Pengertian Fidaan dan Zikir yang Dibaca

Pengertian Fidaan

Pada kesempatan kali ini, Admin akan membahas tentang pengertian fidaan yang sudah menjadi tradisi di masyarakat Jawa ketika ada orang Muslim yang meninggal dunia. Namun, apakah kalian tahu bagaimana pengertian lengkapnya, serta tata cara melakukannya?

Berikut kami ulas tentang pengertiannya terlebih dahulu.

Pengertian Fidaan

Pengertian Fidaan dan Zikir yang dibaca
unplash.com

Fida’an merupakan istilah Jawa yang diambilkan dari Bahasa Arab berupa kata fida. Artinya menebus atau tebusan.

Pengertian fida’an dalam tradisi Jawa popular sebagai tradisi keagamaan yang di dalamnya diisi berbagai bacaan zikir dengan maksud menebus atau membebaskan seseorang (setelah meninggal dunia) dari neraka.

Zikiran yang Dibaca dan Dalilnya

Pengertian Fidaan dan Zikir yang Dibaca
unplas.com

Diambilkan dari beberapa hadis, zikiran yang dibaca dalam acara fida’an berupa kalimat thoyyibah (laa ilaaha illallah) sebanyak 70.000 kali atau surat al-Ikhlas sebanyak 100.000 kali.

Umumnya, ritual keagamaan ini biasa dilaksanakan di rumah duka selama tujuh malam pertama sejak hari kematian.

Dalil terkait dengan ritual ini adalah hadis atsar riwayat Syekh Abu Said al-Qurthubi yang dikutip Syeh Muhammad Abdullah Ibnu As’ad al-Yafi’i:

سَمِعْتُ من َبعض الآثارِ أنّ مَنْ قال (لا إله إلاّ اللهُ) سَبعِينَ ألفَ مَرّةٍ كانَت فِداءَهُ مِن النّار

Artinya: “Aku mendengar dari salah satu atsar (hadis sahabat Nabi), sesungguhnya barangsiapa membaca laa ilaaha illallah sebanyak 70.000 kali, maka bacaan tersebut akan menjadi tebusannya dari api neraka.” (HR. al-Qurtubi)

Untuk dalil zikir dengan menggunakan bacaan surat al-Ikhlas sebanyak 100.000 kali diambil hadis Rasulullah. Berikut hadisnya:

من تلا قل هو الله أحد مائة الف مرة فقد اشترى نفسه من الله تعالى ونادى مناد من قبل الله تعالى في سماواته وفي أرضه ألا ان فلانا عتيق الله تعالى فمن له قبله تباعة فليأخذها من الله تعالى

Artinya: “Barangsiapa membaca surat al-Ikhlas 100.000 kali, maka ia telah menebus dirinya dari Allah SWT. Kemudian, akan mengema seruan dari sisi Allah di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya seseorang telah dibebaskan oleh Allah dari api neraka. Maka barangsiapa mempunyai hak atas diri orang tersebut, menuntutlah kepada Allah.” (HR. Al-Bazzar dari Anas bin Malik)

Penjelasan Tentang Hadis

Pengertian Fidaan dan Zikir yang Dibaca
unplash.com

 

Meskipun kesahihan hadis pertama masih menjadi kontroversi karena dianggap pro-kontra, mengingat Imam Al-Qurthubi dinilai kurang memiliki keahlian dalam ilmu hadis, sebagian ulama tetap mengakui bahwa hadis tersebut memiliki kualitas yang benar dan dapat diikuti.

Penilaian ini tidak terjadi tanpa dasar, karena hadis tersebut juga tercatat dalam kitab “al-Maqosid al-Hasanah fi al-Ahaadits ad-Da’irah ‘ala al-Alsinah” karya Syaikh Al-Imam al-Hafidh Syamsuddin al-Sakhawi.

Salah satu ulama yang mendukung pandangan ini adalah Ahmad bin Muhammad al-Wayily dan al-Imam Syaikhul Islam at-Thanbadawi al-Bakri. Dukungan ini juga diperkuat dengan keterangan tambahan yang menyebutkan:

مَن بلغه عن الله –عز وجل- شيء فيه فضيلة، فأخذ به إيمانًا به ورجاء ثوابه، أعطاه الله ذلك، وإن لم يكن كذلك

Artinya: “Barangsiapa yang datang kepadanya dari Allah suatu amal yang mempunyai keutamaan, kemudian dia mengamalkan dengan mengimaninya dan mengharapkan limpahan pahalanya, maka Allah akan memberikan apa yang dia harapkan, walaupun sebenarnya suatu amal tadi tidak seperti itu.” (HR. Hasan Ibnu ‘Arafah)

Dari penjelasan di atas, setidaknya dapat dipahami bahwa ritual fida’an yang umumnya digelar oleh masyarakat Muslim Indonesia bukan tanpa dasar.

Al-‘Allamah Djamal al-Qamath berkomentar bahwa mengamalkan hal yang demikian sebenarnya lebih utama karena tidak bertentangan dengan usul syariat (dasar agama). Argumentasi ini diamini oleh Sayyid Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdul Bary al-Ahdaly.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.