Category Archives: Pondok Pesantren Unit Lirboyo

Pondok Pesantren Murottilil Qur’an (PPMQ)

Berdirinya pondok pesantren unit Lirboyo yang satu ini, tidak bisa dilepaskan dari Madrasah Murottilil Qur’an (MMQ) yang dirintis oleh Al-Ustadz KH Maftuh Basthul Birri. Madrasah ini berawal sekitar tahun 1397 H./ 1977 M. yang kala itu berupa pengajian dengan sistem sorogan yang diasuh langsung oleh KH Maftuh Basthul Birri. Karena semakin banyaknya santri yang mengaji, maka sekitar tahun 1979/ 1980 M. MMQ berdiri sebagai lembaga pendidikan Pondok Pesantren Lirboyo yang khusus membidangi Alquran.

Kepengrursan MMQ sendiri mulai dibentuk tahun 1990. Dan mengingat kuantitas siswa yang terus bertambah, MMQ merasa perlu untuk memilah siswanya dalam beberapa tingkatan. Maka dibentuklah jenjang pendidikan dengan tingkatan Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, dan Aliyyah. Kemudian sekitar tahun 1997, dibentuklah sebuah jam’iyyah sebagai media ta’aruf antar santri MMQ dan ajang pendidikan yang bersifat ekstrakurikuler. Diantara kegiatannya adalah mengembangkan bakat santri dalam seni baca Alquran.

Setiap tahun, MMQ terus melakukan perkembangan. Di dalam MMQ terdapat lima tingkatan. Pertama, tingkat I’dadiyah. Waktunya setengah tahun, dengan materi; Buku Turutan A, Ba, Ta.. Jet Tempur, mempelajari dan membaca mulai Surat Al-A’la sampai Surat An-Nas. Kedua, tingkat Ibtidaiyah. Waktunya setengah tahun, dengan materi; Buku Persiapan Membaca Alquran, Buku Bonus Agung Yang Terlupakan, mempelajari dan menghafal mulai Surat Al-A’la-Surat An-Nas. Ketiga, tingkat Tsanawiyah. Waktunya setengah tahun, dengan materi; Buku Standar Tajwid (Fathul Manan), Manaqibul Auliya’il Khomsin, mempelajari dan menghafal mulai Surat Al-A’la-Surat An-Nas, Surat Yasin, Al-Waqi’ah dan Bacaan-bacaan Ghorib. Keempat, tingkat Aliyah. Waktunya kurang lebih satu tahun setengah, dengan materi; Buku Mari Memakai Rosm Utsmany, sorogan Alquran mulai Juz 1-Juz 30 dan menghafal qishoris suwar. Sedangkan tingkatan kelima adalah Sab’atul Qiro-at. Waktunya kurang lebih dua bulan dan diperuntukkan bagi siswa yang sudah selesai setoran Alquran 30 juz, telah sukses menghafalkan surat-surat pendek (antara lain; juz 30, Al Mulk, Al Waqi’ah, Ad Dukhon, Yasin, As Sajdah, Al Kahfi,) dan telah terdaftar sebagai peserta Takhtiman (Khotmil Quran).

Pada tanggal 16 Juni 2002, MMQ meresmikan cabangnya di daerah Batam. Kala itu, meski dengan fasilitas minim (bahkan tempat mengajinya masih meminjam lahan yang terletak di kawasan liar belakang Dormitori Blok R kawasan industri Batamindo, Muka Kuning), MMQ Batam telah diikuti kurang lebih 600 siswa dengan tingkatan yang sama dengan MMQ Pusat, yaitu tingkatan Jet Tempur, Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah, Aliyyah, Tahaffuzh, dan Qiro-ah Sab’ah. Cabang MMQ dengan Akte Notaris Yondri Darto, S.H. No. 196 tanggal 20 Juli 2004 ini, kini telah diikuti oleh lebih dari 4000 santri.

Selain MMQ, di dalam Pondok Pesantren Murottill Qur’an (PPMQ) juga ada Majlis Qiro’ah Wat Tahfidz (MQT). Kegiatannya terbagi dua, harian dan mingguan. Harian meliputi: salat Jamaah lima waktu, qiyamullail, mengaji setor hafalan (Ba’da Jamaah Salat Subuh), murottalan bersama (aktivitas memperbaiki bacaan Alquran, membenahi makhroj, dan menerapkan sifaatul huruf yang dilaksanakan setelah jamaah salat Zhuhur), dan mengaji Takror Hafalan (sebuah kegiatan yang mngumpulkan antara guru dan santri guna mengulang, dan memahirkan hafalan Alquran, disamping penyampaian materi kitab-kitab tajwid setelah jamaah salat Asar). Sedangkan kegiatan mingguannya adalah: musyawarah kitab-kitab tajwid (Kamis sore), Jam’iyyah Maulidiyyah (kegiatan yang di dalamnya juga berisikan pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qodir al-Jailani, latihan khitobah, dan praktek ubudiyyah, digelar malam Jumat), serta semaan Alquran (hari Jum’at selepas jamaah salat Subuh).

MQT juga membagi tingkatan-tingkatan anggotanya. Tingkat Marhalah I’dadiyyah (waktunya setengah tahun, dengan materi; hafalan surat-surat penting dan buku Persiapan Membaca Alquran), Tingkat Marhalah Ula, (waktunya satu tahun, dengan materi; hafalan juz 1-10 dan buku Standar Tajwid), Tingkat Marhalah Tsaniyyah, (waktunya satu tahun, dengan materi; hafalan juz 11-20 dan buku Tajwid Jazariyyah), Tingkat Marhalah Tsalitsah, (selama satu tahun, dengan materi; hafaln juz 21- 30 dan buku Tajwid Jazariyyah), dan Tingkat Sab’atul Qiro-at (ditempuh kurang lebih tiga tahun dan diperuntukkan bagi santri yang telah mengkhatamkan al-Quran dihadapan KH. Maftuh Basthul Birri).

PPMQ kian hari makin berkembang. Saat ini, untuk menampung para santrinya, sejak tahun 2005 dibangunlah kompleks baru di Dusun Sidomulyo Desa Klodran Kecamatan Semen Kediri, yang berjarak kurang lebih 3 km dari Pondok Pesantren Lirboyo. Dan meskipun PPMQ adalah pesantren yang fokus pada pengkajian Alquran, di dalamnya juga diajarkan ilmu tauhid, fikih, akhlak, hadis, nahwu dan shorof, yang digelar setiap hari mulai pukul 08.00 WIS.

Instagram
ppmqlirboyo

Pondok Pesantren Darussalam (PPDS)

Pesantren yang biasa disebut dengan PPDS ini, terletak sekitar 500 M di selatan Pondok Pesantren Lirboyo induk. Awalnya, PPDS yang diasuh KH. Ahmad Mahin Thoha ini, hanyalah sebuah gubug yang disediakan untuk tamu-tamu beliau yang saat itu kebanyakan dari Magelang. Akan tetapi, gubug yang lengkap dengan sarana MCKnya itu, setiap kali didirikan, selalu ditempati santri, khususnya khodim ndalem KH. Ahmad Mahin Thoha.

Lambat laun, gubug-gubug itu tak ubahnya sebuah asrama dengan penghuni yang terus bertambah. Dari situlah, mulai ada langkah-langkah untuk menjadikan asrama tersebut menjadi sebuah pondok pesantren unit Lirboyo. Dan tepat pada tanggal 8 Dzulhijjah 1422 H./ 20 Februari 2002 M., Darussalam diresmikan sebagai unit dari Pondok Pesantren Lirboyo.

PPDS terus membenahi diri dalam berbagai aspek. Tahun 2004, didirikanlah gedung baru berlantai dua. Kemudian tahun 2007, dibangunlah musholla sebagai pusat kegiatan santri dengan dua lantai pula. Di unit ini pula, para santri tidak hanya belajar pelajaran agama. Karena banyak dari mereka juga mengikuti kegiatan di luar pesantren. Baik itu jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama, tingkat atas, ataupun juga jenjang kuliah.

Instagram
bumi.darussalam

Pondok Pesantren Putri Tahfizhil Qur’an (P3TQ)

Pesantren putri ini berdiri tahun 1986 M. yang bermula dari keinginan seseorang. Waktu itu, sang tamu dari daerah Bojonegoro mengantarkan sekaligus menyerahkan putrinya yang bernama Arifah kepada KH Ahmad Idris Marzuqi guna sekedar berkhidmah. Namun KH Idris Marzuqi menolak permintaan itu dengan halus. Setelah mendapat desakan terus menerus, beliaupun mengizinkan Arifah untuk berkhidmah membantu kesibukan keluarga beliau sekaligus menjadi penyimak Ibu Nyai Hj. Khodijah ketika melalar hafalan Alquran.

Dalam waktu relatif singkat, santri putri yang mempunyai keinginan sama mulai berdatangan. Ketika jumlah santri telah mencapai 4 orang, timbul keinginan KH Ahmad Idris Marzuqi untuk membangun asrama bagi mereka. Dan pada tahun 1992 gedung P3TQ yang letaknya bersebelahan dengan Ndalem Kiai Idris dibangun menjadi tiga lantai. Saat itulah, Kiai Idris Marzuqi memberi nama pondok kecil ini “Tahfizhil Qur’an”.

Peningkatan kwantitas santri dari tahun ke tahun, menjadi salah satu faktor yang menuntut perluasan gedung P3TQ. Tahun 1999, bertepatan dengan penyelenggaraan Muktamar NU XXX di Pondok Pesantren Lirboyo, dibangunlah aula sebagai pusat segala aktivitas. Tahun 2001, dibangun 2 kamar dan beberapa sarana pelengkap.

Untuk menambah pengetahuan dan keilmuan para santri, KH Ahmad Idris Marzuqi memberikan instruksi pada salah satu khodim beliau yaitu Bapak Azizi Hasbullah dari Malang, untuk memberikan pengajian sekedarnya. Perintah inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi-aat Fittahfizhi Wal Qiro-at (MHMTQ) yang diresmikan pada tahun 1992. Semula MHMTQ hanya terdiri dari beberapa kelas di tingkat Ibtidaiyyah. Baru pada tahun 1995 lengkap dengan 6 kelas. Tahun 1997, MHMTQ menambah satu jenjang pendidikan yaitu tingkat Tsanawiyah, dan tahun 2005 menambah satu tingkatan lagi yaitu tingkat Aliyah. Untuk menunjang kualitas dan kematangan para siswi dalam penguasaan materi. Selain edukasi di dalam kelas, dibentuklah M3HMTQ, sebuah organisasi siswi intra sekolah yang khusus menangani sorogan kitab kosongan, setoran nazhom, musyawarah dan bahtsul masa-il.

Seiring dengan bertambahnya santri, gedung yang tersedia dirasa semakin sesak dan tidak bisa menampung banyaknya santri, sehingga dibangunlah gedung baru sebagai sarana pendukung dalam kegiatan belajar mengajar dan kenyamanan tempat tinggal bagi semua santri. Pada tanggal 2 Januari tahun 2007 dimulailah pembangunan gedung pondok baru di atas tanah seluas 77.885 M yang terletak di sebelah selatan Ndalem Barat KH. Ahmad Idris Marzuqi. P3TQ Barat yang sekarang ditempati oleh santri dalam jenjang sekolah tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah ini memiliki beberapa fasilitas, selain kamar, juga ada koperasi, kantin, ruang kesehatan, perpustakaan, wartel, ruang keputrian yang dilengkapi dengan mesin jahit dan mesin obras, serta beberapa fasilitas lainnya.

Meski terpisah menjadi dua, P3TQ Barat dan Timur, para santri masih tetap berada dalam satu naungan atap yang sama dan selalu menjalin kekompakan dan silaturrahim dalam berbagai aspek. Pesantren Putri ini juga dilengkapi dengan segudang kegiatan ekstrakurikuler. Diantaranya kegiatan Seni Baca Al–Quran, Jam’iyyah Sholawat, Qiro-at, Diba’iyah, Barzanjiyah, Manaqibiyah, Khithobiyah, Kursus Bahasa Arab dan Inggris, Ketrampilan membuat parsel, Tata Busana, dll. Berdasarkan intruksi Romo Yai para santri diharuskan untuk membiasakan berbicara dengan bahasa Arab dan Inggris setiap hari. Maka mulai tahun 1998, dibentuklah Lajnah Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) dan pada tahun 2006 terbentuk Lajnah Pengembangan Bahasa Inggris (LPBI) sebagai pelengkap kesiapan santri untuk terjun dan berkiprah di masyarakat.

Informasi pendaftaran dan pembiayaan P3TQ bisa didownload di link berikut.

Pondok Pesantren HM ANTARA

Pendirian pondok pesantren ini berawal dari seringnya KH. M. Anwar Manshur (Pengasuh PP. Putri Hidayatul Mubtadi-aat) beserta istri, menerima keluhan dari masyarakat yang khawatir akan perkembangan dan masa depan anak-anaknya. Karena mereka menganggap, lingkungan pergaulan saat ini cenderung mengarah pada perilaku-perilaku yang tidak sesuai. Setelah mengadakan musyawarah keluarga, maka beliau menunjuk putra dan menantu beliau, KH. Atho’illah Sholahuddin dan Ny. Hj. Amaliah Mukmilah untuk menampung para santri yang notabenya masih anak-anak.

Hal itu kemudian ditindaklanjuti dengan menginstruksikan kepada seluruh ketua HP (Himpunan Pelajar) guna mengumpulkan para santri yang masih di bawah umur. Dan pada tanggal 19 Mei 1996 M. / 01 Muharram 1417 H. beliau mendirikan PP. HM Antara dengan kondisi yang masih sangat sederhana, baik fisik maupun aktivitas kegiatannya. Nama HM ANTARA sendiri selain merupakan singkatan dari Hidayatul Mubtadi-ien Anak Tahap Remaja, juga dikarenakan posisinya berada di antara 2 pondok HM, yaitu PP. Haji Mahrus (HM) dan PP. HM Putra Al-Mahrusiyah.

Kala itu, santri yang menetap sekitar 18 orang. Diantaranya adalah Martha Aly (asal Bekasi), Suherman (asal Jakarta), Bahroni (asal Pasuruan), dan Rusydiyansah (asal Kalimantan). Untuk membantu membimbing para santri, beliau mempercayakan kepada Mujahid Kholili (asal Jogjakarta), Rifa’I Atho’ (asal Brebes), Abdurrouf Qosasih (asal Jakarta), dan Daud Hendi Isma’il (asal Bekasi).

Sesuai dengan nama dan tujuan awal pembentukannya, pondok pesantren ini lebih ditekankan pada pembinaan santri yang masih anak-anak dan menjelang remaja. Dan lambat laun, PP. HM Antara mengalami banyak perkembangan, baik secara fisik maupun aktivitas kegiatan yang diselenggarakan. Saat ini program kegiatan PP. HM Antara diantaranya: sekolah diniyah (bergabung dengan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien), wajib salat berjama’ah, istighotsah (tiap malam Senin dan Jum’at), pengajian Alquran, sorogan kitab kuning, pengajian kitab-kitab salaf, jam wajib belajar, dan kegiatan keilmuan lainnya. Selain itu, para santri juga mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari qiro’ah, diba’, praktek ‘ubudiyyah dan lain sebagainya.

Informasi pendaftaran dan pembiayaan PP HM Antara bisa didownload di link berikut.

Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat Al-Qur’aniyyah (HMQ)

Pesantren putri yang berdiri tahun 1986 M. ini biasa disebut dengan HMQ. Berada di sebelah timur HMC. Pesantren ini bergerak khusus dalam bidang Alquran. Pada awalnya, pesantren yang diasuh oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus beserta istri, Nyai Hj. Azzah Noor Laila, hanyalah tempat mengaji anak-anak kampung Lirboyo. Seiring berjalannya waktu, datanglah santri dari luar daerah. Santri generasi pertama adalah Masyi’ah (asal Ciledug), Lailatul Badriyah (asal Karawang), Nur Khofifah (asal Cirebon) dan Rodliyah (asal Ngawi). Tahun 1989 M. gudang padi peninggalan Ibu Hj. Zainab dibongkar dan pada tahun 1990 M. bekas garasi mobil peninggalan KH. Mahrus Ali direnovasi, semuanya itu dilakukan untuk menunjang belajar mengajar Alquran para santri.

Di tahun 1994 M. HMQ melakukan perombakan sistem pendidikannya. Sistem yang semula segala jenis kegiatan pendidikan dikelola oleh Seksi Pendidikan dan hanya terbagi menjadi beberapa tingkatan, dilimpahkan ke Madrasah Al-Hidayah P3HMQ. Seteleh MA P3HMQ berdiri, lembaga ini mempunyai lima jenjang pendidikan: Tingkat I’dadiyah, Ibtida’iyah, Tsanawiyah, Aliyah dan Ma’had Aly. Disamping itu, dibentuk juga Organisasi K-Fein (Kajian Fikih Interaktif) sebagai wadah pengembangan musyawaroh & bahtsul masa’il santriwati. Tak cukup sampai disitu, P3HMQ juga mengembangkan kreativitas santrinya dalam berbagai bidang, yang bisa disalurkan melalui Jam’iyyah Khithobiyah, Diba’iyyah, Praktek Ubudiyah, Mouzic Holic (Pecandu Musyawaroh Asyik) dan Majalah Dinding ar-Rabiet.

Dalam hal pendidikan Alquran, P3HMQ menggunakan metode sorogan langsung kepada Ibu Nyai Hj. Azzah Noor Laila, baik bil ghoib maupun bin nadzor. Sedangkan untuk menambah pengetahuan dan keilmuan untuk santri bil ghoib non siswi dalam fan fikih dan tafsir, Seksi Pendidikan mengadakan pengajian kitab kuning yang dikemas dalam kegiatan ekstrakurikuler. P3HMQ juga menyediakan pendidikan bagi santri yang betul-betul belum mengerti tentang cara membaca Alquran dengan baik dan benar, dengan nama TPA/ TPQ Al-Karim yang diasuh langsung oleh ibu nyai. Selain para santri, banyak juga ibu-ibu kampung sekitar Desa Lirboyo yang mendaftarkan putra-putri mereka untuk mengaji di TPA/TPQ Al-Karim ini. Bukan hanya itu, tak jarang juga ibu-ibu dan anak-anak kampung mengikuti salat berjamaah di musholla P3HMQ, terlebih pada waktu bulan Ramadhan.