HomeAngkringPesan Tersirat Mbah Moen

Pesan Tersirat Mbah Moen

Angkring 0 14 likes 839 views share

Cerita ini dikisahkan sendiri oleh KH. A. Shampton Mashduqi. Sewaktu beliau masih nyantri, Mbah Moen (KH. Maimoen Zubair almaghfurlah) pernah rawuh (datang) ke Pondok Pesantren Lirboyo. Setelah beberapa saat berada di pondok, Gus Shampton, panggilan akrab beliau, diperintah oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus untuk menemani Mbah Moen. Ketika menemani beliau itulah terjadi obrolan ringan.

“Cung. Awakmu wes pirang tahun mondok (Bocah, kamu sudah mondok berapa tahun)?” tanya Mbah Moen kepada Gus Shampton. Dijawabnya pertanyaan-pertanyaan Mbah Moen dengan penuh takzim. Sampai akhirnya beliau melempar pertanyaan yang tidak terduga, “Awakmu wes ngerti Guo Selomangleng (Kamu sudah tahu Gua Selomangleng)?” Gus Shampton, yang tidak pernah ke mana-mana, menggelengkan kepala. “Belum pernah, Kiai.”

“Santri kok ga eruh Guo Selomangleng (Santri kok tidak tahu Gua Selomangleng).”

Gus Shampton sejak itu hingga selang beberapa waktu kemudian heran: kenapa beliau bertanya seperti itu?

Ternyata Mbah Moen ingin mengetahui seberapa serius seorang santri belajar dan menghafal pelajaran. Kok bisa? Karena santri yang ingin menghibur diri, berekreasi, itu disebabkan pikirannya yang sumpek, susah, penuh. Otak yang digunakan untuk berpikir terus menerus, pasti akan penat. Jika penat, pasti akan mencari cara untuk mengurangi kepenatannya. Entah dengan menghibur diri, atau rekreasi.

Gus Shampton kemudian sadar: Loh, berarti benar. Saya ini termasuk santri yang tidak serius mondoknya. Jarang belajar. Lah wong saya tidak pernah susah. Tidak pernah penat memikirkan pelajaran.

Santri yang tidak pernah penat pikirannya, jenuh, bosan, justru harus dipertanyakan: seberapa serius ia belajar? Seberapa paham ia akan pelajaran yang diajarkan? Jangan-jangan, mondoknya mudah kerasan karena tidak pernah menyibukkan diri dengan belajar dan hafalan. Naudzubillah. []

___

Cerita ini dikisahkan oleh KH. A. Shampton Mashduqi, Malang, dalam Seminar Jamiyah Nahdliyah Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadiin (M3HM), Kamis 22 Agustus 2019.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.