All posts by Nur Muhammad Alfatih

Do’a agar terhidar dari Su’ul Khatimah

Do’a agar terhidar dari Su’ul Khatimah | KH. Ahmad Idris Marzuqi

Sebaiknya, kita menjadi orang yang Husnudzan. Dengan berhusnudzan, baik itu benar atau salah, kita akan mendapatkan pahala. Berbeda dengan su’udzan, benar mendapat dosa, apalagi tidak benar. Maka sebaiknya jadilah orang yang berhusnudzan saja.

Jangan mudah berprasangka jelek kepada orang lain. Sebab bersangka jelek pada orang lain dapat menimbulkan rasa benci, takabur, dengki, ujub, ria, dan lain sebagainya. Padahal sifat-sifat itu tadi itu menurut Imam Ghazali adalah min asbabi su’il khotimah.

Mengetahui orang yang wafat Su’ul Khatimah

Untuk mengetahui orang yang wafat Su’ul Khotimah dan Khusnul Khatimah, bisa dilihat dari perilakunya. Kalau orang itu pekerjaannya membenci kepada orang lain, atau sering bertengkar dengan orang lain, su’udhan kepada orang lain, berarti itu tanda-tanda dari su’ul khatimah. Naudzubillah min dzalik.

Do’a agar terhidar dari Su’ul Khatimah

Imam Ghazali mengutarakan di dalam kitab Ihya Ulumuddin agar kita terhidar dari su’ul khatimah adalah dengan membaca wiridan setiap ba’da shalat sebanyak tujuh kali. Wiridan tersebut berbunyi:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (QS: Ali Imran: 8)

Lalu oleh imam ghazali untuk supaya kita terhindar dari asbabi suil khatimah di dalam kitab ihya, imam ghazali berkata supaya membaca wiridan setiap ba’da shalat di baca tiga kali. Disuruh untuk membaca rabbana la tuzikh qulubana ba’da idzhadaitana wahablana min ladunka rahmah innaka antal wahhab. Setiap habis shalat dibaca tujuh kali.

Insya Allah dengan kita memohon kepada Allah, kita terhindar dari sebab-sebab su’ul khatimah, termasuk dari sifat takabur, ujub, riya, su’udzan dan lain-lainnya. Mudah-mudahan kita terhindar dari semua itu. Amin ya robbal alamin.[]

baca juga: Prasangka Buruk Salah Satu Penyebab Su’ul khatimah
tonton juga: Kekhususan Membaca Kitab Dalailul Khairat di Zaman Akhir

Vaksinisasi Dosis Kedua di Pondok Lirboyo

Vaksinisasi dosis kedua di Pondok Pesantren Lirboyo dilakukan pada hari Sabtu 25 September 2021. Pemberian dosis ini merupakan tindak lanjut dari pemberian dosis vaksin pertama yang dilaksanakan pada tanggal 25-26 Agustus 2021. Bertempat di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, pukul 08.00 WIs. – 12.00 WIs.

Jenis vaksin yang diberikan pada kesempatan ini adalah Sinovac, dengan vaksinator dilakukan oleh Puskesmas Perawatan Ngletih (PKM).

Pemberian dua dosis vaksin Covid-19 ini tidak lain sebagai ikhtiar memperoleh kekebalan tubuh yang maksimal, juga sebagai kunci utama untuk memutus rantai penularan Covid-19.

Para peserta vaksinisasi mematuhi protokol kesehatan, yaitu memakai maker dengan baik dan benar (menutupi hidung dan mulut) dan menjaga jarak fisik 1-2 meter dengan para peserta vaksinisasi yang lain.

Acara vaksinisasi ini berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan suatu apapun. []

baca juga: Gubernur Tinjau Vaksinasi Lirboyo
tonton juga: Istighatsah Menghadapi Musibah

Vaksinisasi Dosis Kedua di Pondok Lirboyo

Kejadian yang Melatarbelakangi Dianjuran Membaca Qunut Nazilah

Kejadian yang melatarbelakangi dianjuran membaca qunut nazilah | Mengutip dari The Great Episodes of  Muhammad  yang ditulis oleh Dr. Said Ramadhan Al-Buthy pada bulan Shafar tahun ke-4 Hijriyah Nabi Muhammad kedatangan seorang tamu yang menghendaki Nabi berkenan mengutus para sahabat mengajarkan agama Islam di daerah Najd.

Kala itu, rombongan sahabat yang berjumlah 70 orang lebih dikenal sebagai sahabat Al-Qurra’ dan dipimpin oleh Al-Mundzir bin Amir. Namun ketika tiba di sebuah wilayah yang bernama Bir Ma‘unah, rombongan tersebut dicegat oleh sekelompok Bani Sulaim, kemudian rombongan tadi dibantai.

Dalam kejadian yang naas itu, hanya ada satu sahabat selamat, lalu melaporkan pada baginda Nabi. Dalam satu riwayat menyebutkan sahabat adalah Amr bin Umayyah Al-Dhamri.

Adanya musibah yang menimpa kaum Muslimin, Nabi Muhammad SAW lalu berdo’a kepada Allah SWT yang kemudian do’a ini diberi nama dengan Qunut Nazilah.

tonton juga: Arti Taqwa Kepada Allah SWT | KH. Imam Yahya Mahrus

Teks do’a Qunut yang benar dan sesuai dengan sunnah

Ada beberapa riwayat yang menjelaskan bacaan do’a Qunut yang sesuai dengan sunnah yakni sebagaimana bacaan yang telah kita lantunkan setiap hari yaitu :

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافَنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ.الخ

Namun bukan sebuah keharusan bagi umat Muslim untuk membaca do’a Qunut yang sesuai dengan apa yang telah diriwayatkan oleh para sahabat. Mari kita pahami goresan pena Imam An-Nawawi berikut :

وَهَلْ تَتَعَيَّنُ هَذِهِ الْكَلِمَاتُ فِيهِ وَجْهَانِ (الصَّحِيحُ) الْمَشْهُورُ الَّذِي قَطَعَ بِهِ الْجُمْهُورُ أَنَّهُ لَا تَتَعَيَّنُ بَلْ يَحْصُلُ بِكُلِّ دُعَاءٍ

“Apakah kalimat (do’a Qunut) hanya terbatas? Menurut pandangan mayoritas ulama bacaan tersebut (Qunut) tidak dibatasi dan cukup hanya dengan setiap ungkapan yang mengandung makna do’a”

Sehingga dengan penjelasan ini, dapat diambil benang merah bahwa bacaan do’a Qunut bisa terwakili dengan do’a-do’a biasa seperti do’a sehari-hari. Namun tentu saja harus diakui bacaan yang datang dari Nabi akan lebih baik dibandingkan dengan do’a yang lain. []

baca juga: Kapan Saja Disunahkan Membaca Qunut dalam Shalat

Kekhususan Membaca Kitab Dalailul Khairat di Zaman Akhir

Kekhususan Membaca Kitab Dalailul Khairat di Zaman Akhir | KH. Ahmad Idris Marzuqi

Rizki bathiniyyah itu rezeki ilmu atau ilmu sirri di dalam hati. Di dalamnya termasuk ilmu laduni atau ilmu apa saja yang memiliki kaitan dengan ilmu hikmah. Ilmu seperti ini kadang-kadang datang sendiri. Ha ini bisa didapatkan melalui membaca kitab Dalailul Khairat.

Keutamaan membaca kitab Dalailul Khairat

Keutamaan membaca kitab ini, bisa memunculkan ide-ide cemerlang yang timbul dari hati, dan hal ini datang dengan sendirinya. Atau kesulitan apa saja bisa ditemukan jalan keluarnya, dan ketika terjadi apa-apa kadang dalam hati lahir fatwa sendiri. “Oh ini tidak baik, ini baik.” Hal ini tidak lain karena barokah sering membaca kitab Dalailiul Khairat.

Dalam hadis ada istilah “istafti qolbaka” (mintalah fatwa pada hatimu).

اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ

Mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa.(HR. Ahmad no.17545)

Yaitu hati yang bersih, yang murni. Jika dinalar, “masa hati ditanyai?” Hal ini ada keterkaitannya dengan penjelasan yang ada di atas. Yaitu hati yang bersih, hati yang suci, termasuk hati kita orang-orang yang suka membaca shalawat. Itulah ciri khasnya.

baca juga: Kupas Tuntas Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw

Kekhususan membaca kitab Dalailul Khairat di zaman akhir

Dalam situasi zaman akhir seperti zaman sekarang ini, dengan membaca shalawat Dalailul Khairat, kita akan terjaga oleh hati kita sendiri. Pengaruh-pengaruh yang tidak baik, pengaruh-pengaruh yang sesat, sama sekali tidak menyentuh hati kita. Ini keutamaan daripada kita membiasakan membaca Dalailul Khairat.

Jika kita istiqomah mengamalkan kitab tersebut, tidak usah diterangkan, kita akan mengetahui sendiri. “Oh iya ini fadhilah dari membaca kitab Dalailul Khairat.”

Orang yang sudah terbiasa membaca kitab Dalilul Khairat, rezeki tidak pernah lepas. Selalu saja ada rezeki. Di mana rezeki tersebut—min khaitsu la yahtasib (datang dari arah yang tidak disangka-sangka). Inilah fadhilah (keutamaan) daripada membaca kitab Dalailul Khairat.[]

Simak juga: Keutamaan Membaca Dalailul Khoirot | KH. Ahmad Idris Marzuqi
baca juga: Khutbah Jumat: Menyaring Berita, Menjernihkan Suasana

Pentingnya Menghapal Dasar-dasar Agama

Pentingnya Menghapal Dasar-dasar Agama | KH  M. Abdul Aziz Manshur

Permasalahan hafalan atau muhafadzah merupakan ciri khas daripada pondok pesantren. Sehingga barokah ilmu yang diperoleh melalui hafalan itu lain daripada yang diperoleh tidak melalui hafalan.

Imam Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin berkata  bahwa “Dalam tarbiyyah anak kecil, berilah mereka hafalan-hafalan sebanyak mungkin. Karena ketika anak kecil diberi hapalan yang banyak, walaupun yang dihafalakan hanya sebatas ilmu pokoknya saja, ketika ia sudah besar, ilmu pokok melekat kuat dalam hati dan otaknya, yang kemudian nanti ketika sudah besar, akan berkembang dengan sendirinya.”

Yang paling utama bagi anak-anak kecil dipelajajri dan diberi hapalan tentang ilmu tauhid. Sifat wajib dan mustahilnya Allah SWT dihafalkan, nama-nama rasul dihafalkan, nama malaikat dihafalkan, nama kitab Allah SWT dihafalkan, dan seluruh yang terdapat ilmu tauhid dihafalkan semua.

Bisa dilihat perbedaannya, mereka yang langsung belajar tauhid dengan perbandingan- perbandingan menurut Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan lain sebagainya, tetapi tidak memiliki hafalan sama sekali, hal semacam itu pemahaman yang diperoleh kebanyakan kurang kuat. Berbeda jika sebelumnya pernah dihapalkan.

Sehingga sangat tepat pendapat Imam Ghazali di atas bahwa “Latihlah anak-anka kecil itu dengan hafalan-hafalan pelajaran yang penting dan pokok bagi dia.”

Seperti juga anak-anak kecil dipelajari dan disuruh untuk menghafal surat-surat pendek. Sehingga untuk memudahkan anak-anak tersebut dalam menghafal, para ulama membalik urutan surat dengan mendahulukan surat An-Nas dan mengakhirkan surat An-Naba. Hal ini dimaksudkan agar ayat-ayat pendek tersebut dihafalkan dan mudah dalam menghafalkannya.

baca juga: Dawuh KH. M. Abdul Aziz Manshur

Kisah KH. M. Abdul Aziz Manshur dalam menghafal

“Dahulu, saya dipelajari kitab Jurumiyyah oleh bapak saya sampai saya hafal sampai khatam kitab tersebut. Tetapi pada saat itu saya belum tahu huruf. Disuruh untuk menunjuk huruf ba’ saja saya tidak tahu.

Dengan menghafal itu, barokahnya sangat saya rasakan betul. Sehingga naik ke pelajaran Imrithi dan Alfiyyah, ada barokahnya (mudah dalam memahami pelajaran tersebut).”

tonton juga: Pentingnya Menghafal Dasar-dasar Agama I Almaghfurlah KH. M. Abdul Aziz Manshur

Pentingnya Menghapal Dasar-dasar Agama