Category Archives: Konsultasi

Terbukanya Dagu Wanita dalam Salat

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukumnya dagu wanita yang sering terlihat ketika mereka salat? Apakah hal tersebut dapat membatalkan salat? Mohon penjelesannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Nafisah M., Malang)

________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di masyarakat, masih banyak ditemukan tata cara menutup aurat yang kurang tepat, khususnya bagi kalangan perempuan. Misalkan dalam permasalahan dagu, bahwa ujung dagu yang berada di bawah tulang rahang masih tergolong anggota wajah yang wajib ditutupi dalam madzhab Syafi’i. Sehingga apabila ada bagian aurat yang terbuka—termasuk ujung bawah dagu—maka menyebabkan batalnya salat.

Karena pada dasarnya, batas aurat wanita di dalam ialah selain wajah dan kedua telapak tangan. Sehingga segala hal yang menyempurnakan kewajiban menutup aurat hukumnya juga wajib, seperti halnya menutup ujung dagu demi menyempurnakan aurat di bawah wajah. Sebagaimana kaidah:

مَا لَا يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلَّا بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Sesuatu yang menjadikan kewajiban tidak sempurna tanpa hal itu, maka hukumnya juga wajib.”

Permasalahan dagu yang menjadi penting dalam madzhab Syafi’i ini berbeda halnya dengan madzhab Hanafi dan Maliki yang mengatakan terbukanya ujung dagu tidak menyebabkan batalnya salat. 

Syekh Ismail Zein menjelaskan:

اِنْكِشَافُ مَا تَحْتَ الذَّقَنِ مِنْ بَدَنِ الْمَرْأَةِ فِي حَالِ الصَّلَاةِ وَالطَّوَافِ يَضُرُّ فَيَكُوْنُ مُبْطِلًا لِلصَّلَاةِ وَالطَّوَافِ هَذَا مَذْهَبُ سَادَتِنَا الشَّافِعِيَّةِ وَأَمَّا عِنْدَ غَيْرِهِمْ كَالسَّادَةِ الْحَنَفِيَّةِ وَالسَّادَةِ الْمَالِكِيَّةِ فَإِنَّ مَا تَحْتَ الذَّقَنِ وَنَحْوَهُ لَا يُعَدُّ كَشْفُهُ مِنَ الْمَرْأَةِ مُبْطِلًا لِلصَّلَاةِ … وَحِيْنَئِذٍ لَوْ وَقَعَ ذَلِكَ مِنَ الْعَامِيَّاتِ اللَّاِتي لَمْ يَعْرِفْنَ كَيْفِيَةَ التَّقْلِيْدِ بِمَذْهَبِ الشَّافِعِيَّةِ فَإِنَّ صَلَاتَهُنَّ صَحِيْحَةٌ لِاَنَّ الْعَامِي لَا مَذْهَبَ لَهُ وَحَتَّى مِنَ الْعَارِفَاتِ بِمَذْهَبِ الشَّافِعِي إِذَا أَرَدْنَ تَقْلِيْدَ غَيْرِ الشَّافِعِي مِمَّنْ يَرَى ذَلِكَ فَإِنَّ صَلَا تُهُنَّ تَكُوْنُ صَحِيْحَةً

Terbukanya bagian di bawah dagu bagi perempuan ketika salat dan tawaf merupakan hal fatal yang dapat menyebabkan batalnya salat dan tawaf….. ini dalam madzhab Syafi’i kita. Adapun madzhab selainnya, seperti golongan Hanafi dan Maliki, sesungguhnya terbukanya bagian bawah dagu dan sesamanya bagi perempuan tidak membatalkan salat… Dengan demikian, apabila hal tersebut terjadi pada perempuan awam yang belum mengetahui tata cara mengikuti pendapat madzhab Sya’fi’i, maka salat mereka sah. Karena orang awam tidak memiliki madzhab. Begitu juga bagi perempuan yang mengerti dengan madzhab Syafi’i ketika mereka menghendaki untuk mengikuti pendapat selain Syafi’i. Maka salat mereka juga sah.” (Fatawa Ismail Zein, hlm. 52)

Namun apabila hal tersebut sudah terlanjur dilakukan oleh para perempuan, maka salat yang telah lalu tetap dihukumi sah. Dan untuk ke depannya, hendaklah mengubah cara pemakaian mukena agar lebih berhati-hati dengan menutup bagian dagunya. []waAllahu a’lam

Saat Macet, Bolehkah Salat di Kendaraan?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ketika dalam perjalanan yang tidak memungkinkan untuk melakukan salat apakah boleh melakukannya di dalam kendaraan? Mohon jawabannya. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Zuhri, Bekasi)

________________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ketika waktu salat tiba, tak jarang seseorang yang berada dalam perjalanan kesulitan untuk dapat melaksanakan salat. Hal ini disebabkan beberapa faktor, di antaranya terjebak dalam macet, berada di dalam kendaraan umum, atau faktor lain yang tidak memungkinkan untuk salat.

Dalam keadaan demikian, apabila seseorang tidak memungkinkan untuk menepi dan mencari tempat salat maka ia wajib salat semampunya (li hurmatil waqti) di dalam kendaraan. Imam an-Nawawi telah menjelaskan dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab demikian:

وَلَوْ حَضَرَتْ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ وَهُمْ سَائِرُونَ وَخَافَ لَوْ نَزَلَ لِيُصَلِّيَهَا عَلَى الْأَرْضِ إلَى الْقِبْلَةِ انْقِطَاعًا عَنْ رُفْقَتِهِ أَوْ خَافَ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ لَمْ يَجُزْ تَرْكُ الصَّلَاةِ وَإِخْرَاجُهَا عَنْ وَقْتِهَا بَلْ يُصَلِّيهَا عَلَى الدَّابَّةِ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ وَتَجِبُ الْإِعَادَةُ لِأَنَّهُ عُذْرٌ نَادِرٌ

Ketika waktu salat wajib sudah tiba namun seseorang berada dalam perjalanan dan apabila ia turun untuk melakukan salat (secara sempurna) dengan menghadap kiblat sehingga khawatir akan tertinggal dari rombongannya atau khawatir terhadap dirinya maupun hartanya, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkan salat dan tidak melaksanakan salat pada waktunya. Akan tetapi ia berkewajiban salat di atas kendaraan untuk menghormati waktu serta wajib mengulangi salat karena hal itu tergolong udzur yang tergolong jarang.”[1]

Salat di dalam kendaraan sering kali tidak bisa dilakukan secara sempurna, baik dari segi arah kiblat, posisi tubuh atau bahkan alat bersuci . Maka yang harus dilakukan ialah melakukan dengan semampunya, baik hanya dengan duduk atau isyarat, menghadap kiblat atau pun tidak, dalam keadaan suci atau tidak. Semuanya dilakukan semampunya namun masih memiliki kewajiban mengulangi salat (i’adah) setelah selesai dari perjalanan tersebut.[2]

[]waAllahu a’lam


[1] An-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, III/242

[2] As-Syafi’i, al-Umm, I/98

Menjawab Adzan dari Speaker dan Televisi

Hukum Menjawab Adzan dari Speaker dan Televisi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ada permasalahan yang ingin saya tanyakan mengenai kesunahan menjawab adzan. Mengapa dibedakan antara adzan yang berasal dari speaker di masjid atau mushola dengan adzan yang berasal dari televisi, aplikasi atau rekaman? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Abdus Shomad, Pontianak)

____________________________

Ketika terdengar adzan, maka bagi orang yang mendengarnya disunnahkan untuk menjawabnya, meskipun terdengar lewat speaker atau pengeras suara. Karena adzan yang terdengar merupakan suara asli seorang muadzin yang dikeraskan dengan bantuan teknologi speaker.

Baca Juga Mengumandangkan Adzan di liang kubur.

Beda halnya ketika suara itu berasal dari suara rekaman, seperti adzan yang ada dalam aplikasi waktu shalat, televisi, radio, dan lain-lain. Maka tidak sunah menjawabnya. Sebagimana penjelasan Syekh Ismail Zain dalam fatwanya:

سُؤَالٌ هَلْ يُسَنُّ جَوَابُ الْأَذَانِ مِنْ مُكَبِّرِ الصَّوْتِ إِذَا كَانَ الْمُؤَذِّنُ بَعِيْدًا عَنْهُ بِحَيْثُ لَا يَسْمَعُ أَذَانَهُ إِلَّا بِوَاسِطَةِ مُكَبِّرِ الصَّوْتِ أَوْ لَا، بَيِّنُوْا لَنَا ذَلِكَ؟ اَلْجَوَابُ نَعَمْ يُسَنُّ إِجَابَةُ الْمُؤَذِّنِ الْمَذْكُوْرِ وَالْمُكَبِّرِ غَايَةَ مَا فِيْهِ أَنَّهُ يَقْوِي الصَّوْتَ وَيُبْلِغُهُ اِلَى مدِي بَعِيْدٍ، هَذَا اِذَا كَانَ الْأَذَانُ مَنْقُوْلًا بِوَاسِطَةِ الْمُكَبِّرِ عَنْ مُؤَذِّنٍ يُؤَذِّنُ بِالْفَعْلِ، أَمَّا إِذَا كَانَ الْأَذَانُ فِي الشَّرِيْطِ الْمُسَجَّلِ فَلَا تُسَنُّ إِجَابَتُهُ لِأَّنَهُ حَاكٍ

Soal: Disunnahkan ataukah tidak menjawab adzan dari pengeras suara (speaker) ketika keberadaan muadzin jauh darinya, sekiranya adzan tersebut tak terdengar kecuali dengan perantara pengeras suara. Jelaskan itu pada kami? Jawab: Ya, Disunnahkan menjawab adzan tersebut. Adapun pengeras suara (speaker) hanya mengeraskan dan menyampaikan suara pada jarak jauh. Kesunahan ini berlaku apabila adzan bersumber dari muadzin yang adzan secara nyata. Apabila adzan bersumber dari kaset rekaman maka tidak sunah menjawabnya, karena itu sebatas memutar rekaman.” (Qurroh Al-‘Ain bi Fatawa Ismail Zain, hal. 52)

Baca Juga Menjawab Adzan Dari Aplikasi.

Hukum di atas juga berlaku pada setiap kesunahan yang didasari atas pendengaran, seperti kesunahan mengucapkan amin ketika mendengar doa atau kesunahan sujud sahwi ketika mendengar bacaan ayat Sajdah. Karena kesunahan-kesunahan itu didasari oleh terdengarnya sesuatu secara nyata, bukan berupa rekaman yang mana suaranya direkam di waktu lampau dan diputar berulang-ulang di waktu mendatang. waAllahu a’lam. []

Hukum Membelikan Skincare untuk Istri

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Apakah membelikan Skincare maupun kosmetik menjadi hak istri yang harus dipenuhi suami? Terimakasih. Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Arini, Malang)

__________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Nafkah merupakan kewajiban seorang yang harus dipenuhi untuk mencukupi kebutuhan orang lain, salah satunya adalah nafkah suami untuk istri. Dalam konteks ini, ada beberapa hal yang menjadi kewajiban seorang suami untuk istrinya, di antaranya adalah kebutuhan makan, pakaian dan tempat tinggal. Begitu juga alat kebersihan tubuh istri merupakan kewajiban suami. Syekh Khotib as-Syirbini berkata dalam kitab al-Iqna demikian:

وَيَجِبُ لَهَا آلَةُ تَنْظِيفٍ مِنْ الْأَوْسَاخِ

Dan wajib bagi istri untuk mendapatkan alat pembersih dari kotoran.”[1]

Adapun kosmetik atau skincare dan semacamnya bukan termasuk kewajiban yang harus diberikan kepada istri. Akan tetapi dalam rangka mu’asyarah bil ma’ruf dan menyenangkan istri, maka disunnahkan bagi suami memberikannya.[2] Bahkan apabila suami menginginkan istri menggunakan skincare, maka suami harus menyediakan. Hal ini dijelaskan secara terperinci oleh imam Abu Ishaq as-Syirazi dalam kitab al-Muhadzdzab:

وَأَمَّا الْخِضَابُ فَإِنَّهُ إِنْ لَمْ يَطْلُبْهُ الزَّوْجُ لَمْ يَلْزَمْهُ، وَإِنْ طَلَبَهُ مِنْهَا لَزِمَهُ ثَمَنُهُ لِاَنَّهُ لِلزِّيْنَةِ… وَإِنَّمَا يَحْتَاجُ إِلَيْهِ لِعَارِضٍ وَأَنَّهُ يُرَادُ لِاِصْلَاحِ الٰجِسْمِ فَلَا يَلْزَمْهُ

Adapun warna pacar sesungguhnya apabila suami tidak menginginkannya maka hal itu tidak diwajibkan atas suami (untuk memberikan). Namun apabila suami menginginkannya dari istri maka wajib atas suami untuk memberikan sesuai harga untuk membelinya karena penggunaan semacam itu termasuk berhias… Hal demikian dibutuhkan karena tuntutan tertentu yang pada dasarnya hanya sebatas memperindah fisik perempuan yang hukum asalnya tidak wajib.”[3] []waAllahu a’lam


[1] Hamisy Al-Iqna’, vol. IV hlm. 93

[2] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah, vol. III hlm. 65

[3] al-Muhadzdzab, vol. II hlm. 161

Hukum Cebok Menggunakan Tisu Toilet

Assaamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukumnya bersuci (cebok) menggunakan media tisu toilet? Apakah dapat mensucikan? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ratih P., Majalengka)

_________________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dengan karakteristik dan keistimewaan yang tidak dimiliki zat lain, air merupakan media paling utama dalam bersuci. Namun dalam beberapa varian toilet, khususnya toilet modern, terkadang ketersediaan air sangat sedikit atau bahkan tidak disediakan air yang secara khusus dapat digunakan untuk bersuci. Namun meskipun demikian, keberadaan tisu berperan sebagai alat bersuci dan pembersih pengganti air.

Dalam sudut pandang khazanah literatur fikih, keberadaan tisu dapat digunakan dalam istinja’ (cebok) apabila sudah memenuhi kriteria barang yang dapat digunakan untuk cebok, yaitu benda padat, suci, mampu mengangkat kotoran dan bukan tergolong benda yang dimuliakan.[1]

Bahkan lebih mendalam, Sayyid Abdurrahman al-Masyhur secara tegas menuturkan dalam kitab kodifikasinya yang berjudul Bughyah al-Mustarsyidin sebagaimana berikut:

يَجُوْزُ الْإِسْتِنْجَاءُ بِأَوْرَاقِ الْبَيَاضِ الْخَالِى عَنْ ذِكْرِ اللهِ كَمَا فِى الْإِيْعَابِ

Diperbolehkan cebok dengan menggunakan kertas-kertas putih (tisu) yang tidak tertulis Allah di dalamnya, sebagaimana keterangan dalam kitab al-I’ab.”[2]

Meskipun demikian, penggunaan tisu sebagai media istinja’ (cebok) pengganti air harus memenuhi beberapa ketentuan, diantaranya adalah tisu digunakan seketika sebelum najisnya kering, najis yang keluar tidak merempet kemana-mana (hanya berada di sekitar tempat keluarnya), dan tidak ada najis lain yang keluar selain najis yang hendak disucikan. []waAllahu a’lam


[1] Khotib as-Syirbini, Al-Iqna, hlm. 54.

[2] Abdurrahman al-Masyhur, Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 28.