Category Archives: Konsultasi

Hukum Menghadiri Resepsi Pernikahan Tanpa Diundang

Assalamualaikum Wr. Wb.
Sekarang musimnya orang melangsungkan resepsi pernikahan. Realita mengatakan, yang hadir dalam acara tersebut bukan hanya orang-orang yang diundang. Namun banyak orang-orang yang tak diundang hadir dalam resepsi pernikahan tersebut. Bagaimana hukumnya? Boleh atau tidak? Mohon penjelasannya, terimakasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
(Sholahuddin, Kediri)


Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Dalam sebuah acara resepsi pernikahan atau sejenisnya tak jarang ditemukan orang-orang yang ikut hadir dalam acara tersebut kendati ia tidak diundang secara resmi oleh pihak tuan rumah. Tentunya keberadaan orang yang tidak diundang hakikatnya tidak mendapatkan izin dari pihak tuan rumah untuk hadir dalam acaranya.

Untuk itu, menjadi tamu liar yang tak diundang hukumnya adalah haram kecuali diketahui bahwa pihak tuan rumah akan rela atau tidak keberatan dengan kehadirannya. Syekh Zakaria al-Anshari mengatakan dalam kitab Asna al-Mathalib:

وَيَحْرُمُ التَّطَفُّلُ وَهُوَ حُضُورُ الْوَلِيمَةِ مِنْ غَيْرِ دَعْوَةٍ إلَّا إذَا عَلِمَ رِضَا الْمَالِكِ بِهِ لِمَا بَيْنَهُمَا مِنْ الْأُنْسِ وَالِانْبِسَاطِ.

“Dan haram tathafful, yaitu menghadiri walimah tanpa diundang kecuali apabila mengetahui kerelaan pemilik (tuan rumah) dengan kehadirannya karena atas dasar ramah dan gembira di antara keduanya.” (Asna al-Mathalib, III/227)

Dalam kelanjutannya, Imam al-Haramain menegaskan bahwa larangan menghadiri walimah tanpa diundang hanya ditentukan apabila orang tersebut dipastikan tidak masuk dalam orang-orang yang dikehendaki pihak tuan rumah. Sehingga jika pihak tuan rumah menghendaki siapa saja boleh menghadiri atau undangannya yang bersifat umum, misalkan mengundang seluruh teman sekolah, seluruh rekan kerja, atau seluruh tetangga, maka boleh untuk menghadirinya. Karena dalam hal ini indikasi kerelaan pihak tuan rumah sudah sangat jelas.

Syekh Khatib as-Syirbini mengutip pendapat imam al-Haramain dalam kitab Mughni al-Muhtaj berikut:

وَقَيَّدَ ذَلِكَ الْإِمَامُ بِالدَّعْوَةِ الْخَاصَّةِ، أَمَّا الْعَامَّةُ كَأَنْ فَتَحَ الْبَابَ لِيَدْخُلَ مَنْ شَاءَ فَلَا تَطَفُّلَ

“Imam al-Haramain memberikan ketentuan haramnya apabila ada undangan khusus. Adapun undangan yang bersifat umum, seperti orang yang membuka pintu dan mempersilahkan siapa saja yang berkenan, maka keharaman menghadiri walimah tanpa diundang tidak berlaku lagi.” (Mughni al-Muhtaj, IV/410) []waAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM AMPLOP KONDANGAN, TERMASUK HUTANG ATAU HADIAH?

Subscribe juga:
Youtube: Pondok Pesantren Lirboyo

Hukum Menjual Sisa Kulit Hewan Kurban

Assalamualaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukum menjual kulit hewan kurban dengan tujuan tertentu, misalkan untuk dimasukkan ke dalam kas masjid? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Ali M., Sragen Jawa Tengah


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pasca penyembelihan hewan kurban, permasalahan yang sering muncul ialah pengalokasian kulit hewan kurban, salah satu permasalahannya ialah hukum menjualnya. Pada dasarnya, menjual kulit hewan kurban dengan alasan apapun tidak diperbolehkan. Sebagaimana penjelasan Syekh Khatib as-Syirbini dalam kitab Iqna’:

وَلاَ يَبِيْعُ مِنَ اْلأُضْحِيَّةِ شَيْئًا وَلَوْ جِلْدَهَا أَيْ يَحْرُمُ عَلَيْهِ ذَلِكَ وَلاَ يَصِحُّ سَوَاءٌ أَكَانَتْ مَنْذُورَةً أَمْ لاَ

“Tidak boleh menjual bagian apapun dari hewan kurban, bahkan kulitnya sekalipun. Artinya haram dan tidak sah menjualnya bagi orang yang berkurban, baik kurban nadzar atau kurban sunah.” (Al-Iqna’, II/592)

Namun di masyarakat, seringkali kulit hewan kurban tersebut dijual oleh panitia kurban dengan berbagai alasan. Untuk itu, solusi yang bisa dilakukan ialah dengan memberikan kulit tersebut kepada salah satu panitia yang terbilang fakir miskin atas nama sedekah. Lalu baginya boleh menjual kulit hewan tersebut kemudian mengalokasikan hasil penjualannya sesuai kehendaknya, misalkan untuk biaya operasional atau dimasukkan dalam kas masjid atau mushalla.

Imam asy-Syarqawi menjelaskan dalam kitabnya,

Hasyiyah asy-Syarqawi’ala at-Tahrir berikut:

(قَوْلُهُ وَلَا بَيْعُ لَحْمِ اُضْحِيَّةِ الخ) وَمِثْلُ اللَّحْمِ الْجِلْدُ وَالشَّعْرُ وَالصُّوْفُ وَمَحَلُّ امْتِنَاعِ ذَلِكَ فِى حَقِّ الْمُضَحِّى اَمَّا مَنِ انْتَقَلَ اِلَيْهِ اللَّحْمُ اَوْ نَحْوُهُ فَاِنْ كَانَ فَقِيْرًا جَازَ لَهُ الْبَيْعُ اَوْ غَنِيًّا فَلَا … وَلَا فَرْقَ فِى الْاُضْحِيَّةِ بَيْنَ الْوَاجِبَةِ وَالْمَنْدُوْبَةِ

“(Tidak boleh menjual daging kurban) disamakan dengan daging tersebut ialah kulit, bulu, dan rambutnya. Larangan ini berlaku bagi orang yang berkurban. Adapun orang yang menerima pemberian daging atau sesamanya, apabila ia tergolong fakir maka boleh menjualnya dan apabila tergolong kaya maka tidak boleh menjualnya… Dalam hal ini tidak perbedaan antara kurban wajib kurban sunah.” (Hasyiyah asy-Syarqawi ‘ala at-Tahrir, II/21)

Bahkan menurut salah satu pendapat yang lemah, seandainya kulit diberikan kepada panitia yang terbilang kaya, baginya boleh untuk menjual dan mengalokasikan hasil penjualannya sesuai tujuan di atas. (Sayyid Abdurrahman Ba’alawi, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 423) []waAllahu a’lam

Baca juga:
RINGKASAN SALAT IDUL ADHA

Tonton juga:
Hari Raya Idul Adha | Seputar Kurban

Bolehkah Satu Kambing untuk Kurban Sekeluarga?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Maaf sebelumnya, sekarang ramai dibicarakan tentang pernyataan seorang ustad yang mengatakan bahwa satu ekor kambing boleh untuk kurban sekeluarga. Apakah hal tersebut benar? Mohon penjelasannya. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Shonhaji, Probolinggo


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam menjawab fenomena ini, yang perlu dipahami adalah kesunahan berkurban dan pahala berkurban adalah dua hal yang berbeda.

Pertama, anjuran berkurban ditujukan kepada siapapun yang memenuhi syarat anjuran berkurban, dengan ketentuan satu ekor kambing untuk satu orang atau satu ekor unta maupun satu ekor sapi untuk tujuh orang. Sehingga apabila dilakukan oleh satu orang dalam satu keluarga, maka dapat menggugurkan hukum makruh bagi yang lainnya dalam keluarga tersebut. Imam an-Nawawi mengatakan:

تُجْزِئُ الشَّاةُ عَنْ وَاحِدٍ وَلَا تُجْزِئُ عَنْ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ لَكِنْ إذَا ضَحَّى بِهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ تَأَدَّى الشِّعَارُ فِي حَقِّ جَمِيعِهِمْ وَتَكُونُ التَّضْحِيَةُ فِي حَقِّهِمْ سُنَّةَ كِفَايَةٍ

“Seekor kambing kurban mencukupi untuk satu orang, tidak lebih. Tapi kalau salah seorang dari anggota keluarga berkurban dengan satu ekor, maka cukuplah syiar Islam dalam keluarga tersebut. Ibadah kurban dalam sebuah keluarga itu sunah kifayah.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, VIII/397)

Kedua, dalam sudut pandang pahala, berkurban memiliki cakupan lebih luas, yakni setiap orang yang disertakan dalam mendapatkan pahala berkurban. Semisal berkurban yang pahalanya untuk seluruh keluarga. Imam Syihabuddin Ar-Ramli menjelaskan:

وَيُجْزِئُ الْبَعِيْرُوَالْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ … وَاَمَّا خَبَرُ اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ مُحَمَّدٍ وَ أمَّةِ مُحَمَّدٍ فَمَحْمُوْلٌ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ التَّشْرِيْكُ فِى الثَّوَابِ لَا فِى الْأُضْحِيَّةِ


“Seekor unta dan sapi cukup untuk tujuh orang…. Adapun yang dikehendaki hadis yang berupa doa Nabi ‘Ya Allah kurban ini untuk Muhammad dan seluruh umat Muhammad’ adalah untuk mendapatkan pahala bersama, bukan dalam anjuran menggugurkan berkurban untuk setiap orang.” (Nihayah Al-Muhtaj, VIII/1134)

Dengan demikian, berkurban satu kambing untuk satu keluarga hukumnya tidak sah atas nama kurban, karena ketidaksesuaian porsi binatang dengan orang yang berkurban. Namun hukumnya sah dilihat dari sudut pandang berbagi pahala secara bersama-sama (at-tasyrik fi ats-tsawab). Sehingga yang berkurban tetaplah satu orang, dan pahalanya diberikan kepada seluruh anggota keluarga. []WaAllahu A’lam

Baca juga
– HIKMAH KURBAN DARI BEBERAPA ASPEK KEHIDUPAN

Hukum Salat Menggunakan Masker

Di tengah wabah virus corona atau covid-19, penggunaan masker merupakan hal yang sangat lumrah di kalangan masyarakat, bahkan pada saat salat sekalipun.

Pada dasarnya, memakai penutup mulut ketika salat, seperti masker dan semacamnya, hukumnya adalah makruh berdasarkan hadis berikut:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُغَطِّيَ الرَّجُلُ فَاهُ فِي الصَّلَاةِ

“Rasulullah Saw. melarang seseorang menutup mulutnya ketika salat.” (Faidah al-Qadir, VI/315)

Imam Nawawi menegaskan:

وَيُكْرَه أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَمِهِ فِي الصَّلَاةِ إلَّا إذَا تَثَاءَبَ فَإِنَّ السُّنَّةَ وَضْعُ الْيَدِ … وَهَذِهِ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ لا تمنع صحة الصَّلَاةِ

“Dan dimakruhkan menurut mulut dengan tangan dalam salat kecuali saat ia menguap… Makruh di sini adalah makruh tanzih (tidak haram) sehingga tidak menghalangi keabsahan salat.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, III/719)

Meskipun demikian, jika pemakain masker dalam salat sangat dibutuhkan, seperti karena khawatir terpapar virus corona, maka hal itu tidak masalah. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah:

أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ عَلَى الْمَرْأَةِ أَنْ تَكْشِفَ وَجْهَهَا فِي الصَّلاَةِ وَالإِْحْرَامِ، وَلأَِنَّ سَتْرَ الْوَجْهِ يُخِل بِمُبَاشَرَةِ الْمُصَلِّي بِالْجَبْهَةِ وَيُغَطِّي الْفَمَ ، وَقَدْ نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُل عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ لِحَاجَةٍ كَحُضُورِ أَجَانِبَ، فَلاَ كَرَاهَةَ

“Para ulama sepakat bahwa wanita harus membuka wajahnya ketika salat dan ihram. Karena sesungguhnya penutup wajah itu menghalangi seseorang yang melaksanakan salat (untuk menempelkan) secara langsung dahi dan hidung serta dapat menutupi mulut. Nabi Saw. juga melarang seorang laki-laki melakukan hal itu. Jika ada kebutuhan, seperti adanya laki-laki lain (bukan mahramnya bereda di dekatnya ketika salat), maka tidak makruh.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, XXXXI/136)

Dengan demikian, menutup mulut menggunakan masker apabila ada kebutuhan semisal mengantisipasi penyebaran virus corona atau covid-19 diperbolehkan.
waAllahu a’lam.

Hukum Menggelar Akad Nikah di Masjid

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Banyak sekali kita temui prosesi akad nikah yang diselenggarakan di masjid. Sebenarnya, apakah hal tersebut dianjurkan? Dan apabila dianjurkan, apakah keutamaannya? Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Setiawan, Bengkulu)

________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Pernikahan merupakan ibadah sakral dalam kehidupan setiap orang. Mereka selalu menginginkan pernikahannya menjadi berkah, salah satunya dengan melangsungkan akad nikah di masjid. Dalam hal ini, secara tegas Rasulullah Saw. telah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Sayyidah ‘Aisyah Ra.:

أَعْلِنُوا هَذَا النِّكَاحَ وَاجْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَاضْرِبُوا عَلَيْهِ بِالدُّفُوفِ

Umumkanlah akad nikah itu, lakukanlah di masjid, dan tabuhlah rebana untuknya.” (HR. At-Thirmidzi)

Dari legalitas hadis tersebut, para ulama sepakat bahwa melaksanakan akad nikah di masjid hukumnya sunah. Sebagaimana penjelasan Abdurrahman al-Mubarakfuri menjelaskan dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi:

وَاجْعَلُوهُ فِي الْمَسَاجِدِ وَهُوَ إِمَّا لِأَنَّهُ أَدْعَى لِلْإِعْلَانِ أَوْ لِحُصُولِ بَرَكَةِ الْمَكَانِ

““Lakukanlah akad nikah di masjid, karena hal tersebut lebih maksimal dalam menampakkan pernikahan dan untuk mendapatkan keberkahan tempatnya.”[1]

 Syekh Abi Bakar Muhammad Syato ad-Dimyati pun menegaskan dalam kitab Hasyiyah I’anah ath-Thalibin:

وَاجْعَلُوْهُ فِي الْمَسَاجِدِ مُبَالَغَةً فِي إِظْهَارِهِ وَاشْتِهَارِهِ فَإِنَّهُ أَعْظَمُ مَحَافِلِ الْخَيْرِ وَالْفَضْلِ.

Lakukanlah akad nikah di masjid, karena hal tersebut lebih menampakkan dan memasyhurkan pernikahan. Dan karena sesungguhnya masjid adalah tempat yang lebih utama dalam mengadakan perkumpulan yang baik.”[2]

Dengan demikian, akad nikah di masjid sangat dianjurkan. Namun dengan catatan harus tetap menjaga kehormatan masjid dengan tidak melakukan hal-hal yang diharamkan di dalamnya, seperti mengganggu aktivitas ibadah orang lain, tidak membuat kegaduhan, dan semacamnya. Begitu juga boleh acara makan-makan namun tetap menjaga kebersihan serta kehormatan masjid. Apabila tidak bisa, maka sebaiknya yang dilakukan di masjid hanya akad nikahnya saja, sebagaimana penuturan sebagian ulama Madzhab Maliki. Untuk rangkaian acara lain dilakukan di luar masjid.[3] []waAllahu a’lam


[1] Abdurrahman al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi, IV/178

[2] Abi Bakar Muhammad Syato ad-Dimyati, I’anah at-Thalibin, III/316

[3] Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, XXXVII/214