HomeAngkringTradisi Bersalaman dengan Guru ala Santri

Tradisi Bersalaman dengan Guru ala Santri

0 0 likes 341 views share

Setiap selesai shalat Jumat, santri Lirboyo membiasakan diri untuk ikut tahlil bersama di makam para pendiri dan pendahulu pondok ini. Biasanya rutinitas ini dipimpin langsung oleh KH. M. Anwar Manshur. Selepas wiridan dan melaksanakan shalat badiyah Jumat, beliau langsung menuju makam keluarga yang terletak tepat di belakang Masjid Agung Lirboyo.

Sebelum beliau tiba di lokasi, para santri sudah memenuhi area. Bahkan, tak sedikit santri yang tidak mendapatkan tempat duduk. Ada sebagian santri yang mengikuti tahlil dari dalam kamarnya sendiri. Karena selain tempat tidak mencukupi, speaker yang menggemakan suara tahlil bisa terdengar sampai kamar.

Sesaat sebelum tahlil bersama usai, ada petugas khusus yang menyiapkan kursi untuk beliau yang di letakkan di samping pintu keluar masjid bagian barat. Di situlah beliau menerima bersalaman dengan para santri hingga usai.  Sebelum beliau beranjak dari makam, para santri sudah bergegas memasang sajadahnya ke tempat yang akan dilewati oleh beliau, agar terkena pijakan kaki beliau. Kenapa harus begitu? mereka ingin ngalap berkah kepada ulama sekaligus guru mereka.

Setelah beliau duduk di kursi, serentak kang-kang santri meraih tangan beliau dan menciumnya. Satu-persatu dengan telaten. Beliau melayani semua santri yang ingin berjabatan hingga usai. Padahal, musafahah ini berlangsung tidak kurang dari setengah jam.

Para santri jelas mempunya banyak tujuan untuk bersalaman, yang jelas bersalaman merupakan tindakan sunnah dan banyak sekali fadlilahnya, sabda beliau Nabi Saw :

Para Sahabat Nabi sewaktu beliau masih sugeng juga membiasakan berjabat  tangan dengan beliau, dengan harap mendapatkan berkah beliau. Sebuah riwayat mengatakan :

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

“Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِهِ يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ. رواه البخارى

“Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulullah. Aetelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing. Begitupun saya, menyalami tangan Nabi dan mengusapkan ke wajah.” (H.R. Bukhari, hadits ke 3360).

Tawaran menggiurkan dari Nabi juga sangat menarik untuk membudayakan bersalaman:

“Sesungguhnya dua orang Islam jika bertemu terus bersalaman dan saling menanyakan (khabar), maka Allah menurunkan diantara keduanya 100 rahmat, yang 99 rahmat bagi yang lebih berseri-seri, lebih ceria, lebih baik dan lebih bagus pertanyaannya”. (HR. Thabrani, dha’if).

Salah satu spirit khusus kenapa disyariatkannya bersalaman, yakni dengan bersalaman kepada sesama, seseorang akan merasa lebih dekat. apalagi bersalamannya orang yang pernah berbuat salah, akan mencairkan suasana yang semula beku.

Dari Ibnu Umar diceritakan,”Saling bersalamanlah kamu, maka akan hilang dengki dari hati kamu” (HR. Ibnu ‘Addy, Imam Malik).

Ternyata bersalaman bukanlah kebiasaan orang arab. Saat penduduk Yaman datang, Nabi Saw bersabda, “Penduduk Yaman telah datang, mereka adalah orang yang hatinya lebih lembut dari pada kalian.” Anas bin Malik ra. berkomentar tentang sifat mereka: “Mereka adalah orang yang pertama kali mengajak untuk berjabat tangan.” (HR. Ahmad, Shahih).

Komentar para ulama tentang bersalaman juga banyak sekali, Imam ‘Izzuddin (Al ‘Izz) bin Abdussalam berkata:

“Bid’ah-bid’ah mubahah (bid’ah yang boleh) contoh di antaranya adalah: bersalaman setelah subuh dan ‘ashar, di antaranya juga berlapang-lapang dalam hal-hal yang nikmat  berupa  makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal,   melebarkan pakaian  kebesaran ulama,  dan melebarkan lengan baju.” (Qawaid Al Ahkam fi Mashalihil Anam, 2/173).

Imam An Nawawi ra. juga berkata:

“Ketahuilah, bersalaman merupakan perbuatan yang disunahkan dalam keadaan apa pun. Ada pun kebiasaan manusia saat ini bersalaman setelah shalat subuh dan ‘ashar, maka yang seperti itu tidak ada dasarnya dalam syariat, tetapi itu tidak mengapa. Karena  pada dasarnya  bersalaman adalah sunah, dan keadaan mereka menjaga hal itu pada sebagian keadaan dan mereka berlebihan di dalamnya pada banyak keadaan lain atau lebih dari itu, pada dasarnya tidaklah keluar dari bersalaman yang ada dalam syara’.” (Raudhatuth Thalibin, 7/438).

Jadi bersalamannya para santri Lirboyo dengan para masyayikh selepas shalat Jumat sudah barang tentu mengandung banyak pahala, keutamaan sekaligus fadlilah. Apalagi ini dilakukan di hari Jumat, yang merupakan sayyidul ayyam (raja para hari) dan di dalamnya terdapat maqam mustajab yang sangat ampuh untuk berdoa, meskipun banyak versi menyangkut hal ini karena memang dirahasiakan oleh Allah SWT, sebagian ulama mengatakan waktu itu adalah selepas shalat Jumat, ada pula yang mengatakan pada waktu ashar dan lainnya.

Lebih dari pada itu, yang terutama lagi adalah mengais pertolongan beliau-beliau kelak di akhirat, karna jaminan dari sabda Nabi Saw. :

مَنْ صَافَحَنِي أَوْ صَافَحَ مَنْ صَافَحَنِي اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa bersalaman denganku atau bersalaman dengan orang yang bersalaman dengan orang yang bersalaman denganku -dan seterusnya- sampai hari kiamat maka ia akan masuk surga.”

Semoga kita tergolong dari hadis ini, amiin. Wassalam [ABNA]