Tag Archives: Muhammad

Nama Muhammad Pernah Dilarang oleh Umar bin Khattab

Alasan Abdul Muthalib memberi nama cucunya yang baru lahir dengan nama “Muhammad” adalah ia ingin cucunya itu dipuji semua orang. Beberapa sumber mengatakan hal yang serupa. Dalam sumber lain dinyatakan bahwa nama Muhammad ini akhirnya membuat para kaum kafir Quraisy bingung dalam menghadapi dakwah nabi Muhammad saw.: mereka membencinya, namun faktanya mereka malah memanggilnya dengan “yang terpuji.”

Muhammad al Bushiri, penyair ulung itu, menjadikan nama “Muhammad” benar-benar keramat. Ia melantunkan kekeramatan itu dalam nadzam Burdahnya

فإن لي ذمةً منه بتسميتي

محمداً وهو أوفى الخلق بالذمم

Sesungguhnya aku punya jaminan (di hari kiamat) yakni namaku “Muhammad”

Dan ia (Nabi Muhammad) adalah makhluk paling sempurna dalam menepati janji (memberikan syafaatnya di hari kiamat)

Tentu ia tidak serta merta mengeramatkan nama itu tanpa dasar. Setidaknya, ada beberapa hadis yang mengungkapkan betapa mulianya nama Muhammad. Pertama, hadis yang disebut Hakim dalam kitab Al-Tarikh-nya,

إذا سميتم الولد محمدا فأكرموه وأوسعوا له المجلس ولا تقبحوا له وجها

 “Jika kalian memberikan anak-anak kalian nama ‘Muhammad’, maka muliakan mereka dan lapangkanlah tempat duduk mereka dalam majelis. Dan jangan kalian hinakan wajah mereka (jangan hinakan atau caci maki mereka dengan kata-kata ‘semoga Allah jelekkan wajah kalian’ atau sejenisnya).”

Kedua, hadis yang diriwayatkan al-Suyuthi di dalam kitabnya, Jami’ as-Shaghir.

إذا سميتم محمدا فلا تضربوه ولا تحرموه

 “Jika kalian memberikan nama ‘Muhammad’ (pada anak-anak kalian), maka janganlah kalian pukul mereka (kecuali karena hukum had dan mengajarkan adab), dan janganlah kalian larang mereka (muliakan dan berbuat baiklah pada mereka).”

Demi kemuliaan nama “Muhammad” ini, khalifah Umar bin Khattab bahkan pernah berang kala ia mendengar ada seseorang mencela nama Muhammad. Muhammad bin Yazid bin Khattab, nama orang yang dicela itu, melakukan suatu perbuatan buruk, sehingga orang-orang mencelanya, “Wahai Muhammad, semoga Allah menghukum perbuatan (buruk) mu.”

Muhammad bin Yazid tinggal di Kuffah, 1.200-an kilometer berjarak dari Madinah, tempat Umar memerintah. Sang khalifah setelah mendengar kisah celaan terhadapnya, ia menyuruhnya untuk segera menghadap ke Madinah. Dengan pengorbanan tenaga dan waktu demikian—jarak ribuan kilometer di masa transportasi sebatas unta itu tentu saja menuntut pengorbanan banyak hal—menunjukkan bahwa ini bukan masalah yang sederhana bagi sang khalifah.

Khalifah Umar memuntahkan amarahnya justru kepada Muhammad bin Yazid bin Khattab. Bukan kepada sang pencela. Jelas karena perbuatan buruknya itu sama sekali tidak dapat ditoleransi. “Aku takut nama Nabi Muhammad dicaci maki karena ulahmu.”

Saking hormatnya sang khalifah kepada nama Muhammad, sejak peristiwa itu ia melarang penduduk Kuffah memberi nama anak-anak mereka nama Muhammad. Ia takut penduduk Kuffah akan serampangan mencaci seseorang yang bernama Muhammad. Wallahu a’lam.

Referensi:

Abu Abdullah Muhammad bin Abdullah al-Hakim al-Naisaburi, Al-Tarikh.

Abdurrahman bin Kamaluddin Abu Bakr bin Muhammad bin Sabiquddin, Jalaluddin al-Misri as-Suyuthi asy-Syafi’i al-Asy’ari, Jami’ as-Shaghir.

Syaikh Ali Al-Qari, Mirqat al-Mafatih Syarh Misykat al-Mashabih.

Kupas Tuntas Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw.

Maulid Nabi adalah peringatan kelahiran Beliau Saw. yang berisi pembacaan ayat-ayat al-Quran, kisah-kisah seputar Nabi Muhammad Saw. guna mengenang kehidupan Beliau. Biasanya maulid Nabi dilakukan dengan membaca kisah kehidupan Nabi seperti al-Barzanjy, ad-Daiba’iy, Simth ad-Durâr, menghidangkan makanan, memperbanyak shalawat, mau’idhah hasanah, dan lain-lain. Dengan menjelajahi seluk beluk kehidupan Nabi Saw. banyak hal yang dapat kita pelajari baik dari sisi kemanusian, sosial dan keadilan, karena beliaulah manusia terbaik dan teladan kita yang akan membawa kita pada jalan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat kelak, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzâb ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.”

Hukum Memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw.

Peringatan maulid seperti yang kita kenal sekarang sebenarnya baru dirintis oleh penguasa Irbil, yaitu Raja Mudhaffar Abu Sa’îd Al Kukburi Bin Zainuddin Ali Bin Buktikin. Meski demikian, orang yang melakukannya akan diberi pahala. Imam Suyûthy mengatakan :

سُئِلَ عَنْ عَمَلِ الْمَوْلِدِ النَّبَوِيِّ فِي شَهْرِ رَبِيعٍ الْأَوَّلِ مَا حُكْمُهُ مِنْ حَيْثُ الشَّرْعُ وَهَلْ هُوَ مَحْمُودٌ أَوْ مَذْمُومٌ وَهَلْ يُثَابُ فَاعِلُهُ أَوْ لَا قَالَ وَالْجَوَابُ عِنْدِي أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ الْمَوْلِدِ الَّذِي هُوَ اجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَاءَةُ مَا تَيَسَّرَ مِنْ الْقُرْآنِ وَرِوَايَةُ الْأَخْبَارِ الْوَارِدَةِ فِي مَبْدَأِ أَمْرِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – وَمَا وَقَعَ فِي مَوْلِدِهِ مِنْ الْآيَاتِ ثُمَّ يُمَدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُونَهُ وَيَنْصَرِفُونَ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَلِكَ مِنْ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِي يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيهِ مِنْ تَعْظِيمِ قَدْرِ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيفِ

Beliau (Imam Suyûthy) ditanya tentang perayaan maulid Nabi Saw. pada bulan Rabiul Awwal. Bagaimana hukumnya menurut syara’ ? Apakah terpuji atau tercela ? Dan apakah orang yang melakukannya diberi pahala atau tidak ? Beliau menjawab, “Jawabannya menurutku bahwa asal perayaan maulid Nabi Saw., yaitu manusia berkumpul, membaca al-Quran, dan kisah-kisah teladan Nabi Saw. sejak kelahirannya sampai perjalanan kehidupannya .. Kemudian menghidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu termasuk bid’ah hasanah. Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi Saw., menampakkan rasa suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad Saw. yang mulia.”[1]

Jadi sebetulnya hakikat perayaan maulid Nabi itu merupakan bentuk pengungkapan rasa syukur dan senang atas terutusnya Nabi Muhammad Saw. ke dunia ini. Di samping itu, melihat isi dari perayaan maulid Nabi Saw., hal ini termasuk melaksanakan anjuran-anjuran agama. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani menjelaskan, setidaknya ada tiga hal yang tentu terkandung dalam perayaan maulid Nabi :

1. Pembacaan shalawat pada Nabi Saw. yang keutamaannya sudah tidak diragukan lagi. Di isi dengan sejarah nabi ketika berdakwah, cerita kelahiran beliau dan wafatnya. Sehingga dengan kajian inilah seorang muslim memperoleh gambaran tentang hakikat Islam secara paripurna yang tercermin dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw.

2. Peringatan tersebut merupakan sebab atau sarana yang mendorong kita untuk bershalawat pada beliau sehingga termasuk melakukan perintah Allah: “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka Telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS al-Ahzâb : 58)

3. Menceritakan tentang sopan santun dan tingkah laku yang terpuji sehingga seorang muslim akan termotivasi untuk mengikuti perilaku Beliau Saw. Apa lagi diselingi dengan pengajian agama, membaca Al-Quran, bersedekah dan ritual-ritual yang mendapat legalitas syariah.[2]

Penjelasan di atas memberikan pengertian bahwa maulid nabi merupakan tradisi yang baik dan mengandung banyak kegunaan dan manfaat yang akhirnya kembali pada umat itu sendiri.[3]

Hanya yang perlu ditegaskan, peringatan maulid Nabi Saw. tidak terkhusus pada bulan Rabi’ul Awwal saja. Kita dianjurkan untuk selalu memperingati Nabi Muhammad Saw. sepanjang waktu setiap ada kesempatan, lebih-lebih ketika bulan Rabi’ul Awwal dan ketika hari Senin. Memang peringatan maulid Nabi Saw. pada bulan tertentu dan dengan model tertentu tidak mempunyai nash yang tegas. Namun juga tidak ada satu dalilpun yang melarang karena berkumpul untuk bersama-sama mengingat Allah, membaca shalawat dan amal-amal baik lainnya termasuk yang harus selalu kita perhatikan dan kita lakukan. Lebih-lebih pada bulan kelahiran Beliau Saw. di mana rasa keterikatan sejarah akan sangat mendorong masyarakat untuk lebih bersungguh-sungguh dan lebih meresapi apa yang dilakukan dan disampaikan.[4]

Dalil-Dalil Legalitas Perayaan Maulid

Perayaan maulid Nabi Saw. adalah ungkapan rasa syukur kepada Allah atas kelahiran Beliau. Hal ini diperintahkan oleh agama sebagaimana firman Allah :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Katakanlah, Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yûnus : 58).

Dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk bergembira ketika mendapatkan rahmat Allah. Padahal Nabi Muhammad Saw. adalah rahmat yang paling agung sebagaimana firman Allah :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiyâ` :107)

Bergembira atas kelahiran Nabi Saw. dianjurkan di setiap waktu dan dalam setiap karunia. Namun anjuran tersebut menjadi lebih pada hari Senin dan bulan Rabi’ul Awwal karena mempunyai keterikatan sejarah.

Nabi sangat memulyakan dan memperhatikan hari kelahiran Beliau sebagaimana tercermin dalam hadits :

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الِاثْنَيْنِ , فَقَالَ: ذَلِكَ يَوْمٌ وُلِدْت فِيهِ , وَبُعِثْت فِيهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ} رَوَاهُ مُسْلِمٌ عن أبي قتادة

Rasulullah ditanya tentang puasa pada hari Senin. Beliau menjawab, “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus atau wahyu diturunkan padaku.” (HR Muslim dari Abî Qatâdah)

Betapa Rasulullah memulyakan hari kelahirannya, beliau bersyukur pada Allah SWT pada hari tersebut atas karunianya yang telah menyebabkan keberadaannya yang diungkapkan dengan berpuasa. Di sinilah Nabi telah menanamkan benih-benih perayaan maulid Nabi.

Memang Nabi memperingati hari kelahiran Beliau dengan berpuasa berbeda dengan yang sering dilakukan oleh masyarakat sekarang. Namun hal ini tidak mengapa karena hanya masalah metode. Sedang inti dan tujuannya sama, yaitu memperingati dan mensyukuri kelahiran Beliau. Hal ini tidak jauh beda dengan perintah mengajarkan al-Quran. Sekarang al-Quran diajarkan melalui CD, kaset, dan lain sebagainya, berbeda dengan pada masa Rasulullah Saw. Hal ini tidak mengapa karena hanya dalam metode. Sedang intinya sama yaitu mengajarkan al-Quran.

Nabi SAW selalu memperhatikan waktu-waktu bersejarah yang telah lewat. Ketika tiba masa peristiwa tersebut, Rasulullah Saw. memperingati dan memulyakan hari tersebut. Hal ini tercermin dalam hadits

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمَدِينَةَ وَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ فَسُئِلُوا عَنْ ذَلِكَ فَقَالُوا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي أَظْفَرَ اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَبَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى فِرْعَوْنَ وَنَحْنُ نَصُومُهُ تَعْظِيمًا لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَحْنُ أَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ ثُمَّ أَمَرَ بِصَوْمِهِ (رواه البخاري وسلم وغيرهما)

Dari Ibn ‘Abbâs ra. Ia berkata, ketika Rasulallah Saw. dan para sahabat tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi sedang puasa Asyura’ (10 Muharram). Rasulullah Saw. bertanya, “Mengapa kalian melakukan puasa tersebut?” Orang yahudi menjawab, “Pada hari inilah Allah menenggelamkan Firaun dan menyalamatkan Nabi Musa as. Kami sangat mensyukurinya. Oleh karena itu kami berpuasa. Mendengar jawaban itu, Rasulallah bersabda, “Kami lebih berhak untuk memulyakan Nabi Musa as. (dengan berpuasa) daripada kalian.” (HR Bukhari, Muslim, Abi Dawud, dll.)

Peringatan maulid Nabi adalah mengingat perjalanan hidup dan diri Rasulullah Saw. Hal seperti ini termasuk bagian dari anjuran agama. Bila kita perhatikan rangkaian ritual ibadah haji, ternyata mayoritas adalah untuk mengingat peristiwa-peristiwa khusus dan tempat-tempat bersejarah, seperti: sa’i Shafa dan Marwah untuk mengingat Siti Hajar ketika mencari air, penyembelihan di Mina, melempar jumrah, dan lain sebagainya.

Manfaat dari bergembira dengan kelahiran Nabi Saw. ternyata juga bisa dirasakan oleh Abu Lahab sebagaimana disampaikan al-Hâfidh Syamsuddîn al-Jazary dalam ‘Urf at-Ta’rîf bi al-Maulid as-Syarîf:

Abu Lahab terlihat dalam mimpi setelah ia mati. Ia ditanya,”Bagaimana kondisimu?” Abu Lahab menjawab, “Di neraka. Hanya saja Allah memberi keringanan padaku setiap malam Senin dan aku menghisap air dari antara jariku dengan ukuran segini -ia mengisyarahkan dengan ujung jarinya- semua ini karena aku memerdekakan Tsuwaibah setelah memberitahukan kelahiran Nabi SAW dan karena menyusukan Nabi padanya.”[5]

Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhâri dalam Kitâb an-Nikâh, Ibn Hajar dalam Fath al-Bâri`, ‘Abdur Razâq as-Shan’âny dalam al-Mushannaf, al-Baihaqy dalam Dalâ`il an-Nubuwwah, Ibn Katsîr dalam al-Bidâyah, as-Syaibany dalam Hadâ`iq al-Anwâr, al-Baghawy dalam Syarh as-Sunnah, dan lain-lain.

Abu Lahab yang kafir saja mendapatkan dispensasi siksa karena memulyakan dan gembira atas kelahiran Nabi. Apalagi bila yang bergembira adalah orang Islam. Meskipun kisah ini termasuk kategori hadits mursal, namun dapat diterima karena telah dinukil oleh Imam Bukhari dan menjadi pedoman para ulama. Lagipula ini dalam permasalahan sejarah bukan dalam hukum.[6]

Tidak setiap perbuatan yang tidak dikenal di masa awal Islam berarti tidak boleh dilakukan. Apalagi dalam permasalahan maulid. Meski model secara utuh yang dikenal sekarang tidak pernah dilakukan di masa awal Islam namun secara parsial, tiap amal yang dilakukan pada perayaan maulid dianjurkan agama. Sehingga perayaan maulid Nabi juga termasuk anjuran agama. Sebab sesuatu yang tersusun dari hal-hal yang dianjurkan berarti juga dianjurkan.[7]

[]WaAllahu a’lam


[1] Jalâl ad-Dîn as-Suyûthy, al-Hâwi li al-Fatâwi, vol.I, hal. 251 – 252.

[2] Syekh Sayyid Muhamad ‘Alâwy al-Maliki, Fatâwî Rasâ`il, hal. 180

[3] Sayyid Muhamad ‘Alawy al- Maliki, Mafâhîm, tt., hal. 78

[4] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl bi Dzikrâ al-Maulid an-Nabawy as-Syarîf,(Kairo : Dâr Jawâmi’ al-Kalim), cet.ke-10, 1418 H., hal,11 – 13.

[5] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl, hal. 17

[6] Yûsuf Khaththâr Muhammad, Op.Cit., hal.136

[7] Sayyid Muhammad ‘Alawy al-Mâliky al-Hasany, Haul al-Ihtifâl, hal. 34

Aisyah dan Rembulan yang Jatuh di Rumahnya

Rumah Sayyidah Aisyah menjadi rumah terakhir yang ditinggali Rasulullah, sebelum beliau wafat. Dan Aisyah pun menjadi satu-satunya tumpahan isi hati Rasulullah menjelang kepergiannya. Di hari-hari akhir itu, Rasulullah berbisik kepada Aisyah. “Tidak ada seorang nabi pun yang dicabut nyawanya, kecuali setelah ia diperlihatkan tempatnya di surga kelak.”

Beberapa waktu kemudian, kala detik terakhir hampir tiba, beliau pingsan di pangkuan Aisyah. Ketika sadar, pandangan mata beliau terangkat. Beliau mendesahkan satu kalimat.

اللهم في الرفيق الأعلى

Duhai tuhanku, kekasih yang luhur…”

Rupanya beliau telah ditunjukkan oleh Allah tempat yang akan dihuninya di surga kelak. Setelah kalimat itu terucap, Aisyah memandangi wajah beliau. Ia menyandarkan kepala beliau di peraduan. Kabar duka kemudian menyebar: Rasulullah, sang manusia sempurna akhlaknya, telah paripurna usianya. Istri-istri beliau berkumpul. Aisyah begitu terpukul.

Di kemudian hari, Aisyah mengenang hari-hari itu. “Sungguh, sebagian dari nikmat nikmat Allah yang diberikan padaku adalah Rasulullah wafat di rumahku, di hariku, dan Allah menyatukan cintaku dan cintanya saat wafatnya.”

Ia bahagia, sekaligus menderita. Dan penderitaan-penderitaan yang berat datang silih berganti di kehidupannya. Apalagi ketika ayahnya dilanda sakit parah.

Kala Abu Bakar berada di titik itu, Aisyah lah yang menjadi teman hidup di detik-detik terakhir sahabat terbaik Rasulullah saw. itu. Abu Bakar menyanjung kebaikan hati putrinya. “Anakku, engkau adalah manusia yang paling kucinta. Aku meninggalkan untukmu tanah di sana dan disana, yang kau pun tahu…” Aisyah terus mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan ayahnya. Hingga Abu Bakar sampai pada kalimat yang menggetarkan hati, “Berapa lapiskah kalian mengkafani Rasulullah?”

Aisyah menjawabnya layaknya cinta anak kepada sang ayah,“Tiga lapis baju putih. Tanpa gamis. Tanpa imamah.” Aisyah menguatkan hatinya. Terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahnya setelah itu.

“Hari apa Rasulullah wafat?”

Hari Senin.

“Ini hari apa?”

Hari Senin.

“Aku berharap aku wafat antara sekarang hingga nanti petang.”Abu Bakar kemudian memandang bajunya yang beraroma za’faran. “Cuci bajuku ini dan tambah dua baju lagi. Kafani aku dengannya.” Abu Bakar sangat menginginkan hari itu menjadi hari terakhirnya. Sebagaimana menjadi hari terakhir manusia yang dicintainya, Rasulullah saw.

Tetapi Allah lah penentu segala kehendak. Beliau wafat tidak pada hari itu. Beliau wafat besoknya, kala hari beranjak sore. Ia pun dimakamkan di kamar Aisyah, di dekat makam Rasulullah saw. Kepala Abu Bakar disejajarkan dengan pundak Rasulullah saw.

Dua peristiwa mengharukan ini, wafatnya Rasulullah dan Abu Bakar di pangkuan Aisyah, seakan menjadi wujud dari mimpi Aisyah suatu waktu dulu.

Ia bermimpi dalam tidurnya bahwa tiga rembulan jatuh di kamarnya. Ia menanyakan mimpi itu kepada ayahnya, Abu Bakar. “Wahai Aisyah. Jika mimpimu itu benar, akan terkubur di rumahmu tiga manusia terbaik di muka bumi ini.”

Ketika Rasulullah wafat dan dimakamkan di kamar Aisyah, Abu Bakar berkata, “Wahai Aisyah. Inilah salah satu rembulan itu. Ia rembulan yang terbaik.” Selain satu rembulan terbaik itu, dua rembulan lainnya adalah ayahnya dan Umar bin Khattab. Ketiganya dimakamkan bersandingan.

Sepeninggal Rasulullah, Sayyidah Aisyah hidup menjanda. Dan waktunya terlewat –40 tahun—dengan tetap menjanda. Ia menetap di kamarnya sepanjang sisa hidupnya, di samping makam al-mushtafa, kekasihnya. Ia tak pergi dari sana kecuali umrah, haji, dan berkunjung ke sanak saudara.

______________________________

Sirah al-Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mukminin. Sayyid Sulaiman al-Nadwi.  hal. 151-155.

Berkah Merayakan Maulid Nabi

Syaikh Abdullah bin ‘Isa Al-Anshari berkata:

Tetanggaku adalah seorang wanita yang sholihah. Dia mempunyai seorang anak lelaki yang sholih. Wanita yang sholihah tersebut tidak memiliki harta selain satu dinar hasil pekerjaan tenunnya.

Saat wanita tersebut meninggal dunia, anaknya yang sholih tersebut berkata kepada dirinya, “Uang satu dinar ini adalah hasil jerih payah ibuku. Demi Allah, aku tidak akan membelanjakannya kecuali untuk perkara akhirat”.

Suatu hari, pemuda tersebut keluar rumah karena suatu keperluan. Dia melewati satu perkumpulan yang sedang membaca Al-Qur’an dan mengadakan Maulid Nabi Saw pada bulan Rabi`ul Awwal. Kemudian dia pun duduk bersama mereka dan mendengarkan bacaan Maulid tersebut.

Ketika malam tiba, pemuda tersebut bermimpi seolah-olah kiamat telah tiba.  Ada suara yang memanggil, “Di manakah si fulan anak si fulan“. Disebutlah nama-nama orang yang berada dalam satu rombongan, kemudian mereka masuk ke surga. Pemuda tersebut ikut bersama mereka.

Sesungguhnya Allah telah memberi sebuah istana didalam surga untuk masing-masing dari kalian“, suara itu terdengar kembali.

Pemuda itu pun masuk ke dalam sebuah istana. Baginya, dia belum pernah melihat istana yang menyamai istana tersebut dari segi estetikanya. Istana tersebut dipenuhi bidadari dan di setiap pintunya dijaga oleh beberapa pelayan. Kemudian pemuda tersebut melihat bahwa ada istana lain yang lebih indah daripada istana yang ia masuki. Lalu dia pun ingin memasukinya. Ketika terbesit di hatinya untuk memasuki istana tersebut, seorang pelayan berkata kepadanya, “Ini bukanlah untukmu, sesungguhnya ini diperuntukkan bagi orang yang mengadakan Maulid Rasulullah Saw“.

Keesokan harinya, pemuda tersebut menggunakan satu dinar yang pernah ditinggalkan ibunya tersebut untuk mengadakan Maulid Nabi Saw karena sangat gembira dengan mimpinya. Diapun mengumpulkan para fakir miskin untuk berzikir kepada Allah, membaca Al-Qur’an, dan membaca Maulid Nabi Saw. Dia juga menceritakan perihal mimpinya tersebut kepada mereka, dan mereka merasa gembira mendengar ceritanya itu. Dan pemuda tersebut bernadzar untuk tidak pernah meninggalkan perayaan Maulid Nabi Saw selama hidupnya.

Setelah itu, pemuda tersebut tidur. Di dalam tidurnya, dia bermimpi bertemu dengan ibunya. Ibunya berada dalam keadaan yang sangat baik, berhias dengan segala macam perhiasan surga dan wangi dengan bau surga. Pemuda tersebut mencium tangan ibunya dan ibunya mengecup kepalanya seraya berkata, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, wahai anakku, malaikat telah datang kepadaku membawa segala perhiasan ini“.

Dari manakah ibu memperoleh kemuliaan ini?“, tanya pemuda tersebut kepada ibunya.

Karena engkau telah menggunakan satu dinar yang kau warisi dariku untuk mengadakan Maulid Junjungan orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian hari. Dan inilah balasan bagi orang yang mengagungkan Nabinya dan merayakan Maulidnya“, jawab sang ibu.

__________

Disarikan dan diterjemahkan dari kitab Targhib Al-Musytaqin, salah satu karya Syaikh Nawawi Al-Bantani.

 

Menghayati Perjalanan Isra’ Mi’raj

Dalam sebuah keterangan yang terdapat dalam kitab Tafsir At-Thobari, peristiwa Isra’ dan Mi’raj diartikan sebagai peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjid Al-Haram di Mekah menuju Masjid Al-Aqsha di Baitul Muqaddas (Jerusalem), lalu dilanjutkan dengan perjalanan dari Qubbah As-Sakhrah menuju Sidratul Muntaha (akhir penggapaian).[1]  Kronologi tersebut sebenarnya sudah dideskripsikan secara jelas oleh Allah SWT dalam al-Qur’an:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya pada suatu (potongan) malam dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Al-Isro’: 1).

Mengenai waktu kapan peristiwa tersebut terjadi masih diperselisihkan para ulama. Sebagian dari mereka ada yang mengatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi di tahun kesepuluh dari masa kenabian.[2] Namun dalam kitab Al-Thobaqot Al-Kubro karya Ibnu Sa’d dikatakan, bahwa peristiwa ini terjadi di antara 18 bulan sebelum Rasulullah SAW mendapatkan perintah untuk melakukan hijrah ke kota Yatsrib (Madinah).

Dalam salah satycatatan sejarah, Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu peristiwa paling bersejarah bagi umat Islam. Peristiwa tersebut menunjukkan betapa Maha Kuasanya Allah SWT. Bagaimana seorang hamba yakni Nabi Muhammad SAW bersama ruh dan jasadnya menempuh jarak jutaan kilometer hanya dalam waktu tempuh satu malam.

Sebuah hadis yang cukup panjang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim berkenaan dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengendarai Buraq. Dan juga disebutkan bahwa ketika di Masjidil Aqsha Palestina, Rasulullah SAW melakukan salat dua rakaat. Setelah itu, datanglah malaikat Jibril membawa sebuah bejana berisi arak dan bejana lain berisi susu, namun Rasulullah SAW memilih bejana yang berisi susu. Dan dalam riwayat itu pula kronologi peristiwa Mi’raj Rasulullah SAW ke langit pertama, kedua, dan seterusnya hingga mencapai Sidratul Muntaha (akhir penggapaian), ‘Arsy, dan Mustawa. Di sanalah beliau mendapatkan wahyu dari Allah SWT, dan sejak saat itu pula salat lima waktu diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Yang pada mulanya, sholat yang diwajibkan berjumlah 50 rakaat.

Keesokan paginya, ketika Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang telah beliau alami kepada khalayak penduduk kota Mekah. Orang-orang kafir Mekah pun segera menyebarluaskan berita yang dianggap sebagai cerita palsu tersebut kepada teman-teman mereka sambil mengolok-olok Rasulullah SAW.

Karena Rasulullah SAW mengaku datang ke Baitul Muqaddas di Palestina, beberapa orang kafir menantang beliau untuk menjelaskan semua yang ada di sana. Padahal, ketika mendatangi Baitul Muqaddas pada malam itu, tidak pernak terlintas dalam benak Rasulullah SAW untuk memperhatikan dengan seksama seluruh detail bangunan Baitul Muqaddas, apalagi menghafalkan jumlah pilarnya. Mendapatkan tantangan seperti itu, Allah SWT menampakkan Baitul Muqaddas di hadapan Rasulullah SAW. Beliau pun dapat menjelaskan semua hal tentang Baitul Muqaddas dengan sangat rinci seperti yang diminta orang-orang kafir. Berkenaa dengan hal itu, Imam Bukhari dan Imam Muslim juga meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَمَّا كَذَّبَتْنِيْ قُرَيْشٌ قُمْتُ فِي الْحِجْرِ فَجَلَّى اللهُ لِيْ بَيْتَ الْمُقَدَّسِ فَطَفَقْتُ أُخْبِرُهُمْ عَنْ آيَاتِهِ وَأَنَا أَنْظُرُ اِلَيْهِ

“Ketika orang-orang Quraisy menganggap aku berdusta, aku pun berdiri di Hijr Ismail, dan Allah menampakkan Baitul Muqoddas padaku, maka aku pun menceritakan kepada mereka semua tanda-tanda bangunan tersebut sembari aku melihat bangunan itu”.[3]

Sementara itu, beberapa orang kafir Quraisy telah mendatangi Abu Bakar As-Shidiq RA untuk menyampaikan hal yang baru dituturkan oleh Rasulullah SAW. Mereka berharap sahabat terdekat Rasulullah SAW ini menganggap peristiwa tersebut merupakan sebuah kebohongan besar. Mereka juga berharap, Abu Bakar As-Shidiq RA tidak akan mempercayai Rasulullah SAW lagi. Ternyata Abu Bakar As-Shidiq RA malah berkata, “Jika memang benar Dia (Muhammad SAW) mengatakan seperti itu, aku pasti percaya. Bahkan, jika beliau mengatakan yang lebih jauh (lebih ajaib) dari itu, akau pasti akan tetap mempercayainya,”.[4]

Pada pagi hari setelah peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut malaikat Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW tentang tata cara salat beserta waktu pelaksanaannya. Sebelum syariat salat lima waktu ditetapkan, Rasulullah SAW biasa melaksanakan salat dua rakaat di pagi hari dan dua rakaat di sore hari, sebagaimana dilakukan nabi Ibrahim AS.[5]

Menguatkan Semangat Dakwah

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi pada saat Rasulullah SAW mengalami masa-masa kecemasan. Karena beberapa waktu sebelumnya, Rasulullah SAW sangat terpukul dengan meninggalnya dua orang yang menjadi ujung tombak kekuatan beliau dalam mendakwahkan agama Islam, yakni Khadijah RA dan Abu Thalib RA. Sementara tekanan fisik maupun psikis yang terus dilancarkan kafir Quraisy semakin menambahkan kegelisahan beliau, seolah tiada celah dan harapan bagi masa depan agama Islam pada saat itu.

Maka pada malam malam 27 Rajab, seakan menjadi penyejuk di tengah kegersangan yang selama ini menyelimuti beliau. Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Baitul Muqaddas menjadi langkah untuk menjelajahi napak tilas perjuangan nabi-nabi terdahulu. Begitu pula dengan proses Mi’raj, beliau dapat melihat secara langsung seluruh alam dan singgasana kebesaran di jagad raya. Secara keseluruhan, semua yang dialami pada malam itu telah membantu meredakan kecemasan yang beliau alami selama ini dan meningkatkan kembali gairah dakwah dan tekad yang semakin kuat ke depannya.

Melihat konteks situasi dan kondisi peristiwa Isra’ dan Mi’raj telah memberi pelajaran berharga kepada umat manusia dalam menghadapi sebuah perjuangan. Segala rintangan dan penentangan yang ditemukan akan dapat diselesaikan dengan cara maupun metode yang sudah diketahui oleh Allah SWT. Karena yang terpenting bagi manusia adalah terus berjuang, memperkuat tekad, dan terus konsisten dalam semua keadaan. Firman Allah SWT dalam al-Qur’an:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,” (QS. Yusuf: 87).  []waAllahu a’lam

 

 

[1] Tafsir At-Thobari, juz 17 hal 333.

[2] ‘Umdah Al-Qori’ ‘Ala Shahih Al-Bukhari, juz 17 hal 20.

[3] Shahih Al-Bukhari, juz 5 hal 52.

[4] Fiqh As-Sirah An-Nabawiyyah, hal 108-109, Maktabah Dar As-Salam.

[5] Fath Al-Bari, Juz 1 hal 465.