Khutbah Gerhana Bulan

اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَاخْتِلَافَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ . أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى :  قَالَ لَن تَرَىٰنِي وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ

 

Jamaah Shalat Gerhana Bulan rahimakumullah

Sebelum Allah memperkenalkan Nabi Adam as. kepada para malaikat, Allah terlebih dahulu mengajarinya nama-nama makhluk yang Ia ciptakan. Pengenalan ini adalah penghargaan yang sangat istimewa bagi Nabi Adam as. Karena, tak ada satu makhlukpun yang pernah mendapatkan penghargaan sebesar itu dari Allah swt.

Pun begitu dengan Nabi Musa as. Beliau mendapatkan anugerah berupa keistimewaan yang besar dari Allah swt. Apa anugerah itu? Tak lain ialah diberi kemampuan untuk “berbincang” dengan Allah swt.

Jamaah Shalat Gerhana Bulan rahimakumullah

Suatu malam, Nabi Musa naik ke bukit Thursina. Sesampainya di puncak bukit, beliau menggumamkan rasa syukur yang sangat besar. Di bukit itu, beliau telah diperdengarkan Kalam Allah swt. Beliau dengan takdzim mendengar Allah swt. berbicara langsung kepadanya. Allah berfirman dalam surat al-Qashash ayat 30:

فَلَمَّآ أَتَىٰهَا نُودِيَ مِن شَٰطِيِٕ ٱلۡوَادِ ٱلۡأَيۡمَنِ فِي ٱلۡبُقۡعَةِ ٱلۡمُبَٰرَكَةِ مِنَ ٱلشَّجَرَةِ أَن يَٰمُوسَىٰٓ إِنِّيٓ أَنَا ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 

“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam.”

Sejak detik itu, Nabi Musa as. mengalami kerinduan yang tak terperi untuk bersegera memandang Zat-Nya. Ia pun memohon kepada Allah agar menampakkan hakikat Zat-Nya. Akan tetapi, Allah mewanti-wanti bahwa manusia tatkala masih berada di dunia, belum cukup memiliki kemampuan untuk dapat mewujudkan keinginannya itu: andaikata manusia mengalami hal tersebut, niscaya ia akan hancur. Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 143:

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِي وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكّٗا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقٗاۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

“Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”

Jamaah Shalat Gerhana Bulan yang dimuliakan oleh Allah,

Manusia, selama ia hidup di dunia, selama ia terkekang dengan sifat-sifat basyariyahnya, tidaklah akan mampu memandang hakikat Zat Allah. Zat Allah tidak dapat dipandang, adalah karena Ia tidak dapat diserupakan dan tidak menyerupai apapun. Allah adalah wujud yang tidak mungkin dijelaskan, digambarkan, dan dideskripsikan. Syaikh Ibnu Araby, seorang sufi besar, menyatakan bahwa Wujud Allah tidak dapat diketahui dengan argumen, pembuktian melalui pemikiran, dan tidak dapat dibatasi.

Bagaimana mungkin seorang manusia, di mana ia serupa dengan makhluk lainnya, yang berbentuk, yang bernafas, yang membutuhkan tempat, dapat mengetahui terhadap apa yang tidak berbentuk, tidak membutuhkan tempat, dan tidak menyerupai sesuatu apapun?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.