HomeSantri MenulisBerhentinya Adzan Di Langit Andalusia

Berhentinya Adzan Di Langit Andalusia

0 0 likes 866 views share

Bumi Andalusia, secara etimologis nama ini punya kaitan dengan kaum Vandal, orang-orang yang sudah lebih dulu menghuni semenanjung Eropa Barat jauh sebelum orang-orang Arab. Tanah taklukan ini sempat bersinar oleh cahaya Islam, dimana pada masa jayanya, ketika tiba waktu salat, suara adzan akan datang bersahut-sahutan silih berganti di seluruh penjuru negeri. Andalusia memancarkan kharisma dan panorama Islam, yang hidup rukun dengan pemeluk agama lain. Andalusia, terutama kota Cordova, kotanya penulis tafsir kenamaan Islam, tafsir Qurthuby, memiliki reputasi yang maju. Hampir semua orang di kota itu bisa membaca.

Emirat Ummayah yang “didirikan” oleh Abd Al-Rahman Al-Dakhil mampu bertahan sekitar dua tiga perempat abad. Melalui perjuangan penuh, perlahan-lahan seluruh daerah bersatu. Prestasi yang gemilang dan menggembirakan, karena Islam mampu menunjukkan bahwa kemenangan selalu berpihak kepadanya. Namun patut disayangkan, seiring berjalannya waktu, akibat intrik, satu demi satu provinsi-provinsi yang ada mulai lepas dari kekuasaan sang Amîr.

Pada masa kepemimpinan Amîr ke delapan, Abd Al-Rahman III, Andalusia berdiri diatas angin. Ia mencapai puncak kejayaan epos Arab di semenanjung itu. Cordova memperoleh reputasi sebagai ibukota maju dan “tiada tara” untuk sebuah wilayah yang disatukan dengan susah payah. Menguntit saingan ketatnya di timur, Baghdad. Abd Al-Rahman III yang naik tahta di usa belia, dua puluh tiga tahun, mampu membuktikan prestisenya sebagi pemimpin yang cakap, punya keteguhan hati, dan kejujuran. Padahal dia mendapat “warisan” negeri yang sedang terpuruk. Kekuasaan Emirat Ummayah kala itu hanya tersisa kota Cordova dan sekitarnya. Namun pahlawan sejati ini mampu tampil menyatukan kembali provinsi-provinsi yang hilang ke dalam kekuasaan yang absolut. Dalam setengah abad kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Emirat Ummayah semakin meluas ke beragam penjuru.

 

Sukses mengatasi problem politik, Abd Al-Rahman III mulai membangun kotanya, dilanjutkan dua penerusnya, Al-Hakam II dan Al-Hajib Al-Manshur, Emirat Ummayah mencapai masa kejayaan di tiga periode ini. Masa supremasi muslim atas bumi Andalusia yang “belum dapat diulang” kembali sampai sekarang. Kita tentu membayangkan, ada di Cordova pada masa Al-Hakam II seribu tahun yang lalu, sama dengan ketika saat ini kita ada di Madinah Al-Munawwaroh. Dimana kita bisa melihat lambang bulan sabit ada dimana-mana. Dan kita bisa melihat suasana kental negara muslim. Bedanya, di sana sesekali akan turun salju dan di Madinah tak pernah ada salju. Suasana pasar muslim yang meriah, juga aktivitas keilmuwan di Masjid Agung Cordova, Mezquita yang mirip dengan halaqoh pengajian-pengajian di Masjid Nabawi saat ini. Diceritakan, Cordova pada masa keemasannya menjadi kota paling berbudaya bukan hanya di wilayah Andalusia saja, namun di seluruh Eropa. Bersama Konstantinopel dan Baghdad, Cordova menjadi pusat kebudayaan dunia. Setidaknya ada 130.000 rumah, tujuh puluh tiga perpustakaan, banyak toko buku, masjid dan istana. Cordova memiliki bermil-mil jalan yang rata disinari lampu-lampu dari rumah-rumah di pinggirannya. Padahal, tujuh abad setelah ini, London “hanya” punya satu lampu umum. Dan di Paris berabad-abad kemudian, orang yang keluar rumah saat hujan turun akan terjebak dalam banjir kubangan lumpur setinggi pergelangan kaki. Para penguasa di luar kota yang membutuhkan penjahit, penyanyi, arsitek, bahkan ahli bedahpun akan menuju kota ini. Kemasyhuran Cordova sebagai ibukota bahkan menembus telinga orang-orang Jerman. Hingga ada yang menjulukinya “permata dunia”.

Keagungan sejati terpancar dalam keilmuwan, ketika Al-Hakam II membangun dua puluh tujuh sekolah gratis di sana. Didorong oleh rasa cintanya pada ilmu pengetahuan, dia juga membangun perpustakaan raksasa. Setidaknya ada 400.000 judul buku yang dikoleksi. Ada yang merupakan hasil perburuan para karyawannya yang menjelajah jauh sampai ke Iskandariah, Damaskus, dan Baghdad. Dibawah naungannya, Universitas Cordova yang mulai dirintis oleh Abd Al-Rahman III semakin hidup dan berkembang meraih keunggulan diantara lembaga-lembaga pendidikan lain di seluruh dunia. Mendahului Universitas Al-Azhar di Kairo dan Universitas Nidzâmiyyah di Bahgdad. Bertempat di Mezqiuta, pelajarnya bukan hanya dari kalangan muslim, bahkan pelajar non muslimpun turut “mengadu nasib”. Profesor-profesor dari timur diundang dan digaji di sana. Mezquita, masjid yang luar biasa indah ini, benar-benar menyaksikan Emirat Ummayah di Andalusia yang menggeliat sejak awal, hingga akhirnya tenggelam. Mezquita masih kokoh berdiri hingga kini, konon sebagai satu-satunya simbol Islam yang tersisa di sana, dan sebagai saksi bisu, atas jejak peradaban Islam di Eropa.

Namun zaman kemudian berganti, seiring berakhirnya periode kepemimpinan Al-Hâjib Al-Manshûr, pengaruh Islam mulai “redup” dibawah pemimpin-pemimpin lain yang kurang cakap menggantikannya. Dalam waktu dua puluh satu tahun saja, konon beberapa khalifah silih berganti dinaik-turunkan. Negeri semakin kacau dan carut marut, perebutan kekuasaan tak terelakkan. Adalah Ali bin Hammud, pendiri dinasti Hammudiyyah yang mengklaim diri sebagai khalifah penguasa Cordova menggulingkan Emirat Ummayah. Dan ketika Hisyam III dari Dinasti Ummayah berhasil merebut kembali kekuasaan Emirat Ummayah, keadaan sudah semakin kacau. Emirat Ummayah tak terselamatkan lagi. Sistim kekhalifahan yang dihapus pada masa itu menandai berakhirnya kejayaan Emirat Ummayyah di Andalusia.

Islam belum “hilang” meski Emirat Ummayyah runtuh. Karena menyusul kemudian, bangkit dari puing-puing nama besar Ummayah, muncul beberapa negara-negara kecil. Seperti Dinasti Murabbitun dan Muwahhidun. Namun alih-alih kembali bersatu untuk membentuk kepemimpinan tunggal, negeri-negeri kecil ini justru terus menerus bertikai dalam perang saudara. Setelah sebagian mereka akhirnya kalah, mereka sadar musti menghadapi musuh “yang lebih kuat”, penguasa Kristen di utara yang mulai bangkit. Ada Kerajaan Kristen Castille dan Aragon, dua kerajaan yang berbeda dan menjadi musuh bersama. Namun ketika akhirnya dua kerajaan Kristen ini bersatu, “lonceng kematian” bagi negara-negara muslim kecil menggema.

Ketika Granada akhirnya direbut tahun 1492 M, salib akhirnya menggantikan bulan sabit di menara-menara kota itu. Bencana selanjutnya adalah ketika Dekrit kerajaan mengharuskan orang-orang muslim pindah agama. Jika tidak, mereka harus angkat kaki dari Andalusia untuk selama-lamanya. Bahasa, intuisi, peribadatan, dan cara hidup muslim harus ditinggalkan. Perintah pengusiran terakhir tahun 1609 M  mengakibatkan deportase besar-besaran, hampir seluruh penduduk muslim keluar dari bumi Andalusia. Mereka mendarat di Afrika, atau berpetualang lebih jauh dengan kapal-kapal. Saat itu, mereka yang hidup di sana akan sangat merindukan, ketika Islam mencapai masa supremasinya. Adzan melengking di langit Andalusia, dengan suara yang bersahut-sahutan. Namun bukannya sejarah yang kurang berpihak, apalagi menyalahkannya, salah siapa tidak terdengar lagi Adzan di bumi Andalusia? Di sana Islam pernah jaya seperti matahari, namun kemudian muncul gerhana yang tak kunjung hilang hingga kini.

Pada akhirnya, kadang kita bertanya, ketika kita memimpin suatu komunitas yang kacau. “Apa yang harus aku lakukan?” Sebagai penanggung jawab penuh yang gagal membawa apa yang kita pimpin menuju cita-cita. Kesalahan ini berakar kadang pada kita sendiri. Pemimpin yang mencintai ilmu pengetahuan, akan membawa rakyatnya menuju masyarakat terpelajar. Pemimpin yang kuat, akan membawa masyarakatnya bersatu. Namun pemimpin yang gagal memimpin dirinya sendiri, akan membawa masyarakatnya menuju “kepastian”. Pasti tak sepeti yang dia harapkan. Sebelum menyalakan komunitas yang kita pimpin, sudahkah menyadari siapa yang perlu introspeksi diantara kita ataukah mereka? []

Penulis, M. Khoirul Wafa