34 views

Bekal Menjaga Orang Sakit

Sesama makhluk Allah di bumi ini, kita dianjurkan untuk saling tolong menolong. Terlebih dengan saudara sesama muslim kita. Banyak anjuran yang disabdakan Rasul tentang tolong menolong, hal-hal yang harus diperhatikan terkait hak dan kewajiban tetangga, hingga soal menjenguk saudara atau tetangga kita yang kebetulan sedang sakit. Dan apabila nampak tanda-tanda ajal sudah tiba kepadanya, sebagai orang yang menungguinya kisa disunnahkan untuk melakukan beberapa hal.

Pertama, membaringkan muhtadlir (orang yang sedang mengalami sakaratul maut) pada lambung sebelah kanan untuk menghadapkannya ke arah kiblat. Jika tidak memungkinkan, semisal karena tempatnya terlalu sempit atau ada semacam gangguan pada lambung kanannya, maka dibaringkan pada lambung sebelah kiri. Dan jika masih tidak memungkinkan, maka ditidur lentangkan menghadap kiblat dengan memberi ganjalan di bawah kepala agar wajahnya bisa lurus menghadap kiblat.

Kedua, membaca surat Yasin dengan agak keras dan surat al Ra’dlu dengan suara yang pelan. Faidah pembacaan surat-surat ini -kata al Qulyubi-, adalah mempermudah keluarnya ruh, disamping ada sebuah hadis yang menjelaskan: “Ia akan mati, masuk dan bangkit dari alam kubur dalam keadaan segar bugar.” Dalam Nihayah az Zain, Syaikh Nawawi al Jawy menambahkan, jika tidak mungkin membaca keduanya, maka surat yang dibaca disesuaikan dengan keadaan muhtadlir. Yakni apabila masih ada kesadaran dalam diri muhtadlir, maka surat Yasin lah yang dibaca. Dan jika sudah tidak ada, maka yang dibaca adalah surat al Ra’du, karena surat ini berfaidah mempermudah keluarnya ruh.

Ketiga, menalqin (mengajar, memahamkan dengan lisan) dengan kalimat tahlil (laa ilaha illallah) secara santun (lembut), tidak menampakkan kesan memaksa. Semisal, mulaqqin (orang yang menalqin) berada disampingnya mengingatkan dengan ucapan: “Dzikir kepada Allah itu amat diberkahi,” atau mengajak hadirin dzikir bersama. Dalam talqin-nya, mulaqqin tidak perlu menambahkan lafad Asyhadu, kecuali muhtadlir bukan seorang mukmin, dan ada harapan ia masuk Islam, maka talqin-nya disamping harus mencantumkan kata (lafad) tersebut juga harus disempurnakan menjadi dua kalimat syahadat, agar ia meninggal dalam keadaan Islam. Talqin ini tidak perlu diulang jika muhtadlir telah mampu mengucapkannya, selama ia tidak berbicara lagi (dan menurut kebanyakan ulama, walaupun ia berbicara mengenai hal-hal yang berkenaan dengan akhirat). Karena tujuan penalqinan ini agar kalimat tahlil menjadi penutup ucapan yang keluar dari mulutnya. Rasulullah bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَآ إله إِلَّا اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang dalam akhir ucapannya (sebelum meninggal) berucap laa ilaha illallah, niscaya dia akan masuk surga.”

Namun menurut al Shomiri -kata ‘Umairah di dalam kitabnya-, talqin tidak perlu diulang, asalkan yang diucapkan muhtadlir bukan persoalan duniawi, ucapan tasbih misalnya. Bahkan di dalam kitab Khadim ditegaskan bahwa talqin tidak harus memakai kalimat tahlil. Bisa kalimat apa saja, yang penting esensinya menunjukkan makna ketauhidan.

Dan keempat, disunnahkan memberi minum. Lebih-lebih jika nampak gejala ia menginginkannya. Karena dalam kondisi seperti itu, setan bisa saja menawarkan minuman yang akan ditukar dengan keimanannya.

Kemudian setelah muhtadhir menemui ajalnya,  seperti ada tanda-tanda mengendornya telapak tangan dan kaki, cekungnya pelipis, dan hidung yang nampak lemas, orang yang menungguinya juga sunnah melakukan beberapa hal. Pertama, memejamkan kedua matanya seraya membaca:

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ الله. اللهم يَسِّرْ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَسَهِّلْ عَلَيْهِ مَا بَعْدَهُ وَأَسْعِدْهُ بِلِقَائِكَ، وَاجْعَلْ مَا خَرَجَ إِلَيْهِ خَيْرًا مِمَّا خَرَجَ عَنْهُ. اللهم اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ الْغَابِرِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ ونور له فيه

Jika sampai terlambat hingga kedua matanya tidak bisa dipejamkan, maka cara memejamkannya dengan menarik kedua lengan serta kedua ibu jari kakinya secara bersamaan. Dengan cara ini niscaya kedua mata tersebut akan terpejam dengan sendirinya.

Kedua, mengikat rahangnya ke atas kepala dengan memakai kain yang agak lebar agar mulutnya tidak terbuka. Lalu ketiga, melemaskan sendi-sendi tulangnya dengan melipat tangan ke siku, lutut ke paha, dan paha ke perut. Setelah selesai maka mayat dibujurkan kembali, baru kemudian jari-jari tangannya dilemaskan. Jika agak Terlambat hingga tubuhnya menjadi kaku, maka sunnah dilemaskan memakai minyak. Hikmah dari pelemasan ini agar mempermudah proses pemandian dan pengafanannya.

Keempat adalah melepaskan pakaiannya secara perlahan. Setelah selesai menanggalkan pakaiannya, jenazah kemudian disedekapkan, pakaiannya diganti dengan kain tipis yang ujung-ujungnya diselipkan di bawah kepala dan kedua kakinya (menutupi semua tubuh). Kecuaji jika ia sedang menunaikan ibadah Ihram, maka kepalanya harus dibiarkan terbuka.

Kelima, meletakkan beban seberat 20 dirham (20gr x 2,75gr = 54,3 gram) atau secukupnya di atas perut jenazah dengan dibujurkan dan diikat agar perutnya tidak membesar. Kemudian menaburkan wewangian di sekitar tempatnya. Hal itu dilakukan guna minghindari bau yang keluar dari tubuhnya. Sunnah juga diletakkan di tempat yang agak tinggi agar tidak tersentuh kelembaban tanah yang bisa mengakibatkan jasadnya cepat rusak.

Dan terakhir, membebaskan segala tanggungan hutang atau lainnya. Jika tidak mungkin dilakukan pada saat itu, maka ahli warisnya segera malakukan akad Hawalah (pelimpahan tanggungan hutang) dengan orang-orang yang bersangkutan. Dan sunah bagi mereka menerima tawaran tersebut.

Begitulah. Semoga hal ini bisa menjadi bekal kita saat menjaga orang sakit. Dan semoga kita juga selalu menyadari bahwa hukum alam itu pasti. Ketika kita bisa memuliakan seseorang sampai dia meninggalkan dunia ini, kami kira kita juga bakal dimuliakan oleh orang-orang sekitar saat kita meninggal nanti.

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.