam sebuah kesempatan, menjelaskan mengapa sanad tidak diberikan kepada santri. Ketika diminta sanad keilmuan, beliau menjawab, “Mboten wanton lak sakniki kulo pak Yasin. Sebab nek sanad niku diparingno dateng santri kok nggene moco kok bedo, sanad e suloyo.” Hal ini menggarisbawahi bahwa sanad memaknai kitab yang telah diberikan, dan memiliki perbedaan dalam memaknainya maka akan berpengarug terhadap kekuatan maknanya.

Maknai Kitab Setelah Khatam:

Mbah KH. Marzuqi pernah dawuh kepada santri yang telah khatam mengaji, penting untuk terus memaknai kitab dengan lebih dalam. Beliau berkata, “Disahi (maknani) seng akeh, dikeba’i. Sebab sah-sahane kui podo karo getihe wong mati syahid.” Ini mengindikasikan bahwa pemaknaan yang mendalam adalah bagian penting dari proses belajar.

Sejarah Pensyarahan Kitab Dahlan Alfiyah:

Dalam sejarah pensyarahan kitab, KH. Mahrus Aly pernah mensyarahi kitab Dahlan Ali. Namun, saat akan dicetak, beliau mengonsultasikan kepada KH. Marzuqi. KH. Marzuqi menanggapi, “Mas Mahrus, wong kitab akeh koyo ngono ra do kanggo ra onok seng moco. Mbok ra usah dicetak, eman-eman.”

Doa oleh KH. Muchlasin Maqsudi

Pada akhir seminar, KH. Muchlasin Maqsudi, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Inayah, Wareng Magelang, memimpin doa penutup yang penuh khidmat.

Pemberian Cinderamata dan Foto Bersama

Pemberian cinderamata sebagai tanda penghargaan kepada narasumber yang telah berkontribusi dalam kesuksesan acara.

Baca juga berita Ma’had Aly Lirboyo.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo; FacebookInstagramYoutube.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses