HomeAngkringGolden Couple: Setitik Makna Syair Gundul Pacul

Golden Couple: Setitik Makna Syair Gundul Pacul

0 0 likes 71 views share

Gundul-gundul pacul cul gembelengan

Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan

Wakul gelimpamg segane dadi sak latar

Wakul gelimpamg segane dadi sak latar

Syair klasik yang telah jarang terdengar ternyata di dalamnya tidak hanya terkandung sebuah estetika dan hiburan semata. Dalam liriknya tersirat nasihat bagi seorang pemimpin. Ibaratkan sang pemimpin yaitu Ulama dan Umara adalah yang ‘nyunggi wakul’, penopang utama persatuan berbagai elemen manusia dari yang kecil sampai yang besar dari kasta rendah ke kasta tinggi.

Bedanya, Umara mengatur, mengorganisir semua. Menempatkan pada sebuah wadah formal yang mana dalam pembuatannya umara harus memperhatikan kapasitas dan kualitas tentunya. bagaimana sebuah wadah itu harus menjadi se efesien mungkin, senyaman mungkin dan terjaga keamanannya. Semua dalam lingkup kekuasaan yang sudah tertuang dalam hukum tata negara yang sah dan absolut.

Baik ulama maupun umara keduanya sama-sama menjadi tokoh masyarakat. Ulama diikuti dan disegani karena nilai keluhuran ilmunya dan pengabdian utama untuk menyyebarkan norma-norma agam berdedikasi tinggi mengumpulkan masyarakat dalam majelis non-formal untuk mendidik batiniah dengan pedoman yang bersanad sampai nabi Muhammad saw.

Tatkala ulama mampu mendidik masyarakat dengan ilmu dan barokah keikhlasan tentunya. dengan penunjang yang mendukung dari umara. Hasil ini akan memudahkan umara menata masyarakat yang telah dipondasi dengan nilai kebaikan dari agama. Saling melengkapi,saling membantu, bahu membahu menyelami masyarakat dengan berbaur, bersama mencoba mengerti kemauan masyarakat menjadi kesatuan ‘nyunggi wakul’  sehingga mendekatkan realisasi yang konkrit yaitu bangsa yang aman-damai-sentosa.

Maka dari itu, sangat dibutuhkan keduanya untuk saling terhubung, no mis komunikasi,karena harfiahnya pasangan ini adalah indikator kesuksesan golden couple  yang mana dengan adanya kerjasama yang baik dan konstan tentunya. masa jaya keemasan tak kan hanya jadi mimpi belaka.

Namun jika sang ‘nyunggi wakul’ sampai terjadi berbeda langkah, berlawanan, ibarat kaki kiri dan kanan yang tidak saling menjaga lagi maka terjadilah ‘wakul ngglimpang segone dadi sak latar’ tiang penopang jatuh, masyarakat bak nasi yang berantakan hingga jauhlah kata damai dalam ingatan!

Oleh:Rohmania Nurul F. kelas 2 Tsanawiyah PP Putri Hidayatul Mubtadi-aat asal Malang.