Category Archives: Konsultasi

Menggabungkan Puasa Rajab dan Puasa Qadla

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimana hukumnya menggabung puasa Rajab dan puasa Qadla’ Ramadhan yang pernah ditinggalkan? Mohon jawabannya, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Sarah, Denpasar Bali)

__________________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Memasuki bulan Rajab, sering dijumpai masyarakat yang menggabungkan dua niat dalam satu ibadah puasa. Misalkan seseorang memiliki kewajiban untuk menqodlo’ puasa Ramadhan, kemudian ia melakukannya di bulan Rajab dengan menggabungkan dalam satu ibadah puasa. Atau seseorang melakukan puasa Rajab yang kebetulan hari itu adalah hari Senin atau Kamis, kemudian ia menggabungkan kedua niat dalam satu puasa.

Menanggapi kasus tersebut, para ulama berbeda pendapat. Sebagian besar para ulama mengatakan bahwa praktek tersebut diperbolehkan dan orang yang melakukan akan mendapatkan kedua pahala puasa sekaligus, baik ia niat atas kedua puasa tersebut atau salah satunya. Imam al-Bujairomi menjelaskan dalam salah satu kitabnya:

قَدْ يُوجَدُ لِلصَّوْمِ سَبَبَانِ كَوُقُوعِ عَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ يَوْمَ اثْنَيْنِ أَوْ خَمِيسٍ وَكَوُقُوعِهِمَا فِي سِتَّةِ شَوَّالٍ فَيَتَأَكَّدُ صَوْمُ مَا لَهُ سَبَبَانِ رِعَايَةً لِكُلٍّ مِنْهُمَا فَإِنْ نَوَاهُمَا حَصَلَا كَالصَّدَقَةِ عَلَى الْقَرِيبِ صَدَقَةً وَصِلَةً وَكَذَا لَوْ نَوَى أَحَدَهُمَا فِيمَا يَظْهَرُ

Terkadang dalam puasa itu terdapat dua sebab, seperti puasa Arafah atau ‘Asyuro yang jatuh pada hari senin atau kamis, atau puasa hari senin dan kamis yang dilakukan dalam tanggal enam hari pertama di bulan Syawal (selain tanggal 1 Syawal). Maka puasa yang memiliki dua sebab tersebut memiliki anjuran lebih demi menjaga kesunahan dua sebab tersebut. Apabila kedua puasa itu diniati maka ia akan mendapatkan kedua pahalanya, seperti seseorang yang bersedekah pada kerabatnya ia akan mendapatkan pahala sedekah sekaligus pahala silaturrahim. Menurut pendapat yang lain, meskipun ia niat salah satu saja ia akan mendapat pahala keduanya.”[1]

Keterangan yang telah disebutkan di atas hanya berlaku pada dua puasa yang hukumnya sama-sama sunah. Sehingga akan berbeda lagi jika salah satunya adalah puasa wajib (Qodlo’ atau Kafarat).  Menurut Imam Abi Makhromah berpendapat jika puasa sunah dan wajib diniati sekaligus maka hukumnya tidak sah. Akan tetapi pendapat mayoritas ulama yang diunggulkan oleh Imam ar-Romli mengatakan apabila kedua puasa itu terdiri dari puasa wajib (Qodlo’ atau Kafarat) dan puasa sunah, maka cukup dengan niat puasa wajib akan mendapatkan pahala puasa sunahnya.[2] []waAllahu a’lam


[1] Hasyiyah al-Bujairomi ‘ala al-Khotib, II/404.

[2] Bughyah al-Mustarsyidin, hlm 114.

Hukum Tidur di Masjid

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mohon penjelasannya tentang hukum tidur di masjid seperti yang banyak dijumpai di masyarakat, terlebih masjid-masjid yang notabenenya ada di pinggir jalan yang sering dijadikan tempat transit para musafir. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

[Rosyid, Semarang]


Admin-Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Masjid adalah tempat ibadah sakral bagi umat Islam. Sehingga setiap hal yang berpotensi mengganggu orang yang salat di dalamnya sangat dilarang. Namun realisasinya, banyak kita jumpai orang-orang yang menjadikan masjid sebagai tempat transit untuk beristirahat, bahkan untuk tidur.

Dalam permasalahan ini, Syekh Sulaiman al-Jamal secara tegas telah menjelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala al-Manhaj sebagai berikut:

وَيَجُوزُ النَّوْمُ فِيهِ لِغَيْرِ الْجُنُبِ، وَلَوْ غَيْرَ أَعْزَبَ لَكِنْ مَعَ الْكَرَاهَةِ نَعَمْ إنْ ضَيَّقَ عَلَى الْمُصَلِّينَ أَوْ شَوَّشَ عَلَيْهِمْ حَرُمَ

“Dan boleh untuk tidur di masjid bagi selain orang yang junub, meskipun tidak lagi bujang, akan tetapi hukumnya makruh. Meskipun demikian, apabila tidur di masjid sampai berakibat mempersempit orang yang salat atau mengganggu mereka, maka hukumnya bisa haram.” (Lihat: Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ‘ala al-Manhaj, I/155)

Dengan demikian, para ulama Mazhab Syafi’i memperbolehkan seseorang untuk tidur di masjid, namun hukumnya makruh. Kebolehan ini tentunya dengan syarat tidak sampai mempersempit atau menganggu orang yang salat. Apabila syarat tersebut tidak dipenuhi, maka dapat berkonsekuensi hukum haram. []waAllahu a’lam.

Baca juga:
HUKUM MENGHADAP KIBLAT DENGAN HANYA MENGHADAP KE ARAH BARAT

Ikuti juga:
Pengajian Kitab Al-Hikam | Kemis Legi

# HUKUM TIDUR DI MASJID
# HUKUM TIDUR DI MASJID

Hukum Membawa Smartphone Berisi Aplikasi Al-Qur’an ke Dalam Toilet

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mohon penjelasannya, bagaimana hukumnya masuk ke dalam toilet atau WC dengan membawa handphone yang berisikan aplikasi Al-Qur’an? Terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Rahmah, Serang Banten)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Aplikasi Al-Qur’an pada smartphone merupakan salah satu dampak positif dari kemajuan teknologi. Namun patut kita akui, hal tersebut menyisakan permasalahan, di antaranya hukum membawanya ke dalam toilet.

Pada dasarnya, membawa mushaf ke dalam toilet atau WC adalah hal yang tidak boleh. Sebagaimana penjelasan Syekh Sulaiman Al-Jamal yang mengutip pendapat Imam al-Adzra’i berikut:

وَالْمُتَّجِهُ تَحْرِيمُ إدْخَالِ الْمُصْحَفِ وَنَحْوِهِ الْخَلَاءَ مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ إجْلَالًا لَهُ وَتَكْرِيمًا

“Dan menurut pendapat yang tepat adalah haram membawa mushaf dan sejenisnya ke dalam toilet selain keadaan darurat. Ini dilakukan sebagai wujud pengagungan dan pemuliaan terhadap mushaf. ” (Lihat: Sulaiman Al-Jamal, Hasyiyah Al-Jamal ‘ala al-Manhaj, I/82)

Dalam konteks ini, perlu kita ketahui bahwa aplikasi Al-Qur’an yang ada dalam smartphone bukanlah termasuk mushaf sebagaimana yang ada dalam literatur fikih. Sebab aplikasi Al-Qur’an hanya merupakan suara atau pancaran sinar belaka, sementara kriteria mushaf harus berbentuk tulisan secara nyata (kitabah) dan bertujuan untuk dirasah (belajar). Karena secara definisi, mushaf merupakan nama untuk setiap lembar-lembar yang di dalamnya terdapat tulisan dan yang dikumpulkan di antara dua sampul. (Lihat: Ibnu Mandzur, Lisan al-‘Arab, IX/186).

Imam Syihabuddin al-Qulyubi juga menegaskan:

وَالْمُرَادُ بِهِ مَا يُسَمَّى مُصْحَفًا عُرْفًا وَلَوْ قَلِيْلًا

“Yang dimaksud dengan mushaf adalah sesuatu yang dinamakan mushaf secara umum meskipun sedikit. ” (Lihat: Syihabuddin Al-Qulyubi, Hasyiyyah al-Qulyubi ‘ala al-Mahalli, I/39)

Namun demikian, meskipun secara kategorisasi aplikasi mushaf Al-Qur’an tidak termasuk sebagai mushaf, menurut analogi pendapat Habib Muhammad bin Ahmad as-Syatiri yang dalam kasus pita rekaman Alquran secara mantap menilai hukumnya sama dengan mushaf. Demikian ini karena menurutnya meskipun wujudnya berupa rekaman suara pada pita, akan tetapi rekaman tersebut berasal dari huruf-huruf yang kemudian direkam atau ditangkap ke dalam pita rekaman. Status hukumnya sama dengan mushaf, yaitu termasuk mushaf Al-Qur’an; dan perlakuan terhadapnya juga sama persis dengan perlakuan terhadap Alquran. Secara lugas as-Syatiri menerangkan:

فَهَلْ حُكْمُ هَذَا الْمُصْحَفِ كَحُكْمِ الْمُصْحَفِ الْمَكْتُوْبِ؟ الَّذِيْ أَرَى أَنَّ التَّسْجِيْلَ عَلَى الشَّرِيْطِ يَحْصُلُ بِأَحْرُفٍ مَنْقُوْشَةٍ تَثْبُتُ عَلَى الشَّرِيْطِ. وَعَلَى هَذَا فَيَكُوْنُ لَهُ حُكْمُ الْمُصْحَفِ. وَقَدْ قَامَتْ بَعْضُ الْجَمْعِيَّاتِ فِيْ مِصْرَ بِتَسْجِيْلِ هَذَا الْمُصْحَفِ بِقِرَاآتٍ مُجَوِّدَةٍ وَأَصْوَاتٍ جَمِيْلَةٍ عَلَى أُسْطُوْانَاتٍ خَاصَّةٍ وَعَلَى أَشْرِطَةٍ كَاسِيْتٍ وَتُسَمَّى مُصْحَفًا وَأَعْتَقِدُ أَنَّ لَهُ حُكْمُ الْمُصْحَفِ وَالْأَحْوَطُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَحْتَاطَ.

“Apakah hukum (al-mushaf al-musajjal ‘ala al-asyrithah / mushaf yang direkam dalam pita kaset) sama dengan hukum mushaf yang ditulis? Menurut pendapat kami bahwa perekaman pada kaset ini terjadi karena huruf-huruf yang terukir dan menetap pada pita. Karena hal itu, kaset ini memiliki hukum yang sama persis dengan mushaf. Sebagian organisasi telah bekerja dalam perekaman mushaf ini di Mesir dengan bacaan-bacaan yang indah dan suara-suara yang merdu pada piringan hitam (disk) dan di kaset-kaset khusus. Semua itu dinilai sebagai mushaf. Saya pun yakin bahwa pada mushaf rekaman tersebut berlaku hukum-hukum mushaf. Bagi seorang muslim yang paling hati-hati ialah waspada.” (Lihat: Muhammad bin Achmad as-Syatiri, Syarh al-Yaqut an-Nafis, I/118-119).

Kesimpulan

Dengan demikian, hukum membawa smartphone yang berisikan aplikasi Alquran ke dalam toilet diperbolehkan selama aplikasi Alquran tidak diaktifkan atau ditampilkan di layar smartphone. []waAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM MEMFASILITASI ANAK DENGAN SMARTPHONE DAN SEJENISNYA

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# HUKUM MEMBAWA SMARTPHONE BERISI APLIKASI AL-QUR’AN KE DALAM TOILET
# HUKUM MEMBAWA SMARTPHONE BERISI APLIKASI AL-QUR’AN KE DALAM TOILET

Adzan Hayya Alal Jihad

Assalamualaikum Wr. Wb.

Maaf mau bertanya, bagaimana hukumnya mengganti lafal bacaan adzan? Misalkan mengganti bacaan Hayya ‘alas sholat menjadi “Hayya ‘alal jihad seperti video-video yang beredar saat ini. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Abdul Hakim, Bogor)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di media sosial telah beredar video sebuah provokasi untuk jihad. Hal ini dilakukan beberapa kelompok orang melalui seruan adzan dengan mengganti lafal “Hayya ‘alas sholat” (marilah shalat) menjadi “Hayya ‘alal jihad” (marilah berjihad).

Dalam sudut pandang fikih, permasalahan ini mirip dengan tambahan lafal “Hayya ‘ala khairil ‘amal” (marilah melakukan amal terbaik) yang hukumnya makruh serta tergolong perbuatan bid’ah. Sebagaimana Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Al-Minhaj al-Qawim berikut:

وَيُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ لِأَنَّهُ بِدْعَةٌ لَكِنَّهُ لَا يُبْطِلُ الأَذَانَ بِشَرْطِ أَنْ يَأْتِيَ بِالْحَيْعَلَتَيْنِ أَيْضًا

“Dimakruhkan mengumandangkan Hayya ‘ala khairil ‘amal (marilah melakukan amal terbaik) karena termasuk perbuatan bid’ah. Akan tetapi tadak sampai membatalkan adzan dengan syarat tetap melafalkan Hai’alah dua, yaitu Hayya ‘alas sholah dan Hayya ‘alal falah.” (Al-Minhaj al-Qawim, hal. 83)

Dengan demikian, apabila penambahannya sampai mengganti keberadaan lafal “Hayya ‘alas sholah” dan “Hayya ‘alal falah” tersebut, seperti yang ada dalam video yang beredar, maka dapat berkonsekuensi haram.

Hal ini sesuai dengan keterangan dari Imam Ali Syibramulisi yang
memperkuat penjelasan Imam ar-Ramli:

وَيُكْرَهُ أَنْ يَقُولَ مَعَ الْحَيْعَلَتَيْنِ: حَيَّ عَلَى خَيْرِ الْعَمَلِ، فَإِنْ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَصِحَّ
(قَوْلُهُ: فَإِنْ اقْتَصَرَ عَلَيْهِ لَمْ يَصِحَّ) وَالْقِيَاسُ حِينَئِذٍ حُرْمَتُهُ لِأَنَّهُ بِهِ صَارَ مُتَعَاطِيًا لِعِبَادَةٍ فَاسِدَةٍ

“Dimakruhkan menambahkan lafal Hayya ‘ala khairil ‘amal bersamaan dengan lafal Hayya ‘alas sholah dan Hayya ‘alal falah. Apabila hanya menggunakan lafal tambahan itu, maka adzannya tidak sah. (Penjelasan) perilaku ini termasuk haram sebab orang tersebut sengaja melakukan ibadah yang rusak.” (Nihayah al-Muhtaj, I/409-410)

Untuk itu, mengubah lafal adzan seperti dalam video yang beredar termasuk perbuatan yang hukumnya haram sebab melakukan amaliah yang tidak memiliki dasar legalitas dari syariat. []WaAllahu a’lam

Baca juga:
MENJAWAB ADZAN DARI SPEAKER DAN TELEVISI

Dengarkan juga:
Dawuh Masyayikh | Rendah Hati

# ADZAN HAYYA ALAL JIHAD | BAGAIMANAKAH HUKUMNYA?
# ADZAN HAYYA ALAL JIHAD | BAGAIMANAKAH HUKUMNYA?

Hukum Menumpang Jaringan WiFi

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya mau bertanya, bagaimana hukum menggunakan jaringan WiFi saudara tanpa izin darinya? Mohon penjelasannya, terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Hamba Allah, Bengkulu)


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Salah satu hal yang sering terjadi di masyarakat, ada sebagian orang yang secara diam-diam mengakses internet menggunakan jaringan hotspot atau WiFi saudara, teman, tetangga atau orang lain tanpa izin. Hal ini sering kali disebabkan karena pemilik hotspot atau WiFi lupa mengunci jaringan internetnya dengan sandi atau password.

Dalam sudut pandang fikih, perilaku mengakses jaringan internet orang lain tanpa izin diperinci sebagai berikut:

Pertama, apabila seseorang memiliki keyakinan bahwa WiFi tersebut hanya digunakan secara pribadi dan pemilik WiFi tidak rela jika Wifi-nya dimanfaatkan olehnya, maka menggunakan WiFi tersebut hukumnya haram.

Kedua, apabila seseorang memiliki keyakinan atau dugaan kuat bahwa pemilik WiFi rela jika Wifi-nya dimanfaatkan olehnya, maka memanfaatkan WiFi tersebut diperbolehkan meski tanpa sepengetahuan pemilik WiFi.

Hal ini senada dengan Fatwa Imam Ibnu Hajar al-Haitami sebagai berikut:

(وَسُئِلَ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

“Imam Ibnu Hajar ditanya: Apakah kebolehan mengambil sesuatu dengan keyakinan adanya kerelaan pemilik itu tertentu dalam hal hidangan atau yang lainya? Maka beliau menjawab: Masalah tersebut tidak terkhusus dalam hal hidangan saja. Para Ulama menjelaskan bahwa prasangka kuat itu kapasitasnya sama dengan keyakinan. Untuk itu, apabila seseorang memiliki prasangka kuat bahwa pemilik barang memberikan keluasan untuk mengambil barang miliknya, maka ia boleh mengambilnya. Namun jika sebaliknya, maka ia wajib mengganti rugi.” (Lihat: Ibnu Hajar al-Haitami, Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, IV/116)Dengan demikian, hukum memanfaatkan jaringan internet hotspot atau WiFi tanpa sepengetahuan pemiliknya tergantung pada adanya dugaan kuat apakah pemiliknya rela ataukah tidak. []WaAllahu a’lam.

Baca juga:
FASILITAS WIFI BERSAMA DI BALAI DESA

Follow juga instagram @pondoklirboyo

# HUKUM MENUMPANG JARINGAN WIFI
# HUKUM MENUMPANG JARINGAN WIFI