Tag Archives: HAUL

Peringatan Haul Ke-6 KH. Imam Yahya Mahrus

Lirboyonet, Kediri– Malam tadi (11/11) merupakan puncak dari segala deretan acara memperingati Haul ke-6 KH. Imam Yahya Mahrus sang pendiri Pondok Pesantren HM Mahrusiyah, acara yang dimulai sejak Ahad (05/11) itu ditutup dengan pengajian umum dan reuni akbar. Seluruh rangkain acara tersebut diselenggarakan di Ponpes Al- Mahrusiyah III yang berada di Ngampel Kediri.

Pengajian Umum diawali dengan pembacaan yasin Oleh KH. Nurul Huda dan disambung dengan bacaan tahlil oleh KH. Anwar Manshur, berikutnya merupakan sambutan dari tuan rumah yang disampaikan oleh KH. Reza Ahmad Zahid, beliau menceritakan tentang pesan dari KH. Aziz Manshur saat beliau sowan kesana “kita harus tetap mensukseskan program himasal” karena itu Ponpes. HM Al- Mahrusiyah telah melaksanakn Musyawaroh besar II ISTIKMAL untuk membahas bagaimana alumni bisa untuk menjadi bagian Ponpes. Lirboyo dan Himasal.

Dalam sambutan beliau KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus yang merupakan agenda sambutan pengasuh Ponpes. Lirboyo beliau berpesan kepada seluruh hadirin untuk “tetaplah konsisten walaupun sudah menjadi kiyai tetaplah sebagai santri, karena santri akan menjadi kiyai prosesnya harus lewat pesantren dan kita diajar oleh guru serta kiyai kita di pesantren” dan “guru adalah orang tua kita yang bisa menyelamatkan kita dari api neraka” tambah beliau.

Acara malam tadi juga dihadiri petinggi Bank BNI Syar’iyah dari Jakarta yakni Bpk. Firman, kedatangannya selain bersilaturrahmi dan sowan ke makam KH. Imam Yahya Mahrus juga mengajak para santri untuk membangun perekonomian di Indonesia karena melihat masih minimnya orang-orang islam di Indonesia menjalani perbankkan Syar’iyah. Tidak hanya itu dari BNI Syar’iyah juga memberikan kartu santri yang bisa digunakan untuk transaksi jual beli nantinya bisa untuk membeli di Alfamart dan lain-lain.

Agus Ali Mashuri dari sidoarjo memberikan petuah dalam acara haul malam tadi, beliau menjelaskan tentang racun hati yang begitu membahayakan dan racun itu timbul dari lisan karena lisan merupakan juru bicara hati, racun hati yang kedua adalah kenyangnya perut, seorang sufi besar pernah mengatakan “kebijaksanaan tidak akan masuk kehati orang manapun kala perut banyak makanan”. Racun berikutnya yakni salah bergaul atau salah memilih teman, kata beliau “sikap, mental, kepribadian seseorang dipengaruhi oleh teman” dan “jika ingin sukses maka bergaulah dengan teman yang soleh”.

Tidak hanya KH. Agus Ali Mashuri yanng memberikan mauidoh pada acara malam tadi akan tetapi masih ada mauidoh yang disampaikan Al Habib Abdurrohman dari Mesir beliau menjelaskan tentang pentingnya memperingati haul atau berziarah kubur karena “dengan peringatan haul ini dapat memperbaharui hubungan antara guru dan kita sebagai murid”, “hubungan kita dengan orang soleh tidak akan terputus ketika kita selalu mengingat walaupun mereka telah meninggal”tambah beliau. Ada 3 manfaat do’a yang juga disampaikan beliau “yang pertama hal tersebut menjadi sebuah ampunan dari Allah SWT. yang kedua sebuah bentuk berbakti kepada orang tua dan yang terakhir satu cara agar guru kita tetap mengingat kita”.

Setelah acara yang ditutup dengan do’a, seluruh masyayikh dan para hadirin berziarah ke makam KH. Imam Yahya Mahrus yang bertempat di barat Masjid Al- Mahrusiyah III.

Haul KH. Marzuqi Dahlan

LirboyoNet, Kediri – Cuaca sejuk dan udara dingin menyelimuti suasana khidmat haul KH. Marzuqi Dahlan kamis malam jumat kemarin (10/08). Bertempat di ndalem timur KH. A. Idris Marzuqi, acara ini dihadiri ratusan tamu undangan. Tamu-tamu yang datang termasuk ulama dan kiai di sekitar kota Kediri, dzurriyah KH. Abdul Karim, masyarakat desa Lirboyo, dan pengurus pondok.

Ini merupakan haul beliau yang ke-42 tahun. Beliau wafat pada 18 Nopember tahun 1985 M, atau bertepatan dengan 14 Dzulqa’dah 1395 H. Selain memperingati haul KH. Marzuqi Dahlan, malam kemarin juga sekaligus menjadi peringatan haul Hj. Maryam binti KH. Abdul Karim yang merupakan istri beliau, dan segenap dzurriyah KH. Marzuqi Dahlan yang telah wafat.

Seperti umumnya peringatan haul, acara dibuka dengan pembacaan wasilah dan tawassul kepada nama-nama yang hendak di hauli. Dilanjutkan dengan bacaan surat yasin, tahlil, dam ditutup doa.

Seperti kita ketahui, KH. Marzuqi Dahlan merupakan penerus Ponpes Lirboyo sepeninggal KH. Abdul Karim. Beliau merupakan putra dari KH. Dahlan Jampes, dan masih terikat hubungan saudara dengan Syaikh Ihsan, penulis kitab Sirajut Thalibin. Salah satu petuah beliau yang masih dikenang hingga hari ini adalah amanat untuk terus menyebarkan ilmu, bagaimanapun dan apapun kondisinya. “Nek ting griyo, senajano iku opo wae, kitab cilik, kitab gede, senajan onten santrine nopo mboten, senajano mung loro, tetep sampean ngaji mawon, ojo lali ngaji.” (kalau di rumah, meski bagaimanapun, kitab yang kecil, kitab yang besar, meskipun ada santrinya atau tidak, tetaplah kamu mengaji, jangan lupa mengaji.)

Semoga berkah dari beliau dapat kita rasakan terus sampai kapanpun.

Haul Hj. Ummi Kultsum binti KH. Mahrus ‘Aly

LirboyoNet, Kediri- Memperingati jasa dan perjuangan orang yang telah meninggal dunia bisa dilakukan dengan beragam cara. Mengadakan peringatan haul adalah salah satunya. Kata haul berasal dari bahasal Arab al-haul, berarti “tahun”, dimaknai di bumi nusantara sebagai peringatan tahunan kepergian orang yang tercinta. Acara yang telah mengakar di masyarakat ini biasa diadakan setiap satu tahun sekali. Umumnya dilangsungkan tepat pada hari kepergian almarhum atau almarhumah.

Kamis malam Jumat kemarin (08/03), diperingatilah haul Hj. Ummi Kultsum. Beliau merupakan putri ketiga KH. Mahrus ‘Aly, penerus ponpes Lirboyo sepeninggal KH. Marzuqi Dahlan. Beliau juga merupakan istri dari KH. M. Anwar Manshur. Ini merupakan haul beliau yang ke 21 tahun. Beliau wafat pada 21 Maret 1997 M, atau bertepatan dengan 18 Dzulqa’dah 1395 H.

Haul yang berjalan khidmat ini diadakan di ndalem KH. M. Anwar Manshur. Dihadiri oleh segenap dzurriyah  KH. Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo, dan beberapa tamu undangan. Termasuk beberapa tokoh kiai dan ulama di sekitar Kota Kediri.

 “Niki nilingaken  kulo lan panjenengan sedoyo, anggenipun narbiyyah dateng poro putro monggo kito tambah-tambah. Kersane anak kito dados waladun shôlihun yad’û lahû naliko ba’danipun kito sampun sedo. Sebab sing diarep-arep nggih namung niku. Urip nduwe shodaqoh, gadah amal jariyah, nduwe ilmu diwulangaken, lan nduwe anak sing gelem ndungaaken wong tuo. Sing diarep-arep namung niku. Mulo mugi sedanten kito dipun paringi ingkang kados meniko.” (Sekedar mengingatkan untuk saya dan anda semua. Dalam mendidik anak kita tingkatkan. Supaya anak kita kelak menjadi anak saleh yang mau mendoakan orang tuanya setelah orang tuanya meninggal dunia. Sebab yang diharapkan hanya itu. Hidup punya sedekah, punya amal jariyah, punya ilmu kemudian disebarkan, dan punya anak yang mau mendoakan orang tuanya. Semoga kita semua diberikan hal seperti itu.) Demikian dawuh KH. M. Anwar Manshur. ][

Al-Dhomîr fî al-Dhomîr

Meskipun usia KH. Maimoen Zubair sudah sangat sepuh, beliau masih dapat mengingat dengan jelas banyak kenangan-kenangan beliau ketika masih mondok di Ponpes Lirboyo.

Salah satu kenangan beliau yang sempat beliau ceritakan dalam haul dan haflah akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo Jumat (05/05) kemarin, adalah pengalaman mengaji dengan KH. Abdul Karim, pendiri Ponpes Lirboyo. Memang, beliau yang sering dikenal dengan Mbah Moen merupakan salah satu alumni senior yang masih menangi (menjumpai) KH. Abdul Karim, dan sempat mengaji langsung dengan KH. Abdul Karim.

Beliau ketika mengaji dulu, memilih tempat duduk di belakang KH. Abdul Karim, atau lebih akrab dengan nama Mbah Manab. Sementara di depan beliau, Mbah Manab menghadap para santri dan membacakan kitab. Salah satu kekaguman Mbah Moen adalah tentang kitab Mbah Manab yang kosongan, tidak ada maknanya.  Namun dapat beliau baca dengan lancar.

Kulo nek ngaji neng mburine Mbah Manab, ambek ndelok. Kulo gumun, Mbah Manab niku ora koyo kiai akeh. Ora ono kiai koyo Mbah Manab. Ora tau nggowo Munjid, ora tau nggowo qomus. Gak tau mikir makno.” (Saya kalau mengaji di belakang Mbah Manab. Sekalian melihat kitab beliau. Saya heran, Mbah Manab itu tidak seperti kebanyakan kiai lainnya. Tidak ada kiai yang seperti Mbah Manab. Beliau tidak pernah membawa Munjid, tidak pernah membawa kamus, tidak pernah memikirkan makna.) Kenang Mbah Moen.

“Tak delok sampek nek mburine, gak ono sah-sahane. Neng aku msuykil, kok gak tau gelem ngrujuki dhomir.” (Saya lihat kitab beliau sampai dibelakang beliau. Tidak ada maknanya. Tapi saya merasa janggal, kok beliau tidak pernah memberikan rujuk dhomir.) Lanjut Mbah Moen. Ruju’ dhomir merupakan bahasa khas pesantren,  yang maksudnya adalah kembalinya kata ganti orang kedua atau orang ketiga.

“Wahuwa, utawi iyo. Wa dzalika, utawi mengkono-mengkono.”Ungkap Mbah Moen menirukan gaya khas membaca kitab Mbah Manab, yang segera disambut tawa riuh hadirin.

Beliaupun akhirnya menanyakan hal tersebut kepada santri-santri senior lain. Ternyata dahulu Mbah Manab pernah menjawab hal tersebut.

“Sampek tak takok-takok, jawabe Mbah Manab niku (Sampai saya bertanya-tanya, jawaban Mbah Manab adalah), ‘al-dhomir fi al-dhomir. Faman lam ya’rif marji’a al-dhomir, falaisa lahu dhomir.’” Kata Mbah Moen.

“Wong kok ngaji ora ruh rujuke dhomir, gak nduwe ati.” Tandas Mbah Moen menerjemahkan dawuh Mbah Manab yang berbahasa Arab tersebut. Dawuh singkat Mbah Manab tersebut beliau artikan sebagai, “Orang yang mengaji tapi tidak tahu ruju’ dhomir, berarti tidak punya hati.”.

Itu tadi sekelumit kisah-kisah unik kiai salaf dalam mendidik santri. “Di pesantren itu sudah biasa guru hanya mengaji saja, membaca saja, tidak diterangkan. Namun muridnya malah lebih alim, bisa menerangkan. Itu banyak sekali,” tutur KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dalam suatu kesempatan yang lain.[]

Dawuh Mbah Mun dalam Haflah 1438 H.

Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien 2017 Jumat (05/05) kemarin, dihadiri oleh KH. Maimun Zubair, kiai sepuh pengasuh Ponpes Al-Anwar, Sarang Rembang Jawa Tengah. Beliau hadir untuk memberikan siraman rohani bagi para hadirin. selain juga beliau datang sebagai alumni. Berikut beberapa kutipan maqolah beliau di acara malam hari itu:

 

“Kadang wong Islam iku dirubah gak kroso, kabeh katut opo zamane.”

Terkadang, orang Islam dirubah tidak merasa. Mereka semua terhanyut oleh aliran zaman.

 

“Elek apik seko Allah, sing ngatur yo Allah.”

Semua kebaikan itu datang dari Allah. Yang mengatur semuanya adalah Allah.

 

“Wong sing tawakkal menyang Allah tenan, Allah sing nyukupi.”

Manusia yang tawakkal, berpasrah diri kepada Allah dengan sungguh-sungguh, Allah lah yang nanti akan mencukupi keadaannya.

 

“Wong sing slamet iku wong sing netepi tindakane kanjeng Nabi, lan sohabat-sohabate.”

Manusia yang selamat, adalah mereka yang teguh menjalankan apa yang telah dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

 

“Jowo okeh kiaine mergo katah turunane kanjeng Nabi sing ora nasab.”

Di Jawa ada banyak kiai, karena banyak keturunan Nabi saw. yang tidak bernasab.

 

“Allah ndamel kedhidupan wong Islam saben tahun berubah. Jenenge mujadid. Ngurip-ngurip madzhab salaf, tapi jangan sampai bertentangan dengan zaman sekarang.”

Allah merubah kehidupan orang Islam setiap tahunnya. Itulah yang dinamakan mujaddid (pembaruan). Seorang muslim harus menghidupkan madzhab salaf (kuno), tapi jangan sampai bertentangan dengan zaman sekarang.][