Tag Archives: KH. Anwar Manshur

Penutupan Konferwil PWNU Jawa Timur

LirboyoNet, Kediri- (29/07/18) Agenda limatahunan Konferwil PWNU Jatim berakhir dengan terpilihnya KH. Marzuqi Mustamar selaku ketua Tanfidziah PWNU Jawa Timur. Prosesi penghitungan suara yang bertempat di Aula Muktamar itu berjalan lancar tanpa ada hambatan.

Dalam keterangannya kepada para wartawan, KH. Marzuqi Mustamar yang juga pengasuh PP Sabilurrosyad Gasek Malang itu menyampaikan bahwa diantara yang beliau tekankan dalam masa pengabdiannya nanti adalah peningkatan kualitas lembaga-lembaga dan banom-banom yang berada di bawah naungan NU. Terkait UMKM yang merupakan terobosan dari ketua Tanfidz sebelumnya yakni KH. Hasan Mutawakkil Alallah, KH. Marzuqi Mustamar memaparkan bahwa program tersebut merupakan program brilian yang harus terus digalakan karena terkait dengan kepedulian NU terhadap masyarakat.

Dalam mewujudkan tema besar yang diusung Konferwil pada kali ini yaitu ‘Meneguhkan Kembali NU Sebagai Payung Bangsa’ beliau mengagendakan kaderisasi yang nantinya akan ada inventarisasi para pelajar-pelajar NU yang unggul, “Agar nantinya tidak diambil oleh pihak-pihak lain yang tidak sejalan dengan NU dan NKRI.” Begitu tutur beliau.

Sementara itu Musyawaroh AHWA yang beranggotakan KH. Nawawi Abdul Jalil Sidogiri, KH. Nurul Huda Jazuli Ploso, KH. Kholil As’ad Situbondo, KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus Lirboyo, KH. Ubaidillah Faqih langitan, KH. Agoes Ali Masyhuri Bumi Sholawat dan KH. Syafi’udin Wahid Sampang meng-amanah-kan kepada Romo KH. Muhammad Anwar Manshur Lirboyo untuk kembali menjadi Rais Syuriah PWNU Jawa Timur.(IM)

Tradisi Bersalaman dengan Guru ala Santri

Setiap selesai shalat Jumat, santri Lirboyo membiasakan diri untuk ikut tahlil bersama di makam para pendiri dan pendahulu pondok ini. Biasanya rutinitas ini dipimpin langsung oleh KH. M. Anwar Manshur. Selepas wiridan dan melaksanakan shalat badiyah Jumat, beliau langsung menuju makam keluarga yang terletak tepat di belakang Masjid Agung Lirboyo.

Sebelum beliau tiba di lokasi, para santri sudah memenuhi area. Bahkan, tak sedikit santri yang tidak mendapatkan tempat duduk. Ada sebagian santri yang mengikuti tahlil dari dalam kamarnya sendiri. Karena selain tempat tidak mencukupi, speaker yang menggemakan suara tahlil bisa terdengar sampai kamar.

Sesaat sebelum tahlil bersama usai, ada petugas khusus yang menyiapkan kursi untuk beliau yang di letakkan di samping pintu keluar masjid bagian barat. Di situlah beliau menerima bersalaman dengan para santri hingga usai.  Sebelum beliau beranjak dari makam, para santri sudah bergegas memasang sajadahnya ke tempat yang akan dilewati oleh beliau, agar terkena pijakan kaki beliau. Kenapa harus begitu? mereka ingin ngalap berkah kepada ulama sekaligus guru mereka.

Setelah beliau duduk di kursi, serentak kang-kang santri meraih tangan beliau dan menciumnya. Satu-persatu dengan telaten. Beliau melayani semua santri yang ingin berjabatan hingga usai. Padahal, musafahah ini berlangsung tidak kurang dari setengah jam.

Para santri jelas mempunya banyak tujuan untuk bersalaman, yang jelas bersalaman merupakan tindakan sunnah dan banyak sekali fadlilahnya, sabda beliau Nabi Saw :

Para Sahabat Nabi sewaktu beliau masih sugeng juga membiasakan berjabat  tangan dengan beliau, dengan harap mendapatkan berkah beliau. Sebuah riwayat mengatakan :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

“Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِهِ يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ. رواه البخارى

“Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulullah. Aetelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing. Begitupun saya, menyalami tangan Nabi dan mengusapkan ke wajah.” (H.R. Bukhari, hadits ke 3360).

Tawaran menggiurkan dari Nabi juga sangat menarik untuk membudayakan bersalaman:

“Sesungguhnya dua orang Islam jika bertemu terus bersalaman dan saling menanyakan (khabar), maka Allah menurunkan diantara keduanya 100 rahmat, yang 99 rahmat bagi yang lebih berseri-seri, lebih ceria, lebih baik dan lebih bagus pertanyaannya”. (HR. Thabrani, dha’if).

Salah satu spirit khusus kenapa disyariatkannya bersalaman, yakni dengan bersalaman kepada sesama, seseorang akan merasa lebih dekat. apalagi bersalamannya orang yang pernah berbuat salah, akan mencairkan suasana yang semula beku.

Dari Ibnu Umar diceritakan,”Saling bersalamanlah kamu, maka akan hilang dengki dari hati kamu” (HR. Ibnu ‘Addy, Imam Malik).

Ternyata bersalaman bukanlah kebiasaan orang arab. Saat penduduk Yaman datang, Nabi Saw bersabda, “Penduduk Yaman telah datang, mereka adalah orang yang hatinya lebih lembut dari pada kalian.” Anas bin Malik ra. berkomentar tentang sifat mereka: “Mereka adalah orang yang pertama kali mengajak untuk berjabat tangan.” (HR. Ahmad, Shahih).

Komentar para ulama tentang bersalaman juga banyak sekali, Imam ‘Izzuddin (Al ‘Izz) bin Abdussalam berkata:

“Bid’ah-bid’ah mubahah (bid’ah yang boleh) contoh di antaranya adalah: bersalaman setelah subuh dan ‘ashar, di antaranya juga berlapang-lapang dalam hal-hal yang nikmat  berupa  makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal,   melebarkan pakaian  kebesaran ulama,  dan melebarkan lengan baju.” (Qawaid Al Ahkam fi Mashalihil Anam, 2/173).

Imam An Nawawi ra. juga berkata:

“Ketahuilah, bersalaman merupakan perbuatan yang disunahkan dalam keadaan apa pun. Ada pun kebiasaan manusia saat ini bersalaman setelah shalat subuh dan ‘ashar, maka yang seperti itu tidak ada dasarnya dalam syariat, tetapi itu tidak mengapa. Karena  pada dasarnya  bersalaman adalah sunah, dan keadaan mereka menjaga hal itu pada sebagian keadaan dan mereka berlebihan di dalamnya pada banyak keadaan lain atau lebih dari itu, pada dasarnya tidaklah keluar dari bersalaman yang ada dalam syara’.” (Raudhatuth Thalibin, 7/438).

Jadi bersalamannya para santri Lirboyo dengan para masyayikh selepas shalat Jumat sudah barang tentu mengandung banyak pahala, keutamaan sekaligus fadlilah. Apalagi ini dilakukan di hari Jumat, yang merupakan sayyidul ayyam (raja para hari) dan di dalamnya terdapat maqam mustajab yang sangat ampuh untuk berdoa, meskipun banyak versi menyangkut hal ini karena memang dirahasiakan oleh Allah SWT, sebagian ulama mengatakan waktu itu adalah selepas shalat Jumat, ada pula yang mengatakan pada waktu ashar dan lainnya.

Lebih dari pada itu, yang terutama lagi adalah mengais pertolongan beliau-beliau kelak di akhirat, karna jaminan dari sabda Nabi Saw. :

مَنْ صَافَحَنِي أَوْ صَافَحَ مَنْ صَافَحَنِي اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa bersalaman denganku atau bersalaman dengan orang yang bersalaman dengan orang yang bersalaman denganku -dan seterusnya- sampai hari kiamat maka ia akan masuk surga.”

Semoga kita tergolong dari hadis ini, amiin. Wassalam [ABNA]

Sejarah Madrasah Putri Hidayatul Mubtadi-aat (MPHM)

AWAL BERDIRINYA MPHM

Pada awal berdirinya, jenjang pendidikan di MPHM hanya sampai tingkat Ibtidaiyyah, memasuki tahun ajaran 1409-1410 H./1989-1990 M. menambah tingkat tsanawiyyah, dan tahun ajaran 1414-1414 H./1993-1994 M. dibuka tingkat I’dadiyyah atau SP (sekolah persiapan) yang bertujuan menampung santri yang datangnya melewati batas akhir pendaftaran siswi baru pada awal tahun.

Pada tahun 2001 M. MPHM mengadakan jenjang lanjutan sebagai wadah siswi tamatan Tsanawiyyah (Mutakhorijat) yang disebut Al-Robithoh. Pada tahun 2004, istilah I’dadiyyah atau SP dibedakan statusnya dengan perincian, tingkat I’dadiyyah diperuntukkan bagi siswi yang tidak lulus tes masuk kelas 1 Ibtidaiyyah, sedangkan SP diperuntukkan  bagi siswi yang datang pada pertengahan tahun. SP dibagi menjadi II, SP I untuk siswi yang ingin masuk di kelas I,II,III Ibtidaiyyah dan SP II bagi siswi yang ingin masuk kelas IV,V,VI Ibtidaiyyah. Pada tahun ini pula jenjang Al-Robithoh yang dibarengi dengan Khidmah pada Pondok maupun Madrasah diwajibkan bagi siswi tamatan Tsanawiyyah sebagai persyaratan mengambil ijazah.

PERKEMBANGAN MPHM

Dalam perkembanganya MPHM pada tahun 1426-1427 H./2006-2007 M. menambah jenjang Pendidikan sampai pada tingkat ‘Aliyah, yang sebenarnya merupakan peralihan status tingkat Tsanawiyyah sebelumnya. Perubahan ini diikuti dengan pergeseran status tingkat sebawahnya, yang semula tingkat Ibtidaiyyah dan SP I,II kini menjadi kelas I,II dan III Ibtidaiyyah. Penambahan tingkatan ini berawal dari usulan Alumni P3HM tertuang dicetuskan ketika berlangsungnya Reuni Akbar I P3HM pada tanggal 03 Sya’ban 1425 H/ 07 September 2005 M. Tujuanya selain meningkat mutu pendidikan juga menyelaraskan dengan sistem pembelajaran yang berlaku secara Nasional.

 PROGRAM PENUNJANG  

Untuk menunjang proses belajar mengajar, MPHM mengadakan beberapa aktivitas, diantaranya:

WAJIB BELAJAR adalah program MPHM yang dilakukan pada pukul 14.00 WIs untuk tingkat ‘Aliyah dan pukul 20.00 WIs untuk tingkat Tsanawiyyah dan Ibtidaiyyah, system yang diterapkan adalah berkelompok dengan anggota 6-7 anak. Yang mana dalam program ini santri dituntut aktif dalam melengkapi makna, belajar memurodi dan membaca sesuai dengan teori Nahwu dan Shorof.

MUSYAWAROH adalah program yang dilaksanakan pada pukul 10.45 WIs bagi siswi tingkat ‘Aliyah dan pukul 13.45 WIs bagi siswi tingkat Tsanawiyyah dan Ibtidaiyyah. Tujuanya untuk  kreatifitas dan kualitas siswi dalam berdiskusi. System dalam kegiatan ini dipimpin oleh satu orang siswi untuk meroisi dan memoderatori dihadapan siswi yang lainnya, dan bagi siswi dituntut untuk mengutarakan pendapat dan menanggapi pendapat lain.

KOREKSIAN KITAB

Tulisan hanyalah sebuah goresan tinta yang tersusun pada selembar kertas, terukir layaknya tasbih, kini menjadi sebuah catatan yang sangat berarti, sebagai media yang sangat efektif untuk mengingat kembali materi palajaran yang telah diterima, oleh karena itu setiap menjelang ujian diadakan koreksian kitab dan buku, yang dikoordinir oleh segenap panitia koreksian dan dilaksanakan oleh segenap Asatidz, Asatidzah.

MUHAFADHOH

Hari yang mendebarkan laksana jam yang berdetak dalam kesunyian, melukiskan suasana hati ketika gendering Muhafadhoh telah ditabuh.

Kegiatan ini diadakan setiap menjelang ujian Akhirussanah dari tingkat VI Ibtidaiyyah sampai dengan tingkat ‘Aliyah dengan materi nadhom yang tengah dihadapi. Seperti Jauharul Maknun, Alfiyah Ibnu Malik, Imrithi dan lain-lainya. Tujuan dari program ini untuk membuktikan bentuk usaha siswi dalam satu tahun penuh menghafal, disamping itu menghafal adalah modal utama untuk memahami pelajaran, seperti yang telah didawuhkan beliau KH. M. Anwar Manshur beliau dawuh”” bahwasanya kepahaman itu bisa didapatkan setelah hafal. Maka dari itu Muhafadhoh juga menjadi persyaratan agar dapat mengikuti ujian. Dan metode dalam kegiatan ini, seorang Ustadz/Ustadzah menyimak hafalan sekitar 10-12 siswi secara bergilir.

SISWI TELADAN

Bentuk kepedulian MPHM untuk memberikan   semangat   tinggi   kepada   siswi dalam belajar, MPHM memberikan piagam penghargaan siswi teladan bagi siswi yang mempunyai semangat dalam belajar dan prilaku yang utama, dengan kriteria yang telah ditetapkan. Seperti keaktifan siswi selama satu tahun, prestasi belajar yang baik, patuh dalam peraturan dan berakhlakul karimah dalam kesehariannya. Yang mana penentuan siswi teladan ditentukan oleh pengurus kelas dan Rois ‘am dengan persetujuan Mustahiq, dan pemberian penghargaan untuk siswi teladan diberikan pada acara Haul Khataman Pondok Pesantren. Dengan adanya penghargaan ini agar siswi aktif dalam kegiatan MPHM dengan penuh Himmah.

Dari segi pendidikan, selama beberapa tahun ini banyak sekali prestasi yang telah disumbangkan para santri terhitung sejak tahun 2002 hingga sekarang tercatat berjumlah 36 prestasi  dari berbagai macam lomba seperti terlihat dalam tabel berikut ini :

tabel