Tag Archives: budaya

Golden Couple: Setitik Makna Syair Gundul Pacul

Gundul-gundul pacul cul gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan

Wakul gelimpamg segane dadi sak latar

Wakul gelimpamg segane dadi sak latar

Syair klasik yang telah jarang terdengar ternyata di dalamnya tidak hanya terkandung sebuah estetika dan hiburan semata. Dalam liriknya tersirat nasihat bagi seorang pemimpin. Ibaratkan sang pemimpin yaitu Ulama dan Umara adalah yang ‘nyunggi wakul’, penopang utama persatuan berbagai elemen manusia dari yang kecil sampai yang besar dari kasta rendah ke kasta tinggi.

Bedanya, Umara mengatur, mengorganisir semua. Menempatkan pada sebuah wadah formal yang mana dalam pembuatannya umara harus memperhatikan kapasitas dan kualitas tentunya. bagaimana sebuah wadah itu harus menjadi se efesien mungkin, senyaman mungkin dan terjaga keamanannya. Semua dalam lingkup kekuasaan yang sudah tertuang dalam hukum tata negara yang sah dan absolut.

Baik ulama maupun umara keduanya sama-sama menjadi tokoh masyarakat. Ulama diikuti dan disegani karena nilai keluhuran ilmunya dan pengabdian utama untuk menyyebarkan norma-norma agam berdedikasi tinggi mengumpulkan masyarakat dalam majelis non-formal untuk mendidik batiniah dengan pedoman yang bersanad sampai nabi Muhammad saw.

Tatkala ulama mampu mendidik masyarakat dengan ilmu dan barokah keikhlasan tentunya. dengan penunjang yang mendukung dari umara. Hasil ini akan memudahkan umara menata masyarakat yang telah dipondasi dengan nilai kebaikan dari agama. Saling melengkapi,saling membantu, bahu membahu menyelami masyarakat dengan berbaur, bersama mencoba mengerti kemauan masyarakat menjadi kesatuan ‘nyunggi wakul’  sehingga mendekatkan realisasi yang konkrit yaitu bangsa yang aman-damai-sentosa.

Maka dari itu, sangat dibutuhkan keduanya untuk saling terhubung, no mis komunikasi,karena harfiahnya pasangan ini adalah indikator kesuksesan golden couple  yang mana dengan adanya kerjasama yang baik dan konstan tentunya. masa jaya keemasan tak kan hanya jadi mimpi belaka.

Namun jika sang ‘nyunggi wakul’ sampai terjadi berbeda langkah, berlawanan, ibarat kaki kiri dan kanan yang tidak saling menjaga lagi maka terjadilah ‘wakul ngglimpang segone dadi sak latar’ tiang penopang jatuh, masyarakat bak nasi yang berantakan hingga jauhlah kata damai dalam ingatan!

Oleh:Rohmania Nurul F. kelas 2 Tsanawiyah PP Putri Hidayatul Mubtadi-aat asal Malang.

Muharram dalam Sudut Pandang Budaya Jawa

Dalam kalender Islam (Hijriyah), bulan Muharram merupakan bulan pertama. Urutan tersebut bukan berarti tanpa alasan, karena pada kenyataannya terdapat banyak keistimewaan yang ada di dalamnya. Hal ini dibuktikan dalam beberapa hadis Rasulullah saw. yang menjelaskan tentang keutamaan dan keistimewaan yang dimilikinya. Salah satunya adalah hadis yang tercantum dalam kitab Shahih al-Bukhari:

الزَّمَانُ قَدْ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ وَذُو الحِجَّةِ وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ، الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

“Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahu itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati,  tiga bulan berturut-turut; Dzulqo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram serta satu bulan yang terpisah yaitu Rajab, terdapat diantara bulan Jumada al-Akhirah dan Sya’ban”.[1]

Dalam hadis tersebut dikatakan bahwa bulan Muharram tergolong bulan yang dimuliakan. Dalam penjelasannya, salah satu bukti kemuliaan Muharram ialah umat Islan zaman dahulu dilarang melakukan peperangan di bulan tersebut.[2] Bahkan jauh sebelum masa itu, peristiwa-peristiwa bersejarah dalam Islam terjadi di bulan Muharram, seperti Nabi Nuh diselamatkan Allah swt. keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama 6 bulan, Nabi Ibrahim diselamatkan Allah swt. dari pembakaran Raja Namrud, Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara dan peristiwa-peristiwa besar lainnya.

Dengan beragam kandungan sejarah yang ada di dalamnya, tak ayal lagi bahwa terdapat beberapa amaliah sunah yang dianjurkan pada bulan Muharram. Seperti puasa Tasua’ (9 Muharram) dan ‘Asyura (10 Muharram), menyantuni anak yatim, melapangkan nafkah keluarga, dan bersedekah.

Meskipun demikian adanya, bulan Muharram sangat berbeda dengan bulan-bulan yang lain, salah satunya adalah bulan suci Ramadhan. Karena di dalam bulan Ramadhan, keseluruhan tradisi dan amaliah yang ada di masyarakat masih bisa dianggap murni syariat. Ibadah puasa, salat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, iktikaf di masjid dan lain sebagainya merupakan tuntutan syariat semata.

Hal tersebut sangat berbeda dengan bulan Muharram, karena amaliah dan tradisi yang telah mengakar di masyarakat sudah beraroma kebudayaan. Dengan artian, akulturasi syariat dan budaya sangat terasa kental di dalamnya. Salah satu bukti nyata adalah kebudayaan masyarakat Jawa. Mereka menyebut bulan Muharram dengan nama bulan Suro. Masyarakat Jawa menganggap bulan Suro (Muharram) memiliki aura dan nilai magis yang cukup tinggi. Sehingga mereka memiliki beberapa ritual khusus di dalamnya, diantaranya adalah ritual larung sesaji, memandikan pusaka atau keris, Tapa Bisu, sesajen para Danyang, dan lain sebagainya.

Melihat realita budaya yang demikian adanya, umat Islam memiliki cara pandang atas langkah yang harus diambil. Jika terdapat sebuah budaya yang tidak mengandung unsur negatif dan bisa dipertahankan,  maka Islam akan mempertahankannya. Atau jika budaya tersebut melenceng dari asas-asas agama, maka syariat akan mengubahnya, mengislamkannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Atau jika sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan karena bertentangan dengan nilai-nilai pokok agama, maka islam akan menghapusnya.

Tindakan dan cara tersebut telah dicontohkan Rasulullah saw. dalam strategi dakwahnya. Kedatangan Rasulullah saw. memiliki misi meluruskan norma-norma yang tidak sesuai dengan ajaran tauhid di samping melestarikan budaya masyarakat Arab yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.[3] []waAllahu a’lam

 

________________

[1] Shahih Al-Bukhari, IV/107.

[2] Umdah al-Qori’, XXI/149, CD Maktabah Syamilah.

[3] Hujjah Al-Balighah, juz 1 hal 284.

Islam Produktif dalam Persaingan Budaya yang Fluktuatif

Umat muslim dalam keresahan, terutama para kaum cendekia, baik yang biasa dipanggil ulama atau yang bukan. Bagaimana tidak, peradaban Islam yang pernah agung itu saat ini mengalami kemerosotannya yang paling tajam. Keresahan ini bisa dipahami karena sudah tercetak dalam keyakinan orang muslim bahwa agama mereka adalah agama yang menyeluruh, universal dalam setiap waktu dan tempat (shālih li kulli zamān wa makān). Adagium ini bukanlah isapan jempol belaka. Dilihat dari penganutnya, agama Islam tidak tersekat batas-batas genealogis dan geografis. Segala macam ras dan berbagai macam suku bangsa bisa menganut agama Islam.

Realitas ini semakin membuat adagium itu mendapatkan tempatnya, meskipun ia bukan nash. Apalagi, akan sangat aneh jika kita melihat orang Aborigin menganut agama Yahudi atau pun orang negro dari Zimbabwe menganut agama Tokugawa di Jepang. Jadi realitas-realitas sosial semacam itu membuat prinsip universalitas Islam semakin menemukan relevansinya. Bahkan Allah Swt menyebut hal itu sebagai tanda-tanda-Nya.

Maka ketika eksistensi peradaban agama Islam terancam oleh invasi-invasi yang bersifat inovatif dan modern, reaksi pertama umat Islam adalah resistensi serta penolakan mentah-mentah. Paradoks ini sangat membingungkan: di sisi lain ada doktrin-doktrin yang meyakini bahwa agama ini universal dan selalu unggul (ya’lū wa lā yu’lā alaih) namun reaksi yang ditunjukkan terhadap inovasi modernisme adalah penolakan. Oleh karena itu reaktualisasi dan reinterpretasi (meskipun hal ini telah didengungkan beribu-ribu kali) menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Keluhuran agama Islam tidak bisa dicapai dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional sambil meninggalkan keagungan kebudayaan modern. Agama Islam haruslah dinamis. Hal ini bukanlah hal yang asing bagi Islam. Sahabat Ali Ra pernah berkata dalam satu kesempatan:

علّموا أولادكم في زمانهم فإنهم يعيشون في غير زمانكم

“Ajarilah anak kalian sesuai dengan zamannya. Karena mereka tidak hidup di zaman kalian.”

Keharusan Pembaruan

Pembaruan (tajdīdiyyah, renewal) bukanlah sesuatu yang aneh dalam Islam. Syaikh Abdullah bin Bayyah menyebut hal itu sebagai sebuah keniscayaan ilahi. Hal ini, menurut beliau, bersandar pada hadis Nabi Saw:

إنّ الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها أمر دينها

“Sesungguhnya Allah Swt mengutus bagi umat ini  di setiap awal seratus tahun seseorang yang membarui urusan-urusan agamanya.”[1]

Oleh karena itu, menutup diri dari pembaruan merupakan perlawanan terhadap kenyataan ilahi. Pembaruan-pembaruan yang disasar di sini haruslah sesuatu yang bersifat match dengan perkembangan zaman. Karena, seperti sering dikatakan, al-ālim ibnul waqti. Orang pandai adalah dia yang memahami masanya; Putera Zaman. Begitu juga, setiap usaha pembaruan yang melawan dan bertentangan dengan zaman bukanlah merupakan pembaruan secara nyata. Melainkan retorika yang diulang-ulang. Keharusan pembaruan ini harus dilakukan agar dua doktrin yang telah disebutkan di atas (universalitas dan keluhuran Islam) tidak kehilangan relevansinya. Apabila ini yang terjadi, hal ini tentulah tidak akan bisa diterima oleh kalangan islamis.

Seiring dengan berkembangnya budaya dan ilmu pengetahuan, old lifestyle dengan segala cara-cara dan langkahnya yang kuno tidak lagi relevan dengan kehidupan era modern ini. Peradaban modern selalu menuntut suatu hal yang kreatif-inovatif, begitu pula karakter masyarakatnya yang cepat bosan dengan hal-hal monoton. Berangkat dari kenyataan seperti itu, maka upaya-upaya dalam menjadikan Islam sebagai yang terdepan haruslah menggunakan cara yang modern pula, cara yang diminati masyarakat pada masa sekarang, ini bukanlah menundukkan agama pada realita, namun langkah-langkah seperti ini sejatinya adalah upaya agar Islam tetap menapak bumi dan relevan (shalih likulli zaman), tidak menjadi hal yang mengambang dan absurd. Sehingga segala sesuatu yang bersifat destruktif terhadap kondisi sosial juga harus ditolak. Ada beberapa pola dasar yang bisa menjadi contoh konkret bagi hal-hal yang destruktif ini.

Contoh klasik, tanggal 25 Desember dan 14 Pebruari selalu menjadi hari yang kontroversial di negeri kita yang mayoritas Muslim ini. Hampir setiap tahun, dua hari besar yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam itu selalu melahirkan fatwa haram, atau bahkan kafir bagi umat Islam yang ikut memeriahkan atau bahkan sekedar memberi ucapan selamat. Alih-alih menunjukkan independensi dan keteguhan agama Islam, fatwa ini malah menggambarkan kekalahan umat Islam dalam percaturan peradaban. Fatwa ini semakin memperlihatkan kegagalan “ulama” dalam mengawal umat. Beberapa orang muslim seakan-akan menganggap hal itu sebagai ancaman yang membahayakan sehingga umat harus dibentengi dari hal itu dengan fatwa haram. Ada subyektifitas yang terselubung dari fatwa itu. Memang, kita harus melindungi diri kita sendiri dari invasi budaya di luar apa yang kita miliki. Tetapi tidak dengan cara destruktif dan kontra produktif. Tidak dengan cara menyerang mereka dengan selusin berondongan fatwa-fatwa agama.

Contoh lain yang bisa kita ambil adalah fatwa pelarangan pemimpin non-muslim. Pelarangan ini menunjukkan bahwa kondisi agama Islam seakan kalah dalam pertarungan politik dan merasa terancam. Karena, seperti telah dijelaskan di muka, agama Islam adalah agama yang selalu luhur, maka segala hal yang membuat agama Islam merosot dan tidak luhur harus dibentengi dan dilindungi. Kesalahan penerapan prinsip ini (ya’lu wala yu’la ‘alaih) adalah penyakit yang sedang melanda umat Islam saat ini.

Anggapan ancaman terhadap setiap sesuatu yang dianggap tidak islami dan pelarang terhadap hal itu adalah sumber gejala kemunduran umat Islam yang semakin membuat Islam tampak terperosok ke bawah. Bukan malah semakin membuat Islam tampak sebagai agama yang luhur dan teguh memegang prinsip tapi semakin membuat Islam tampak sebagai pesakitan.

Sebuah perumpamaan klasik sering dikatakan untuk menggambarkan hal ini: andaikan kita seorang pemilik restoran, kebetulan ada restoran milik orang lain yang tak jauh letaknya dari restoran kita, dan ternyata restoran milik orang lain lebih diminati konsumen, maka cara agar restoran kita bisa unggul bukanlah dengan menyebar fitnah bahwa restoran “tetangga” menjual makanan yang telah dicampuri bahan pengawet atau zat kimia berbahaya, ini persaingan amatir dan tidak sehat. Cara yang tepat dalam kasus di atas adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas restoran kita misalkan dengan tampilan fisik restoran yang baru, menambahkan menu baru, atau menyajikan menu lama dengan cara yang baru. Cara yang sehat inilah yang bisa menjadi obat bagi umat Islam dalam menghadapi era modern agar agamanya tidak kehilangan relevansi serta selalu unggul, sesuai dengan doktrinnya.

Dengan kasus fatwa-fatwa tadi, persaingan secara sehat harus dilakukan dengan meningkatkan kualitas penganut agama Islam. Peningkatan kualitas ini, dalam konteks fatwa di atas, bukan dengan menggalakkan fatwa bahwa Natal atau Valentine itu haram dirayakan, melainkan dengan membuat fatwa yang bisa meningkatkan kualitas umat. Sebagai contoh, fatwa untuk merayakan 10 Muharram atau Maulid Nabi harus dibuat dan dipromosikan dengan gencar tanpa perlu memfatwakan melarang merayakan Natal.

Begitu juga dengan permasalahan pemimpin, yang harus dilakukan bukanlah melarang untuk memilih non-muslim. Melainkan umat Islam harus meningkatkan kualitas menciptakan kader-kader berkompeten yang mampu bersaing. Persaingan-persaingan secara sehat inilah yang harus digalakkan umat Islam agar ia bisa luhur dan universal.

Jika umat Islam sudah senang dan bangga dengan syiar dan kebudayaan Islam sendiri,  tanpa fatwa pun mereka dengan sendirinya akan meninggalkan kebudayaan dan segala hal yang kontras dengan Islam.[]

 

[1] Itsārat-Tajdīd hal 12

 

Penulis, Arif Rahman Hakim Syadzili, Rif’an Haqiqi, Alfanul Makki, II Aliyah, Pemenang I Lomba Karya Tulis Ilmiah dan Presentasi Ponpes Lirboyo, Maret 2017.

Lihat, Bagaimana Islam Menghargai Budaya

Islam lahir ditengah-tengah bangsa Arab yang punya ikatan kesukuan yang kuat. Satu sama lain saling membenaggakan dan mengunggulkan suku dan jasanya. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi semacam “ikatan rantai kuat”, namun sayang masih terpisah-pisah dan independen.

Baru, setelah agama islam tersebar, nabi Muhammad SAW mengubah semangat kesukuan mereka, diubah menjadi semangat persaudaraan atas nama satuagama, agama islam. Asal masih satu agama, islam, tak ada yang perlu dibeda-bedakan. Setelah tersebarnya islam, tak sedikit orang yang akhirnya mau terang-terangan makan bersama budaknya. Padahal hal tersebut tabu pada masa pra islam. Yang dalam Alquran disebut era jahiliyyah, era kebodohan. Walâ tabarrujna tabarrujal jâhiliyyatil ûlâ.(QS. Al-Ahzab:33)

Bangsa Arab kemudia, secara “ajaib”, hanya beberapa dekade, berhasil berstu dan debgan satu kekuatan menyebarkan islam hingga ke negeri-negeri tetanggga yang jauh.

Sesuai dengan misisnya untuk memurnikan kembali agama hanîf Nabi Ibrahim AS. Wattabi’ millata abîkum Ibrâhîm, yang sudah ternoda dengan beragam perilaku masyarakat Arab yang menyimpang, islam berupaya melepaskan diri dengan segala macam bentuk penyelewengan budaya yang sempat terjadi pada masa Jahiliyyah dengan metode dakwah yang bisa diterima masyarakat beriman. Namun tidak semua budaya bangsa Arab pra islam lantas diberangus dan dihapus begitu saja. Jika masih ada budaya yang tidak mengandung unsur negatif dan bisa dipetahankan,  maka islam akan mempertahankannya. Atau jika “budaya” tersebut melenceng dari asas-asas agama, maka syari’ akan mengubahnya, mengislamkannya menjadi lebih baik. Atau jika sudah tidak layak lagi untuk dipertahankan karena bertentangan dengan nilai-nilai pokok agama, maka islam akan menghapusnya. Bahkan tak jarang sampai ke “akar-akarnya”. Hal ini seperti diungkapkan imam al-Dahlawi dalam Hujjatul Bâlighah, “Kedatangan Rasul SAW. adalah dengan misi meluruskan norma-norma yang tidak lagi sesuai dengan agama hanîf sambil tetap melestarikan budaya masyarakat Rab yang masih sejalan dengan nilai-nilai islam.”(ᵃ)

Senada dengan hal ini qâdhi ‘iyâdh menyinggung, “demikianlah, Rasulullah SAW memberlakukanumatnya. Agar dapat membantu mereka dalam urusan duniawi.,dan menjauhi hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak mereka. Meskipun sebenarnya, Rasulullah SAW menemukan pandangan yang lebih baik. Demikian ini juga beliua lakukan dalam urusan agama. Seperti sikap nabi yang memeiarkan orang munafik tetap hidup, padahal beliau lebih tahudan mengerti betul siapa-siapa saja mereka, perseorangannya. Hal tersebut beliau lakukandemi menjaga penilaian negatif bahwa Muhammad juga membunuh pengikutnya. Nabipun tidak merekonstruksi ka;bah sesuai dengan konstruksi nabi Ibrahim AS. Karena menjaga perasaan bangsa quraisy yang baru masuk islam. Khawatir menimbulkan ‘perasaan sentimen mereka terhadap beliau nabi.”(ᵇ)

 

Islam dalam bingkai adaptasi budaya

Banyak contoh terkait dengan wacana adaptasi budaya. Bukan tema yang mudah usang memang, karena bagaimanapun juga, relevansinya masih bisa kita “contoh” sampai sekarang. Paling tidak dalam mengemban misi dakwah menuju arus globalisasi. Ingat semboyan lama jam’iyyah nahdhatul ‘ulama, almuhâfadhoh ‘alal qodîmis shâlih, wal akhdhu bil jadîdil ashlah, mempertahankan hal-hal lama yang positif, dan mengembangkannya dengan inovasi-inovasi yang lebih baik? Setidaknya premis pertama dari motto tersebut, al muhâfadhoh ‘alal qodîmis shâlih adalah mengutip pola dakwah nabi Muhammad SAW dan walisongo. Sudah terlalu banyak cerita yang berkembang di masyarakat tentang walisongo dan budaya jawa. Dimana budaya jawa sukses diadaptasikan dengan nafas islam oleh sesepuh tanah jawa ini, tanpa menyinggung perasaan masyarakat luas.

Jika itu walisongo dan masyarakat jawa, Lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad SAW dan masyarakat Arab?

Seperti sudah disinggung diatas, sikap toleransi Nabi terhadap masyarakat termasuk “satu kunci pendorong” kesuksesan dakwah nabi Muhammad SAW di lingkungan yang keras seperti bangsa Arab. Tentu saja ditambah karakter Nabi yang lemah lembut. Sampai disinggung dalam Alquran,

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘imran:159)

 

Banyak budaya Arab yang dipertahankan, bahkan akhirnya menyebar ke negri-negri “taklukan”. Mereka, banyak orang menafsirinya sebagai arabisasi. Menanamkan budaya Arab, dan mengenalkannya. Dari sini, nampak bahwa arabisasi bukan keharusan sebenarnya. Maka dari itu, walisongo tidak menekankan arabisasi di tanah jawa.

Seperti “konsep lama” KH. Abdurrahman Wahid tentang ide pribumisasi islam di Indonesia, bukan arabisasi islam. Karena Indonesia memiliki budaya sendiri yang sudah mapan dan justru berkesan “tidak enak” jika harus memaksakan impor budaya.

 

Sedikit Sekilas Fiqh dan Budaya

Banyak sekali contoh, jikalau islam mentoleransi budaya setempat, negeri dimana dia lahir. Dalam tamsil kasus berikut, islam mengenalkan pada dunia, bahwa ‘imamah, bersorban adalah ciri khas bangsa Arab pada umumnya. Sayyidina ‘Ali KRW pernah berkata,

’Imamah adalah mahkota bangsa Arab. Para malakikat memakai imamah berwarna putih pada perang badr dan memakai ‘imamah merah pada perang hunain.

Nabi Muhammad SAW tidak melarang orang bersorban, dan cenderung mempertahankannya sebagi kesunahan. Budaya Arab ini, sabda nabi, akan membuat pahala salat yang dilakukan menjadi dilipat gandakan puluhan kali. Satu kali saja salat ber’imamah, akan lebih baik dari pada melakukan hingga dua puluh lima kali salat tanpa ‘imamah.

Sampai-sampai, menurut riwayat dari Imam Nawawi, Nabi Muhammad SAW, yang kita kenal dengan kesederhanaan dan kebersahajaannya, memiliki dua ‘imamah. Yang satu ‘imamah panjang, sekitar dua belas hasta, dan yang lainnya ‘imamah pendek, enam hasta(ᵈ). Padahal Nabi selalu hidup dengan “secukupnya” dan tak berlebih-lebih.

Kemudian dalam Ihya’ Ulumudin,(ᵉ) imam Al-Gahzali berpanjang lebar menjelaskan tentang masalah lihyah, jenggot. Apa hukumnya?  Bagaimana jika kita panjangkan? Bagimana jika kita potong? Jika kita poyonng dengan motif ini, itu, dan sebagainya.  Beliua klarisifikasikan sampai sepuluh hal yang berbeda-beda. Bahkan secara tegas, beliau katakan makruh hukumnya mencabut jenggot tanpa alasan yang jelas.

Memelihara jenggot, satu lagi budaya Arab yang dikenalkan “lewat islam“. Orang Arab, banyak yang memelihara jenggotnya dengan baik, sebagai salah satu simbol atau eksistensi.

Dari Anas bin Malik –pembantu Rasulullah SAW- mengatakan,

Rasulullah SAW bukanlah laki-laki yang berperawakan terlalu tinggi dan tidak juga pendek. Kulitnya tidaklah putih sekali dan tidak juga coklat. Rambutnya tidak keriting dan tidak lurus. Allah mengutus beliau sebagai Rasul di saat beliau berumur empat puluh tahun, lalu tinggal di Makkah selama sepuluh tahun. Kemudian tinggal di Madinah selama sepuluh tahun pula, lalu wafat di penghujung tahun enam puluhan. Di kepala serta jenggotnya hanya terdapat dua puluh helai rambut yang sudah putih.”(ᶠ )

‘Imamah dan jenggot dikenalkan oleh bangsa Arab kepada dunia berkurun-kurun berikutnya. Ditiru, bahkan kemudian dilestarikan salah satunya sebagai upaya menjalankan sunnah nabi.

 

Kemudian dari semua budaya Arab yang ada, ada juga yang diganti dengan yang lebih baik. Bukan lantas serta-merta dihapus sepihak. Seperti sejarah dua hari raya besar umat muslim di seluruh dunia , ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha. Pada awalnya, dua hari taya ini “ada kaitannya”  dengan dua hari raya kuno bangsa Yatsrib (sekarang Madinah Al-Munawwaroh). Zaman dahulu, umat islam di Madinah memeiliki kebiasaan untuk merayakan tradisi hari besar mereka, mereka menyebutnya Nairûz dan Mahrajân. Kemudian Nabi Muhammad SAW pun bertanya suatu ketika kepada kaum anshâr Madinah.

Nabi; “Hari apakah ini?” (Nairûz dan Mahrajân)

Kaum Anshâr: “Hari dimana kami bermain-main pada era jahiliyyah.”

Nabi: “Allah telah mengganti yang lebih baik untuk kalian. Namanya hari raya ‘Idul Adha dan ‘Idul Fitri.”

Ada hikmah yang besar dalam peristiwa terswbut, dimana kata syaikh ‘Ali bin Ahmad Al-Jurjawi,”Agama islam tidak pernah melarang hari raya umat islam. Mengakuinya apa adanya, namun jika ada penyimpangan dari agama dan adab disana, islam ‘memperindahnya’ dan menyempurnakannya. Jika tidak, maka islam menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik.”(ᵍ)

 

Diyat akan mengingatkan para sejahrawan, atau pengkaji fan sejarah timur tengah tentang kisah lama tentang “balas dendam” di era jahiliyyah. Diyat adalah bahasa lamayang kemudian dilestarikan dalam islam. Diyat islam memainkan peran yang sama dengan diyat jahiliyyah. Lalu salah satu yang menjadi identitas ada;ah pembayar diyat dalam islam merupakan ahli waris ‘aqilah(ᶦ). Dimana oleh syari’, sisi semangat kesukuan bangsa arab yang bahu membahu membantu terpidana, sang tersangka pembunuhan yang merupakan anggota keluarganya sendiri untuk mencegah pihak keluarga korban mendapatkan haknya diubah menjadi semangat bahu-menbahu untuk membantu menyelesaikan masalah baik-baik, dengan turut serta melunasi tanggungan diyat yang harus dibayar. Lewat sumbangsih unta-unta yang mereka punya tentunya, atu untuk zaman sekarang, qimâh, atau nominalnya. Banyak cerita-cerita tentang diyat pra islam, dimana waktu itu, ada seorang kabilah Gani yang membunuh Syasy bin Zuhair. Maka datanglah Zuhair, ayah korban untuk menuntut balas kepada kabilah Gani. “apa kehendakmu atas kematian Syas?” Zuhair menjawab, “Satu dari tiga hal dan tak bisa diganti. Menghidupkan kembali Syas, atau mengisi selendangku dengan binatang-binatang langit, atau serahkan kepadaku semua anggota kabilah Gani untuk aku bunuh semuanya. Dan sebelum itu, aku belum merasa mengambil sesuatu atas ganti rugi kematian Syas

 

Islam juga mengahpus eksistensi beberapa budaya yang menyimpang secara total. Sejarah diharamkannya khamr, arak adalah kisah yang sangat terkenal dan dijadikan i’tibar bagi tokoh pemimpin dimasa kemudian, dimana untuk menghapus suatu kebiasaan yang mutlak mendarah daging harus bertahap, jika tidak justru akan timbul dua kemungkinan buruk, rakyat yang menolak secara total, atau kegagalan itu sendiri. Alquran “menyindir” khamr dalam empat ayat yang diturunkan bertahap. konon suatu ketika, putra dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz (w. 720 ) mengusulkan kepada ayahnya untuk memberantas korupsi secara serempak, tegas, dan tuntas. sang khalifapun berkomentar, “Jika aku mengambil tindakan derastis bahkan untuk maksud baik sekalipun, dan memaksakan hal tersebut kepada orang-orang secara serentaak, aku takut akan terjadi pemberontakan dan kemungkinan bahwa mereka akan menolak serentak juga.

 

Pada Akhirnya

Penting untuk mengetahui batas-batas antara mana yang diperbolehkan dan mana yang dilarang. Untuk kemudian bertransformasi dan membaur dengan budaya yang berkembang. Jika budaya menabrak pakem maka tak ada alasan untuk mempertahankannya. Namun masih ada solusi, mengubahnya agar berjalan sesuai doktrin agama. Karena budaya adalah salah satu unsur terpenting dalam masyarakat, dimana pilar-pilar keteguhan masyarakat terbangun dari keteraturan yang biasanya mereka lakukan. Bahkan menjadi “berdosa” rasanya jika harus meninggalkan tradisi bagi mereka.

Tentu untuk mengenalkan islam yang hakiki kepada mereka butuh strartegi. Raden Syahid, atau Sunan Kalijogo mengubah wayang Purwo yang sebelumnya berupa wayang golek, membuat seni ukir bermotif bunga dan dedaunan yang sebelunya dibuat dengan motif gambar manusia dan hewan. Sunan Kudus merasa enggan untuk menyembelih sapi, bentuk toleransi beliau kepada masyarakat kudus yang semula beragama Hindu. Beberapa bangunan masjid, seperti Masjid Demak, dan Masjid Banten, dibuat meniru arsitektur kuno Majapahit. Kiita belajar kepada walisongo yang menyebarkan islam dengan baik-baik. Bersikap toleran kepada kearifan lokal, hingga dengan sendirinya masyarakat akan penasaran dengan islam itu sendiri.

Akhirnya, kembali kepada kita bagaimana akan bersikap. Mengenalkan islam dengan cara yang baik kepada pemeluk agama lain, agar semakin banyak yang tertarik dan menaruh simpati kepada islam. Mereka dengan sendirinya akan membuat konklusi,bahwa islam adalah agama yang penuh damai dan toleransi. Menjaga kerukunan dan jauh dari citra buruk bahwa islam identik dengan kekerasan.

Lalu jika kita terlalu, egois dan cenderung menjaga jarak dengan pemeluk agama lain, maka lewat siapa lagi mereka akan mengenal islam yang sejati?[]

 

 

 

(ᵃ) Hujjatul bâlighah: jilid 1. Hal. 284. Cet. Dârul fikr.

(ᵇ) AlSyifâ, bita’rifi huquql musthafa. Maktb. Syamilah11:200

(ᵈ) Dikutip dalam i’anah thalibin jilid 2. Hal. 82/ cet. Thoha putra.

(ᵉ) Ihya’ Ulumuddin. Jilid 1. Hal. 132-134 cet. Darul Fikr.

(ᶠ )Periksa Mukhtashor Syama’il Al Muhammadiyyah, hal. 13

(ᵍ) Hikmah al-tasyri’ wa falsafatuh: jilid 1. Hal, 92 cet. Darul fikr.

(ᶦ) Ahli waris yang menaggung ‘aql, sinonim dari kata Diyat itu sendiri. Lih:I’anah tholibin. Juz 4. hal124

Pesantren, Islam dan Budaya Global

Pesantren adalah lembaga pendididkan yang lahir dan berkembang seiring derap langkah dalam masyarakat global dewasa ini. Dari keunikan konsep yang dijalankan pesantren, baik dari gaya belajarnya, gaya bermasyarakatnya, ataupun gaya berinteraksi antara santri dan kiai. Pesantren akhirnya memiliki pola yang spesifik. Itulah sebabnya KH. Abdurrahman Wahid memposisikan pesantren sebagai subkultur dalam pelataran masyarakat dan bangsa Indonesia.

Dalam perkembangan selanjutnya institusi pesantren telah berkembang sedemikian rupa sebagai akibat dari persentuhan dengan polesan-polesan zaman sehingga kemudian melahirkan persoalan-persoalan krusial dan dilematis. Di tengah banyaknya ekspresi-ekspresi (tampilan) model keberagamaan yang tampil di tengah masyarakat, adalah wajar jika, santri keluaran pesantren dituntut untuk bisa beradaptasi dengan masyarakat dalam upaya penyebaran ilmu agama Islam yang sudah mereka dapatkan saat di pesantren tersebut. Karena Islam dan budaya adalah dua sisi yang tak dapat dipisahkan.

Dalam pemaparan di atas maka dapat dipahami bahwa, pesantren sebenarnya bukan dari Islam. Akan tetapi lebih tepat kita katakan sebagai bagian dari budaya Indonesia. Dan pesantren hanya ada di Indonesia. Kalau kita melihat sejarah, sebenarnya pesantren adalah salah satu dari strategi Wali Songo dalam mendakwahkan Islam. Dalam penyebarannya, Wali Songo telah mampu mengemas dakwahnya dalam bentuk pesantren, yang sehingga dari apa yang ditampilkan Wali Songo  Islam dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Karena Islam ditampilkan dalam bentuk yang tidak asing di masyarakat.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Sementara Islam adalah agama yang fitrah dan rahmatan lil alamin. Fitrah adalah dorongan yang sudah tertanam di dalam diri manusia untuk menemukan Tuhan. Dorongan hati (fitrah) itulah yang menyebabkan manusia menyerahkn diri (Islam) kepada Allah. Islam melihat manusia sebagai makhluk yang secara fitri telah mengandung unsur-unsur baik, dan tugas dari agama Islam sendiri adalah untuk menjaga, memunculkan, dan mengembangkan kebaikan itu.

Nabi Muhammad SAW. sendiri diutus karena untuk menyempurnakan akhlak. Kata-kata menyempurnakan akhlak di sini mengindikasikan bahwa sebelum diutusnya Rasulullah SAW. akhlak atau kebaikan itu sebenarnya sudah ada, namun belum sempurna. Dan Rasulullahlah yang menyempurnakan akhlak/kebaikan itu agar sesuai dengan konsep Islam. Tentunya banyak perspektif dalam menanggapi kebaikan itu sendiri. Karena, kebaikan dalam suatu daerah belum tentu baik di daerah lainnya.

Menurut Al Ghazali, dalam upaya mencapai kebahagiaan, manusia selalu terancam oleh “kecintaan terhadap nafsu” yang dapat menghalanginya mengikuti fitrah. Dalam rumusan Al Ghazali tersebut maka, dapat dipahami bahwa, sepanjang nilai atau sistem dalam masyarakat tidak bertentangan dengan keyakinan Islam, maka ia mempunyai potensi untuk diarahkan atau dikembangkan agar selaras dengan tujuan-tujuan dalam Islam.

Maka dari itu, di saat banyaknya corak kehidupan yanga ada dalam masyarakat kita, yang sudah dipengaruhi oleh zaman globalisasi, kita sebagai santri sudah semestinya harus memahami persoalan-persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat dewasa ini.

KH. Abdul Aziz Mansur mengistilahkannya “santri harus jadi paku”. Artinya santri harus peka terhadap lingkungan masyarakat yang ada. Karena, jika santri sampai tidak memahami keadaan masyarakat sekitarnya, maka ia akan kesulitan dalam menyebarkan ilmunya. Bisa-bisa karena ketidakpahamannya terhadap lingkungan, yang ditimbulkan bukanlah kemashlahatan melainkan madhorot di tengah masyarakat. Yang jelas-jelas tidak sesuai dengan konsep Islam rahmatan lil alamin.

Islam adalah agama yang fleksibel. Artinya Islam bisa diterapkan di daerah mana pun. Dan hukum bisa berubah mengikuti waktu. Maka dari itu, di saat kita kesulitan menerapkan hukum, sangatlah wajar jika diperlukannya kontekstualisasi hukum atau fiqih baru. Karena bisa jadi hukum ulama dulu tidak bisa diterapkan pada waktu sekarang ini atau kurang sesuai jika diterapkan di lingkungan kita. dan karena hal ini bisa-bisa malah menimbulkan madhorot, sementara, menolak kerusakan lebih baik dari pada melakukan kebaikan (daf’ul mafasid afdholu an jalbil masholih). Wallahu a’lam …

Penulis, BZR, Chodim Harokah