Belajar Adab dari Nadzam Alfiyah

كَإِنَّ زَيْدَاً عَالِمٌ بِأَنِّي

كُفءٌ وَلكِنَّ ابْنَهُ ذُو ضِغْنِ

“Sesungguhnya Zaid adalah sosok yang alim, sepadan denganku (Ibnu Malik), akan tetapi anaknya adalah sosok yang pendendam”

Penggalan bait syair ini ada di nadzam Alfiyah Ibnu Malik. Orang pesantren pasti tahu/paham/hafal (walau mungkin sudah lupa, hehe). Sedikit gambaran, Alfiyah Ibnu Malik adalah karya monumental dari abad ke-13, yang menjelaskan gramatika Arab. Penulisnyapun bukan orang Arab, tapi daerah Jaén, Spanyol. Ia adalah Ibnu Malik (w. 22 Februari 1274 M).

Penggalan syair di atas sebenarnya memberikan contoh efek/dampak إنّ pada pola suatu susunan kalimat yang terdiri dari mubtada’ (subjek) dan khabar (predikat). Namun seperti yang sering disampaikan oleh guru-guru saya, bahwa setiap contoh yang diuraikan di dalam Alfiyah memiliki nilai dan pesan moral yang kuat—entah itu cocokologi, atau semacamnya. Akan tetapi acapkali setiap contoh yang ditulis oleh Ibnu Malik memang memiliki pesan moral yang kuat, seperti penggalan contoh berikut

وَقِسْ وَكَاسْتِفْهَامٍ النَّفْيُ وَقَدْ

يَجُوْزُ نَحْوُ فَائِزٌ أولُو الرَّشَدْ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.