Tag Archives: tauhid

Anjuran Menggunakan Peci

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Admin yang saya hormati, sebenarnya adakah perintah keharusan menggunakan peci atau kopyah abgi lelaki muslim? Apakah ada anjuran khusus mengenai hal itu? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Khoirul Anam – Sukabumi)

________________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Di Indonesia, penggunaan peci atau kopiah sudah lumrah di kalangan umat muslim. Dengan berbagai model dan warna, kopiah sering digunakan berbagai lapisan bawah hingga para pejabat istana. Mereka menjadikannya sebagai lambang identitas, penunjuk kesalihan, serta mode tersendiri.

Sebanarnya, adakah anjuran khusus dari syariat dalam hal ini? Apabila mau merujuk ke dalam beberapa literatur keislaman, akan ditemukan bahwa syariat Islam memiliki perhatian khusus dalam persoalan ini yang mencakup dalam beberapa aspek penerapan, baik yang berhubungan dengan ibadah maupun interaksi sosial.

Dalam salat, dianjurkan bagi seorang laki-laki untuk memakai peci atau kopiah dan penutup kepala yang semacamnya. Bahkan memakai peci yang berwarna putih sudah dapat mencukupi kesunahan memakai sorban. Sebagaimana penjelasan dari sayyid Abdurrahman al-Masyhur dalam kitabnya yang berjudul Bughyah al-Mustarsyidin:

لُبْسُ الْقَلَنْسُوَةِ الْبَيْضَاءِ يُغْنِيْ عَنِ الْعِمَامَة ِ، وَبِهِ يَتَأَيَّدُ مَا اعْتَادَهُ بَعْضُ مِدَنِ الْيَمَنِ مِنْ تَرْكِ الْعِمَامَةِ مِنْ أَصْلِهَا

Memakai peci/songkok putih mencukupi (dari kesunahan) memakai sorban. Dengan begitu kuatkanlah kebiasaan yang berlaku di sebagian daerah Yaman yang mana mereka tidak memakai sorban sama sekali.” [1]

Senada dengan pemaparan di atas, dalam salah satu keterangan kitab lain disebutkan sebagai berikut:

اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى اسْتِحْبَابِ سَتْرِ الرَّأْسِ فِي الصَّلاَةِ لِلرَّجُل بِعِمَامَةٍ وَمَا فِي مَعْنَاهَا ؛ لأَِنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي بِالْعِمَامَةِ . أَمَّا الْمَرْأَةُ فَوَاجِبٌ سَتْرُ رَأْسِهَا . وَنَصَّ الْحَنفِيَّةُ عَلَى كَرَاهَةِ صَلاَةِ الرَّجُل مَكْشُوفَ الرَّأْسِ إِذَا كَانَ تَكَاسُلاً لِتَرْكِ الْوَقَارِ ، لاَ لِلتَّذَلُّل وَالتَّضَرُّعِ

Ulama Fikih sepakat akan kesunahan menutup kepala bagi laki-laki dalam salat dengan memakai sorban dan sejenisnya, (termasuk peci atau kopyah). Karena nabi Muhammad saw. salat dengan memakai sorban, sedang bagi wanita wajib menutup kepalanya. Bahkan kalangan Hanafiyyah menilai makruh bagi laki-laki shalat dengan terbuka kepalanya karena malas sebab dapat mengurangi kewibawaan bukan karena unsur merendahkan diri di hadapan Allah.”[2]

Dari sana sudah jelas bahwa memakai peci atau kopiah sangat dianjurkan dalam salat, bahkan dapat mencukupi anjuran memakai sorab. Adapun di luar konteks salat, memakai penutup kepala sejenis peci atau kopyah bagi laki-laki juga dianjurkan dalam beberapa keadaan, seperti ketika memasuki kamar mandi atau berada di tempat yang membiasakan menutup kepala bagi para kaum lelaki. Karena pada dasarnya, tidak menutup kepala di ruang publik dianggap perilaku yang dapat menurunkan kewibawaan seseorang.[3] []waAllahu a’lam

 

[1] Bughyah al-Mustarsyidin, I/182

[2] Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah, XXX/304

[3] Majmu’ Syarh al-Muhaddzab, XX/227

Hakikat Bela Islam

Saat ini masyarakat banyak sekali yang ghirah semangatnya terpacu ketika mendengar sautan “Bela Islam”. Mereka seolah-olah merasa bahwa menghadiri aksi “Bela Islam” adalah suatu tanggung jawab atas nama agama (jihad) yang harus untuk dilakukan.

Menanggapi fenomena seperti ini, baiknya kita selaku umat islam sebelum tergerus arus untuk mengikuti berbagai aksi bela islam ini, patutnya memahami terlebih dahulu sebenarnya apakah makna dari bela islam? Dan benarkah aksi yang mereka lakukan adalah wujud konkrit dari “Bela Islam”?

Dalam kaedah fikih dijelaskan:

العبرة بالمعنى لا بالجوهر والشكل

Hal yang menjadi pijakan adalah esensi (perbuatan) bukan bentuk dan nama

Berdasarkan kaidah diatas dapat dipahami bahwa hal-hal yang mengatasnamakan agama belum tentu itu adalah bagian dari agama. Sebab yang dipandang bukanlah nama dari suatu tindakan tapi wujud tindakannya apakah benar-benar tergolong bagian dari agama atau justru hanya sebatas kedok dengan mengatasnamakan agama yang berujung pada kegaduhan dan perpecahan bangsa.

Salah satu hal yang dianggap bagian dari agama adalah jihad, jihad bukan hanya sebatas perang atau memberantas musuh saja, tapi lebih dari itu, jihad merupakan ajaran syara’ agar setiap orang mengoptimalkan peran mereka dalam bidang yang menjadi keahliannya, dalam istilah kekinian pelaksanaan hal demikian biasa disebut dengan “bela negara”, mereka lah yang sebenarnya layak untuk menyandang predikat “mujahid” karena jasanya telah melaksanakan kewajiban fardu kifayah ini.

Penjelasan tentang “Bela Negara” salah satunya dijabarkan oleh Imam Nawawi:

إن الجهاد ليس مختصا بالأجناد وهذا أمر لم ندعه ولكن الجهاد فرض كفاية فإذا قرر السلطان له أجنادا مخصوصين ولهم أخباز معلومة من بيت المال كما هو الواقع تفرغ باقي الرعية لمصالحهم ومصالح السلطان والأجناد وغيرهم من الزراعة والصنائع وغيرها مما يحتاج الناس كلهم إليه

Jihad tidak hanya terkhusus bagi para tentara, persepsi ini adalah hal yang tidak kita akui, tetapi jihad adalah fardu kifayah (wajib bagi setiap orang secara kolektif). Ketika pemimpin telah menentukan tentara khusus dan mereka mendapatkan jatah makanan dari kas negara, sperti halnya yg terjadi sekarang. Maka rakyat sipil (non-militer) harus tetap melaksanakan perbuatan yg maslahat bagi mereka, bagi pemerintah, bagi militer dan juga bagi rakyat secara umum seperti dengan bercocok tanam, buruh kerja dan pekerjaan lain yg dibutuhkan oleh rakyat secara umum” (biografi al Imam al Nawawi, karya Abdul Ghani Daqr, Juz 1, Hal. 70-71)

Referensi diatas memberi kepahaman bahwa “bela negara” dengan bentuk mengoptimalkan peran masing-masing rakyat sesuai keahliannya justru merupakan wujud konkrit dari “bela agama” yaitu jihad.

Dengan begitu, melakukan sesuatu yang justru membuat kewajiban ini menjadi terbengkalai maka dianggap sebagai perbuatan yang tidak layak untuk dilakukan, karena akan mencegah dan menunda terlaksananya kewajiban, walaupun perbuatan ini mengatasnamakan agama.

Jangan sampai kita selaku umat islam merasa berbangga diri dan merasa benar hanya dengan mengikuti aktifitas yang sebenarnya bukan bagian dari agama, seperti yang disindir dalam Al-Qur’an:

الذين ضلّ سعيهم في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا

Orang-orang yang sesat perbuatannya di kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat baik” (QS. Al-Kahfi, Ayat 104)

Semoga kita bukan bagian orang-orang yang termasuk dalam ayat diatas. Amin. Wallahu A’lam.

sumbaer: @santrimengaji17

Istri yang Paling Sabar

Abu al-Hasan al-Madaini pernah bercerita:

Imran bin Hatthan dikenal sebagai seorang laki-laki yang berwajah jelek dengan postur tubuh pendek. Namun ia memiliki istri yang cantik rupawan.

Pada suatu hari, Imran bin Hatthan masuk ke dalam rumahnya. Sang istri pun menyambut dengan mesra. Pada saat itu, sang istri berhias sehingga kecantikan semakin terlihat dari dirinya. Imran bin Hatthan melihatnya dengan sangat takjub, begitu kagum dengan kecantikan sang istri. Hingga ia tertegun dalam waktu yang lama.

Melihat hal itu, sang istri pun bertanya, “Ada denganmu?”

Pagi ini, sungguh demi Allah!, engkau sangat cantik” jawab Imran bin Hatthan.

Berbahagialah, sebab aku dan kamu akan masuk surga.” balas sang istri.

Mengapa bisa begitu?” tanya Imran bin Hatthan.

Sebab engkau telah diberi anugerah istri seperti aku, engkau pun menjadi orang yang bersyukur. Sementara aku diberi ujian dengan laki-laki seperti engkau, aku pun dapat bersabar. Orang yang bersabar dan bersyukur akan masuk surga.” jawab sang istri.

 

___________________

Disarikan dari kitab Syihabuddin Muhammad bin Ahmad bin Abi al-Fath al-Absyihi yang berjudul Al-Mustathraf fi Kulli Fan Matadhraf, vol. 2, hal. 201

Jadwal Pengajian Lirboyo Ramadan 1439 H.

Bulan Ramadan hampir tiba. Mayoritas pondok-pondok pesantren mempersiapkan diri untuk memenuhi bulan mulia ini dengan rangkaian pengajian. Tidak terkecuali Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam bulan Ramadan kali ini, puluhan pengajian kitab digelar. Satu diantaranya bahkan sudah dimulai sejak 18 Sya’ban lalu, yakni pengajian kitab Shahih Bukhari. Kitab ini dibaca secara estafet oleh sembilan qari’, yang seluruhnya adalah dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo.

Pengajian seluruhnya ditutup pada malam 21 Ramadan, sekaligus memperingati Haul Simbah KH. Abdul Karim dan segenap dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo.

Jadwal lengkap pengajian bisa didownload di sini.

 

 

Agama Sebagai Pilihan Hidup

Iman adalah hasil dari proses panjang sebuah pemikiran, ibaratnya kita akan percaya dan meyakini ada dan terjadinya sebuah perkara, dengan sebab kita mengatahuinya, jadi seseorang harus mengetahui dulu apa yang akan ia percayai sebelum beranjak meyakini dan membenarkan (tashdiq), dalam konsep ketuhanananpun demikian.

Akan tetapi,bukanlah jaminan keimanan bagi orang yang telah mengetahui sebuah dalil ketuhanan, sebab iman atau hidayah merupakan hak prerogatif Tuhan, bahkan nabipun tak banyak bisa berbuat. Contohnya, orang-orang kafir pada zaman Nabi Saw. meraka tahu betul siapa Nabi itu, mereka meyakini bahwa beliau benar-benar seorang utusan, nyatanya tidak tumbuh rasa iman di hati mereka.

Sebagian ulama mengelompokkan Iman dalam 3 pembagian, sesuai dengan pasang-surutnya:

Pertama, iman yang selalu bertambah dan tak bisa berkurang,yakni imannya para Nabi.Kedua, iman yang tidak bertambah dan tidak berkurang, kriteria imannya Malaikat.Ketiga, iman yang bisa bertambah dan bisa berkurang, imannya orang mukmin.

Meski keyakinan yang timbul sebab ikut-ikutan (taqlid)  terkadang Sesuai dengan kenyataan Tapi keyakinan orang yang demikian ini sangat rentan untuk di tumbangkan hanya dengan semisal memberikan sedikit pengertian yang bertentangan dengan apa yang ia ketahui.

Dalam ranah keimanan kepada Allah Swt secara umum (ijmaly), dalam I’tiqad ahlussunah wal jama’ah (ASWAJA) setiap mukallaf ( baligh dan berakal)  wajib meyakini sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi-Nya, sehingga ia harus :

  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, Allah Swt pasti bersifat dengan segala kesempurnaan (sifat wajib 20) yang layak bagi sifat keagungan-Nya.
  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, Allah Swt mustahil bersifat dengan segala sifat kekurangan (sifat mustahil 20) yang tak layak bagi keagungan-Nya.
  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah Swt boleh saja melakukan atau meninggalkan segala hal yang bersifat jaiz (mumkin) seperti menghidupkan manusia atau membinasakannya.

Selain itu seorang mukallaf juga wajib meyakini secara terperinci (tafshily) sifat wajib yang menjadi sifat-sifat pokok kesempurnan-Nya (sifat asasiyah kamaliyah) sebagai Tuhan, sifat mustahil dan sifat jaiz.

Yang di kehendaki dengan dalil tafshili yakni ketika semisal seseorang di tanya;           ” apa bukti Tuhan itu ada ?” ia mampu menjawab ”bukti adanya Tuhan yakni alam ini. ” ketika si penanya masih mengejarnya dengan pertanyaan ” alam menjadi bukti adanya Tuhan dari sisi masih mungkinnya ia akan wujud atau sesudah ia wujud dari yang sebelumnya tidak ada ”, ia pun masih bisa menjawab. Sedangkan ketika jawabannya hanya sebatas ” bukti adanya Tuhan yakni alam ini ” saja, maka itulah yang disebut dalil ijmaly

orang-orang yang mengekor (taqlid) dalam keimanan, yakni keyakinan yang tumbuh tanpa di dasari pengetahuan sebuah dalil entah itu dalil ijmali (umum) atau dalil tafshili (perinci), dan yang demikian ini merupan iman kebanyakan umat islam, dalam penyestatusannya ulama tejadi perbedaan;

pertama, pendapat mayoritas ulama, mereka di hukumi mukmin, hanya saja mereka berdosa, sebab tidak mau berangan-angan terhadap dalil ketuhanan. Pendapat kedua, mereka dihukumi mukmin dan berdosa jikalau mereka mampu untuk berangan-angan dalil namun tak mau, apabila memang tidak mampu maka tidak dihukumi berdosa. Ketiga, yang paling ekstrim, mereka di hukumi kafir,sebab menurut pendapat ini, berfikir akan dalil keiminan merupakan hukum asal, artinya seseorang tidak cukup hanya sekadar ikut-ikutan (taqlid).

Perlu diketahui, bahwa hukum beriman atau tidaknya seseorang dalam pengelompokan ini merupakan hukum di akhirat kelak, sehingga selagi orang itu bersyahadat, ulama sepakat bahwa ia di hukumi muslim.

Pada akhirnya, daripada status iman kita masih di perselisihkan, marilah luangkan waktu untuk memikirkan  sifat-sifatNya, menyelami KalamNya yang tak bertepi, sehingga keimanan menjadi kukuh, tak mudah goyah, menjadikan islam memang benar-benar pilihan hidup, bukan karena tumbuh dan tercetak dari lingkungan, apalagi warisan.