HomeAngkringMencium Tangan Guru, Syirik?

Mencium Tangan Guru, Syirik?

0 1 likes 314 views share

Dalam sebuah majelis, seorang pemuda memberanikan diri bertanya kepada Habib Umar bin Hafidz, “Kenapa engkau membiarkan murid-muridmu menundukkan badannya dan mencium tanganmu berbolak-balik?”

Habib Umar hanya diam. Pemuda itu kemudian menuduhnya, “Tidak tahukah engkau itu perbuatan yang syirik?”

Habib Umar masih diam. “Engkau seolah-olah membuat murid-muridmu menyembah sesama mahkluk? tidakkah hanya Allah lah yang layak disembah? Tunduk atau menunduk kepada makhluk adalah perbuatan syirik.”

Di akhir pertanyaan itu, Habib Umar hanya tersenyum. Habib Umar kemudian memanggil pemuda tadi dan mendekatinya. Sang habib mengambil pena yang ada di dalam saku baju pemuda itu, lalu menjatuhkannya ke bawah.

Ketika si pemuda ini menundukkan kepala dan badannya ke bawah guna mengambil pena, Habib Umar menahannya, “Jangan menunduk! tidakkah menunduk kepada makhluk adalah bathil?”

Seketika sang pemuda mengelaknya, “Tidak, aku hanya ingin mengambil penaku di bawah.”

Sang Habib kemudian memberi pemuda itu hikmah bijak, “Aku ini ibaratkan pena. Seorang pencari ilmu tidak akan mendapat ilmu jika tidak mempunyai pena. Begitu juga dengan murid-muridku. Mereka menghargai dan menghormatiku bukan atas permintaaanku. Aku tidak pernah memaksa. Aku tidak pernah menyuruh mereka mencium tanganku. Tetapi ketahuilah wahai pemuda, seorang pencari ilmu tidak akan mendapatkan setetespun ilmu yang bermanfaat jika dia tidak menghormati gurunya.”

Disarikan dari kisah yang diceritakan oleh Al-Habib Umar bin Agil Al-Hamid.