Tag Archives: Sahabat Nabi

Kisah Ali Zainal Abidin Melawan Ahli Bid’ah

Hari itu, sekelompok syiah (ekstrem) dari penduduk Irak datang mengunjungi Ali Zainal Abidin di Madinah. Ketika berbincang, mereka membicarakan kedudukan Abu Bakar, Umar bin al- Khaththab, Utsman bin Affan dengan hal-hal yang tidak patut. Ketika mereka selesai berbicara, Ali Zainal Abidin berkata:

“Apakah kalian tidak pernah mendengar bahwa mereka itu termasuk kaum muhajirin pertama yang disebut dalam ayat ini:…. Yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah  orang-orang yang  benar. (al-Hasyr [59] :8)?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Ali kembali bertanya, “Apakah kalian pernah diberi kabar tentang kaum Anshar, yang kemuliaanya disebutkan dalam ayat ini: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. (al-Hasyr [59]:9)?

Mereka menjawab, “Tidak.”

Ali Zaenal Abidin berkata, “(Kalau begitu) Adapun kalian, kalian telah lepas dari menjadi bagian dari dua golongan ini (Muhajirin dan Anshar).”

Ali melanjutkan, “Aku bersaksi bahwa kalian tidak termasukorang-orang yang Allah sebutkan dalam ayat ini: Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan Saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman (al-Hasyr [59]:10”

Kemudian, Ali mempersilakan mereka meninggalkan majelisnya. Ia berkata:

“Silakan kalian pergi, Allah yang akan mengurusi kalian.” ()

Sumber: Shifat al-Shafwah karya ibn al-jauzi j.2, h.97

Sedalam Cinta, Sesering Menyebut Namanya

Ubayy bin Ka’ab Al-Anshary ra. adalah salah seorang sahabat Rasulullah saw. yang gigih berjuang bersama Rasulullah saw. Ia bukan termasuk sahabat yang pertama kali masuk islam. Ia baru berikrar ketika Baiat Aqabah kedua. Namun, ia memiliki tempat tersendiri di hati Rasulullah saw. Bahkan, Rasulullah saw. memberinya nama kunyah (julukan), layaknya yang juga dilakukannya kepada sahabat-sahabat ternama, seperti Abu Bakar, Umar, dan lainnya. Ia sering dipanggil dengan nama Abu al-Mundzir.

Suatu hari, ia ingin mengungkapkan rasa cintanya kepada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, aku senantiasa membaca shalawat untukmu. Sebaiknya, berapa banyak lagi aku membaca shalawat untukmu?”

“Sesukamu, Ka’ab.” Rasulullah saw. menyambut ungkapan cinta Ubay bak lembayung senja.

Ubay bertanya lagi, “Bagaimana kalau seperempat waktu dari setiap hariku?”

“Sesukamu. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.”

“Jika sepertiga?”

“Terserah engkau. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.”

“Jika setengah?”

“Terserah engkau. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.” Untuk keempat kalinya, Nabi memberi jawaban yang sama.

Ubay adalah sahabat yang sangat mencintai Rasulullah saw. Ia tak puas dengan hanya mengingat dan menyebut nama Rasulullah dalam waktu-waktu tertentu saja. Ia menantang dirinya sendiri untuk bertanya lagi, “Bagaimana jika kutambah dua pertiga?”

“Terserah engkau. Jika kau menambahnya, itu lebih baik.”

Mendapat jawaban yang sama dalam beberapa pertanyaannya, membuat rasa cinta Ubay semakin membuncah. Maka kemudian ia bertekad untuk menghabiskan waktu-waktunya untuk menggumamkan rasa cinta kepada kekasihnya itu, “Ya Rasulullah, akan kugunakan seluruh hariku untuk bershalawat kepadamu.”

Mendengar pernyataan Ubay yang begitu yakin dan sungguh-sungguh, Rasulullah tak segan-segan memujinya. “Kalau begitu, wahai Ka’ab,” ungkap Rasulullah. “Keinginanmu akan dicukupi dan dosamu akan diampuni Allah.”

Ubay bin Ka’ab seorang sahabat yang begitu dekat dengan Rasulullah saw. Ia dalam berbagai waktu dan ruang sering mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan Rasulullah saw. Oleh beliau, ia dipuji sebagai sahabat yang paling bagus dalam membaca Alquran.

Seorang yang begitu dekat dengan Rasulullah saw. saja, dengan sungguh menghabiskan seluruh waktunya untuk menyebut nama kekasihnya. Seseorang yang jelas-jelas mendapat tempat di hati Rasulullah saw. saja, tak rela waktunya hilang tanpa menyirami rasa cinta yang kian waktu kian tumbuh.

Apalagi kita, yang hidup ribuan abad sepeninggal Rasulullah saw. Yang tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah saw. Yang sangat membutuhkan pertolongan dan belas kasih Rasulullah saw. Apa yang bisa kita lakukan, selain terus memujanya, menyebut-nyebut namanya dalam tiap hirupan nafas, setiap saat, dalam luruhnya doa dan permohonan syafaat?

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.

 

Pembukaan Kuliah Ushul Fikih

LirboyoNet – Sejak tahun kemarin, Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo punya agenda bulanan yang terbilang baru. Kegiatan itu dinamai Kuliah Ushul Fikih dengan tutor tetap KH. Azizi Hasbullah. Kegiatan ini oleh pihak LBM boleh diikuti oleh siapa saja santri yang berminat, tidak ada batasan tingkatan. Meskipun toh yang diharapkan adalah santri tingkat Aliyah, karena secara keilmuan tingkatan ini “lebih ngeh” dengan apa yang disampaikan oleh tutor.

Tidak seperti tahun lalu yang digelar malam hari, kuliah ushul fiqh dengan materi dasar kitab matan Lubbul Ushul tahun ini  dilaksanakan sabtu siang (19/9/2015) sekitar pukul 14.30 WIS/14.00 WIB, bukan waktu biasa untuk mengikuti aktivitas LBM bagi yang sudah sekolah malam, karena pada jam tersebut banyak bentrok dengan pengajian yang digelar masyayikh. Meski begitu, antusiasme peserta tidak nampak surut.

Seperti tahun lalu, teknis kuliah juga tak banyak yang berbeda. Dimulai dengan sesi pemurodan, diteruskan penjelasan langsung oleh KH. Azizi, dan dilanjutkan sesi tanya jawab seputar bab yang sedang dibahas.

KH. Azizi menjelaskan muqoddimah seputar mabahisul aqwal, apa saja yang nantinya dapat dijadikan pijakan atau tendensi dalam merumuskan hukum fikih, lebih khusus lagi, Alquran sebagai referensi yang benar-benar bisa dijadikan rujukan. “Kalau kita melihat Alqurannya itu qoth’y atau pasti, namun dalalah dari Alquran sendiri tidak ada yang qoth’y, semua sebatas dhonny (praduga -Red.), kecuali didukung dengan dalil lain.” Maka jelas tak terhindarkan terjadinya perbedaan pendapat dalam pemahaman yang muncul dari sebuah kata atau kalimat. Kemudian, dalam sejarahnya, dahulu Alquran mulai ditulis atas inisiatif sahabat Umar RA. ketika masa kekhalifahan sahabat Abu Bakar RA. Waktu itu sahabat Abu Bakar RA. sempat menolak inisiatif dari sahabat Umar RA. karena sahabat Abu Bakar RA. enggan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan nabi Muhammad SAW. Namun, mempertimbangkan sudah tujuh puluh sahabat hamilul qur’an (hafal Alquran-Red.) yang syahid dalam perang Yamamah, perang melawan Musailamah Al-Kadzab, dan dikhawatirkan Alquran akan musnah, akhirnya sahabat Abu Bakar RA. menyetujui inisiatif pembukuan Alqur’an. Beliau menunjuk sahabat Zaid bin Tsabit sebagai juru tulis.

Alquran yang ditulis sahabat Zaid bin Tsabit waktu itu masih tanpa menggunakan titik dan harokat. Alquran tersebut dipegang khalifah dan kemudian disimpan oleh Sayyidah Hafshoh putri sahabat Umar RA. Dalam perkembangannya, di masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan RA. muncul kontroversi dimana setidaknya waktu itu ada sekitar seratus qiro’ah yang berkembang di masyarakat luas, mengingat waktu itu Alquran masih polos tak berharokat dan tak bertitik. Dan lebih parah lagi, antar satu dan lain saling menyalahkan bahkan sampai mengkafirkan. Hal tersebut dilaporkan kepada khalifah Usman RA. Lantas beliau mengambil tindakan tegas dengan menarik seluruh mushaf Alquran yang ada di dunia dan menyatukan qiro’ah yang ada. Beliau mendaulat sahabat Zaid bin Tsabit untuk menulis ulang Alquran yang disimpan sayyidah Hafshoh menjadi enam. Enam Alquran inilah yang dikenal dengan mushaf Rosm Usmani.

Beliau juga sempat menjelaskan Alquran adalah kitab yang jami’ul kalim. Bahkan penjelasan ini beliau kuatkan dengan tambakan “yakin”, karena KH. Azizi sendiri sudah merasakan bagaimana satu ayat bisa untuk dilarikan ke seluruh fan ilmu, mulai tashowuf, fiqh, tauhid, dan lain sebagainya. Beliau menganalogikan dengan contoh “Jaa’a Zaid” bukan hanya bisa digunakan sebagai contoh jumlah fi’liyyah saja, namun bisa juga digunakan sebagai contoh i’rob rofa’, contoh isim, contoh fi’il, contoh bina’ shohih, contoh bina’ salim, contoh kalam khabar, dan lain sebagainya. Semua hanya diwakilkan dengan satu kalimat yang nampak sederhana, jaa’a zaidun. Misalkan saja ayat,
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ
Selain bisa dijadikan dalil zakat dalam bab fikih, bisa juga dijadikan dalil tashowwuf, “ilmunya Allah (الصَّدَقَاتُ) hanya diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkannya (لِلْفُقَرَاء)”.

Setelah sesi tanya jawab usai, kuliah ushul sore itu ditutup dengan do’a. Harapannya, untuk tahun-tahun ke depan para penggiat ilmu syar’i tak bosan-bosannya mengkaji ushul fiqh. Meskipun tak lagi “berfungsi” untuk berijtihad, namun bisa digunakan untuk memperkuat dan memperjuangkan madzhab imam yang kita anut, seiring akhir-akhir ini semakin marak “islam minoritas” yang sering menggugat pendapat-pendapat imam empat. (wf)