Tag Archives: Kurban

Bolehkah Satu Kambing untuk Kurban Sekeluarga?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Maaf sebelumnya, sekarang ramai dibicarakan tentang pernyataan seorang ustad yang mengatakan bahwa satu ekor kambing boleh untuk kurban sekeluarga. Apakah hal tersebut benar? Mohon penjelasannya. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Shonhaji, Probolinggo


Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam menjawab fenomena ini, yang perlu dipahami adalah kesunahan berkurban dan pahala berkurban adalah dua hal yang berbeda.

Pertama, anjuran berkurban ditujukan kepada siapapun yang memenuhi syarat anjuran berkurban, dengan ketentuan satu ekor kambing untuk satu orang atau satu ekor unta maupun satu ekor sapi untuk tujuh orang. Sehingga apabila dilakukan oleh satu orang dalam satu keluarga, maka dapat menggugurkan hukum makruh bagi yang lainnya dalam keluarga tersebut. Imam an-Nawawi mengatakan:

تُجْزِئُ الشَّاةُ عَنْ وَاحِدٍ وَلَا تُجْزِئُ عَنْ أَكْثَرَ مِنْ وَاحِدٍ لَكِنْ إذَا ضَحَّى بِهَا وَاحِدٌ مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ تَأَدَّى الشِّعَارُ فِي حَقِّ جَمِيعِهِمْ وَتَكُونُ التَّضْحِيَةُ فِي حَقِّهِمْ سُنَّةَ كِفَايَةٍ

“Seekor kambing kurban mencukupi untuk satu orang, tidak lebih. Tapi kalau salah seorang dari anggota keluarga berkurban dengan satu ekor, maka cukuplah syiar Islam dalam keluarga tersebut. Ibadah kurban dalam sebuah keluarga itu sunah kifayah.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, VIII/397)

Kedua, dalam sudut pandang pahala, berkurban memiliki cakupan lebih luas, yakni setiap orang yang disertakan dalam mendapatkan pahala berkurban. Semisal berkurban yang pahalanya untuk seluruh keluarga. Imam Syihabuddin Ar-Ramli menjelaskan:

وَيُجْزِئُ الْبَعِيْرُوَالْبَقَرَةُ عَنْ سَبْعَةٍ … وَاَمَّا خَبَرُ اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ مُحَمَّدٍ وَ أمَّةِ مُحَمَّدٍ فَمَحْمُوْلٌ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ التَّشْرِيْكُ فِى الثَّوَابِ لَا فِى الْأُضْحِيَّةِ


“Seekor unta dan sapi cukup untuk tujuh orang…. Adapun yang dikehendaki hadis yang berupa doa Nabi ‘Ya Allah kurban ini untuk Muhammad dan seluruh umat Muhammad’ adalah untuk mendapatkan pahala bersama, bukan dalam anjuran menggugurkan berkurban untuk setiap orang.” (Nihayah Al-Muhtaj, VIII/1134)

Dengan demikian, berkurban satu kambing untuk satu keluarga hukumnya tidak sah atas nama kurban, karena ketidaksesuaian porsi binatang dengan orang yang berkurban. Namun hukumnya sah dilihat dari sudut pandang berbagi pahala secara bersama-sama (at-tasyrik fi ats-tsawab). Sehingga yang berkurban tetaplah satu orang, dan pahalanya diberikan kepada seluruh anggota keluarga. []WaAllahu A’lam

Baca juga
– HIKMAH KURBAN DARI BEBERAPA ASPEK KEHIDUPAN

Hukum Memanfaatkan Halaman Sekitar Masjid untuk Penyembelihan Hewan Kurban

Saat hari raya Idul Adha, sering ditemui di masyarakat proses penyembelihan hewan kurban yang dilakukan pada lahan di sekitar halaman masjid.

Dilihat dalam kacamata syariat, lahan di sekitar masjid tersebut boleh dimanfaatkan selama sesuai dengan kebiasaan (urf’) tanpa ada yang mengingkari, misalkan untuk tempat penyembelihan hewan kurban. (Ghayah Talkhish al-Murad, hlm. 94-95)

Sayyid Abdurrahman al-Masyhur menegaskan pada persoalan lahan yang berada di sekitar masjid:

‏ﻟَﻴْﺴَﺖِ ﺍْﻟﺠَﻮَﺍﺑِﻲْ ﺍَﻟْﻤَﻌْﺮُﻭْﻓَﺔُ ﻭَﺯَﻭَﺍﻳَﺎﻫَﺎ ﻣِﻦْ ﺭَﺣْﺒَﺔِ ﺍْﻟﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻭَﻻَ ﺣَﺮِﻳْﻤُﻪُ، ﺑَﻞْ ﻫِﻲَ ﻣُﺴْﺘَﻘِﻠَّﺔٌ ﻟﻤَﺎَ ﻭُﺿِﻌَﺖْ ﻟَﻪُ، ﻭَﻳَﺴْﺘَﻌْﻤِﻞُ ﻛُﻞٌ ﻋَﻠَﻰ ﻣَﺎ ﻋُﻬِﺪَ ﻓِﻴْﻪِ ﺑِﻼَ ﻧَﻜِﻴْﺮٍ … ﻭَﻻَ ﺗَﺤْﺘَﺎﺝُ ﺇِﻟﻰَ ﻣَﻌْﺮِﻓَﺔِ ﻧَﺺِّ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻗِﻔِﻬَﺎ، ﺇِﺫِ ﺍْﻟﻌُﺮْﻑُ ﻛَﺎﻑٍ ﻓﻲِ ﺫَﻟِﻚَ

“Beberapa kolam dan tepiannya (yang berada di sekitar masjid) bukanlah bagian dari serambi dan pelataran masjid. Akan tetapi ia menyendiri sesuai tujuan awal. Dan setiap orang boleh memanfaatkan dengan pemanfaatan yang diketahui tanpa ada yang mengingkari…. Dan tidak butuh untuk mengetahui penjelasan orang yang mewakafkan. Karena kebiasaan sudah mencukupi untuk memperbolehkan.” (Bughyah al-Mustarsyidin, hlm. 63)

Kendati demikian, proses penyembelihan hewan kurban di sekitar masjid tidak boleh mengganggu pemanfaatan asli masjid, seperti menghilangkan kekhusyukan orang salat disebabkan bau yang menyengat dan lain sebagainya. (Al-Hawi al-Kabir, VII/1273) []waAllahu a’lam

Sisa Darah dalam Daging

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saat hari raya Idul Adha, masyarakat muslim hampir seluruhnya dapat merasakan daging kurban. Berbagai menu olahan daging dibuat, mulai dari sate, gule, rendang, dan lain-lain. Namun, permasalahan muncul ketika proses perebusan daging mentah. Yang mana, air rebusan tersebut seketika menjadi kemerah-merahan. Secara pasti, hal tersebut berasal dari sisa-sisa darah dari daging yang direbus. Meskipun sebelumnya daging tersebut telah dibersihkan dan dicuci semaksimal mungkin. Yang kami tanyakan, apakah benar bahwa sisa darah dalam daging tidak najis? Apakah air rebusan tersebut juga dihukumi najis? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Sofia- Jombang)

_________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Perlu diketahui bahwa darah yang tersisa dalam daging statusnya tetap dihukumi najis, namun ditolerir (ma’fu) oleh syariat. Sebagaimana penjelasan syekh Zakaria al-Anshori dalam kitabnya yang berjudul Asna al-Mathalib:

الدَّمُ الْبَاقِي عَلَى لَحْمِ الْمُذَكَّاةِ وَعَظْمِهَا نَجِسٌ مَعْفُوٌّ عَنْهُ فَقَدْ قَالَ الْحَلِيمِيُّ وَأَمَّا مَا بَقِيَ مِنْ الدَّمِ الْيَسِيرِ فِي بَعْضِ الْعُرُوقِ الدَّقِيقَةِ خِلَالَ اللَّحْمِ فَهُوَ عَفْوٌ

Darah yang tersisa dalam daging atau tulang hewan yang telah disembelih statusnya najis yang ditolerir. Al-Halimi juga berkata: Adapun sedikit darah yang tersisa dalam urat-urat kecil yang ada pada daging, hukumnya (najis) yang ditolerir”.[1]

Mengenai persoalan air rebusan yang berubah warna menjadi kemerah-merahan tetap dihukumi najis, namun juga ditolerir syariat (ma’fu). Dengan syarat, sebelum proses perebusan, daging telah dibersihkan dan dicuci semaksimal mungkin. Dalam kitab Hasyiyah al-Jamal ‘ala Syarh al-Manhaj, syekh Sulaiman al-Jamal menjelaskan:

وَوَقَعَ السُّؤَالُ فِي الدَّرْسِ عَمَّا يَقَعُ كَثِيرًا أَنَّ اللَّحْمَ يُغْسَلُ مِرَارًا وَلَا تَصْفُو غُسَالَتُهُ، ثُمَّ يُطْبَخُ وَيَظْهَرُ فِي مَرَقَتِهِ لَوْنُ الدَّمِ فَهَلْ يُعْفَى عَنْهُ أَمْ لَا فَأَقُولُ الظَّاهِرُ الْأَوَّلُ؛ لِأَنَّ هَذَا مِمَّا يَشُقُّ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ

Dalam suatu pembelajaran, muncul sebuah pertanyaan yang sering terjadi, yaitu: Sesungguhnya daging yang telah dibasuh berkali-kali sehingga sisa air basuhannya menjadi keruh kemudian daging tersebut dimasak dan mengeluarkan warna darah dari air rebusannya, apakah hal tersebut ditolerir ataukah tidak?. Aku menjawab: Yang jelas adalah yang pertama (yaitu ditolerir). Karena permasalahan ini sulit untuk dihindari”. [2]

Dari penjelasan di atas dapat disimpulan bahwa status darah dari yang tersisa dalam daging hukumnya najis namun ditolerir (ma’fu). Kelonggaran hukum ini juga berlaku dalam permasalahan air rebusan yang berubah warna menjadi kemerah-merahan disebabkan darah tersebut dengan syarat telah melalui proses pembersihan maksimal sebelumnya. []waAllahu a’lam

 

____________________

[1] Zakaria al-Anshori, Asna al-Mathalib, vol. 1 hal. 12.

[2] Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal ‘Ala Syarh al-Manhaj, vol. 1 hal 193, cet. Darul Fikr.

Ringkasan Fikih Kurban

Dalam kajian fikih, ibadah kurban sering disebut dengan istilah Udhiyyah. Udhiyyah sendiri diartikan sebagai ibadah menyembelih binatang ternak tertentu di hari raya Idul Adha (10 dzulhijjah) sampai hari Tasyriq (11, 12, 13 dzulhijjah) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dalil Kurban

Legalitas ibadah kurban bertendensi pada firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan sembelihlah (kurban).” (QS. Al-Kautsar: 2)

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya.” (QS. Al-Hajj: 36)

Dalam salah satu hadis disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ يَذْبَحُ وَيُكَبِّرُ وَيُسَمِّي وَيَضَعُ رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَتِهِمَا

Sesungguhnya nabi Muhammad saw. pernah menyembelih kurban dua kambing gibas putih yang bertanduk. Beliau menyembelih dengan tangan beliau sendiri, membaca basmalah dan takbir. Beliau meletakkan kaki beliau pada pipi kedua hewan tersebut.”

Hukum Kurban

Hukum menunaikan kurban adalah sunah muakkadah (sangat dianjurkan) untuk setiap orang dan sunah kifayah (kolektif) untuk satu keluarga. Artinya, apabila salah satu dari anggota keluarga telah menunaikannya, maka anjuran tersebut gugur bagi anggota keluarga yang lain. Namun dalam beberapa keadaan kurban akan menjadi wajib. Salah satunya ialah apabila memang kurban tersebut dinadzari.

Binatang Kurban

Adapun binatang yang dapat dijadikan kurban ialah unta, sapi, dan kambing. Sesuai firman Allah swt. dalam al-Qur’an:

لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَام   

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak (kambing, sapi, dan unta).” (QS. Al-Hajj: 28)

Agar dapat dijadikan kurban, ketiga binatang tersebut harus memenuhi beberapa kriteria berikut:

Pertama, umur yang cukup. Yaitu apabila unta harus sempurna usia lima tahun dan mulai memasuki tahun keenam, sapi dan kambing harus sempurna usia dua tahun dan mulai memasuki tahun ketiga. Adapun untuk kambing jenis domba dicukupkan usia satu tahun dan mulai memasuki tahun kedua.

Kedua, kondisi binatang dalam keadaan sehat. Artinya tidak ada cacat pada binatang kurban yang dapat mengurangi daging, seperti kurus kering, buta, telinga terpotong dan lain-lain.

Selain kriteria yang harus dipenuhi di atas, setiap jenis binatang kurban memiliki standar masing-masing. Jenis unta dan sapi dapat dijadikan kurban untuk tujuh orang. Sementara jenis kambing mencukupi untuk dijadikan kurban satu orang.

Waktu Penyembelihan Kurban

Penyembelihan hewan kurban dapat dilakukan setelah terbitnya matahari ditambah perkiraan waktu melaksanakan salat dan dua khutbah hari raya Idul Adha (10 dzulhijjah). Dan waktu penyembelihan berlanjut hingga tiga hari sebelum terbenamnya matahari di akhir hari Tasyriq (13 dzulhijjah).

Ketika menyembelih hewan kurban ada beberapa kesunahan yang anjur untuk dilaksanakan, yaitu:

Pertama, membaca basamalah. Kedua, membaca shalawat. Ketiga, menghadap kiblat. Keempat, membaca takbir tiga kali sebelum membaca basamalah atau setelahnya.  Kelima, membaca doa berikut:

اللهم هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ, نِعْمَةً مِنْكَ عَلَيَّ وَتَقَرَّبْتُ بِهَا إِلَيْكَ فَتَقَبَّلْهَا مِنِّيْ

Ya Allah, kurban ini dari-Mu dan untuk-Mu, maka terimalah. (Kurban ini) adalah nikmat-Mu untukku, dan dengannya aku mendekatkan diri pada-Mu, maka terimalah ini dariku.”

Pendistribusian Daging Kurban

Dalam pendistribusian daging kurban terdapat beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian untuk orang-orang kaya hanya terbatas  untuk konsumsi semata (ith’am). Namun untuk golongan fakir miskin, mereka lebih leluasa, baik dalam hal menjual atau mengkonsumsi ataupun yang lainnya. Karna pemberian pada kelompok ini berstatus pemberian hak milik(tamlik).

Terlepas dari perincian tersebut, apabila kurbannya berstatus kurban sunah, bagi orang yang berkurban disunahkan mengambil sedikit bagian daging kurbannya (tidak melebihi sepertiga dari keseluruhan daging). Hal ini bertujuan mencari keberkahan. Akan tetapi berbeda halnya apabila kurbannya berstatus kurban wajib, maka seluruh dagingnya harus disedekahkan. []waAllahu a’lam

 

________________

Disarikan dari kitab Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Syarh Fathil Qorib (t.t. Surabaya: Al-Hidayah), vol. 2 h. 295-302

Sejarah dan Hikmah Ibadah Kurban

Dahulu pada masa Jahiliyyah, orang-orang kafir Mekah memiliki banyak ritus adat istiadat yang begitu aneh. Salah satunya adalah sebuah ritual menyembelih binatang tertentu untuk dijadikan atas nama ‘kurban’. Ritual tersebut merupakan simbol atas persembahan mereka kepada berhala-berhala yang berada di sekeliling bangunan Ka’bah. Selesai menyembelih binatang yang dijadikan kurban, kemudian mereka memotong-motong daging dan melumurkan darahnya pada dinding-dinding Ka’bah dan benda apapun yang berada di sekelilingnya. Melalui ritual tersebut, orang-orang kafir Mekah menggantungkan harapan atas keselamatan dan terhindarnya dari segala bentuk bahaya dan musibah.

Setelah datangnya ajaran Islam serta disyariatkannya Udhiyyah (kurban) pada tahun kedua Hijriyyah, ritual kemusyrikan orang-orang kafir Mekah yang merupakan ritus adat-istiadat Jahiliyyah tersebut diarahkan menjadi ibadah yang sangat bermanfaat dan lebih baik. Karena pada mulanya, ritual kurban orang-orang Jahiliyyah tersebut hanya membuang-buang harta dan mengotori area Masjidil Haram, Mekah. Dengan begitu, kedatangan syariat Islam benar-benar telah merubah adat istiadat yang penuh kebatilan tersebut menjadi ibadah yang bernilai pahala, baik dari sisi ritual maupun sosial.

Kurban yang dalam kajian fikih disebut dengan istilah Udhiyyah diartikan sebagai bentuk ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah swt. dengan menyembelih hewan tertentu pada yaumun nahr (tanggal 10 Dzulhijjah) dan ayyamit tasyriq (tanggal 11,12,dan 13 Dzulhijjah). Dalil legalitas ibadah kurban adalah salah satu firman Allah swt. dalam al-Qur’an صل لربك وانحرAllah :  yyamit tasyriqi pada Allah SWT dengan menyembelih hewan tertentu di hari raya idul adha dan hari tasyriq:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah kamu (sholat idul adha) dan sembelihlah (kurban).” (QS: Al-Kautsar 02)

Dan sabda Nabi Muhammad saw.:

اُمِرْتُ بِالنَّحْرِوَهُوَ سُنَّةٌ لَكُمْ

Aku diperintahkan untuk menyembelih Kurban, dan hal itu sunnah bagi kalian”.[1]

Di balik syariat berkurban, tersirat berbagai hikmah dan faedah yang terkandung di dalamnya. Setidaknya, ada beberapa dimensi atau tinjauan penting dalam ibadah yang menjadi syi’ar besar agama Islam ini. Diantaranya ialah:

  1. Aspek Sosio-Historis

Ibadah Kurban disyariatkan untuk mengingatkan kembali (flash back) kepada umat Islam akan peristiwa agung nabi Ibrahim as. Lewat sebuah mimpi, nabi Ibrahim as. mendapat perintah dari Allah swt. untuk menyembelih putranya, yaitu nabi Ismail as. sebagai tebusan dari nadzar yang pernah beliau ucapkan.[2]

Dalam peristiwa agung tersebut, terdapat hikmah dan uswah (suri tauladan) bagaimana bentuk kepatuhan dan kesetiaan seorang hamba terhadap Tuhannya. Karena kalau bukan didasari atas keimanan dan kesetiaan, sulit rasanya membayangkan nabi Ibrahim as. rela memenuhi perintah untuk menyembelih putra yang telah lama diidam-idamkannya. Tugas pengabdian seperti itulah yang diharapkan dapat dimiliki umat islam di tengah kehidupan yang serba individualitas dan materialistis di era globalisasi seperti saat ini.

Selain itu, dalam peristiwa itu terdapat sebuah penerapan demokrasi dalam pengambilan keputusan telah ditunjukkan oleh nabi Ibrahim as.  Sebelum menjalankan perintah Allah Swt, beliau terlebih dahulu mengajak dialog dan memberikan kesempatan pada nabi Ismail as. untuk memikirkannya secara matang atas perintah tersebut. Meskipun sebenarnya nabi Ibrahim as. mempunyai otoritas mutlak dalam mengambil keputusan, namun beliau memilih melakukan pendekatan dialogis dan persuasif agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

  1. Aspek Spiritual

Dengan melaksanakan ibadah Kurban, berarti seorang muslim telah melaksanakan perintah anjuran yang telah tercantum di dalam al-Qur’an dan hadis. Karena sejatinya, setiap umat islam yang melaksanakan ibadah kurban tidak memiliki tujuan apapun kecuali menjadikan ibadah tersebut sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. serta mengharapkan rida dan ampunan-Nya. Selain itu, ibadah kurban memiliki hikmah spiritual dalam pembiasaan diri untuk bersikap ikhlas dalam melaksanakan amal ibadah kepada Allah Swt.[3]

Dengan demikian tidak heran betapa besar pahala dan balasan yang telah Allah swt. janjikan bagi mereka yang melaksanakan ibadah kurban tersebut. Salah satunya sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah saw dalam hadisnya:

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ

“Tiada amal ibadah manusia pada hari Nahr (hari menyembelih kurban) yang lebih disenangi oleh Allah swt kecuali mengalirkan darah (menyembelih binatang Kurban). Sesungguhnya hewan kurban datang pada hari kiamat dengan tanduknya, bulunya, dan kuku kakinya. Dan sesungguhnya darah binatang kurban akan jatuh (ke dalam tempat diterimanya amal) oleh Allah sebelum darah tersebut jatuh ke bumi. (HR. At-Turmudzi)

    1. Aspek Sosial

Ibadah Kurban tergolong ibadah Ghoiru Mahdhoh. Dengan artian bahwa ibadah tersebut tidak hanya menitikberatkan pada hubungan seorang hamba kepada Tuhannya, melainkan juga mempertimbangkan hubungan antara hamba tersebut dengan masyarakat di sekitarnya. Selain memberi manfaat sebagai sarana mendekatkan diri pada Allah swt., ibadah kurban juga memberi manfaat pada sesama umat Islam terutama terhadap golongan fakir miskin dan kaum yang lemah (dhuafa’).[4]

Melihat hal tersebut, tidak terasa aneh bahwa dalam kajian fikih mengenai pendistribusian daging kurban dirumuskan dalam beberapa pemilahan. Pemilahan tersebut mencakup pendistribusian bagi orang-orang yang termasuk kategori kaya hanya sebatas ith’am (konsumsi). Namun untuk golongan fakir miskin lebih leluasa baik dalam hal menjual atau mengkonsumsi ataupun yang lainnya, karna pemberian pada kelompok ini berstatus tamlik (pemberian hak milik).[5]

Akhir kata, ibadah kurban sebagai salah satu syiar agama Islam merupakan ibadah yang mengajarkan umat untuk senantiasa mendekatkan diri pada Allah swt seraya mengikuti jejak historis nabi Ibrahim as. dan nabi Ismail as. yang menjadi lambang ketaatan dan kesetiaan seorang hamba pada perintah Tuhannya serta ibadah yang mampu menarik kekuatan hubungan sosial dengan umat islam yang lain. Dengan mengetahui beberapa aspek tersebut, diharapkan umat islam semakin tekun dan bersemangat dalam menjalankan perintah anjuran berkurban dan mampu menerapkan dan mengamalkan substansi dan tujuannya dalam kehidupan sehari-hari. [] Wallahu A’lam

 

 

_______________

[1] Al-Masalik, juz 5 hal 146.

[2] Dzurrotun Nashihin, hal 136.

[3] Hasyiyah Al-Qulyubi, juz 4 hal 251, cet. Al-Haromain.

[4] Mukhtashor Tafsir Ayatil Ahkam, hal 187, cet. MHM Lirboyo.

[5] Fathul Wahhab, juz 2 hal 189, cet. Al-Hidayah.