Category Archives: Konsultasi

Najiskah Genangan Air dan Lumpur di Jalanan?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Genangan air dan lumpur tidak pernah terlepas dari kehidupan masyarakat, terlebih di musim penghujan seperti saat ini. Bagaimanakah status genangan air atau lumpur tersebut? Suci ataukah najis? Mohon pencerahannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Hariadi, Depok)

________________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Musim penghujan selalu menyisakan genangan air bahkan lumpur di berbagai tempat. Tak heran, banyak masyarakat yang mempertanyakan status genangan air atau lumpur tersebut, apakah tergolong najis ataukah suci.

Dalam hal ini, Imam an-Nawawi menjelaskan dalam kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab:

قَالَ إمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَغَيْرُهُ فِي طِينِ الشَّوَارِعِ الَّذِي يَغْلِبُ عَلَى الظَّنِّ نَجَاسَتُهُ قَوْلَانِ: أَحَدُهُمَا يُحْكَمُ بِنَجَاسَتِهِ: وَالثَّانِي بِطَهَارَتِهِ بِنَاءً عَلَى تَعَارُضِ الْأَصْلِ وَالظَّاهِرِ قَالَ الْإِمَامُ كَانَ شَيْخِي يَقُولُ وَإِذَا تَيَقَّنَّا نَجَاسَةَ طِينِ الشَّوَارِعِ فَلَا خِلَافَ فِي الْعَفْوِ عَنْ الْقَلِيلِ الَّذِي يَلْحَقُ ثياب الطارقين فان الناس لابد لَهُمْ مِنْ الِانْتِشَارِ فِي حَوَائِجِهِمْ فَلَوْ كَلَّفْنَاهُمْ الْغُسْلَ لَعَظُمَتْ الْمَشَقَّةُ

Imam al-Haramain dan selainnya membahas persoalan lumpur jalanan. Bahwa lumpur yang diduga kuat terkontaminasi oleh najis memiliki dua pendapat: Pertama dihukumi najis dan Kedua dihukumi suci memandang pertentangan hukum asal dan realitanya. Imam al-Haramain berkata: Guruku menjelaskan bahwa ketika lumpur jalanan diyakini kenajisannya, maka tidak ada pertentangan bahwa masih ditolerir apabila yang mengenai pakaian orang yang lewat masih dianggap sedikit. Karena sesungguhnya manusia tidak terlepas untuk membutuhkan aktivitas di sekitarnya. Apabila kita membebankan untuk membasuhnya, maka sangat besar kesulitan yang terjadi.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, vol. I hlm. 209)

Dengan demikian, lumpur jalanan dibagi menjadi tiga kategori: Pertama, lumpur yang diyakini kesuciannya, maka hukumnya otomatis suci. Kedua lumpur diduga kuat terkontaminasi najis, maka ada yang mengatakan najis dan ada pula yang mengatakan suci. Ketiga, lumpur yang diyakini najis, maka ditolerir (ma’fu) jika sedikit.
[]waAllahu a’lam

Menikahkan Anak yang Sedang Mondok

Assalamualaikum wr. wb.

Bapak admin yang saya hormati, saya senang dengan adanya rubrik tanya jawab ini, sangat membantu soal kejelasan hukum islam yang kami belum tahu. Langsung saja, saya mempunyai teman yang masih mondok _sama dengan saya_ dia tenang dan semangat di pondok, tiba-tiba ada kabar dari rumah bahwa dia telah dinikahkan oleh orang tuanya dengan laki-laki tetangga desanya. Diapun kaget. Yang agak bikin dia lega, suaminya tersebut juga seorang santri alumni pesantren. yang saya ingin tanyakan apa boleh bagi wali menikahkan tanpa minta izin atau memberitahukan kepada anak? bahkan mempelai perempuannya tidak hadir saat akad. Sekian terima kasih.

Wassalamualaikum wr. wb.

Balqis Aroha, Malang.

______________

Waalaikumsalam wr. wb.

Terimakasih telah berkenan mampir di kanal media sosial kami, semoga bisa membawa manfaat. Amin. pada dasarnya, seorang gadis itu boleh menentukan kriteria lelaki idamannya, ia tidak harus terkungkung dalam tradisi atau adat istiadat, hanya saja menjaga keduanya sangat dianjurkan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. apalagi jika kaitannya dengan ketaatan kepada kedua orang tua.

Orang tua, sebagai wali mempunyai hak untuk menikahkan anaknya, ia boleh memaksa putrinya untuk menikah, jika sang putri belum pernah menikah sebelumnya, agama melegalkannya, meski tanpa meminta izin atau memberitahukan terlebih dahulu kepada putrinya. Yang menjadi syarat adalah mengawinkan putrinya dengan laki-laki yang sekufu. dengan mencarikan pasangan yang tidak timpang, jika demikian maka harus meminta izin dahulu.

Mengenai ketidakhadiran mempelai perempuan saat akad, tidaklah menjadi masalah, akad tetap dikatakan sah. Namun jika putrinya sudah pernah menikah sebelumnya (janda) maka dibutuhkan izin darinya, meski toh nanti saat akad nikah berlangsung ia tidak ada ditempat.

Orang tua teman anda telah tepat memilihkan calon suami, keduanya sama-sama dari kalangan pesantren. semua orang tua jelas amat memperhatikan kebutuhan dan kebaikan anak, agar hidupnya bisa bahagia dunia lebih-lebih akhirat. kiranya Sekian dari kami. [NA]

____________

Fathul Mu’ien, Dar ibn ‘Ashashah Hal 353

Bughyatul Mustarsyidin, Darul Fikr Hal 203

Hukum Menerima Hadiah dari Non Muslim

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimanakah hukumnya menerima hadiah dari non Muslim, terlebih menjelang akhir tahun seperti ini? Apakah hal tersebut diperbolehkan dalam Islam? mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Handoko, Malang)

_________________________________

Admin-Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Berinteraksi dengan golongan non muslim merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan saat ini. Menciptakan pergaulan yang harmonis, aman, dan tentram merupakan manifestasi syariat Islam yang selalu mengedapankan rahmat.

Sebagai bentuk toleransi dalam merawat hubungan persaudaraan, tak jarang para non muslim memberikan hadiah kepada orang Islam, terlebih dalam momen-momen tertentu, seperti Natal, Valentin, Imlek, dan lain-lain. Demi menghargai mereka, syariat Islam melegalkan umatnya untuk menerima pemberian dari mereka. Hal tersebut pernah dicontohkan Rasulullah saw. ketika beliau diberi hadiah oleh orang kafir.

Syaikhul Islam, Zakaria Al-Anshori menjelaskan dalam kitab Asna al-Mathalib:

وَيَجُوْزُ قَبُوْلُ هَدِيَّةِ الْكَافِرِ لِلْاِتِّبَاعِ

Diperbolehkan menerima hadiah dari orang kafir, karena mengikuti apa yang pernahdilakukan Nabi.” (Asna Al-Mathalib, VIII/43)

Namun sebagian ulama lain tidak memperbolehkan menerima hadiah dari non muslim karena dikhawatirkan akan memiliki kecondongan atas perayaan yang mereka lakukan. Namun, ketika kekhawatiran itu hilang, golongan ulama tersebut juga memperbolehkan untuk menerima hadiah tersebut, terlebih lagi ketika terdapat kemaslahatan bagi agama Islam, seperti mencerminkan agama Islam yang toleran dan menebar kasih sayang pada sesama.

Dalam hal ini, Imam al-Munawi menjelaskan dalam kitab Faidh al-Qadir:

وَأَخَذَ بَعْضُهُمْ مِنْ هَذَا الْخَبَرِ تَأَكُّدَ رَدِّ هَدَايَا الْكُفَّارِ وَالْفُجَّارِ لِأَنَّ قَبُوْلَهَا يُمِيْلُ الْقَلْبَ إِلَيْهِمْ بِالْمَحَبَّةِ قَهْرًا نَعَمْ إِنْ دَعَتْ إِلَى ذَلِكَ مَصْلَحَةٌ دِيْنِيَّةٌ فَلَا بَأْسَ

Sebagian para ulama mengambil kesimpulan dari sebuah hadis untuk secara tegas menolak hadiah dari orang-orang kafir dan orang-orang jahat. Karena menerima hadiah, secara tidak sengaja membuat hati condong untuk untuk mencintai mereka. Meskipun demikian, apabila dengan menerima terdapat kemaslahatan agama, maka tidak masalah.” (Faidh Al-Qadir, III/344)

Yang terpenting, umat Islam mampu menempatkan interaksi sosial sesuai porsinya, tanpa sedikit pun menyinggung ruang akidah keimanan yang dimiliki.[]waAllahu a’lam

Bolehkah Wanita Bepergian Seorang Diri?

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bagaimanakah hukumnya seorang perempuan beraktifitas di luar rumah sendirian? Mohon penjelasannya. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Adelia, Malang)

________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Atas dasar kebutuhan, perjalanan menjadi fenomena kehidupan yang sulit dihindari. Begitu pula kaum wanita, sebagai makhluk sosial ia perlu melakukan perjalanan sebagai media dalam berinteraksi antar sesama dan saling memenuhi kebutuhannya.

Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan, memberikan aturan dan batasan mengenai aktivitas perempuan. Hal itu ditujukan demi kemuliaan perempuan tersebut, salah satunya mengenai aktivitas di luar rumah. Dalam beberapa lietartur fikih, mayoritas ulama memberikan syarat perjalanan perempuan harus disertai mahram atau bersama wanita lain demi terjaganya keamanan dan kenyamanan. Namun realitanya, dalam keadaan tertentu sering kali wanita harus melakukannya sendiri tanpa seorang mahram atau wanita lain yang mendampinginya.

Menanggapi persoalan tersebut, imam An-Nawawi menjelaskan legalitas perempuan beraktivitas di luar rumah sebagaimana penjelasan dalam kitab al-Majmu Syarh Al-Muhadzdzab:

وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا يَجُوزُ بِغَيْرِ نِسَاءٍ وَلَا امْرَأَةٍ إذَا كَانَ الطَّرِيقُ آمِنًا وَبِهَذَا قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ وَدَاوُد

Sebagian Ashab (pengikut Imam As-Syafi’i) berkata: Diperbolehkan (perjalanan) tanpa didampingi para wanita lain bahkan satu wanita pun apabila aman dalam perjalanannya. Pendapat ini juga diungkapkan oleh Hasan al-bashri dan Dawud (Ad-Dhohiri).”[1]

Dalam keterangan lain, misalkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah,  juga disebutkan penjelasan sebagaimana berikut:

 وَيَجُوزُ الاِخْتِلاَطُ إِذَا كَانَتْ هُنَاكَ حَاجَةٌ مَشْرُوعَةٌ مَعَ مُرَاعَاةِ قَوَاعِدِ الشَّرِيعَةِ وَلِذَلِكَ جَازَ خُرُوجُ الْمَرْأَةِ لِصَلاَةِ الْجَمَاعَةِ وَصَلاَةِ الْعِيدِ، وَأَجَازَ الْبَعْضُ خُرُوجَهَا لِفَرِيضَةِ الْحَجِّ مَعَ رُفْقَةٍ مَأْمُونَةٍ مِنَ الرِّجَال.

Diperbolehkan bercampur (antara pria dan wanita) apabila terdapat kebutuhan yang dilegalksan syariat dengan syarat tetap menjaga kaidah-kaidah (ketentuan hukum) syariat. Dengan demikian, perempuan diperbolehkan untuk keluar dalam rangka salat berjamaah dan salat hari raya. Dan sebagian ulama lain memperbolehkan wanita untuk keluar dalam rangka menunaikan haji bersama para pria yang dapat dipercaya (terjaga dari fitnah).”[2]

Dengan demikian, aktivitas perempuan di luar rumah mendapatkan legalitas dari syariat dengan beberapa ketentuan, yakni pertimbangan keamanan serta menjaga etikaketika keluar rumah. Adapun yang dimaksud aman dalam konteks ini adalah tidak ada dugaan atau diyakini menimbulkan fitnah serta mampu menjaga etika wanita ketika keluar rumah, seperti menundukkan pandangan, menutup aurat, tidak memakai wangi-wangian, tidak menampakkan perhiasan, dilakukan sesuai kadar kebutuhan, menjadi pihan terakhir dan etika lainnya.

[]waAllahu a’lam


[1] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, VIII/343

[2] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah Al-Kuwaitiyah, II/291

Hukum Parfum dan Obat-obatan Beralkohol

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Dalam dunia kedokteran ataupun dalam parfum berbagai kemasan, tak jarang ditemukan keterangan mengenai alkohol sebagai salah satu campuran produk tersebut. Bagaimanakah hukumnya? Mohon jawabannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Arinal Haq, Jombang- Jawa Timur)

___________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Tidak ada keterangan definitif nash al-Quran, Sunnah,dan fikih klasik yang secara jelas (shorih) mengenai alkohol. Ketika tersebar luas keberadaannya, terjadi perbedaan pandangan mengenai hukumnya. Sebagian ulama memasukkannya dalam kategori minuman yang memabukkan. Sebagai perkara yang memabukkan (muskir) dengan karakteristik cair, alkohol statusnya adalah najis. Namun apabila penggunaan alkohol menjadi kebutuhan seperti campuran obat-obatan maupun pelarut parfum, maka hukumnya najis namun ditolerir oleh syariat (Ma’fu). Sebagaimana penjelasan Syekh Abdurrahman al-Jaziri dalam kitab Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah:

وَمِنْهَا الْمَائِعَاتُ النَّجَسَةُ الَّتِي تُضَافُ إِلَى الْأَدْوِيَّةِ وَالرَّوَائِحِ الْعَطَرِيَّةِ لِإِصْلَاحِهَا فَإِنَّهُ يُعْفَى عَنِ الْقَدْرِ الَّذِي بِهِ الْإِصْلَاحُ قِيَاسًا عَلَى الْأَنْفَحَةِ الْمَصْلَحَةِ لِلْجُبْنِ

Termasuk bagian dari barang-barang najis yang ditolerir adalah najis yang terdapat pada obat-obatan dan wewangian harum dengan tujuan untuk memperbaikinya. Maka (keberadaan barang najis) itu ditolerir cukup dengan kadar yang dipakai untuk memperbaikinya dengan dianalogikan pada aroma yang digunakan untuk memperbaiki keju”.[1]

Dalam sudut pandang lain, Imam as-Syarqowi mengemukakan pendapatnya dalam kitab Hasyiyah as-Syarqowy ‘Ala at-Tahrir:

وَاَمَّا لَوِ اسْتَهْلَكَتِ الْخَمْرَةُ فِي الدَّوَاءِ بِاَنْ لَمْ يَبْقَ لَهَا وَصْفٌ فَلَا يَحْرُمُ اسْتِعْمَالُهَا كَصَرْفِ بَاقِي النَّجَاسَاتِ هَذَا اِنْ عُرِفَ اَوْ اَخْبَرَهُ طَبِيْبٌ عَدْلٌ

Dan adapun apabila arak dilarutkan di dalam obat sehingga tidak ditemukan lagi sifat asli yang dimiliki (arak) tersebut, maka tidak haram menggunakannya, seperti najis lain yang murni. Hukum ini berlaku jika diketahui atau diberitakan oleh seorang dokter (pakar kimia) yang adil”.[2]

Dengan demikian, penggunaan alkohol dalam berbagai produk kedokteran dan kecantikan diperbolehkan. Namun dalam rangka kehati-hatian (Ikhtiyat), alangkah baiknya untuk menghindari parfum beralkohol dalam penggunaan yang berkaitan dengan ibadah, semisal salat atau sesamanya. []waAllahu a’lam


[1] Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, I/15.

[2] Hasyiyah as-Syarqowy ‘Ala at-Tahrir, II/449.