Pesan Tersirat Mbah Moen

Cerita ini dikisahkan sendiri oleh KH. A. Shampton Mashduqi. Sewaktu beliau masih nyantri, Mbah Moen (KH. Maimoen Zubair almaghfurlah) pernah rawuh (datang) ke Pondok Pesantren Lirboyo. Setelah beberapa saat berada di pondok, Gus Shampton, panggilan akrab beliau, diperintah oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus untuk menemani Mbah Moen. Ketika menemani beliau itulah terjadi obrolan ringan.

“Cung. Awakmu wes pirang tahun mondok (Bocah, kamu sudah mondok berapa tahun)?” tanya Mbah Moen kepada Gus Shampton. Dijawabnya pertanyaan-pertanyaan Mbah Moen dengan penuh takzim. Sampai akhirnya beliau melempar pertanyaan yang tidak terduga, “Awakmu wes ngerti Guo Selomangleng (Kamu sudah tahu Gua Selomangleng)?” Gus Shampton, yang tidak pernah ke mana-mana, menggelengkan kepala. “Belum pernah, Kiai.”

“Santri kok ga eruh Guo Selomangleng (Santri kok tidak tahu Gua Selomangleng).”

Gus Shampton sejak itu hingga selang beberapa waktu kemudian heran: kenapa beliau bertanya seperti itu?

Ternyata Mbah Moen ingin mengetahui seberapa serius seorang santri belajar dan menghafal pelajaran. Kok bisa? Karena santri yang ingin menghibur diri, berekreasi, itu disebabkan pikirannya yang sumpek, susah, penuh. Otak yang digunakan untuk berpikir terus menerus, pasti akan penat. Jika penat, pasti akan mencari cara untuk mengurangi kepenatannya. Entah dengan menghibur diri, atau rekreasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.