KH. M. Anwar Manshur: Maulid Nabi, Momen Meneladani Nabi

maulid nabi

“Keagungan dan keutamaan Nabi Muhammad SAW sungguh sangat besar. Sehingga pahala dan barokah dapat kita peroleh secara bersamaan,” demikian petikan mau‘izhah hasanah yang KH. M. Anwar Manshur sampaikan dalam acara Malam Ta‘dhim Maulid Nabi Muhammad SAW yang terlaksana pada 4 Februari 2012 M. di Serambi Masjid Lawang Songo Lirboyo.

Acara ini dihadiri oleh ribuan santri, para asatidz, serta masyarakat sekitar yang turut larut dalam lantunan shalawat dan doa. Sejak ba‘da Isya, serambi masjid telah jamaah penuhi, mereka duduk dengan penuh khidmat, mengikuti rangkaian pembacaan maulid, mahalul qiyam, hingga mau‘izhah dari Mbah Yai Anwar. Suasana penuh haru dan syukur begitu terasa, seolah menghidupkan kembali spirit cinta kepada Rasulullah SAW.

Baca juga: KH. M. Anwar Manshur: Pesan untuk Para Wanita

Dalam nasihatnya, Mbah Yai Anwar menegaskan pentingnya memperingati kelahiran Nabi sebagai bentuk rasa syukur dan cinta umat kepada junjungan mulia. “Sangat disayangkan sekali jika waktu-waktu utama seperti ini dibiarkan begitu saja tanpa diperingati dan dihormati. Sebab hanya dengan memiliki krentek (niat atau getaran hati) saja sudah mendapatkan pahala, apalagi jika mau bershalawat seperti ini. Insya Allah syafa‘atnya akan sampai kepada kita,” ujar beliau.

Maulid menurut Para Ulama

Lebih jauh, beliau mengingatkan bahwa peringatan Maulid Nabi bukanlah sekadar tradisi seremonial, melainkan wujud nyata cinta umat Islam kepada Rasulullah SAW. “Banyak kitab-kitab ulama salaf yang menjelaskan secara runtut tentang keutamaan mencintai Nabi. Salah satunya adalah dengan memperingati kelahiran beliau,” tambahnya.

Baca juga: KH. Abdullah Kafabihi: Tanda Orang Diberi Kebaikan oleh Allah

Hal ini sejalan dengan keterangan dalam kitab Mawāhib al-Duniyyah karya Imam al-Qasthalani dan al-Mawlid al-Nabawi karya Imam al-Suyuthi, yang menyebutkan bahwa perayaan Maulid termasuk amal yang penuh berkah, sebab di dalamnya terdapat dzikir, shalawat, dan rasa syukur atas nikmat terbesar, yakni kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tradisi

Tradisi memperingati Maulid Nabi memang telah menjadi ciri khas umat Islam sejak berabad-abad lalu. Dalam sejarah Islam, peringatan Maulid pertama kali adalah pada masa Sultan al-Muzhaffar di kota Irbil, Irak, pada abad ke-7 Hijriah, dan hingga kini tradisi tersebut tetap hidup di berbagai penjuru dunia Islam, termasuk di pesantren-pesantren Nusantara.

Baca juga: KH. Athoillah: Beratnya Sakaratul Maut

Di akhir mau‘izhahnya, Mbah Yai Anwar mengajak seluruh jamaah agar senantiasa menjaga cinta kepada Nabi dengan memperbanyak selawat, meneladani akhlak beliau, dan menghidupkan amalan-amalan yang para ulama ajarkan. “Banyak kitab-kitab ulama’ Salaf, yang menjelaskan dengan runtut keutamaan mencintai Nabi, salah satunya adalah dengan memperingati kelahirannya.”

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses