Tag Archives: petuah bijak

Belajar Adab dari Nadzam Alfiyah

كَإِنَّ زَيْدَاً عَالِمٌ بِأَنِّي

كُفءٌ وَلكِنَّ ابْنَهُ ذُو ضِغْنِ

“Sesungguhnya Zaid adalah sosok yang alim, sepadan denganku (Ibnu Malik), akan tetapi anaknya adalah sosok yang pendendam”

Penggalan bait syair ini ada di nadzam Alfiyah Ibnu Malik. Orang pesantren pasti tahu/paham/hafal (walau mungkin sudah lupa, hehe). Sedikit gambaran, Alfiyah Ibnu Malik adalah karya monumental dari abad ke-13, yang menjelaskan gramatika Arab. Penulisnyapun bukan orang Arab, tapi daerah Jaén, Spanyol. Ia adalah Ibnu Malik (w. 22 Februari 1274 M).

Penggalan syair di atas sebenarnya memberikan contoh efek/dampak إنّ pada pola suatu susunan kalimat yang terdiri dari mubtada’ (subjek) dan khabar (predikat). Namun seperti yang sering disampaikan oleh guru-guru saya, bahwa setiap contoh yang diuraikan di dalam Alfiyah memiliki nilai dan pesan moral yang kuat—entah itu cocokologi, atau semacamnya. Akan tetapi acapkali setiap contoh yang ditulis oleh Ibnu Malik memang memiliki pesan moral yang kuat, seperti penggalan contoh berikut

وَقِسْ وَكَاسْتِفْهَامٍ النَّفْيُ وَقَدْ

يَجُوْزُ نَحْوُ فَائِزٌ أولُو الرَّشَدْ

Yang bercetak tebal: “…sungguh beruntung mereka yang mendapat petunjuk.”

Tiga belas abad silam Ibnu Malik sudah menyatakan hal yang visioner. Bahkan jauh sebelum itu, bahwa moral, akhlak, adab, ilmu, bukanlah sesuatu yang diwariskan. Bisa jadi ada seorang yang mewarisi pengetahuan, disiplin keilmuan, terlebih agama Islam, akan tetapi tak sedikit dari mereka hanya tahu—bukan paham, sehingga kosong. Mereka menggunakan dalil ini, dalil itu, namun minim akhlak dan etika.

Hal ini diperparah dengan gelar ulama ataupun ustaz yang disematkan kepada mereka. Mereka hafal ayat dan hadis tapi propaganda kebencian, dengki, dan fitnah acapkali mewarnai kata-kata mereka di mimbar konvesional hingga media sosial. Lebih buruk lagi, hal ini diamini ribuan pengikut mereka yang terjebak dalam kefanatikan buta.

Bisa jadi mereka yang bergelar ustaz, ulama, mewarisi darah biru leluhur mereka. Namun hanya mewarisi itu saja. Sehingga oleh Ibnu Malik disindir di nadzam yang tertulis di awal tulisan ini, “ayahnya sepadan denganku, tapi apakah anaknya demikian?”

Terdapat pepatah jawa mengenai hal ini, Kakudung welulang macan (berkalung kulit macan)”. Ia memang terlahir dari macan, tetapi perangai dan sikapnya tak lebih dari sekedar keledai. Terlahir dari siapapun adalah takdir, tapi untuk menjadi baik, tak perlu ditanya keturunan siapa. Hal itu justru hanya anugerah saja.

Nurul Mustofa, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2012.

Sinergi Ulama dan Umara

Secara kodrati, manusia membutuhkan makan, minum dan kebutuhan jasmani lainnya. Ditinjau dari segi emosi, manusia menginginkan rasa aman, tenteram dan bahagia. Dari segi sosial, manusia cenderung untuk bersama, berkumpul dan bermasyarakat.

Dorongan mental manusia menginginkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Dengan spiritual, manusia membutuhkan atau memerlukan satu kekuatan diluar dirinya yang sifatnya gaib, yaitu Dzat Yang Maha Kuasa.

Kebutuhan-kebutuhan tersebut mutlak untuk diperoleh dan dipenuhi. Jika ada diantaranya yang tidak terpenuhi, maka akan memberikan efek kurang baik, karena kebutuhan itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya.

Adanya berbagai macam dorongan ini, terutama dorongan yang bersifat spiritual menunjukkan bahwa secara kodrati manusia mempunyai cetak dasar untuk percaya kepada Tuhan. Jika ada manusia yang mengaku tidak percaya kepada tuhan, maka manusia tersebut telah mengingkari kodratnya, mengingkari fitrahnya.

Dalam banyak hal memang seorang manusia tidak perlu membuat jalan sendiri untuk memecahkan suatu masalahnya, ia cukup melihat bagaimana orang lain menyikapi dan menyelesaikan masalah itu, dan kemudian ia tinggal mencontohnya.

namun disaat yang lain, manusia benar-benar tidak punya pilihan sama sekali hingga ia benar-benar sadar bahwa ia telah jatuh dan tidak mungkin bangkit lagi. Keadaan-keadaan tersebut riil terjadi dalam diri manusia.

Hal ini terjadi karena alam bawah sadar manusia tidak bisa menyangkal adanya kebutuhan terhadap Dzat yang transenden, sebagai sandaran diri manusia ketika dirinya tidak menemukan jawaban sebagai jalan keluar menyangkut keterbatasan dirinya.

Manusia selalu mempunyai pengharapan sebagai refleksi keterbatasan dirinya dan mengharap terhadap suatu Dzat yang lebih mampu untuk menolong, sebagai contoh, setiap orang pernah berkata “mudah-mudahan selamat” dan “semoga mendapatkan rejeki yang banyak”.

Atas dasar inilah kebutuhan manusia atas tuhan mutlak diperlukan. Sebagaimana dalam firman Allah :

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya : “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (Q.S Yunus : 12)

Dari kepercayaan tuhan inilah agama mulai terlembagakan, karena sudah terbentuknya sebuah konsep agama, yaitu berupa manusia (penyembah), Tuhan (yang disembah) dan sebuah aturan ataupun qanun. Beragama berarti mempercayai hal gaib dan sakral beserta aturan yang mengikat secara individual  maupun komunal.

Dengan agama serta penghayatan dan perealisasiannya secara totalitas, maka moralitas manusia akan terbangun. Hal ini dikarenakan prinsip seluruh agama mengajarkan kebaikan baik secara vertikal maupun horizontal.

Agama mampu menghadirkan dampak individual dalam bentuk ketenangan jiwa, kerelaan hati, spirit berbuat baik dan benar dalam rangka pengabdian, sehingga menjadi sesuatu yang mendasar dalam bingkai hubungan antara pencipta dan makhluk.

Sedangkan dalam ranah komunal, agama mampu membangun struktur hubungan kemasyarakatan yang harmonis dan sehat dengan prinsip kebersamaan dalam hubungan horizontal sebagai sesama makhluk tuhan.

Maka idealnya agama bisa menjadi jembatan dalam menampung dan menerjemahkan kearifan universal dalam tatanan komunitas setiap masyarakat, yaitu dengan keselarasan dan keharmonisan hubungan antara individu dapat diraih.

Dari pemaparan tersebut tidaklah mengherankan jika aspek kehidupan beragama tidak hanya ditemukan dalam setiap masyarakat, tetapi juga berinteraksi secara signifikan dengan institusi budaya yang lain.

Ekspresi religius ditemukan dalam dalam budaya material, perilaku manusia, nilai, moral, sistem keluarga, ekonomi, hukum, politik, pengobatan, sains, teknologi, seni, pembrontakan, perang dan lainnya. Hal ini karena pengaruh dan implikasi agama sangatlah luas bahkan merasuk dalam kehidupan manusia.

Secara individual agama berfungsi sebagai sumber kekuatan moral yang ampuh. Ajaran agama mendorong orang berbuat baik. Menjauhkan diri dari kejahatan dan hawa nafsu, mengejar ketentraman dan keselamatan didunia maupun akhirat.

Karena agama selalu memotivasi orang untuk mengamalkan kebaikan kepada sesama dalam semangat mengabdi kepada Yang Maha Kuasa.

Manusia sendiri pada dasarnya memiliki fitrah untuk menyukai hal yang baik dan membenci hal buruk. Atas dasar inilah manusia membutuhkan sebuah petunjuk yang mampu memfilter semua kebaikan yang memang benar-benar mendatangkan maslahat yang hakiki bagi kedepannya.

petunjuk itulah yang dimaksud dengan istilah agama. Oleh karena itu untuk mengetahui dari istilah agama kita memerlukan seorang ulama yang mengarahkan dalam beragama, pula membutuhkan umara, sebab ulama dan umara merupakan instrumen penting dalam kehidupan manusia.

Ulama betapapun besar dan banyaknya tugas mereka, tetap saja mereka tidak boleh terpisah dari unsur penting lainnya, yakni umara. Keterkaitan mereka dengan para ulama sangatlah erat dan memiliki hubungan horizontal yang kokoh dalam menjalankan peran-perannya.

Peran ulama sendiri adalah menjaga syariat dari penyelewengan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mis-interpretasi dari orang-orang bodoh. Rasulullah Saw. Bersabda ;

العلماء أمناء الله على خلقه

 

“Ulama adalah kepercayaan Allah atas makhluknya”

Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir mengatakan ; “kepercayaan” sebagai bentuk penjagaan ulama terhadap syariat dari distorsi takwil yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, mereka selalu bersikukuh dalam memegang masalah-masalah agama.

Selanjutnya ulama sebagai pengemban tugas para Rasul. Rasulullah Saw. Bersabda ;

العلماء أمناءامتي

 

“Para ulama adalah kepercayaan umatku”

Para ulama mempunyai tugas seperti halnya para Rasul yakni tugas menjaga ilmu dan menyebarkan kepada umat, amar ma’ruf nahi munkar. Ulama didepan umatnya diibaratkan seperti dokter dihadapan pasien, mengerti kondisi dan berapa kadar dosis obat dan sebagainya.

Sehingga dalam menyebarkan ilmu dan beramar ma’ruf nahi munkar, idealnya ulama juga harus mengerti keadaan umat secara menyeluruh. Lalu ulama juga sebagai suri tauladan bagi umat dalam perkataan dan perbuatan. Rasulullah Saw. Besabda ;

العلماء قادة والمتقون سادة ومجالستهم زيادة

 

“para ulama adalah penuntun, orang bertakwa adalah para pemimpin, majelis mereka adalah tambahan kebaikan”

Ulama mempunyai kewajiban menuntun, mendidik umat untuk mengetahui dan melaksanakan hukum-hukum syariat serta menjaga umat agar selalu lurus dijalan Allah Swt. Karena hanya dengan ilmu seseorang dapat mengetahui rahasia penciptaan. Sehingga dengan ilmu pula manusia dapat senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah dianugerahkan.

Kemudian ulama pula sebagai rujukan umat dalam hal hukum-hukum syariat. konsensus mengenai keputusan sebuah hukum hanya diperbolehkan dari kalangan ulama. Karena para ulamalah yang dapat menggali hukum dari al-Quran dan Hadis.

Disisi lain, ulama dengan hati yang jernih dan pandangan yang jauh tentang kemaslahatan umat, mereka selalu menjadi rujukan dalam keadaan apapun. Namun, ada kaitannya pula dengan perannya umara. Umara adalah pemimpin untuk melayani, melindungi dan mengarahkan seluruh yang ada didalam negara, baik rakyat, keutuhan wilayah, termasuk keseluruhan harta kekayaan yang terdapat dalam wilayah negara tersebut.

Dengan demikian, memilih umara merupakan pokok, untuk menjamin berlangsungnya kehidupan manusia. Yang selaras dengan tujuan syariat, yaitu terpeliharanya lima hak dan jaminan dasar manusia. Yang meliputi, keselamatan keyakinan agama, keselamatan jiwa dan kehormatan, keselamatan akal, keselamatan keturunan, dan keselamatan hak milik.

Maslahat pada asalnya merupakan ungkapan tentang menarik manfaat dan penolak bahaya. Dan yang dimaksud dalam statemen ini bukan mewujudkan kehidupan mereka. Tetapi yang kami maksud tentang maslahat adalah proteksi (perlindungan) terhadap tujuan hukum yang ada lima tersebut.

Sehingga segala prinsip yang menjamin terlindungnya lima prinsip tersebut disebut maslahat. Sedangkan semua tindakan yang mengabaikan prinsip tujuan tersebut disebut kerusakan dan menolak kerusakan itu juga maslahat.

Oleh karena adanya umara itu juga sejalan dengan prinsip syariat (baca : ulama) maka dalam kitab-kitab tauhid Aswaja menegaskan bahwa menegakkan umara hukumnya wajib syar’i, karena Allah Swt. Sendiri yang telah menginstruksikan untuk mentaati hukum al-Quran, Sunnah dan pemerinah.

Walaupun membentuk umara itu wajib, tetapi tidak ada ketentuan seperti apa umara yang harus ditegakkan. Apakah berdasarkan syariat islam atau berdasar kesepakatan warga negara. Rasulullah sendiri ketika berada di Madinah tidak membentuk Umara Islam.

Oleh karena itu tugas utama kita adalah kesetiaan pada dua orang tersebut. Kesetiaan merupakan harga mati. Bukan demi keluhuran mereka berdua, tetapi demi tercapainya cita-cita bersama dan kemajuan negara.

Kalau ketaatan negara bersifat mutlak, sebaliknya, kesetiaan rakyat pada dua orang tersebut tidaklah buta. Kesetiaan itu hendaknya dipertimbangkan, karena seringkali pemerintah menghianati kepercayaan rakyat. Artinya kesetiaan dan loyalitas kita kepada keduanya sebatas pada permasalahan yang bersifat positif dan tidak melanggar syariat.

Bagaimana dengan indonesia kita ini?

Semarak wacana formalisasi syariat dan ide khilafah telah sampai pada tahap pro-kontra yang cukup tajam. Ironisnya, sejauh ini nuansa argumentasi yang dibangun kedua pihak terkesan tidak lagi diproyeksikan untuk berusaha meyakinkan pihak lain

Jika memang disepakati formalisasi syariat, maka teori syariat manakah yang akan diterapkan? Apakah Madzhab Salafi-Wahabi di Saudi Arabia yang mencabut ajaran-ajaran sebagaimana amaliah kaum Aswaja? Atau Madzhab Syiah yang telah  membunuh ratusan ulama dan umat islam, menghancurkan masjid-masjid Aswaja? Kemudian pemerintah yng berkuasa melakukan semua itu lagi-lagi atas nama agama.

Pertimbangan-pertimbangan diatas kian meyakinkan bahwa cita-cita untuk mendirikan khilafah akan membuahkan konsekuensi tersendiri, bukan hanya menyangkut penampilan wajah islam, namun juga menyangkut masyarakat, yang akan terseret pada konflik dan ketegangan dengan elemen bangsa yang lain.

Sebab mengingat dampak buruk yang ditimbulkan dalam aspek sosial, politik, ekonomi dan keamanan negara dalam pandangan Ahlussunnah Wal Jamaah, menghindari madlarat jauh lebih penting daripada mendapatkan sedikit kemaslahatan.

Sebaliknya, walaupun tidak mendapatkan sedikit kemaslahatan tetapi dapat menghindari kemudlaratan yang lebih besar merupakan sebuah kemaslahatan yang besar. Wallahu A’lam[]

__________________

Oleh : Miftahul Jannah

Asal : Bekasi

Kamar : A.05, P3HM

Kelas : 1 Tsn bagian A

 

Sebagai Juara Ketiga Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra

 

MENTIRAKATI KEMASLAHATAN UMAT

Yang paling hebat dari Indonesia adalah para “paku-paku” yang mampu menyatukan, menguatkan dan menyelaraskan berbagai lapisan manusia yang beragam jenisnya itu diatas pulau-pulau yang di pisahkan lautan yang seolah tak berujung ini. “paku-paku” itulah yang menjadi barometer baik atau buruknya suatu bangsa (ulama & umara).

Membaca ulama umara dalam sejarah

Dengan kecakapan Ulama kita mulai dari ulama mushalla, ulama sosial media sampai majlis ulama yang ditetapkan negara yang multitalen dalam membaca makna dan menentukan fatwa-fatwa, mengakulturasikan agama dengan budaya, bahkan mampu membaca fenomena dari perkembangan zaman milenial ini secara faktual dan actual.

Tidaklah sulit membumikan berbagai syariat agama Rahmatan lil ‘alamin ini di Indonesia, terlepas dari beragam “jenis” ulama di Indonesia yang tak jarang meramaikan TV, kadang membuat naik pitam, kadang jenaka membuat tawa tak ada hentinya, dan selalu bisa menyejukan hati-, kebhinekaan mereka dapat dinikmati hadirnya oleh berbagai “jenis” umat di negeri ini.

Tak berhenti disana, ulama kita pun sering mendahului para akademisi produk pendidikan barat, terlebih dalam melakukan pendekatan dan menentukan sikap yang tepat untuk menghadapi keadaan umat yang serba hirup-pikuk ini, seperti bentuk penjajahan karakter melalui moderenisasi social media, dekadensi moral & spiritual melalui gaya hidup hedonis yang individualis dan materialis, pun ancaman perpecahan kebhinekaan melalui penyebaran hoax, fitnah, fanatik golongan dan hal-hal primitif lainnya.

Jika barometer suksenya ulama adalah berhasil memerankan social control, katalisator, dan mobilisator maka berhaklah beliau-beliau mendapat nilai Shahih, dan kesuksesan itu tidak terlepas dari peran besar pemerintah dalam pemberdayaan ulama kita.

Dalam sejarah Bangsa Indonesia, tepatnya pada awal Oktober 1945, tak lama setelah perjuangan seluruh bangsa indonesia menemukan muaranya saat kemerdekaan diproklamasikan, seluruh ulama Indonesia mengadakan Musyawarah Akbar di Surabaya untuk menentukan sikap atas kemerdekaan Indonesia.

pertemuan yang dipimpin KH.Hasyim Asy’ari ini menghasilkan dua butir Fatwa : 1)kemerdekaan Indonesia wajib dipertahankan, 2) Pemerintahan Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintaan yang sah, wajib dibela dan diselamatkan meskipun meminta pengorbanan harta dan jiwa.

Fatwa ini menancapkan energi persatuan Ulama dan Umara dengan sangat dahsyat kepada tiap-tiap jantung umat, agar kita semua bersatu, dan jangan ada pemerintahan lain atau negara lain di tanah ini. Sekaligus memandatkan urusan pemerintaan (Umara) kepada kepala negara saat itu (Ir.Soekarno) beserta seluruh jajarannya.

Jika kita membaca fakta sejarah akan kita temukan di Negara yang menjadi “lumbung ulama” seperti Afganistan, Mesir, Irak, Iran, Yaman, Suriah dan kebanyakan negara timur lainya, banyak pemerintahan yang kontra terhadap ulama (jika sungkan menyebut ulama nasionalis kalah oleh pemerintah yang bukan ulama atau karena ulama yang tidak nasionalis) sehingga banyak terjadi perpecahan, perang antar-golongan, dan senjangnya kesejahteraan umat yang tidak terselesaikan.

Seperti yang dialami Imam Ibnu Hambal dan Imam Syafi’i di akhir abad 7M oleh khalifah Al-Mu’tashim, Al-Makmun, dan Al-Wasith yang memberi hukuman penjara, pengusiran, rajam sampai pembunuhan terhadap ulama yang enggan mengakui al-Quran itu Hadist. Atau pada abad 19 M kemarin ada Muammar Kadafi, Sadam Husain sampai Mustafa Kamal Atatturk Yang mengesampingkan islam, melarang perempuan bercadar dan menggemakan adzan melalui spiker, menutup halaqah tarekat sampai membubarkan madrasah dan majlis ta’lim.

Fakta itu sangat autentik (sharih) menjadi dalil bahwa sinergi ulama dan umara dalam membina umat adalah keniscayaan yang wajib hukumnya jika menginginkan tatanan Negara yang Maslahat.

Sebuah peran, tantangan dan pantangan Dalam (Qs.Al-Nisa ayat 59) perintah untuk mentaati Ulil Amr (selama tidak memerintah maksiat dan perkara yang diharamkan syariat) berada setelah perintah mentaati Allah dan RasulNya.  Dalam Tafsirnya, Ibnu Abbas menafsiri Ulil amr dengan Ulama, Al-Thabari menafsiri Ulil Amr dengan para Ahli Fiqih dan Ulama ahli agama. dalam kitab Fathul Qodir, Ulil Amr adalah setiap orang yang menguasai suatu wilayah yang berlaku hukum syariat didalamnya maka termasuk pula Presiden, Gubernur, Walikota, Pak Rt dan Pak Rw.Dalam Tafsir Ibnu Mundzir, Ulil Amr diartikan sebagai Umara, dari sini tidak perlu ada perdebatan lagi siapakah Ulil Amr itu (mereka adalah ulama dan umara).

Dua hal positif dari pemisahan itu adalah; 1) dalam memproduksi fatwa para ulama tidak terkontaminasi oleh politik pemerintah. 2) posisi ulama tidak tergantung nasib lembaga pemerintahan, artinya saat pemerintahan jatuh maka posisi ulama tidak ikut jatuh.

Dalam praktiknya umara pun jangan berhenti hanya sebagai fasilitator dalam memenuhi semua kebutuhan perangkat ulama dalam membumikan “rahmatan lil ‘alamin“, begitupun ulama tak boleh berhenti hanya sebagai katalisator dan mobilisator yang bergantung pada fasilitas umara. Andai demikian, mungkin saja umara memfasilitasi ulama hanya pada musim-musim pemilihan (kalau tidak sekedar mencari Citra), bisa juga ulama ogah-ogahan mendidik umat yang macam-macam “jenisnya” ini, bahkan saling nebeng hanya agar ulama menjadi tenar dan umara dipandang benar.

Maka dalam sinergi ini dibutuhkan adanya kedewasaan, kesadaran dan kerja sama yang benar-benar diikhtiari oleh ulama dan umara.  Dan dalam perjalananya hubungan ulama dan umara janganlah sekedar shahib (relasi), apalagi musuh (‘adduw) namun haruslah sampai menjadi habib (senang ketika yang satu senang, susah ketika yang satu susah, merasuk kecintaanya sampai kepada setiap bagian yang ada pada yang lain -kecuali keburukannya- dan rela memberikan yang dimilikinya untuk yang lain). sehingga dapat saling menguatkan saat yang satu mulai melemah, saling menjaga saat yang lain diserang dan saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran untuk mencapai tujuan utama yaitu kemaslahatan yang universal (bagi seluruh rakyat indonesia) dan unlimited (kemaslahatan sampai di akhirat sana).

Yang sering terlupa dalam mentirakati kemaslahatan umat Setelah merdeka, mentirakati kemaslahatan umat lebih tepat dimaknai “menjaga”. Namun dalam konsep ‘sinergi ulama dan umara’ yang keren ini, ada komponen yang sering terlupa -jika tidak ingin menyebut sengaja melupakan diri sendiri sebab kebanyakan mengingat dan memikirkan aib-aib yang lain- yaitu Umat itu sendiri.

Bukankah allah tidak akan merubah suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubah dirinya? maka sinergi bukan hanya kewajiban ulama dan umara namun juga kewajiban umat, khususnya yang tidak merasakan beratnya (fitnah) menjadi umara dan sulitnya (sabar) menjadi ulama.

Sebagai umat, marilah menjalankan kewajiban umat, taat kepada Ulil Amri-nya, mendukung dan mengambil bagian dari berbagai pembangunan bangsa.

Mulai dari memperbaiki diri sendiri saja, seperti belajar dengan sungguh-sungguh, bukankan itu sama dengan meringankan beban satu orang dari tanggungan mereka untuk mencerdaskan bangsa, tanpa meletihkan pikiran pada bagaimana cara terbaik mengadu domba, atau mengabiskan kuota untuk menyebar hoax dan sensasi semata, yang pada akhirnya hanya menambah pusing ulama dan umara.

Jangan mengurusi urusan yang lain atau (kalau di pegang oleh yang bukan ahlinya) tunggulah kehancurannya! maka mari sambut setiap silaturrahim umara ke ulama-pun sebaliknya- dengan pandangan positif (husnul dzan) tanpa berujar “halaah politiik!” Semoga saja dari sana terjalin sinergi dan menghasilkan (tajdiidul ghirroh likhidmatil ummah) semangat yang ter-refresh untuk kembali mentirakati kemaslahatan ummat. Untuk kemaslahahtan kita.

 

 

 

______________________________________________

Oleh : M.Kurnia Mardhika

Asal : Bandung

Kamar : HY06   PonPes Haji Ya’kub

Kelas : 1 Tsn bagian A

 

Sebagai Juara Pertama Lomba Menulis Santri yang diadakan Lirboyo.net dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 kategori santri putra

 

 

Sejarah Hari ini; Semangat Juang Ibn al-Jauzy

Ia bernama lengkap  al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi  lahir pada 13 Dzul Qadah 508 H/1114 M  di Baghdad, beliau dikenal luas dimasanya sebagai ulama Ahlussunnah Madzhab Hanbali yang ahli dalam berbagai banyak bidang keilmuan, Hadis, Tafsir dan juga seorang Teolog kondang yang kritis dengan aliran-aliran menyimpang.

Silsilah keturunannya, jika diurut akan sampai pada salah satu Sahabat mulia Nabi Saw. Yakni  Abu Bakar RA. Al-jauzy adalah nama yang dinisbatkan pada kakeknya, yang artinya anak kelapa, sebab ditempat tinggal kakeknya ini tidak ada pohon kelapa yang mampu hidup kecuali milik sang kakek. Ia hidup pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang kala itu Al-Mustadi menjadi Khalifahnya.

Ayahnya meninggal kala ia berusia tiga tahun, kemudian ia diasuh bibinya. Bibinya inilah yang membawanya untuk belajar kepada seorang ulama masyhur dizamannya, al-Hafidh Ibn Nashir. Dari sang guru ini beliau menjadi penda’i yang mutiara katanya mampu menyilaukan banyak orang, sehingga tidak heran pengajiannya dihadiri oleh ribuan orang, bahkan dengan kelembutan beliau dalam berdakwah, piluhan ribu orang masuk islam.

Dengan keluwesan beliau berdakwah, dan juga isinya yang konservatif mampu menarik hati Khalifah Al-Mustadi’, Khalifah mengundang beliau ke istana guna memberikan siraman rohani kepadanya dan pejabat istana.

Semenjak kecil beliau sangat haus akan ilmu, diusia dini kalbunya sudah terisi untaian kalam ilahi. Ia rela usia bermainnya dihabiskan bersama kitab-kitab dan buku, beliau juga mempunyai daya ingat dan kecepatan menghafal yang luar biasa, nama al-Hafidh disandang beliau sebab kemampuannya menghafal ribuan hadis.

Karya-karyanya mencapai 300-an buku, yang terkenal seperti Zad Al-Masir, Minhajul Qashidin yang merupakan kitab tiruan ala Ihya Ulumuddin milik Hujjatul Islam al-Ghazali, Talbis Iblis, Shaidul Khatir dan sebagainya, belum lagi karya-karya dalam bentuk lembaran yang belum terjilid mencapai ribuan.

Dalam salah satu karangan beliau, Shaidul Khatir jilid II hal 329, beliau memberikan wejangan dan  nasihatnya kepada para penuntut ilmu:

“Barangsiapa menghabiskan masa mudanya untuk ilmu, maka pada masa tuanya nanti ia akan memuji hasil dari apa yang telah ia tanam. Dia akan menikmati hasil karya yang telah ia himpun. Dia tidak akan menggubris hilangnya kenyamanan fisik yang ia alami, setelah ia melihat kelezatan ilmu yang telah ia raih. Disamping itu, ia juga merasakan kelezatan saat mencarinya, yang dengannya ia berharap mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan, bisa jadi berbagai upaya untuk mendapatkan ilmu tersebut lebih terasa nikmat daripada hasil yang telah ia raih.”

Beliau wafat pada malam jumat 12 Ramadan  597 H/ 1201 M pada usianya yang hampir 90 tahun. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman  Babu Harb Di Kota Baghdad berdekatan dengan Imam Madzhabnya, Al-Imam Ahmad bin Hanbal Ra. semoga tetesan keberkahan dan semangat dalam menuntut ilmu beliau bisa kita dapatkan dan menirunya, amiin. [ABNA]

 

Kisah Hikmah; Petuah Bijak Setan

Dikalangan Bani lsrail, ada seorang yang sangat tekun beribadah. kokoh imannya tak mampu digoyahkan, bahkan Setan sendiri sudah berulangkali mencoba menggodanya dengan bujuk-rayunya yang paling ampuh sekalipun, namun tetap saja ia teguh menggenggam ketakwaannya.

Pada suatu hari, si ahli ibadah itu keluar untuk suatu kepentingan. Setan pun membuntutinya, untuk mencari kesempatan menggoda ‘Abid tersebut. Namun, karena orang itu selalu berzikir kepada Allah, setan merasa kesulitan untuk mendekatinya, ia akan terbakar mendengar asmaNya disebut. Untuk menakut-nakuti orang itu, Setan menampakkan batang hidungnya dengan menjelma menjadi singa atau binatang buas lainnya.

Ketika Ahli ibadah itu sedang melaksanakan Salat Setan menjelma menjadi ular, kemudian melilit kakinya sampai ke  kepalanya. Ketika ia bersujud Setan membuka lebar-lebar mulutnya seakan-akan hendak menelan kepala si Ahli ibadah itu Namun, dengan tenang, ahli ibadah itu menyingkirkan ular jelmaan Setan dengan tangannya.

Segala usaha telah dikerahkan, Setan merasa putus asa, kemudian ia berkata kepada orang itu:

“Aku berusaha menggodamu, tetapi tidak pernah berhasil. Kini, aku akan berkawan saja denganmu.”  Ujar Setan, menyerah.

“Aku tidak ingin bersahabat denganmu.” Ahli ibadah itu menjawab dengan acuh.

“Baiklah bila demikian. Tetapi, tidakkah engkau ingin bertanya kepadaku bagaimana cara aku menyesatkan manusia?”  setan menawarkan jasa.

“Baiklah. Aku bertanya kepadamu bagairnana cara engkau menyesatkan anak turun Adam?” tanya ahli ibadah itu, merasa mendapatkan kesempatan mencuri pengetahuan meski itu datangnya dari setan.

“Aku menyesatkan manusia dengan tiga hal, yaitu pelit, marah dan mabuk. Kepada manusia pelit, yang aku ingatkan bahwa hartanya  sangat sedikit, sehingga ia enggan untuk menafkahkan hartanya. Kepada manusia pemarah, aku mempermainkannya seperti anak kecil yang mempermainkan bola. Adapun kepada pemabuk, aku menuntunnya sesuka hatiku.”  Tukas setan panjang lebar membuka rahasia gerakannya kepada musuh abadinya, manusia. Semoga kita akan selalu diberikan pertolongan untuk bisa lolos dari perangkap setan dan pengikutnya. Amiin. [ABNA]