Category Archives: Pondok Pesantren Unit Lirboyo

Pondok Pesantren Haji Ya’qub (PPHY)

Pondok Pesantren Haji Ya’qub (PPHY) adalah pondok pesantren yang didirikan oleh KH. Ya’qub bin Soleh, adik ipar sekaligus sahabat KH. Abdul Karim (Mbah Manab) dan KH. Ma’ruf Kedunglo. Beliau adalah orang yang diberi amanat oleh KH. Soleh Banjarmlati (Ayahanda KH. Ya’qub) untuk mendampingi Mbah Manab dalam menangani keamanan di Pondok Pesantren Lirboyo dan mendampingi Mbah Ma’ruf dalam menangani keamanan di Pondok Pesantren Kedunglo, Bandar, Kediri yang dikala itu masih angker dan banyak penjahat yang meresahkan para santri.

Perkembangan PPHY mulai tampak pada tahun 1978, santri yang ada di PPHY ± sebanyak 60 orang dan pada waktu itu masih belum terbentuk Himpunan Pelajar (HP) dan sistem pembayarannyapun masih langsung ke Pondok Induk. Kegiatan ekstrakurikuler sebagai wadah kreativitas santri (khithobah, dziba’iyah, tahlil dan cara berorganisasi) saat itu masih terkemas dalam sebuah jam’iyyah yang bernama Jam’iyyah Ar-Rohmah.

Untuk menampung santri yang terus bertambah maka dibangunlah asrama pertama pada tahun 1979, biasa disebut dengan Pondok Lama yang sekarang berada disebelah selatan ndalem K. Nur Muhammad. Sementara Himpunan Pelajar baru berdiri pada tahun 1985 yang diketuai oleh Bapak Zumar M (Semarang).

Sementara di tahun 1993 perkembangan di tubuh PPHY adalah berdirinya Madrasah Diniyah Haji Ya’qub yang dikepalai oleh Bapak Widodo Ahmad (Kediri) dan Sekretaris Bapak Rosihin (Pekalongan). Tujuan didirikannya MDHY ini adalah untuk menampung santri yang sekolah di luar pesantren (sekolah formal) atau santri yang tidak bisa mengikuti Madrasah Diniyah di Pondok Induk (MHM) disamping juga anak dari kampung.

Sejak berdirinya PPHY, masyarakat sekitar pondok yang pada awalnya merasa kurang menerima adanya komunitas pesantren di sekelilingnya, lambat laun menyadari akan urgennya sebuah pondok pesantren, dengan bukti ada sebagian masyarakat yang ikut andil dalam memajukan pondok pesantren. Diantaranya dengan mengikuti sekolah madrasah diniyah di pondok pesantren, serta membantu kerja bakti di lingkungan pesantren. Sementara MDHY dengan jenjang pendidikan 12 tahun (6 tahun Ibtida’iyah, 3 tahun Tsanawiyah dan 3 tahun Aliyah) terus membenahi diri mencari format pendidikan yang efektif dan efisien dengan sistem masuk sekolah jam 19.00 – 21.00 WIS dan musyawarah/ diskusi pada jam 16.45 – 18.00 WIS serta para siswa pun diwajibkan mengikuti sorogan kitab 2 kali dalam satu minggu dan Musyawaroh Gabungan Sughro yang diadakan tiap malam Ahad (beranggotakan siswa MDHY dan siswa Ibtidaiyah MHM).

Informasi pendaftaran dan pembiayaan PP HY bisa didownload di link berikut.

Instagram
pphy_lirboyo

Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM)

Klik untuk Pendaftaran Online P3HM

Kebutuhan akan pendidikan tidak memandang kelompok. Maka wajar jika KH. Mahrus Aly (alm) mengutarakan pemikiran ini kepada putri beliau yakni Ibu Nyai Hj. Ummi Kultsum, istri KH. M. Anwar Manshur, untuk mendirikan sebuah pondok pesantren putri. Selanjutnya dawuh mbah Mahrus tersebut terwujud tepat pada tanggal 15 September 1985 M. / 01 Muharram 1406 H. Pondok Pesantren Putri Hidayatul Mubtadi-aat (P3HM) resmi berdiri.

Santri generasi pertama P3HM terdiri atas dua orang santri putri yakni Kholifah (asal Jakarta), Nur Hayati (asal Karawang) dan para khodimah keluarga Pondok Pesantren Lirboyo. Mereka mengaji sorogan langsung kepada Ibu Nyai Hj. Ummi Kultsum yang dibantu oleh Ibu Nyai Hj. Umi Sa’adah (istri KH. A. Habibulloh Zaini). Ketika jumlah santrinya sekitar 15 orang, sistem belajar yang dipakai P3HM ditingkatkan dengan menggunakan kurikulum sistem madrasah. Meski metodenya berubah, namun pengajian kitab-kitab kuning dengan sistem sorogan di luar jam sekolah tetap digelar. Sistem Pendidikan Madrasah ini secara formal diterapkan mulai tahun ajaran 1987-1988 M./1407-1408 H. dengan nama MHM, selanjutnya pada tahun 1418 H. dirubah menjadi Madrasah Putri Hidayatul Mubtadi-aat (MPHM). Jenjang pendidikan di MPHM adalah I’dadiyah (terbentuk di tahun ajaran 1993-1994 M.), Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

Mendung bergelayut, Sang pengasuh, Ibu Nyai Hj. Ummi Kultsum berpulang ke rahmatulah pada 27 Maret 1997. Namun meski demikian, tidak menyurutkan himmah para santri putri untuk terus giat belajar. Terbukti, terhitung sejak tahun 2002 hingga saat ini (2012), santri P3HM menyumbangkan puluhan prestasi. baik skala lokal maupun nasional.

Pengurus P3HM juga terus berbenah dari tahun ke tahun, selain pendidikannya, sarana dan prasarananya juga terus dibenahi. Mulai kamar, perpustakaan, gedung sekolah, aula, toko kitab, rental komputer, wartel, ruang tamu, ruang kesehatan dan beberapa kantin.

Informasi pendaftaran dan pembiayaan P3HM bisa didownload di link berikut.

Klik untuk Pendaftaran Online P3HM

Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah

PP Lirboyo HM Al-Mahrusiyah dirintis sejak tahun 1987 M. Lembaga pendidikan ini adalah penampung siswa, mahasiswa dan mahasiswi yang belajar dibawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Tribakti (YPIT). Pondok pesantren ini sendiri memiliki beberapa lembaga: PP Lirboyo HM Al-Mahrusiyah Putra/Putri, Madrasah Diniyah Al-Mahrusiyah, Madrasah Murottilil Qur’an Al-Mahrusiyah, Institut Agama Islam Tribakti (IAIT), Madrasah Aliyah HM Tribakti, Madrasah Tsanawiyah HM Tribakti, TK Kusuma Mulia Tribakti, koperasi Pondok Pesantren dan perpustakaan Pondok Pesantren.

Untuk PP Lirboyo HM Al-Mahrusiyah Putri, diresmikan pada tanggal 06 Januari 2001. Dan sekarang, pesantren unit Lirboyo ini berlokasi di tiga tempat. Satu bertempat di jalan KH. Abd. Karim No. 99 Lirboyo, dua berada di jalan Penanggungan No. 44B Lirboyo, dan tiga berada di daerah Ngampel, Kediri, beberapa kilometer arah utara Pondok Induk Lirboyo.

Tahun 1992 (1 Muharom 1413 H.) berdirilah Madrasah Diniyah (Madin di PP Lirboyo HM Al-Mahrusiyah Putra berdasarkan SK.PP.HMP.No.23/SK/PP HMP/VII/1992). Pendidikan yang dikembangkan memiliki beberapa jenjang : I’dadiyah 2 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, dan Aliyah 3 tahun. Metode yang digunakan Madin yang tidak jauh beda dengan metode MHM, seperti Musyawarah, Muhafadloh, ataupun Lalaran. Madin PP. HM Putra Al-Mahrusiyyah digelar malam hari, karena pagi harinya para santri menuntut ilmu umum.

Dan pada tahun 2004, madrasah tsanawiyah Madinnya telah disamakan dengan tingkatan tsanawiyah lembaga umum, dan ijazahnya telah disahkan bisa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Negara lain, sepeti Yaman, Al Azhar, dan negara lainnya. Selain itu, untuk menunjang para santrinya, PP. HM Putra Al-Mahrusiyyah memiliki beragam sarana dan prasarana, mulai puluhan lokal belajar, lapangan basket, voly sampai lapangan tenis, yang ditunjang juga dengan berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Diantaranya : Manaqib, Sab’ul Munjiyat, dan Bela Diri (Pagar Nusa), Wushu, Taekwondo).

Informasi pendaftaran dan pembiayaan PP Lirboyo HM Al-Mahrusiyah bisa didownload di link berikut:

Pendaftaran Online Al-Mahrusiyah

Instagram
elmahrusy.media

Pondok Pesantren Haji Mahrus (PPHM)

Pondok Pesantren Lirboyo Haji Mahrus (PPHM) merupakan satu di antara beberapa pondok unit yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Lirboyo. Pondok unit ini terletak sekitar 100 meter sebelah timur pondok induk. Tepatnya pada tahun 1952 M. pondok ini didirikan oleh KH. Mahrus Aly, ketika itu kondisi stabilitas nasional sedang diganggu oleh kaum komunis.

Awal-mulanya, sang pendiri KH. Mahrus Aly tidak bermaksud mendirikan pondok. Hanya secara kebetulan KH. Mahrus Aly diberi lahan oleh KH. Abdul Karim untuk membuat rumah sekaligus majelis taklim sebagai sarana mangajarkan atau membacakan kitab-kitab kepada para santri. Kemudian di sebelah utara dari majelis taklim dibuat sebuah kamar yang sangat sederhana berukuran lebar 2×4 m, sekedar sebuah tempat istirahat bagi santri yang sehari-harinya menjadi khadim beliau.

Pada tahun 1958, santri yang bermukim bertambah menjadi 20 orang sehingga tempat yang disediakan tidak cukup menampungnya. Akhirnya beliau dengan para santri membuat tiga kamar sederhana yang disediakan untuk para santri. Namun santri terus saja bertambah dan masih banyak santri yang ingin ikut bersama beliau. Sehingga tiga kamar tersebut diperbaiki sekaligus ditingkat menjadi enam kamar. Sedangkan dana untuk pembangunan kamar tersebut hanya mengandalkan dari simpatisan dan dermawan. Dikarenakan waktu itu belum berani meminta iuran dari wali santri, sebab santri yang ada belum seberapa banyak dan juga majelis taklim yang diselenggarakan beliau belum menjadi lembaga pesantren yang independen.

Tidak lama setelah dibangun enam kamar santri, maka dibangunlah kamar hunian santri yang khusus untuk masing-masing daerah. Pertama kali yaitu dari daerah Losari, Cirebon, membangun kamar yang terletak di sebelah selatan majelis taklim di atas jeding kobok, yang kemudian diberi nomor delapan (karena sebelum itu sudah ada tujuh kamar). Selang beberapa tahun setelah itu, seorang dermawan dari daerah Gebang, Cirebon, Bapak HM. Ma’mun bersama rekan-rekannya ikut membangun tempat hunian santri. Saat itu santri yang ada mayoritas dari daerah Jawa Barat dan sedikit dari Brebes, Tegal serta daerah lainnya. Pesatnya perkembangan pembangunan tempat hunian santri, ternyata juga diimbangi oleh perkembangan santri yang terus bertambah hingga mencapai 150 santri.

Sejauh itu, KH. Mahrus Aly masih tetap belum berani mengatakan bahwa tempatnya adalah pondok pesantren tersendiri, tapi hanya merupakan Himpunan Pelajar (HP) di antara beberapa HP yang ada di Lirboyo. Maka kemudian disebut dengan HP HM, artinya Himpunan Pelajar yang berada di majelis taklim KH. Mahrus. Sementara masalah keorganisasian dan tata administrsi lainnya masih mengikuti pada kebijaksanaan pondok induk, kepengurusannya juga mengikut pada pondok induk.

Dalam organisasi (jam’iyyah) juga masih merupakan wilayah JSP (Jam’iyah Subaniyah Pusat) Pondok Pesantren Lirboyo yang pada waktu itu meliputi tiga wilayah:

  1. Wilayah I, anggotanya para santri dari Jawa barat yang bertempat di Pondok Induk Lirboyo.
  2. Wilayah II, anggotanya para santri dari wilayah Pekalongan, Brebes dan Tegal (PABETA) yang berada di Pondok Induk Lirboyo.
  3. Wilayah III, anggotanya seluruh santri yang betempat di HM (H. Mahrus). Kesemuanya, kegiatan jam’iyyahnya dilaksanakan di Pondok Induk.

Situasi HM ketika itu masih cukup gelap dengan beberapa pepohonan yang tumbuh di sekitar lingkunganya. Tahun 1960-an, setelah KH. Mahrus Aly mengkhitankan putranya yang paling besar, Imam Yahya Mahrus, banyak tanaman yang rusak. KH. Mahrus Aly mengusulkan agar tempat tersebut dibangun pemukiman santri (sekarang tempat Jam’iyah Ukhuwah). Mengingat dana yang dibutuhkan tidak sedikit, akhirnya para santri senior pada saat itu mulai berfikir untuk meminta iuran pembangunan dari wali santri. Pada saat itu pula mereka mengajukan permohonan ke Pondok Induk agar HM ini bisa menjadi pondok tersendiri. Puncaknya pada tahun 1962 Pondok HM resmi menjadi pondok mandiri yang segala administrasi dan kepengurusannya ditentukan oleh Pondok HM. Bertepatan pada masa itu, KH. Mahrus Aly mengumumkan kepada para santri bahwa mushala di HM beralih status menjadi masjid yang bisa dibuat untuk i’tikaf, sebab seperti telah disinggung di atas bahwa mushala itu pada mulanya hanya merupakan majelis taklim.

Pasca kepergian KH. Mahrus Aly pada tanggal 06 Ramadlan 1405/ 26 Mei 1985, kepemimpinan Pondok Unit HM dilanjutkan oleh putra-putra beliau, yaitu KH. Imam Yahya Mahrus, K. Harun Musthofa SE, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. Zamzami Mahrus dan KH. An’im Falahuddin Mahrus.
Waktu itu, di antara putra-putra Mbah Mahrus yang lebih berperan aktif dalam mengurusi pondok pesantren HM adalah KH. Imam Yahya Mahrus mengingat KH. Imam Yahya merupakan putra terbesar. Setelah kurang lebih selama tiga tahun KH. Imam Yahya Mahrus mengurusi Pondok Pesantren HM, beliau mempunyai inisiatif untuk membangun Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah.

Informasi pendaftaran dan pembiayaan PPHM bisa didownload di link berikut:

Instagram
pphm_lirboyo