HomeAngkringAgama Sebagai Pilihan Hidup

Agama Sebagai Pilihan Hidup

0 3 likes 150 views share

Iman adalah hasil dari proses panjang sebuah pemikiran, ibaratnya kita akan percaya dan meyakini ada dan terjadinya sebuah perkara, dengan sebab kita mengatahuinya, jadi seseorang harus mengetahui dulu apa yang akan ia percayai sebelum beranjak meyakini dan membenarkan (tashdiq), dalam konsep ketuhanananpun demikian.

Akan tetapi,bukanlah jaminan keimanan bagi orang yang telah mengetahui sebuah dalil ketuhanan, sebab iman atau hidayah merupakan hak prerogatif Tuhan, bahkan nabipun tak banyak bisa berbuat. Contohnya, orang-orang kafir pada zaman Nabi Saw. meraka tahu betul siapa Nabi itu, mereka meyakini bahwa beliau benar-benar seorang utusan, nyatanya tidak tumbuh rasa iman di hati mereka.

Sebagian ulama mengelompokkan Iman dalam 3 pembagian, sesuai dengan pasang-surutnya:

Pertama, iman yang selalu bertambah dan tak bisa berkurang,yakni imannya para Nabi.Kedua, iman yang tidak bertambah dan tidak berkurang, kriteria imannya Malaikat.Ketiga, iman yang bisa bertambah dan bisa berkurang, imannya orang mukmin.

Meski keyakinan yang timbul sebab ikut-ikutan (taqlid)  terkadang Sesuai dengan kenyataan Tapi keyakinan orang yang demikian ini sangat rentan untuk di tumbangkan hanya dengan semisal memberikan sedikit pengertian yang bertentangan dengan apa yang ia ketahui.

Dalam ranah keimanan kepada Allah Swt secara umum (ijmaly), dalam I’tiqad ahlussunah wal jama’ah (ASWAJA) setiap mukallaf ( baligh dan berakal)  wajib meyakini sifat wajib, mustahil dan jaiz bagi-Nya, sehingga ia harus :

  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, Allah Swt pasti bersifat dengan segala kesempurnaan (sifat wajib 20) yang layak bagi sifat keagungan-Nya.
  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, Allah Swt mustahil bersifat dengan segala sifat kekurangan (sifat mustahil 20) yang tak layak bagi keagungan-Nya.
  • Meyakini secara mantap tanpa keraguan, bahwa Allah Swt boleh saja melakukan atau meninggalkan segala hal yang bersifat jaiz (mumkin) seperti menghidupkan manusia atau membinasakannya.

Selain itu seorang mukallaf juga wajib meyakini secara terperinci (tafshily) sifat wajib yang menjadi sifat-sifat pokok kesempurnan-Nya (sifat asasiyah kamaliyah) sebagai Tuhan, sifat mustahil dan sifat jaiz.

Yang di kehendaki dengan dalil tafshili yakni ketika semisal seseorang di tanya;           ” apa bukti Tuhan itu ada ?” ia mampu menjawab ”bukti adanya Tuhan yakni alam ini. ” ketika si penanya masih mengejarnya dengan pertanyaan ” alam menjadi bukti adanya Tuhan dari sisi masih mungkinnya ia akan wujud atau sesudah ia wujud dari yang sebelumnya tidak ada ”, ia pun masih bisa menjawab. Sedangkan ketika jawabannya hanya sebatas ” bukti adanya Tuhan yakni alam ini ” saja, maka itulah yang disebut dalil ijmaly

orang-orang yang mengekor (taqlid) dalam keimanan, yakni keyakinan yang tumbuh tanpa di dasari pengetahuan sebuah dalil entah itu dalil ijmali (umum) atau dalil tafshili (perinci), dan yang demikian ini merupan iman kebanyakan umat islam, dalam penyestatusannya ulama tejadi perbedaan;

pertama, pendapat mayoritas ulama, mereka di hukumi mukmin, hanya saja mereka berdosa, sebab tidak mau berangan-angan terhadap dalil ketuhanan. Pendapat kedua, mereka dihukumi mukmin dan berdosa jikalau mereka mampu untuk berangan-angan dalil namun tak mau, apabila memang tidak mampu maka tidak dihukumi berdosa. Ketiga, yang paling ekstrim, mereka di hukumi kafir,sebab menurut pendapat ini, berfikir akan dalil keiminan merupakan hukum asal, artinya seseorang tidak cukup hanya sekadar ikut-ikutan (taqlid).

Perlu diketahui, bahwa hukum beriman atau tidaknya seseorang dalam pengelompokan ini merupakan hukum di akhirat kelak, sehingga selagi orang itu bersyahadat, ulama sepakat bahwa ia di hukumi muslim.

Pada akhirnya, daripada status iman kita masih di perselisihkan, marilah luangkan waktu untuk memikirkan  sifat-sifatNya, menyelami KalamNya yang tak bertepi, sehingga keimanan menjadi kukuh, tak mudah goyah, menjadikan islam memang benar-benar pilihan hidup, bukan karena tumbuh dan tercetak dari lingkungan, apalagi warisan.