HomeAngkringSejarah Hari ini; Semangat Juang Ibn al-Jauzy

Sejarah Hari ini; Semangat Juang Ibn al-Jauzy

0 0 likes 151 views share

Ia bernama lengkap  al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi  lahir pada 13 Dzul Qadah 508 H/1114 M  di Baghdad, beliau dikenal luas dimasanya sebagai ulama Ahlussunnah Madzhab Hanbali yang ahli dalam berbagai banyak bidang keilmuan, Hadis, Tafsir dan juga seorang Teolog kondang yang kritis dengan aliran-aliran menyimpang.

Silsilah keturunannya, jika diurut akan sampai pada salah satu Sahabat mulia Nabi Saw. Yakni  Abu Bakar RA. Al-jauzy adalah nama yang dinisbatkan pada kakeknya, yang artinya anak kelapa, sebab ditempat tinggal kakeknya ini tidak ada pohon kelapa yang mampu hidup kecuali milik sang kakek. Ia hidup pada masa kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang kala itu Al-Mustadi menjadi Khalifahnya.

Ayahnya meninggal kala ia berusia tiga tahun, kemudian ia diasuh bibinya. Bibinya inilah yang membawanya untuk belajar kepada seorang ulama masyhur dizamannya, al-Hafidh Ibn Nashir. Dari sang guru ini beliau menjadi penda’i yang mutiara katanya mampu menyilaukan banyak orang, sehingga tidak heran pengajiannya dihadiri oleh ribuan orang, bahkan dengan kelembutan beliau dalam berdakwah, piluhan ribu orang masuk islam.

Dengan keluwesan beliau berdakwah, dan juga isinya yang konservatif mampu menarik hati Khalifah Al-Mustadi’, Khalifah mengundang beliau ke istana guna memberikan siraman rohani kepadanya dan pejabat istana.

Semenjak kecil beliau sangat haus akan ilmu, diusia dini kalbunya sudah terisi untaian kalam ilahi. Ia rela usia bermainnya dihabiskan bersama kitab-kitab dan buku, beliau juga mempunyai daya ingat dan kecepatan menghafal yang luar biasa, nama al-Hafidh disandang beliau sebab kemampuannya menghafal ribuan hadis.

Karya-karyanya mencapai 300-an buku, yang terkenal seperti Zad Al-Masir, Minhajul Qashidin yang merupakan kitab tiruan ala Ihya Ulumuddin milik Hujjatul Islam al-Ghazali, Talbis Iblis, Shaidul Khatir dan sebagainya, belum lagi karya-karya dalam bentuk lembaran yang belum terjilid mencapai ribuan.

Dalam salah satu karangan beliau, Shaidul Khatir jilid II hal 329, beliau memberikan wejangan dan  nasihatnya kepada para penuntut ilmu:

“Barangsiapa menghabiskan masa mudanya untuk ilmu, maka pada masa tuanya nanti ia akan memuji hasil dari apa yang telah ia tanam. Dia akan menikmati hasil karya yang telah ia himpun. Dia tidak akan menggubris hilangnya kenyamanan fisik yang ia alami, setelah ia melihat kelezatan ilmu yang telah ia raih. Disamping itu, ia juga merasakan kelezatan saat mencarinya, yang dengannya ia berharap mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan, bisa jadi berbagai upaya untuk mendapatkan ilmu tersebut lebih terasa nikmat daripada hasil yang telah ia raih.”

Beliau wafat pada malam jumat 12 Ramadan  597 H/ 1201 M pada usianya yang hampir 90 tahun. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman  Babu Harb Di Kota Baghdad berdekatan dengan Imam Madzhabnya, Al-Imam Ahmad bin Hanbal Ra. semoga tetesan keberkahan dan semangat dalam menuntut ilmu beliau bisa kita dapatkan dan menirunya, amiin. [ABNA]