21 views

Mengagungkan Musyawarah

LirboyoNet, Kediri – Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM) tahun ini kembali melaksanakan salah satu hajat besarnya, yakni Penataran Keroisan/ Penataran Moderator sebuah Diskusi. Kegiatan ini dilangsungkan dua sesi. Pada hari Kamis (08/10), peserta penataran adalah para siswa utusan kelas VI Ibtidaiyyah, I, II dan III Tsanawiyah MHM. Sementara untuk siswa utusan kelas II sampai IV Ibtidaiyyah, penataran dilaksanakan esoknya, setelah salat Jumat (09/10).

Penataran Keroisan adalah hajatan rutin M3HM  tiap tahun. Idealnya, kegiatan ini diwujudkan untuk memberikan formula musyawarah yang menarik dan segar kepada para santri. Sehingga, ketika para peserta keluar dari ruangan penataran, mereka akan mendapat ide-ide dan semangat luar biasa dalam melangsungkan musyawarah harian di kelas masing-masing.

Di penataran pertama, para peserta dibimbing oleh KH. Munawar Zuhri, mantan ketua Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM P2L) yang juga mustahiq/ walikelas tamatan tahun 2010. Mayoritas peserta sudah memiliki pengalaman bahtsul masail, mulai tingkat lokal kelas sampai tingkat Jawa-Bali. Maka, materi beliau lebih kepada pematangan rasio dalam memahami materi musyawarah maupun bahtsul masail. “Kitab kui koyo maling. Angger ditekoki bola-bali lak yo ngaku dewe (Kitab itu seperti maling. Asal ditanya (dipelajari) terus menerus bakal ketemu juga maksudnya),” beliau mengutip maqolah KH. Abdul Karim yang kemudian diikuti tawa ringan hadirin.

Lalu, di hari selanjutnya giliran Bapak Syibromulisi Alfah, yang memberikan pengarahan kepada para peserta. Beliau ini juga mantan ketua LBM P2L selama dua periode, yakni tahun khidmah 2012-2014.

Karena peserta penataran kali ini berusia lebih muda, yang berarti juga minim pengalaman dan mental, porsi materi beliau lebih pada penguatan mental berdiskusi. “Jangan takut salah. Saya dulu malah memilih untuk menjadi pihak yang salah. Kenapa begitu? Karena dengan merelakan diri untuk salah, kita akan memutar otak lebih keras. Bagaimana caranya agar jawaban kita, paling tidak bisa bertahan setelah beberapa bantahan.” 

“Mental adalah hal utama yang harus dibangun para musyawirin. Karena ketika mental sudah terbentuk, menguraikan jawaban berbentuk apapun akan mudah,” tambah beliau. ][

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.