Tag Archives: Islam

Implementasi Ilmu Kritik Hadis dalam Penulisan Sejarah Islam

Implementasi Ilmu Kritik Hadis dalam Penulisan Sejarah Islam

Penulis: Khoirul Umam

Penulisan sejarah memiliki akar kuat dalam peradaban Islam. Sejak era sahabat, hadis Nabi Saw, yang merupakan kabar dari masa lalu, telah diseleksi ketat untuk diriwayatkan. Meski hadis-hadis nabi beserta metode kritiknya (ilmu musthalah al-hadis / naqd al-hadis) baru dikodifikasi sekitar abad 2 hijriyah.

Dari embrio ilmu kritik hadis tersebut, kisah-kisah sejarah sepanjang peradaban Islam—bahkan pra-Islam, dibukukan oleh sejarawan Muslim. Fakta historis itu, tak seperti yang diklaim Jabiri bahwa sejarah dengan metode kritik matan (interpretasi sumber sejarah) adalah hal baru yang dicetuskan oleh Ibnu Khaldun. Juga tak sesuai dengan apa yang dikatakan Arkoun yang mengatakan sejarah tak memerlukan rantai sanad, yang urgen hanyalah kritik matan.

Meski kaidah ilmu hadis tak mudah diimplementasikan dalam menyeleksi sumber sejarah, tetapi historiografi (penulisan sejarah) menggunakan metode ilmu hadis bukan berarti tak dapat diupayakan. Mari kita buktikan, apakah ilmu hadis mempengaruhi penulisan sejarah?

Pengaruh penulisan sejarah dalam ilmu hadis

Jika diamati, banyak sumber-sumber tertulis sejarah Islam tak menyantumkan riwayat. Kalau pun ada, tidak dapat dipastikan semua rantai periwayat sejarah itu absah menurut ilmu hadis. Inilah akar masalah yang terjadi jika ingin membenturkan ilmu hadis dalam sejarah.

Tetapi upaya penyelesaian masalah ini dapat dicairkan melalui kaidah ilmu hadis berupa: “hadis dloif tidak boleh digunakan sebagai landasan hukum syariat dan permasalahan akidah, seperti sifat-sifat Allah SWT. Tetapi hadis dloif dapat digunakan untuk fadloilul ‘amal dan kisah.”

Jika hadis Nabi yang dloif legal sebagai referensi sebuah kisah, maka kisah sejarah dengan jalur penyampaian lemah, legal juga untuk dijadikan sumber sejarah. Yang terpenting adalah menjaga jarak, agar hadis dan kisah sejarah yang dloif (lemah) tidak digunakan sebagai sumber sejarah dari hal-hal yang berkaitan dengan syariat; seperti sejarah Nabi, Khulafau Rasyidin dan para sahabat.

Alasan kisah sejarah yang memiliki sumber lemah tak lagi berarti. Terlebih banyak sejarawan Muslim ternyata bukan ‘manusia suci’ dalam bidang hadis; sebut saja Al-Waqidi, Muhammad bin Ishaq, dan Saif bin Umar. Beliau bertiga bukan tokoh kompatibel dalam urusan hadis, meski ketiganya adalah tokoh sejarawan besar Muslim.

Karena pendekatan kaidah seputar hadis dloif di atas adalah wajar apabila Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan, “Muhammad ibnu Ishaq adalah pemimpin periwayat kisah-kisah perang, meski ia seorang Mudalis (meriwayatkan hadis yang memiliki kelemahan) ,” “Riwayat hadis al-Waqidi ditinggalkan, meski ilmunya begitu luas”, dan “Saif bin Umar lemah dalam hadis, namun karyanya dapat dijadikan pegangan dalam sejarah.”

Yang menguatkan pendapat Ibnu Hajar adalah pujian Ibnu Khaldun akan kepakaran sejarah al-Waqidi dan Ibnu Ishaq. Meski Ibnu Khaldun sendiri tak luput mengkritik beberapa kisah sejarah yang keduanya ceritakan.

Ilmu hadis lain yang dapat dimanfaatkan dalam penulisan sejarah adalah “ilmu jarh wa ta’dil”. Ilmu tersebut bermanfaat untuk menuliskan sejarah seseorang (biografi). Dalam hal ini Ibnu Hajar al-Asqalany mengatakan:

كُلُّ مَنْ ثَبَتَتْ عَدَالَتُهُ لَا يَقْبَلُ جَرْحُهُ حَتَّى يَتَبَيَّنُ ذَلِكَ عَلَيْهِ بِأَمْرٍ لَا يَحْتَمِلُ غَيْرَ جَرْحِهِ

“Setiap tokoh dengan sifat keadilan yang telah paten tidak dapat dianulir tidak memiliki kredibilitas hingga jelas sebuah hal yang tidak memiliki kemungkinan lain kecuali hal itu menghilangkan kredibilitas sang tokoh.”

baca juga: Kitab Mustolahul Hadis Bagi Pemula

Kaidah ini menyerukan untuk hati-hati dalam mengklaim seorang tokoh dalam alur sejarah yang panjang bahwa ia tak baik atau sesat. Klaim sesat dan menyimpang hanya dapat dibenarkan jika memiliki satu kemungkinan: “dia sesat”.

Karena itu, sangat disayangkan belakangan Ibnu Taimiyah dianulir sesat dalam beberapa diskusi ilmiah hanya dengan menukil satu dua sumber dengan tanpa dibandingkan dengan sumber lain serta tanpa diteliti letak kesalahan dan kesesatan beliau.

Terlebih, Ibnu Taimiyah adalah guru dari al-Hafidz ad-Dzahabi, yang baginya, Ibnu Taimiyah adalah seorang mujtahid yang dapat benar atau salah. Juga Ibnu Taimiyah sering disebut dalam kitab-kitab Madzhab Hanbali sebagai “Syaikh al-Islam” dan “Syaikh al-Akbar.” []

tonton juga: Filosofi Ngadep dampar KH. Abdul Karim

Implementasi Ilmu Kritik Hadis dalam Penulisan Sejarah Islam
Implementasi Ilmu Kritik Hadis dalam Penulisan Sejarah Islam

Referensi:

Ibnu Hajar Al-Asqalany, At-Tahdzib Juz 1 hlm. 344, Juz 2 hlm. 194, dan Juz 7 hlm. 273.
Ibnu Hajar Al-Asqalany, At-Thobaqah Al-Mudalisin hlm. 51
Ibnu Kholdun, Muqadimah hlm. 4
Ad-Dzahaby, Siyar ‘Alami Nubala, Juz 5 Hlm. 142
As-Subki, Ta’liqat Muqadimah Ibnu Sholah, hlm.254
Akram Dziyaul Umri, Manhaj kitabah At-Tarikh Al-islamy, hlm. 341

Kepedulian Islam dalam Kekeluargaan

Kepedulian Islam dalam Kekeluargaan

Kepedulian Islam dalam masalah kekeluargaan, sudah dijamin dengan adanya beberapa hukum dalam kekeluargaan. Dalam syariat pun sudah terperinci akan hal tersebut. Banyak sekali dalam surat Al-Quran atau hadis Rasulullah Saw; yang membahas perihal waris, wasiat, nikah, talak, dan lain sebagainya.

Juga telah disebutkan beberapa sebab-sebab yang menimbulkan perpecahan dalam kasih sayang.

Pertama, Talak

Dalam Islam, talak merupakan sesuatu yang sangat-sangat merugikan dalam sebuah hubungan. Perpisahan antara dua pasangan pun terjadi karena hal ini. Talak juga akan mengakibatkan anak-anak mereka tersia-siakan. Menjadikan kasih sayang berbalik menjadi kebencian. Ini adalah sebab talak tidak direkomendasikan dalam Islam.

Kedua, durhaka pada kedua orang tua

Sesungguhnya syariat melarang dan memberikan peringatan akan hal tersebut. Menganjurkan setiap muslim agar selalu berbuat baik kepada keduanya, sudah jelas tertera dalam Al-Quran dan hadis. Hak kedua orang tua berhubungan langsung dengan hak Allah, seperti firman Allah dalam surah Al-Isra’ ayat 23-24 :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Rasulullah pun telah bersabda:

ثلاثة لا ينظر الله اليهم يوم القيامة العاق لوالديه ومدمن الخمر والمنان.

“Tiga orang yang Allah tidak akan melihatnya di Hari Kiamat; Orang yang durhaka pada orang tua, pecandu khamr (minuman keras atau sejenisnya), dan orang yang mengharapkan apa yang ia berikan.”

Tidak ada yang meragukan bahwa durhaka kepada kedua orang tua merupakan dosa yang sangat besar.

Ketiga, memutus silaturahim.

Islam juga melarang hal ini, karena ada firman Allah dalam Surah Muhammad ayat 22 :

فَهَلۡ عَسَيۡتُمۡ اِنۡ تَوَلَّيۡتُمۡ اَنۡ تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ وَتُقَطِّعُوۡۤا اَرۡحَامَكُمۡ

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?

Terakhir adalah zina. Hal ini adalah yang paling merusak kekeluargaan. Rusaknya moral sebuah bangsa, ditengarai dengan bebasnya pergaulan. Tidak ada batasan antara laki-laki dan perempuan. Berapa banyak orang yang harus kehilangan masa depannya yang emas akibat perzinaan.

Semoga kita semua dijaga oleh Allah dari segala sesuatu yang merusak kekeluargaan dengan cara Islam.

Baca juga: SAAT NABI DITANYA SOAL KEWANITAAN
Simak juga: KENAPA HARUS MEMONDOKKAN ANAK? || KH. ABDULLAH KAFABIH

Islam Agama yang Akomodatif dengan Budaya

Penulis: Rif’an Haqiqi

Islam yang lahir beberapa abad lalu di suatu kota di semenanjung Arab, sekarang sudah masuk ke segala penjuru dunia. Dalam perjalanannya dari kota asal menuju daerah yang dimasuki, tentunya Islam bertemu, bersinggungan, dan bergaul dengan berbagai macam budaya dan peradaban.

Hal ini merupakan sebuah keniscayaan. Layaknya orang yang ingin memiliki banyak teman dan relasi, dia harus bergaul dan beradaptasi dengan banyak orang dengan karakter beragam. Jika tidak ingin bersentuhan dengan hal asing—diam saja dalam gua.

Maka, menyimpan dan mengeksklusifkan Islam agar tidak bersentuhan dengan banyak hal (yang dianggap mengurangi nilai ke-Islaman oleh sebagian kalangan) sama saja menutup atau paling tidak mempersempit pintu dakwah Islam. Prof. Nadirsyah Hosen memberi tamsil, Kentucky Fried Chicken (KFC) yang ada di Kentucky, USA tentu berbeda dengan KFC Indonesia. Jika di sana disajikan dengan kentang, di Indonesia disajikan bersama nasi. Namun menu utamanya sama, ayam goreng.

Saat masuk ke Indonesia dan sekitarnya, otomatis Islam pun beradaptasi dengan budaya setempat. Adaptasi di negeri ini pada saat itu bukanlah hal yang mudah, karena budaya daerah setempat sudah tercampur ajaran kepercayaan lain seperti Hindu. Kemenangan Islam dalam pertarungan budaya demi memperebutkan tempat di bumi Nusantara ini adalah hasil jerih payah yang tak kenal lelah para pendakwah, dalam waktu yang tak sebentar pula.

Di samping keilmuan, tentu kesabaran, ketelatenan, keikhlasan, dan kebijaksanaan menjadi modal pokok para pendakwah Islam di bumi Nusantara kala itu. Maka kita sudah sepantasnya bersyukur dan menghormati jasa-jasa para wali tersebut. Langkah yang diambil beliau-beliau tentu sudah melalui proses pemikiran yang matang. Tidak sepatutnya kita dengan congkaknya mengubah tatanan yang sudah sedemikian mapan.

Metode dakwah demikian terbukti efektif menarik banyak massa, seperti yang dicatatkan Kiai Abul Fadhl Senori, Tuban dalam bukunya Ahla al-Musamarah:

فلم يزل السيد رحمة يدعون الناس إلى دين الله تعالى وإلى عبادته حتى أتبعه في الإسلام
.جميع أهل عمفيل وما حوله وأكثر أهل سوربايا وما ذلك إلا بحسن موعظته وحكمته في الدعوة
وحسن خلقه مع الناس وحسن مجادلتهم إياهم.

“Sayyid Rahmat (Sunan Ampel) tak henti-hentinya mengajak orang-orang untuk masuk ke-agama Allah dan menyembah-Nya, hingga seluruh penduduk Ampel dan mayoritas penduduk Surabaya masuk Islam. Hal tersebut tak lain karena bagusnya nasihat, kebijaksanaan dalam berdakwah, akhlak yang luhur, dan perundingan (adu argumen) santun yang beliau lakukan jika diperlukan”.

Seperti itulah Islam mula-mula merebak ke penjuru Nusantara, maka bukan sesuatu yang mengejutkan jika karakteristik Islam masyarakat Indonesia cenderung santun dan luwes, di samping juga karena karakteristik penduduknya yang santun dan bersahabat. Itu merupakan hasil adaptasi Islam dengan kultur Nusantara, hal ini bukan berarti mengubah Islam dari watak originalnya, akan tetapi merupakan sebuah perantara agar Islam dapat diterima dengan lapang dada tanpa paksaan oleh penduduk Nusantara. Inilah manifestasi khuluqin hasan yang diperintahkan Nabi Saw.:

وخالق الناس بخلق حسن

“Dan perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik”
Sayyidina ‘Ali sebagaimana dikutip oleh Syekh Nawawi Banten dalam Mirqat Su’ud al-Tashdiq menjelaskan makna dari kata khuluqin hasan (ahlak yang baik) adalah:

موافقة الناس في كل شيئ ما عدا المعاصي

“Mengikuti (adat) orang-orang dalam segala hal selain kemaksiatan”
Maka, selagi kultur dan budaya Nusantara tidak melanggar rambu-rambu syari’at, hal itu tetap dipertahankan sebagai penghormatan terhadap budaya setempat, juga pelestarian keberagaman yang sudah menjadi sunnatullah (ketetapan Allah). Dan jika ada praktik atau ritus budaya yang melanggar rambu-rambu syariat, langkah yang diambil adalah membersihkan ritus tersebut dari kemaksiatan, bukan menghilangkan praktiknya secara keseluruhan.

Dalam misi penyebaran, Islam mau tidak mau harus berinteraksi dengan berbagai budaya. Bahkan, interaksi antara Islam dan budaya setempat sudah ada sejak di tempat kelahirannya. Ada beberapa budaya orang pada masa itu yag diakomodir dalam syariat. Seperti tradisi akikah, tradisi ini sudah ada sejak sebelum Islam datang. Lalu ketika Islam datang, tradisi yang tadinya mengandung unsur keharaman ini dibersihkan tanpa menghilangkan asalnya.
Seperti halnya kisah dari Abdullah bin Buraidah yang ada dalam Sunan Abi Dawud dan Sunan Al-Nasa’i memaparkan:

عن عبد الله بن بريدة عن أبيه قال: كنا في الجاهلية إذا ولد لأحدنا غلام ذبح شاة ولطخ رأسه بدمها.
فلما جاء الله بالإسلام كنا نذبح شاة ونحلق رأسه ونلطخه بزعفران . حديث حسن صحيح (سنن أبي داود، سنن البيهقي)

“Diceritakan dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ayahnya bercerita, “Pada masa Jahiliyah, jika ada bayi yang baru lahir, kami menyembelih kambing dan mengoleskan darahnya pada kepala bayi tadi. Lalu setelah Allah datangkan Islam pada kami, yang kami lakukan adalah menyembelih kambing dan mengolesi kepala bayi dengan minyak Za’faron” (Hadis Hasan Shahih).

Contoh di atas adalah bentuk akomodasi Islam terhadap budaya, di mana yang tadinya tradisi akikah diwarnai dengan perbuatan haram berupa pengolesan darah yang dalam fikih dikategorikan sebagai tadhammukh binnajasah (berlumur dengan perkara najis), digantikan dengan minyak Za‘faran tanpa menghilangkan tradisi itu sendiri, yang justru tradisi tersebut diakomodir menjadi kesunahan.

Lalu budaya dan warisan yang tidak mengandung kemungkaran—namun juga tidak bernuansa Islam, tetap dilestarikan sebagai bentuk pelestarian keanekaragaman yang sudah menjadi ketetapan Allah. Juga sebagai bentuk manifestasi dari khuluqin hasan (perilaku yang baik) yang disabdakan Nabi Saw. seperti dijelaskan Sayidina ‘Ali bahwa makna khuluqin hasan adalah mengikuti apa saja yang dilakukan orang lain kecuali maksiat.[]

Baca juga:
IMAM AN-NAWAWI: SANG IDOLA FUQOHA MASA KINI

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Beserta keluarga channel kami untuk mendapatkan video-video terbau darinya

Santri Mengaji
LIM Production

Islam Produktif dalam Persaingan Budaya yang Fluktuatif

Umat Muslim dalam keresahan, terutama para kaum cendekia, baik yang biasa dipanggil ulama atau yang bukan. Bagaimana tidak, peradaban Islam yang pernah agung itu, saat ini mengalami kemerosotannya yang paling tajam. Keresahan ini bisa dipahami karena sudah tercetak dalam keyakinan orang Muslim bahwa agama mereka adalah agama yang menyeluruh, universal dalam setiap waktu dan tempat (shālih li kulli zamān wa makān). Adagium ini bukanlah isapan jempol belaka. Dilihat dari penganutnya, agama Islam tidak tersekat batas-batas genealogis dan geografis. Segala macam ras dan berbagai macam suku bangsa bisa menganut agama Islam.

Realitas ini semakin membuat adagium itu mendapatkan tempatnya, meskipun ia bukan nash. Apalagi, akan sangat aneh jika kita melihat orang Aborigin menganut agama Yahudi atau pun orang Negro dari Zimbabwe menganut agama Tokugawa di Jepang. Jadi realitas-realitas sosial semacam itu membuat prinsip universalitas Islam semakin menemukan relevansinya. Bahkan Allah Swt. menyebut hal itu sebagai tanda-tanda-Nya.

Maka ketika eksistensi peradaban agama Islam terancam oleh invasi-invasi yang bersifat inovatif dan modern, reaksi pertama umat Islam adalah resistensi serta penolakan mentah-mentah. Paradoks ini sangat membingungkan; di sisi lain ada doktrin-doktrin yang meyakini bahwa agama ini universal dan selalu unggul (ya’lū wa lā yu’lā alaih), namun reaksi yang ditunjukkan terhadap inovasi modernisme adalah penolakan. Oleh karena itu, reaktualisasi dan reinterpretasi (meskipun hal ini telah didengungkan beribu-ribu kali) menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Keluhuran agama Islam tidak bisa dicapai dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional sambil meninggalkan keagungan kebudayaan modern. Agama Islam haruslah dinamis. Hal ini bukanlah hal yang asing bagi Islam. Sahabat Ali Ra. pernah berkata dalam satu kesempatan:

علّموا أولادكم في زمانهم فإنهم يعيشون في غير زمانكم

“Ajarilah anak kalian sesuai dengan zamannya. Karena mereka tidak hidup di zaman kalian.”

Keharusan Pembaruan

Pembaruan (tajdīdiyyah, renewal) bukanlah sesuatu yang aneh dalam Islam. Syaikh Abdullah bin Bayyah menyebut hal itu sebagai sebuah keniscayaan Ilahi. Hal ini menurut beliau, bersandar pada hadis Nabi Saw:

إنّ الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها أمر دينها

“Sesungguhnya Allah Swt mengutus bagi umat ini di setiap awal seratus tahun seseorang yang membarui urusan-urusan agamanya.”

Oleh karena itu, menutup diri dari pembaruan merupakan perlawanan terhadap kenyataan Ilahi. Pembaruan-pembaruan yang disasar di sini haruslah sesuatu yang bersifat match dengan perkembangan zaman. Karena, seperti sering dikatakan, al-ālim ibnul waqti. Orang pandai adalah dia yang memahami masanya; Putera Zaman. Begitu juga, setiap usaha pembaruan yang melawan dan bertentangan dengan zaman bukanlah merupakan pembaruan secara nyata. Melainkan retorika yang diulang-ulang. Keharusan pembaruan ini harus dilakukan agar dua doktrin yang telah disebutkan di atas (universalitas dan keluhuran Islam) tidak kehilangan relevansinya. Apabila ini yang terjadi, hal ini tentulah tidak akan bisa diterima oleh kalangan Islamis.

Seiring dengan berkembangnya budaya dan ilmu pengetahuan, old lifestyle dengan segala cara-cara dan langkahnya yang kuno tidak lagi relevan dengan kehidupan era modern ini. Peradaban modern selalu menuntut suatu hal yang kreatif-inovatif. Begitu pula karakter masyarakatnya yang cepat bosan dengan hal-hal monoton. Berangkat dari kenyataan seperti itu, maka upaya-upaya dalam menjadikan Islam sebagai yang terdepan haruslah menggunakan cara yang modern pula. Cara yang diminati masyarakat pada masa sekarang ini, bukanlah menundukkan agama pada realita. Namun langkah-langkah seperti ini sejatinya adalah upaya agar Islam tetap menapak bumi dan relevan (shalih likulli zaman), tidak menjadi hal yang mengambang dan absurd. Sehingga segala sesuatu yang bersifat destruktif terhadap kondisi sosial juga harus ditolak. Ada beberapa pola dasar yang bisa menjadi contoh konkret bagi hal-hal yang destruktif ini.

Contoh Klasik

Contoh klasik, tanggal 25 Desember dan 14 Februari selalu menjadi hari yang kontroversial di negeri kita yang mayoritas Muslim ini. Hampir setiap tahun, dua hari besar yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam itu selalu melahirkan fatwa haram, atau bahkan kafir bagi umat Islam yang ikut memeriahkan atau bahkan sekedar memberi ucapan selamat. Alih-alih menunjukkan independensi dan keteguhan agama Islam, fatwa ini malah menggambarkan kekalahan umat Islam dalam percaturan peradaban. Fatwa ini semakin memperlihatkan kegagalan “ulama” dalam mengawal umat. Beberapa orang Muslim seakan-akan menganggap hal itu sebagai ancaman yang membahayakan sehingga umat harus dibentengi dari hal itu dengan fatwa haram. Ada subyektifitas yang terselubung dari fatwa itu. Memang, kita harus melindungi diri kita sendiri dari invasi budaya di luar apa yang kita miliki. Tetapi tidak dengan cara destruktif dan kontra produktif. Tidak dengan cara menyerang mereka dengan selusin berondongan fatwa-fatwa agama.

Contoh lain yang bisa kita ambil adalah fatwa pelarangan pemimpin non-Muslim. Pelarangan ini menunjukkan bahwa kondisi agama Islam seakan kalah dalam pertarungan politik dan merasa terancam. Karena, seperti telah dijelaskan di muka—agama Islam adalah agama yang selalu luhur. Maka segala hal yang membuat agama Islam merosot dan tidak luhur harus dibentengi dan dilindungi. Kesalahan penerapan prinsip ini (ya’lu wala yu’la ‘alaih) adalah penyakit yang sedang melanda umat Islam saat ini.

Anggapan ancaman terhadap setiap sesuatu yang dianggap tidak Islami dan pelarang terhadap hal itu adalah sumber gejala kemunduran umat Islam yang semakin membuat Islam tampak terperosok ke bawah. Bukan malah semakin membuat Islam tampak sebagai agama yang luhur dan teguh memegang prinsip tapi semakin membuat Islam tampak sebagai pesakitan.

Analogi

Sebuah perumpamaan klasik sering dikatakan untuk menggambarkan hal ini: andaikan kita seorang pemilik restoran, kebetulan ada restoran milik orang lain yang tak jauh letaknya dari restoran kita, dan ternyata restoran milik orang lain lebih diminati konsumen, maka cara agar restoran kita bisa unggul bukanlah dengan menyebar fitnah bahwa restoran “tetangga” menjual makanan yang telah dicampuri bahan pengawet atau zat kimia berbahaya, ini persaingan amatir dan tidak sehat. Cara yang tepat dalam kasus di atas adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas restoran kita misalkan dengan tampilan fisik restoran yang baru, menambahkan menu baru, atau menyajikan menu lama dengan cara yang baru. Cara yang sehat inilah yang bisa menjadi obat bagi umat Islam dalam menghadapi era modern agar agamanya tidak kehilangan relevansi serta selalu unggul, sesuai dengan doktrinnya.

Dengan kasus fatwa-fatwa tadi, persaingan secara sehat harus dilakukan dengan meningkatkan kualitas penganut agama Islam. Peningkatan kualitas ini, dalam konteks fatwa di atas, bukan dengan menggalakkan fatwa bahwa Natal atau Valentine itu haram dirayakan, melainkan dengan membuat fatwa yang bisa meningkatkan kualitas umat. Sebagai contoh, fatwa untuk merayakan 10 Muharram atau Maulid Nabi harus dibuat dan dipromosikan dengan gencar tanpa perlu memfatwakan melarang merayakan Natal.

Begitu juga dengan permasalahan pemimpin, yang harus dilakukan bukanlah melarang untuk memilih non-Muslim. Melainkan umat Islam harus meningkatkan kualitas menciptakan kader-kader berkompeten yang mampu bersaing. Persaingan-persaingan secara sehat inilah yang harus digalakkan umat Islam agar ia bisa luhur dan universal.

Jika umat Islam sudah senang dan bangga dengan syiar dan kebudayaan Islam sendiri, tanpa fatwa pun mereka dengan sendirinya akan meninggalkan kebudayaan dan segala hal yang kontras dengan Islam.[]

Penulis: Arif Rahman Hakim Syadzili

Baca juga:
FANATIK KEBANGSAAN, BASIS MILITANSI SANTRI MEMBELA NEGERI

Follow juga:
@pondoklirboyo

# Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif

Islam dan Barat : Tak Terpisah Perang

Hubungan Barat dan Islam.

Islam dan Barat dalam sejarahnya telah memberikan sumbangsih sangat besar dalam peradaban Eropa.sudah seharusnya ketegangan kedua peradaban ini tidak menjadi konflik seperti perang dan sebagainya. Warisan peradaban Islam di Spanyol yang dibangun oleh Dinasti Umayyah di sana telah memberikan batu loncatan untuk peradaban Eropa saat ini. Dalam banyak bidang keilmuan yang berkembang di Barat, ulama-ulama Islam telah banyak menghiasi peradaban Eropa.

Tentu dunia Barat sangat berterimakasih kepada Muhammad bin Musa al-Khawarizmi yang telah mengenalkan kepada dunia dasar-dasar algoritma, juga kepada Ibnu Rusydi dan Ibnu Khaldun yang telah mengenalkan mereka kepada pendekatan filsafat yang dibangun sebelumnya di masa Plato dan Aristoteles dan sederet intelektual muslim lainnya.

Sejarah juga telah menceritakan bagaimana Islam dan Barat saling memberikan sumbangsih satu sama lain. Kedua peradaban ini hanya terpisahkan oleh laut Mediterania. Peradaban yang di bangun umat Islam di Kairo tentu sangat dekat jaraknya dengan peradaban Barat yang dibangun di Prancis kala itu.

Mengenai peradaban Islam dan Barat yang agaknya selalu dipertentangkan oleh sebagian orang, Alquran menjawabnya dengan dogma bahwa perbedaan adalah sebuah hal yang tak bisa terelakkan dalam kehidupan manusia. Karena pada hakikatnya manusia telah diciptakan dengan bermacam-macam warna kulit dan bahasa yang berbeda-beda. Karena itulah, perbedaan peradaban Islam dan Barat tidak seharusnya menjadi alasan kebencian dalam motif apapun, termasuk islamophobia yang saat ini sedang berkembang di Barat. Justru adanya perbedaan inilah yang harusnya merekatkan hubungan keduanya.

Baca Juga : Islam yang Ketinggalan

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Ar-Rum: 22)

Di balik semua perbedaan itu, Alquran dari jauh hari juga telah menjelaskan pentingnya pertemuan berbagai suku bangsa agar mampu saling mengenal satu sama lain. Hingga tidak ada lagi pertikaian di antara mereka.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Qs. Al-Hujurat: 13)

Dari sini, kita memahami Alquran telah mengarahkan umat Islam menuju perdamaian dan kasih sayang dengan segala umat beragama.

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al-Mumtahanah: 8)

Tidak hanya itu, Alquran juga telah melarang kita untuk mencaci-maki agama lain agar mereka pun tak balik mencaci agama Islam.

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-An’am: 108).

Alquran juga melarang umat Islam untuk merusak tempat beribadah umat agama lain, terlebih umat Nashrani dan Yahudi. Karena di dalam tempat peribadatan Nashrani dan Yahudi, juga banyak disebut nama Allah.

“….Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” Qs. Al-Hajj : 40.

Alquran juga membatasi peperangan sebagai upaya terakhir dalam mempertahankan diri. Kita bisa teliti kembali di mana Alquran banyak memakai lafadz قاتلوا dari asal kata قتل. Di dalam ilmu tashrif, adanya tambahan alif (ا) di sini bermakna musyarakah,atau perbuatan yang dilakukan sebagai balasan dari perbuatan yang sama. Yang artinya umat Islam tidak diperbolehkan memulai sebuah peperangan kecuali dalam rangka mempertahankan diri dari ancaman musuh.

Bahkan bila memang peperangan sebagai pilihan terakhir harus terjadi, Alquran membatasi umat Islam agar tidak berlebihan dalam melaksanakannya.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al-Baqarah: 190)

Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa perdamaian adalah cita-cita tertinggi dalam Islam. Inilah mengapa Allah mengutus nabi Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta. Sebagai utusan yang membawa pesan dan ajaran penuh kedamaian.

Namun, sebagian orang yang menahbiskan diri sebagai pelaku ajaran Islam murni, menganggap peperangan terhadap kaum yang berbeda iman sah-sah saja. Hal ini dipercayai mereka, karena ada satu ayat yang—menurut kacamata mereka—melegalkan apa yang mereka yakini itu.

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al-Anfal: 39).

Ada kekeliruan yang sangat fatal dalam memahami ayat ini dengan kacamata itu. Ayat ini justru sejatinya adalah perintah untuk berdamai dengan siapapun. Adapun teks perintah berperang, itu semata seruan agar perang diarahkan hanya untuk kepentingan menghilangkan terjadinya fitnah. Sementara maksud fitnah dalam ayat ini adalah “larangan dari oknum manapun bagi seseorang yang ingin memeluk agama Islam dengan damai.” Dari pengertian fitnah ini lahirlah sebuah pemahaman yang arif: bahwa kebebasan memeluk agama adalah ajaran yang ditekankan dalam Islam. Tak terkecuali, orang-orang di luar Islam yang ingin memeluk agama Islam.

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 256)

Penulis, M. Tholhah al Fayyadl, mutakharrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo.