Tag Archives: Bahtsul Masail

Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus: Rajin Itu Riyadhoh

Mumpung masih di pondok, harapan mempeng itu lebih besar.

Rajin belajar itu juga termasuk Riyadhoh.

Orang yang berilmu itu derajatnya akan naik, entah itu formal atau pun syariat. Kalau ilmu formal derajat akan naik dalam pandangan manusia, kalua ilmu sariat di sisi Allah mau pun manusia akan naik.

Kalau sudah umur empat puluh tahun lebih, sementara otak tidak lagi di gunakan untuk belajar atau pun mengajar itu bisa menimbulkan efek pikun.

Kita mencari ilmu supaya barokah itu diantaranya dengan memuliakan guru.

Kita tidak boleh berperasangka buruk kepada guru, walaupun terkadang ada kesalahan-kesalahan yang keluar dari guru. Yang baik, kita harus tetap khusnudzon.

Walau pun mungkin saja murid itu menjadi lebih alim dari gurunya, tetapi yang baik harus tetap memuliakan sang guru.

Bukan berarti kita memuliakan orang lain, lalu kita menjadi rendah. Tetapi insyaallah kita juga akan dimuliakan orang lain.

Anak yang paling beruntung adalah anak yang betah di pondok, karena potensi maksiat lebih kecil.

Orang tua yang menafkahi anaknya di pondok, Insyaallah rizkinya berkah.

Jangan sampai kita jadi orang yang kapok (jera) mondok. Kapok mondok itu misalnya ada alumni pondok yang sukses lalu setelah punya anak ia tidak memondokkan anaknya.

Dakwah yang baik yaitu kita meneruskan dakwahnya Walisongo.

Para santri agar benar-benar menkuni ilmu fikih

Saya sangat bersukur dan senang sekali Bahtsul Masa’il ini bisa tetap berjalan, karena itu tandanya masih banyak santri yang menekuni ilmu fikih.

-disarikan dari dawuh beliau diacara penutupan Bahstul Masa’il Kubro Pondok Pesantren Lirboyo 21 Pebruari 2019 M. di serambi masjid PP. Lirboyo.

Muntahan Bayi dan Kelonggaran Hukumnya

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Hal lumrah yang sering terjadi pada seorang bayi adalah muntahan ketika makan sesuatu atau saat minum ASI. Apabila tidak diketahui hukum status kenajisannya, tentunya sangat memberatan bagi para ibu. Najiskah muntahan bayi tersebut? Dan apakah memang ada yang mengatakan ma’fu (ditolerir)? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Alfia- Blitar Jawa Timur)

______________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ketika makanan atau minuman yang sudah tertelan dan melewati batas tengah tenggorokan (tempat keluarnya huruf ha’), maka sudah dianggap masuk ke dalam tubuh. Sehingga apabila makanan tersebut keluar kembali, maka dinamakan kategori muntahan (Al-Qoi’) yang statusnya adalah najis. Sebagaimana penjelasan Syekh Zainuddin Al-Malibary dalam kitabnya yang berjudul Fathul Mu’in:

 وَقَىْئُ مَعِدَّةٍ وَإِنْ لَمْ يَتَغَيَّرْ، وَهُوَ الرَّاجِعُ بَعْدَ الْوُصُوْلِ لِلْمَعِدَّةِ وَلَوْ مَاءً، أَمَّا الرَّاجِعُ قَبْلَ الْوُصُوْلِ إِلَيْهَا يَقِيْنًا أَوِ احْتِمَالًا فَلَا يَكُوْنَ نَجْسًا وَلَا مُتَنَجِّسًا

Dan (sesuatu yang najis adalah) muntahan dari lambung, meskipun tidak ada perubahan. Muntahan adalah setiap perkara yang kembali keluar setelah sampai pada lambung, meskipun cuma berupa air. Namun ketika diyakini atau diragukan belum sampai pada lambung, maka sesuatu yang kembali itu tidak najis bahkan tidak mutanajjis.”[1]

Namun lazimnya bayi pada umumnya, muntahan ASI atau makanan sudah biasa dan sering terjadi, bahkan sulit untuk dihindari. Adapun status kenajisannya yang  ditolerir pernah dijelaskan Sayyid Abi Bakar Syato Ad-Dimyati dengan dengan mengutip fatwa Imam Ibnu Hajar Al-Haitamy:

وَسُئِلَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: هَلْ يُعْفَى عَمَّا يُصِيْبُ ثَدْيَ الْمُرْضِعَةِ مِنْ رِيْقِ الرَّضِيْعِ الْمُتَنَجِّسِ بِقَئْ ٍ أَوِ ابْتِلَاعِ نَجَاسَةٍ أَمْ لَا؟ فَأَجَابَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: وَيُعْفَى عَنْ فَمِ الصَّغِيْرِ وَإِنْ تَحَقَّقَتْ نَجَاسَتُهُ. كَمَا صَرَّحَ بِهِ ابْنُ الصَّلَاحِ فَقَالَ: يُعْفَى عَمَّا اتَّصَلَ بِهِ شَىْئٌ مِنْ أَفْوَاهِ الصِّبْيَانِ مَعَ تَحَقُّقِ نَجَاسَتِهَا.

“(Imam Ibnu Hajar Al-Haitamy) pernah ditanya: Apakah ditolerir atau tidak puting seorang ibu menyusui yang terkena sesuatu dari ludah bayi yang menjadi najis sebab muntahan atau menelan perkara najis?. Kemudian beliau menjawab: Ditolerir sesuatu yang keluar dari mulut anak kecil meskipun dapat dipastikan hukum najisnya. Sebagaimana penjelasan imam Ibnu Shalah yang berkata: Segala sesuatu yang mengenai mulut anak kecil ditolerir meskipun telah jelas hukum najisnya.”[2]

[]waAllahu A’lam


[1] Hamisy Fathul Mu’in, hal. 72, CD. Maktabah Syamilah.

[2] Hasyiyah I’anah At-Thalibin, vol. I hal. 102.

Legalitas Menjaga Gereja

Syekh Izzuddin bin ‘Abdissalam pernah menuturkan dalam kitabnya yang berjudul Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam:

وَمِنْهَا إعَانَةُ الْقُضَاةِ وَالْوُلَاةِ وَأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ عَلَى مَا تَوَلَّوْهُ مِنْ الْقِيَامِ بِتَحْصِيلِ الرَّشَادِ وَدَفْعِ الْفَسَادِ وَحِفْظِ الْبِلَادِ وَتَجْنِيدِ الْأَجْنَادِ وَمَنْعِ الْمُفْسِدِينَ وَالْمُعَانِدِينَ

“(Hak-hak orang mukallaf) diantaranya adalah membantu para Qadhi (penegak hukum), pemimpin, dan imam umat Islam atas tugas yang telah diwajibkan atas mereka, meliputi tugas untuk memberikan pengarahan, menolak kerusakan, menjaga negara, merekrut pasukan keamanan, serta mencegah para perusak dan penghianat bangsa”.[1]

Menjaga gereja pada momen-momen tertentu yang ditengarai akan terjadi gangguan keamanan, seperti terancamnya keselamatan jiwa yang jelas-jelas dilindungi oleh negara, hukumnya adalah Fardhu Kifayah (kewajiban kolektif). Karena tindakan pengamanan tersebut termasuk dari bagian menjaga stabilitas keamanan negara. Apalagi bila dilakukan atas permintaan dari pemerintah atau yang dalam hal ini adalah aparat kepolisian.[2]

Menjaga gereja yang dilakukan dengan misi mengamankan stabilitas negara serta menjaga keharmonisan sosial bukan termasuk upaya membantu kemaksiatan (i’anah ‘ala al-ma’shiyyah). Kalaupun ada anggapan demikian, maka tidak dapat menjadi kebenaran tunggal. Sebab, tanpa dijaga ritual keagamaan nonmuslim di dalam gereja tetap berjalan, sehingga penjagaan bukan merupakan pemicu dalam terjadinya kemaksiatan nonmuslim tersebut. Sebagaimana penjelasan dalam kitab Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah:

أَنَّ الْإِعَانَةَ عَلَى الْمَعْصِيَّةِ حَرَامٌ مُطْلَقًا بِنَصِّ الْقُرْآنِ أَعْنِيْ قَوْلَهُ تَعَالَى وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ (المائدة : 2) وَقَوْلَهُ تَعَالَى فَلَنْ أَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِلْمُجْرِمِيْنَ (القصص : 17) وَلَكِنِ الْإِعَانَةُ حَقِيْقَةً هِيَ مَا قَامَتِ الْمَعْصِيَّةُ بِعَيْنِ فِعْلِ الْمُعِيْنِ وَلَا يَتَحَقَّقُ إِلَّا بِنِيَّةِ الْإِعَانَةِ اَوِ التَّصْرِيْحِ بِهَا أَوْ تُعِيْنُهَا فِي اسْتِعْمَالِ هَذَا الشَّيْئِ بِحَيْثُ لَا يَحْتَمِلُ غَيْرَ الْمَعْصِيَّةِ

 “Sesungguhnya menolong kemaksiatan adalah haram secara mutlak. Berdasarkan Nash Al-Qur’an, yaitu firman Allah yang berbunyi ‘Dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan’ (QS. Al-Maidah: 2) dan firman Allah yang berbunyi ‘Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa’ (QS. Al-Qashash: 17). Akan tetapi pada hakikatnya menolong itu adalah sebuah kemaksiatan yang secara murni muncul dari aktivitas penolong tersebut. Menolong kemaksiatan itu juga tidak akan terealisasi kecuali ada niatan menolong (kemaksiatan) atau mengucapkannya secara langsung atau menolongnya dalam menjalankan kemaksiatan itu sekiranya tidak mungkin diarahkan pada selain kemaksiatan.”[3]

[]waAllahu a’lam


[1] Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam, vol. I hal 134.

[2] Qawaid Al-Ahkam Fi Mashalih Al-Anam, vol. I hal 131

[3] Buhuts Wa Qadhaya Fiqhiyyah Mu’ashirah, hal. 360.

Keputusan Bahtsul Masail FMPP ke-33

LirboyoNet, Sidoarjo- Bahtsul Masail ke-33 yang diselenggarakan oleh Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se-Jawa Madura di Pondok Pesantren Progresif Bumi Sholawat, Sidoarjo, berakhir sudah. Kegiatan yang digelar sejak Sabtu-Minggu, 18-19 Shofar 1440/27-28 Oktober 2018, kemarin telah usai.

Forum diskusi inetelektual santri yang menjawab berbagai permasalahan kekinian dari sudut pandang hukum agama ini, kali ini banyak mengangkat persoalan dunia siber, mulai dari soal grup Whatsapp Messenger, tayangan edukatif dan provokatif, dan isu-isu aktual lainnya.

Untuk mendownload hasil keputusannya, silahkan klik tautan KOMISI di bawah ini.

 

KOMISI A

  1. 1. Justice Collaborator
  2. 2. Whatsapp Messenger
  3. 3. Ngalap Berkah Wafatnya Kyai
  4. 4. Masjid Berjalan

 

KOMISI B

  1. 1. Tayangan Edukatif atau Provikatif?
  2. 2. Sang Pemburu Sanad
  3. 3. Kemerdekaan Perempuan yang Bersuami
  4. 4. Dilema antara Mendalami Agama dan Berdakwah

 

KOMISI C

  1. 1. Larangan Bercadar
  2. 2. Guruku Lagi Syantik
  3. 3. Dosa Jariyah

 

 

Batas Minimal Usia Pernikahan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sebenarnya, adakah batasan minimal khusus untuk usia pernikahan? Apabila ada, berapakah batasan minimal usia yang diperbolehkan untuk menikah? Mohon penjelasannya, terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Miftah- Mojokerto)

__________________

Admin- Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Dalam sudut pandang syariat, para ulama berbeda pendapat mengenai usia calon pengantin. Apakah usia tersebut menjadi syarat keabsahan dalam pernikahan ataukah tidak. Sebagaimana penjelasan Dr. Wahbah az-Zuhaily dalam kitabnya, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu:

يَرَى ابْنُ شَبْرَمَةَ وَأَبُوْ بَكْرِ الأَصَمِّ وَعُثْمَانَ البَتِّيْ رَحِمَهُمُ اللهُ أَنَّهُ لَا يُزَوَّجُ الصَّغِيْرُ وَالصَّغِيْرَةُ حَتَّى يَبْلُغَا لِقَوْلِهِ تَعَالَى:(حَتَى إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ) (النساء:6) فَلَوْ جَازَ التَّزْوِيْجُ قَبْلَ الْبُلُوْغِ لَمْ يَكُنْ لِهَذَا فَائِدَةٌ وَلِأَنَّهُ لَا حَاجَةَ بِهِمَا إِلَى النِّكَاحِ وَرَأَى ابْنُ حَزْمِ أَنَّهُ يَجُوْزُ تَزْوِيْجُ الصَّغِيْرَةِ عَمَلاً بِالْآثَارِ الْمَرْوِيَّةِ فِيْ ذَلِكَ – إلى أن قال – وَلَمْ يَشْتَرِطْ جُمْهُوْرُ الْفُقَهَاءِ لِاِنْعِقَادِ الزُّوَاجِ: الْبُلُوْغَ وَالْعَقْلَ وَقَالُوْا بِصِحَّةِ زُوَاجِ الصَّغِيْرِ وَالْمَجْنُوْنِ

Ibn Syabramah, Abu Bakar Al-Ashom dan ‘Utsman Albatty berpendapat bahwa Anak lelaki dan perempuan yang masih kecil tidak boleh dinikahkan sampai keduanya memasuki usia baligh. Berdasarkan firman Allah: Sampai mereka cukup umur untuk menikah. (QS. An-Nisa: 6). Apabila diperbolehkan menikahkan sebelum baligh, maka tidak akan berfaidah, karena keduanya (lelaki dan perempuan yang belum baligh) masih tidak membutuhkannya. Adapun Ibn Hazm berpendapat bahwa diperbolehkan menikahkan perempuan kecil sesuai dasar hadits Atsar yang telah diriwayatkan…. Adapun mayoritas ulama tidak mensyaratkan batas usia baligh dan kesempurnaan akal sebagai syarat keabsahan pernikahan. Bahkan mereka (mayoritas ulama) memperbolehkan pernikahan anak kecil dan pernikahan anak yang gila.”[1]

Secara singkat, dalam penjelasan tersebut mengatakan bahwa mayoritas ulama tidak membatasi secara khusus terhadap usia minimal pernikahan. Namun yang perlu diperhatikan juga adalah adanya aturan hukum positif perundang-undangan negara yang tercantum dalam UU tentang perkawinan pasal 7 ayat 1 yang mengatur batas usia minimal yang diperbolehkan menikah, yaitu 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki. []waAllahu a’lam

 

____________________

[1] Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, IX/171, CD. Maktabah Syamilah