Tag Archives: Muslim

Mencampur Pemakaman Muslim dan Non-Muslim

Mencampur Pemakaman Muslim dan Non-Muslim

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kami mau bertanya, apakah diperbolehkan mengebumikan jazad seorang Muslim di pemakaman Non-Muslim? Memandang akhir-akhir ini banyak sekali berita kematian di beberapa daerah yang tidak memungkinkan untuk dipisah di tempat pemakaman yang berbeda. Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

[Sholehuddin, Pati]

Admin – Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Hukum asal ketika mencampur antara orang Muslim dan Non-Muslim di satu tempat pemakaman umum (TPU), ulama Syafi’iyyah tidak memperbolehkannya. Hal ini dikatakan secara tegas oleh Imam an-Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab.

اتَّفَقَ أَصْحَابُنَا رَحِمَهُمْ اللَّهُ عَلَى أَنَّهُ لَا يُدْفَنُ مُسْلِمٌ فِي مَقْبَرَةِ كُفَّارٍ وَلَا كَافِرٌ فِي مَقْبَرَةِ مُسْلِمِيْنَ

“Ulama Syafi’iyyah sepakat tidak memperbolehkan untuk mengebumikan jenazah seorang Muslim di satu pemakaman bersama Non-Muslim. Juga tidak memperbolehkan orang Non-Muslim berada di satu pemakaman bersama dengan orang Muslim.”[1]

Larangan ini dilandasi dari hadist Nabi yang mengatakan:

عَن عَليّ كَرَمَ اللهُ وَجْهَهُ قَالَ أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَدْفَنَ مَوتَانَا وَسَطَ قَوْمِ صَالِحِيْنَ فَإِنَّ الْمَوْتَى يَتَأَذُّوْنَ بِالْجَارِ اَلسُّوْءِ كَمَا يَتَأَذَّى بِهِ الْأَحْيَاءُ

Dari sahabat Ali Karomallahu wajhah berkata: “Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk mengubur jenazah dari golongan kami (Muslim) di tengah pemakaman orang-orang shalih. Sesungguhnya orang-orang yang telah meninggal, juga merasakan sakit bertetangga dengan orang yang buruk, sebagaimana orang yang masih hidup merasakannya.”[2]

Hadits ini memberikan suatu hukum bahwa disunahkan bagi seorang Muslim memilihkan tempat bagi jenazah saudaranya untuk ditempatkan di dekat makam orang-orang shalih. Ini dimaksudkan agar jenazah tersebut mendapakan keberkahan karena dekat dengan mereka. Hendaknya juga untuk menjauhkan jenazah tersebut dari orang-orang sebaliknya. Karena dikhawatirkan, ia merasakan sakit sebab bertetangga dengan orang yang buruk.

Baca juga: Hukum Melantunkan Dzikir Saat Mengiringi Jenazah

Diperbolehkan ketika adanya dhorurat

Ketika dalam kondisi tertentu, mencampur jenazah Muslim dan Non-Muslim dalam satu TPU, hukumnya diperbolehkan, tetapi hanya ketika ada suatu dharurat. Hal ini seperti yang difatwakan oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili.

مَا حُكْمُ دَفْنُ المُسْلِمِ فِي مَقَابِرِ غَيْرِ الًمُسْلِمِيْنَ، حَيْثُ لَا يُسْمَحُ لِلدَّفْنِ خَارِجِ الْمَقَابِرِ الْمُعْدَةِ لِذَلِكَ وَلَا تُوْجَدُ مَقَابَرِ خَاصَةً بِالْمُسْلِمِيْنَ فِي مَعْظَمِ الْوِلَايَاتِ الْأَمَرِيْكِيَّةِ وَالْأَقْطَارِ الْأَوْرَبِيَّةِ؟

“Apa hukum mengubur seorang Muslim di pemakaman non-Muslim karena tidak diperbolehkan mengubur di luar pemakaman yang disiapkan dan tidak ditemukan pemakaman Muslim di sebagian besar negara bagian Amerika dan negara-negara Eropa?”

Beliau menjawab:

إِنَّ دَفْنَ الْمُسْلِمِ فِي مَقَابِرِ غَيْرِ الْمُسْلِمِيْنَ فِي بِلَادِ غَيْرِ إِسْلَامِيَّةِ جَائِزٌ لِلضَّرُوْرَةِ.

“Mengubur seorang Muslim di sebagian wilayah pemakaman non-Muslim diperbolehkan ketika adanya dharurat.” [3]

Pada masa sekarang dengan merebaknya kasus orang meninggal dunia, banyak pemakaman khusus Muslim yang telah penuh, sehingga mau tidak mau untuk menguburnya di pemakaman Non-Muslim yang masih longgar. Hukum mengubur di tempat tersebut diperbolehkan ketika memang sudah tidak ada tempat lagi untuk mengebumikan orang Muslim di TPU khusus orang Muslim.[]

Tonton juga: Sisi Positif di Masa Pandemi

Mencampur Pemakaman Muslim dan Non-Muslim

[1] Imam An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarah al-Muhaddzab, hlm. 286, vol. V (CD: Maktabah Syamilah)
[2] Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Syarah as-Shudur, hlm. 106 (CD: Maktabah Syamilah)
[3] Wahbah az-Zuhaily, Al-Fikih al-Islamiy wa Adillatuhu, hlm. 5109, vol. 7 (CD: Maktabah Syamilah)

Selalu Belajar dan Waspada dari Fitnah Iblis

Syeikh Abu al-Faraj mengatakan, setiap manusia dalam penciptaannya, disisipkan pula hawa nafsu dan syahwat. Tujuannya supaya ia bisa mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Anak adam juga diberikan amarah supaya bisa menghindari sesuatu yang ia benci. Dan memberikan akal, supaya memiliki etika. Bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Diciptakannnya setan, sebagai penghasutnya, agar manusia berlebihan dalam beberapa hal. Sebuah kewajiban bagi orang yang memiliki akal sehat selalu waspada, selalu berhati-hati akan godaan-godaan setan.

Selalu menyadari bahwa setan sudah menobatkan dirinya sebagai musuh , sejak zaman nabi adam diciptakan. Seumur hidupnya, setan akan selalu berjuang untuk merusak keadaan manusia.

Baca juga: KEUTAMAAN IBADAH DI MALAM HARI

Allah SWT sudah memerintahkan untuk berhati-hati dalam al-Quran disebutkan;

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ وَمَن يَتَّبِعْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأْمُرُ بِٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَر

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (QS. An-Nur:21)

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَٰبَنِىٓ ءَادَمَ أَن لَّا تَعْبُدُوا۟ ٱلشَّيْطَٰنَ ۖ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya: “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu.” (QS. Yasin:60)

Berhati-hati dari Fitnah Iblis dan Rencana Jahatnya.

Sudah menjadi keharusan bagi setiap insan, untuk selalu berhati-hati. Selalu memikirkan dirinya agar tidak masuk dalam perangkap setan. Seyogyanya, setiap manusia belajar terhadap sikap setan ketika adam baru diciptakan. Dimana saat itu, iblis sangat membanggakan derajatnya, menyombongkan dirinya, dan merasa lebih baik dari Adam yang baru diciptakan oleh Allah. Sampai iblis mengucapkan;

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ

Artinya; “Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. al-A’raf:12).

Iblis menyikapi penciptaan adam tidak dari sudut pandang hikmah, lalu memutuskan untuk mengambil sikap sombong dan angkuh di hadapan Allah. Sampai iblis mengatakan ‘Saya lebih baik daripadanya.’ Kemudian ia tidak mau bersujud, berimbas pada turunnya derajat iblis dan yang pantas didapatkannya adalah laknat dan siksa.

Semoga kita semua selalu dijaga oleh Allah SWT dari perangkap setan.

Konten menarik lainnya bisa dilihat di instagram @pondoklirboyo

Syaikh Wasil Kediri: Muslim Pertama di Indonesia (2-habis)

Baca dulu Bagian I

Prof. Dr. Habib Mustopo, guru besar Universitas Negeri Malang yang melakukan penelitian dengan basis data historis dan arkeologis menyimpulkan bahwa tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil yang dikebumikan di makam Setana Gedong adalah ulama besar yang hidup pada abad ke-12, yaitu pada masa kerajaan Kediri. Jika nama al-Wasil tercantum pada inskripsi Setana Gedong, nama Syamsuddin dicatat dalam historiografi Jawa yang tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Di dalam historiografi Jawa tersebut, tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil disebutkan sebagai ulama besar asal Negeri Ngerum/Rum (Persia), yang datang ke Kediri untuk berdakwah dan atas permintaan Raja Kediri Sri Maharaja Mapanji Jayabhaya membahas kitab Musyarar, yang berisi ilmu pengetahuan khusus seperti perbintangan (ilmu falak) dan nujum (ramal-meramal).

Naskah Serat Jangka Jaya yang muncul pada abad ke-17 yang diyakini masyarakat Jawa sebagai karya Sri Mapanji Jayabaya dalam meramal masa depan Nusantara, dihubungkan dengan keberadaan tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil yang berasal dari Rum (Persia) ini. Catatan Historigrafi Jawa yang menyebut bahwa tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil berasal dari Rum (Persia), sedikitnya dibenarkan oleh inskripsi yang menunjuk pada kata al-Abarkuhi yang berhubungan dengan kota kecil Abarkuh di Iran (Persia).

Menurut Habib Mustopo, tokoh Syaikh Syamsuddin al-Wasil inilah yang kiranya telah berupaya menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di daerah pedalaman Kediri pada abad ke-12. Itu sebabnya, sangat wajar jika setelah meninggal, Syaikh Syamsuddin sangat dihormati masyarakat Islam di pedalaman.

Menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, makam Syaikh Syamsuddin semula berada di tempat terbuka. Untuk menghormati jasa-jasanya, dibangunlah makamnya oleh seorang Bupati Suryo Adilogo (menurut sumber historiografi adalah mertua Sunan Drajat putra Sunan Ampel) hidup di abad ke-16, maka masuk akal jika bangunan makam Syaikh Syamsuddin secara arkeologis berasal dari abad ke-16, meski makam itu sendiri sudah ada di kompleks pekuburan Setana Gedong sejak abad ke-12 Masehi.

Lepas dari sulitnya merekonstruksi sejarah Syaikh Syamsuddin al-Wasil dari kajian arkeologis, catatan-catatan historiografi dan cerita tutur masyarakat muslim Jawa meyakini bahwa almarhum yang dikebumikan di kompleks makam Setana Gedong adalah seorang tokoh sufi yang sakti asal negeri Rum (Persia), yang diyakini menjadi guru rohani Sri Mapanji Jayabaya Raja Kediri. Lantaran itu, situs makam kuno yang terletak di dekat reruntuhan Candi Kuno di kompleks Pemakaman Setana Gedong Kota Kediri itu, sampai kini masih dijadikan pusat ziarah dan dikeramatkan oleh masyarakat.][

 

Sumber: Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah, Depok: Pustaka IIMaN, 2016.

 

Penulis, A. Farid, Siswa kelas 2 Aliyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien, Pemimpin Umum Majalah Dinding Hidayah.

Syaikh Wasil Kediri: Muslim Pertama di Indonesia (1)

Makam Syaikh Syamsuddin al- Wasil atau Sulaiman Wasil Syamsuddin, termasuk makam islam tertua setelah Fatimah binti Maimun. Makam Syaikh Syamsuddin al-Wasil terletak di kompleks makam Setana Gedong, Kediri. Kompleks makam ini terletak di dalam Kota Kediri, tepatnya di pusat kota yang bisa dicapai dari Jalan Dhoho belok ke kanan, masuk kampung Setana Gedong. Sekitar 100 meter dari ujung kampung, terletak Masjid Setana Gedong. Kompleks makam Syaikh Syamsuddin al-Wasil terletak di barat laut masjid.

Menurut hasil survei epigrafi Islam yang dilakukan Louis-Charles Damais dalam laporan berjudul Lepigraphie Musulmane Dans le Sud-est Asiatique inskripsi kuno di makam Setana Gedong di Kediri, menyebutkan makam seorang “al-Imam al-Kamil”, yang efitafnya diakhiri dengan keterangan “al-Syafi’i madzhaban al-arabi nisban wa hua tadj al-qudha(t).” Namun, tidak terdapat tanggal tepat tentang inskipsi tersebut.

Inskripsi di makam Setana Gedong di Kediri itu terdiri dari tiga bidang empat persegi; satu di atas yang lain, dengan tiap bidang berisi dua baris tulisan mendatar; berarti keseluruhanya ada enam baris. Namun, permukaan lempengan itu rusak pada bidang kedua, di akhir baris pertama dan sisi baris kedua, sedangkan di bidang ketiga hanya tampak beberapa huruf di awal baris pertama serta sekelompok huruf terpisah di paruh kiri baris kedua. Menurut Claude Guillot dan Ludvik Kalus dalam Lemigmatique Inscription Musulmane du Maqam de Kediri, perusak itu seperti disengaja terbukti dari pukulan-pukulan yang dilakukan oleh orang beragama islam yang paham bahasa Arab, karena para perusak tidak merusak nama Nabi dalam al-hijrah al-nabawiyah setelah tanggalnya. Kelihatannya, bagian yang rusak itu pernah sengaja dimartil, artinya tulisan itu sengaja dihapus.

Masih menurut Claude Guillot dan Ludvik Kalus, dalam inskripsi Setana Gedong tersebut ditemukan sejumlah kata yang unik dalam epigraf Arab, seperti kata sifal al-wasil yang digunakan untuk menyifati sebuah kata benda seperti bentuk partisipal al-mustakmil. Kata al-wasil dan al-mustakmil tidak ditemukan dalam thesaurus d’epigraphie Islamque. Namun, kata al-wasil ini dihubungkan oleh masyarakat sebagai istilah yang berhubungan dengan tokoh suci yang dikebumikan di makam Setana Gedong. Sebaliknya, menurut Claude Guillot dan Ludvik Kalus, yang penting dalam inskripsi itu adalah penggunaan kata benda dalam bentuk kasus langsung tiga kali untuk menyatakan keadaan yang berhubungan dengan almarhum: (1) asy-Syafi’i madzhaban (2) al-Abarkuhi, dan (3) al-Bahrayni.

Claude Guillot dan Ludvik Kalus, menafsirkan ketiga kata dalam inskripsi tersebut berhubungan dengan tokoh yang dimakamkan di Setana Gedong. Pertama, kata asy-Syafi’i madzhaban merujuk pada penegasan bahwa tokoh yang terkubur di Setana Gedong itu bermadzhab Syafi’i, suatu hal yang tidak mengherankan di dunia Melayu, tempat Madzhab Syafi’iy menjadi madzhab fikih paling dominan. Kedua, kata al-Abarkuhi bisa jadi berhubungan dengan kota Abarquh atau Abarkuh, kota kecil di Iran antara Shiraz dan Yazd. Ketiga, kata al-Bahrayni mungkin berkaitan dengan Kepulauan Bahrain atau juga dapat dihubungkan dengan suku Arab “al-bahraniyun” yang pada masa lampau berkelana di wilayah Irak.

Dengan berbagai kesulitan mengungkap siapa jati diri almarhum yang dikebumikan di Setana Gedong karena rusaknya inskripsi, Claude Guillot dan Ludvik Kalus menyimpulkan bahwa tokoh yang dijuluki masyarakat dengan Syamsuddin al-Wasil itu adalah seorang ‘alim, mubaligh Kediri. Mereka juga berargumen bahwa kata maqam yang terdapat dalam inskripsi Setana Gedong bukanlah menunjuk kuburan melainkan lebih berhubungan dengan “momen peringatan” yang dibuat lebih belakangan.

Bersambung ke Bagian II (Habis)

Pentingnya Iman dan Menjadi Pribadi Bermanfaat

Dalam hal beribadah, seringkali kita temui atau justru kita merasakan gelisah, bingung, atau bahkan timbul rasa keragu-raguan dalam menjalaninya. Perasaan itu muncul diantaranya karena kita tidak tahu mana ibadah yang perlu kita dahulukan setelah ibadah wajib.

Dalam agama Islam –diluar  ibadah wajib, banyak sekali kita temukan ibadah-ibadah lain atau yang kita kenal dengan istilah ibadah sunnah. Bahkan pekerjaan apapun bisa menjadi sebuah ibadah jika kita niati untuk beribadah. Satu contoh adalah makan. Jika makan itu kita niatkan untuk mengisi tenaga yang kemudian tenaga itu kita gunakan untuk ibadah, maka makan itu sendiri sudah termasuk ibadah.

Sebelum kita berbicara mengenai hal ini, perlu kita ketahui bersama bahwa sebenarnya ibadah itu tidak hanya selalu berhubungan antara kita dan Allah swt saja, akan tetapi ibadah juga berhubungan diantara sesama makhluk hidup atau lingkungan. Karena Allah swt sendiri memerintahkan kita untuk berbuat baik terhadap seluruh makhluknya. Artinya, pekerjaan apapun ketika mempunyai dampak baik terhadap sesama makhluk, maka itu sudah bisa kita katakan sebagai ibadah.

Dari banyaknya pekerjaan yang bisa kita rubah menjadi sebuah ibadah, sebenarnya ada dua pekerjaan yang paling utama untuk dilakukan seorang muslim. Pertama, iman kepada Allah SWT, dan kedua, memberikan kemanfaatan terhadap sesama. Seperti yang tertulis dalam sebuah hadis Nabi: ”Ada dua hal atau pekerjaan dimana tidak ada sesuatu apapun yang lebih utama darinya. Dua hal ini adalah iman kepada Allah swt dan memberi kemanfaatan kepada sesama muslim,”. Kemanfaatan ini bersifat umum, baik secara lisan, harta, tenaga, pikiran, atapun lainnya.

Dalam sebuah hadis lain Nabi berkata: Barang siapa yang di waktu pagi ia tidak mempunyai niat sedikit pun untuk membuat kedholiman kepada sesamanya, maka ia akan diampuni atas dosa-dosa yang pernah ia lakukan. Dan barang siapa yang di waktu pagi ia mempunyai niat untuk menolong orang yang didholimi dan memberi kebutuhan-kebutuhan orang muslim, maka ia akan mendapatkan pahala yang diumpamakan seperti halnya ibadah haji yang mabrur.” 

Dari penjelasan hadis di atas, setidaknya kita sudah bisa mengetahui bahwa setelah kita iman kepada Allah swt, maka yang perlu kita lakukan adalah berbuat baik kepada sesama makhluk. Lebih-lebih dengan sesama muslim.][