Category Archives: Konsultasi

Adzan Hayya Alal Jihad

Assalamualaikum Wr. Wb.

Maaf mau bertanya, bagaimana hukumnya mengganti lafal bacaan adzan? Misalkan mengganti bacaan Hayya ‘alas sholat menjadi “Hayya ‘alal jihad seperti video-video yang beredar saat ini. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Abdul Hakim, Bogor)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di media sosial telah beredar video sebuah provokasi untuk jihad. Hal ini dilakukan beberapa kelompok orang melalui seruan adzan dengan mengganti lafal “Hayya ‘alas sholat” (marilah shalat) menjadi “Hayya ‘alal jihad” (marilah berjihad).

Dalam sudut pandang fikih, permasalahan ini mirip dengan tambahan lafal “Hayya ‘ala khairil ‘amal” (marilah melakukan amal terbaik) yang hukumnya makruh serta tergolong perbuatan bid’ah. Sebagaimana Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Al-Minhaj al-Qawim berikut:

وَيُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُبْطِلُ الأَذَانَ بِشَرْطِ أَنْ يَأْتِيَ بِالْحَيْعَلَتَيْنِ أَيْضًا

“Dimakruhkan mengumandangkan Hayya ‘ala khairil ‘amal (marilah melakukan amal terbaik) karena termasuk perbuatan bid’ah. Akan tetapi tadak sampai membatalkan adzan dengan syarat tetap melafalkan Hai’alah dua, yaitu Hayya ‘alas sholah dan Hayya ‘alal falah.” (Al-Minhaj al-Qawim, hal. 83)

Dengan demikian, apabila penambahannya sampai mengganti keberadaan lafal “Hayya ‘alas sholah” dan “Hayya ‘alal falah” tersebut, seperti yang ada dalam video yang beredar, maka dapat berkonsekuensi haram.

Hal ini sesuai dengan keterangan dari Imam Ali Syibramulisi yang
memperkuat penjelasan Imam ar-Ramli:

وَيُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ مَعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ: حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ، فَإِنْ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَصِحَّ
(قَوْلُهُ: فَإِنْ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَصِحَّ) وَالْقِيَاسُ حِينَئِذٍ حُرْمَتُهُ لِأَنَّهُ بِهِ صَارَ مُتَعَاطِيًا لِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ

“Dimakruhkan menambahkan lafal Hayya ‘ala khairil ‘amal bersamaan dengan lafal Hayya ‘alas sholah dan Hayya ‘alal falah. Apabila hanya menggunakan lafal tambahan itu, maka adzannya tidak sah. (Penjelasan) perilaku ini termasuk haram sebab orang tersebut sengaja melakukan ibadah yang rusak.” (Nihayah al-Muhtaj, I/409-410)

Untuk itu, mengubah lafal adzan seperti dalam video yang beredar termasuk perbuatan yang hukumnya haram sebab melakukan amaliah yang tidak memiliki dasar legalitas dari syariat. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
MENJAWAB ADZAN DARI SPEAKER DAN TELEVISI

Dengarkan juga:
Dawuh Masyayikh | Rendah Hati

# ADZAN HAYYA ALAL JIHAD | BAGAIMANAKAH HUKUMNYA?
# ADZAN HAYYA ALAL JIHAD | BAGAIMANAKAH HUKUMNYA?

Hukum Menumpang Jaringan WiFi

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya mau bertanya, bagaimana hukum menggunakan jaringan WiFi saudara tanpa izin darinya? Mohon penjelasannya, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Hamba Allah, Bengkulu)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Salah satu hal yang sering terjadi di masyarakat, ada sebagian orang yang secara diam-diam mengakses internet menggunakan jaringan hotspot atau WiFi saudara, teman, tetangga atau orang lain tanpa izin. Hal ini sering kali disebabkan karena pemilik hotspot atau WiFi lupa mengunci jaringan internetnya dengan sandi atau password.

Dalam sudut pandang fikih, perilaku mengakses jaringan internet orang lain tanpa izin diperinci sebagai berikut:

Pertama, apabila seseorang memiliki keyakinan bahwa WiFi tersebut hanya digunakan secara pribadi dan pemilik WiFi tidak rela jika Wifi-nya dimanfaatkan olehnya, maka menggunakan WiFi tersebut hukumnya haram.

Kedua, apabila seseorang memiliki keyakinan atau dugaan kuat bahwa pemilik WiFi rela jika Wifi-nya dimanfaatkan olehnya, maka memanfaatkan WiFi tersebut diperbolehkan meski tanpa sepengetahuan pemilik WiFi.

Hal ini senada dengan Fatwa Imam Ibnu Hajar al-Haitami sebagai berikut:

(وَسُئِلَ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

“Imam Ibnu Hajar ditanya: Apakah kebolehan mengambil sesuatu dengan keyakinan adanya kerelaan pemilik itu tertentu dalam hal hidangan atau yang lainya? Maka beliau menjawab: Masalah tersebut tidak terkhusus dalam hal hidangan saja. Para Ulama menjelaskan bahwa prasangka kuat itu kapasitasnya sama dengan keyakinan. Untuk itu, apabila seseorang memiliki prasangka kuat bahwa pemilik barang memberikan keluasan untuk mengambil barang miliknya, maka ia boleh mengambilnya. Namun jika sebaliknya, maka ia wajib mengganti rugi.” (Lihat: Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, IV/116)Dengan demikian, hukum memanfaatkan jaringan internet hotspot atau WiFi tanpa sepengetahuan pemiliknya tergantung pada adanya dugaan kuat apakah pemiliknya rela ataukah tidak. []WaAllahu a’lam.

Baca juga:
FASILITAS WIFI BERSAMA DI BALAI DESA

Follow juga instagram @pondoklirboyo

# HUKUM MENUMPANG JARINGAN WIFI
# HUKUM MENUMPANG JARINGAN WIFI

Salat Disentuh Anak Kecil yang Belum Khitan, Benarkah Salatnya Batal?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mohon maaf sebelumnya, saya mau menanyakan bagaimana kalau ada anak kecil yang belum khitan menyentuh atau merangkul orang yang salat, apakah menjadikan salatnya batal? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ajeng, Demak)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Sering kali ditemukan anak laki-laki yang belum dikhitan menyentuh atau merangkul orang tuanya yang sedang salat. Yang mana, di dalam kulit kemaluan (qulfah) anak tersebut kemungkinan besar masih terdapat sisa najis kencing yang belum tersucikan sepenuhnya.

Dalam permasalahan, Syekh Ismail Zain menjawab:

اَلْجَوَابُ إِذَا كَانَ مَعْلُوْمًا أَنَّ الصَّبِيَّ الْمَذْكُوْرَ يَحْمِلُ نَجَاسَةً ظَاهِرَةً فِي جِلْدَةِ قُلْفَةِ الْخِتَانِ اَوْ فِي ظَاهِرِ فَرْجِهِ مَثَلًا فَصَلَاةُ مَنْ يَحْمِلُهُ بَاطِلَةٌ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَعْلُوْمًا وَلَا مَظْنُوْنًا ظَانًّا غَالِبًا فَصَلَاةُ مَنْ يَحْمِلُهُ صَحِيْحَةٌ عَمَلًا بِأَصْلِ الطَّهَارَةِ
أَمَّا مُجَرَّدُ مُمَاسَّةُ لِبَاسِ الصَّبِي وَتَعَلُّقِهِ بِالْمُصَلِّي دُوْنَ أَنْ يَحْمِلَهُ فَلَا تَبْطُلُ بِهِ الصَّلَاةُ

“Jawaban: apabila diyakini bahwa anak tersebut membawa najis yang nampak pada kulit penutup kemaluannya atau najis yang nampak pada bagian luar kemaluannya, maka salatnya orang yang menggendong anak tersebut batal. Namun apabila tidak diyakini atau tidak ada dugaan kuat terhadap hal tersebut, maka salatnya orang yang menggendong anak tersebut tetap sah. Adapun jika yang terjadi hanya pakaian anak kecil menyentuh dan menempel pada orang yang salat tanpa menggendong (bergelantungan), maka salatnya tidak batal.” (Lihat: Qurrah Al-‘Ain bi Fatawa Ismail Zain, hal. 55)

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan:

Pertama, apabila anak kecil yang belum dikhitan tersebut sekedar menyentuh atau menempel, maka tidak membatalkan salat. Sebab hal tersebut tidak dikategorikan salat dengan membawa perkara yang bersentuhan dengan najis.

Kedua, apabila anak kecil yang belum dikhitan tersebut bergelantungan atau merangkul orang yang salat dan ada keyakinan atau dugaan kuat bahwa terdapat najis di bawah qulfah (kulit penutup kemaluan pria yang belum khitan) maka dapat membatalkan salat sebab dianggap tengah membawa najis. Namun apabila tidak ada keyakinan atau tidak ada dugaan kuat atas hal itu, maka salatnya tetap sah. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM MELANTUNKAN DZIKIR SAAT MENGIRINGI JENAZAH

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

# Salat disentuh anak kecil
# Salat disentuh anak kecil

Hukum Melantunkan Dzikir saat Mengiringi Jenazah

Assalamualaikum Wr. Wb.

Maaf sebelumnya, mohon maaf. Apa hukumnya mengiringi jenazah ke kuburan dengan bacaan tahlil? Bukankah yang lebih baik adalah diam untuk tafakur dan mengambil pelajaran atas peristiwa kematian? Mohon penjelasannya terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wb. Wb.

(Sofi, Surakarta)


Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Dalam salah satu hadis riwayat Imam Al-Baihaqi disebutkan bahwa para Sahabat Rasulullah SAW tidak menyukai perilaku mengeraskan suara di samping jenazah, ketika perang, dan ketika zikir. Atas dasar itu, para ulama mengatakan bahwa hukum beramai-ramai ketika mengiringi jenazah adalah makruh. Segala bentuk kegaduhan dan keramaian masuk di dalamnya, tak terkecuali bacaan Alquran, dzikir, atau bacaan sholawat. Karena pada dasarnya, yang disunnahkan dalam keadaan itu adalah bertafakkur tentang ihwal kematian. (Nihayah al-Muhtaj, III/23)

Meskipun demikian, sebagian umat Islam seperti yang biasa terlaku di Indonesia memiliki kebiasaan berdzikir “Laa ilaha illallah” selama proses pengiringan jenazah dengan suara keras. Untuk itu, Syekh Nawawi Banten menjelaskan permasalahan ini dalam kitab Nihayah az-Zain:

وَيُكْرَهُ اللَّغَطُ فِي الْجَنَازَةِ بَلِ الْمُسْتَحَبُّ التَّفَكُّرُ فِي الْمَوْتِ وَمَا بَعْدَهُ قَالَ الْقُلْيُوْبِيْ وَيُكْرَهُ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ وَالذِّكْرِ وَالصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الْمُدَابِغِيْ وَهَذَا بِاِعْتِبَارِ مَا كَانَ فِي الصَّدْرِ الْأَوَّلِ وَأَمَّا الْآنَ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ لِأَنَّهُ شِعَارٌ لِلْمَيِّتِ

“Dimakruhkan beramai-ramai di samping jenazah. Karena yang disunnahkan ialah bertafakkur tentang kematian dan kejadian setelahnya. Al-Qulyubi berkata: Bahkan dimakruhkan mengeraskan bacaan al-Qur’an, dzikir, dan bacaan sholawat kepada baginda Nabi SAW. Imam al-Mudabighi berkata: Hukum ini hanya berlaku di masa-masa awal Islam, adapun di masa sekarang maka hukumnya tidak apa-apa karena yang demikian itu merupakan syiar terhadap peristiwa kematian.” (Nihayatuz Zain, h. 153)

Menanggapi persoalan itu, secara bijaksana Imam Ibnu ‘Allan menjelaskan :

فَالَّذِي اخْتَارَهُ أَنَّ شُغْلَ أِسْمَاعِهِمْ بِالذِّكْرِ الْمُؤّدِّيْ إِلَى تَرْكِ الْكَلَامِ وَتَقْلِيْلِهِ أَوْلَى مِنِ اسْتِرْسَالِهِمْ فِي الْكَلَامِ الدُّنْيَوِيِّ اِرْتِكَابًا لِأَخَفِّ الْمَفْسَدَتَيْنِ كَمَا هُوَ الْقَاعِدَةُ الشَّرْعِيَّةُ

“Adapun pendapat yang dipilih sebagai berikut: Sesungguhnya menyibukkan pengiring jenazah dengan bacaan dzikir yang dapat menjauhkan mereka dari pembicaraan masalah dunia itu lebih utama dari pada membiarkan mereka membicarakan masalah duniawi. Pendapat ini merupakan alternatif yang mengambil resiko lebih kecil, sebagaimana kaidah syariat yang lain.” (Al-Futuhat ar-Rabbaniyyah, IV/183)

Dengan demikian, membaca dzikir “Laa Ilaha illa Allah” dengan suara keras ketika mengiring jenazah adalah hal yang diperbolehkan bahkan menurut sebagian ulama lebih utama. []waAllahu a’lam

Baca juga:
FANATIK KEBANGSAAN, BASIS MILITANSI SANTRI MEMBELA NEGERI

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

Hukum Membaca Al-Fatihah bagi Makmum yang Datang Terlambat

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ketika jamaah salat fardhu digelar, kadang kala kita datang terlambat. Sehingga ketika kita baru takbir dan masih membaca Surah Al-Fatihah, tak lama kemudian imam rukuk. Bagaimana hukum bacaan Al-Fatihah tersebut, dilanjutkan atau langsung rukuk?
Mohon penjelasannya karena ini ini sering terjadi, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Ghofur, Salatiga)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam salat jamaah, tertinggal takbiratul ihram bersama imam adalah hal yang lumrah terjadi. Sehingga tidak berselang lama setelah makmum yang datang terlambat tersebut takbir, sang imam pun akhirnya rukuk.

Mengenai bacaan Surah Al-Fatihah dalam kondisi tersebut, maka status makmum dibagi menjadi dua:

Pertama, makmum muwafiq, yaitu makmum yang mendapati imam ketika berdiri sebelum rukuk dan waktunya cukup untuk membaca Al-Fatihah. Dalam kondisi itu, makmum harus menyempurnakan bacaan Al-Fatihah. Dan baginya ditolerir untuk tertinggal tiga rukun panjang, yaitu rukuk, sujud pertama dan sujud kedua.

Kedua, makmum masbuq, yaitu makmum yang mendapati imam ketika berdiri sebelum rukuk dan waktunya tidak cukup untuk membaca Al-Fatihah. Dalam kondisi itu, makmum membaca Surah Al-Fatihah sekedarnya dan jika imamnya rukuk maka ia harus rukuk mengikuti imam. Karena bacaan Al-Fatihah makmum sudah ditanggung oleh imam.

Kedua rincian ini sebagaimana penjelasan Syekh Nawawi Banten berikut dalam kitab Nihayah az-Zain berikut:

وَإِِنْ وجد الإِمَام فِي الْقيام قبل أَن يرْكَع وقف مَعَه فَإِن أدْرك مَعَه قبل الرُّكُوع زَمنا يسع الْفَاتِحَة بِالنِّسْبَةِ للوسط المعتدل فَهُوَ مُوَافق فَيجب عَلَيْهِ إتْمَام الْفَاتِحَة وَيغْتَفر لَهُ التَّخَلُّف بِثَلَاثَة أَرْكَان طَوِيلَة كَمَا تقدم وَإِن لم يدْرك مَعَ الإِمَام زَمنا يسع الْفَاتِحَة فَهُوَ مَسْبُوق يقْرَأ مَا أمكنه من الْفَاتِحَة وَمَتى ركع الإِمَام وَجب عَلَيْهِ الرُّكُوع مَعَه

“Apabila makmum menemui imam ketika berdiri maka makmum juga berdiri bersamanya. Apabila makmum menemukan waktu cukup untuk membaca Al-Fatihah dengan bacaan sedang maka disebut makmum muwafiq dan wajib untuk menyempurnakan bacaan Al-Fatihah. Dan ia dimaafkan tertinggal tiga rukun panjang dari imam sebagaimana penjelasan terdahulu. Dan apabila makmum tidak menemukan waktu cukup untuk membaca Al-Fatihah maka disebut makmum masbuq dan cukup membaca Al-Fatihah sekedarnya. Jika imam rukuk maka wajib bagi makmum rukuk bersama imam.” (Nihayah az-Zain, hlm. 124)

Untuk itu, bacaan Al-Fatihah makmum tergantung apakah ia menemukan waktu yang cukup untuk membacanya atau tidak. []waAllahu a’lam

Bacaan terkait:
Tentang Shalat Jama’ah

Follow juga instagram:
@pondoklirboyo