Tag Archives: Islam

Islam Produktif dalam Persaingan Budaya yang Fluktuatif

Umat Muslim dalam keresahan, terutama para kaum cendekia, baik yang biasa dipanggil ulama atau yang bukan. Bagaimana tidak, peradaban Islam yang pernah agung itu, saat ini mengalami kemerosotannya yang paling tajam. Keresahan ini bisa dipahami karena sudah tercetak dalam keyakinan orang Muslim bahwa agama mereka adalah agama yang menyeluruh, universal dalam setiap waktu dan tempat (shālih li kulli zamān wa makān). Adagium ini bukanlah isapan jempol belaka. Dilihat dari penganutnya, agama Islam tidak tersekat batas-batas genealogis dan geografis. Segala macam ras dan berbagai macam suku bangsa bisa menganut agama Islam.

Realitas ini semakin membuat adagium itu mendapatkan tempatnya, meskipun ia bukan nash. Apalagi, akan sangat aneh jika kita melihat orang Aborigin menganut agama Yahudi atau pun orang Negro dari Zimbabwe menganut agama Tokugawa di Jepang. Jadi realitas-realitas sosial semacam itu membuat prinsip universalitas Islam semakin menemukan relevansinya. Bahkan Allah Swt. menyebut hal itu sebagai tanda-tanda-Nya.

Maka ketika eksistensi peradaban agama Islam terancam oleh invasi-invasi yang bersifat inovatif dan modern, reaksi pertama umat Islam adalah resistensi serta penolakan mentah-mentah. Paradoks ini sangat membingungkan; di sisi lain ada doktrin-doktrin yang meyakini bahwa agama ini universal dan selalu unggul (ya’lū wa lā yu’lā alaih), namun reaksi yang ditunjukkan terhadap inovasi modernisme adalah penolakan. Oleh karena itu, reaktualisasi dan reinterpretasi (meskipun hal ini telah didengungkan beribu-ribu kali) menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Keluhuran agama Islam tidak bisa dicapai dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional sambil meninggalkan keagungan kebudayaan modern. Agama Islam haruslah dinamis. Hal ini bukanlah hal yang asing bagi Islam. Sahabat Ali Ra. pernah berkata dalam satu kesempatan:

علّموا أولادكم في زمانهم فإنهم يعيشون في غير زمانكم

“Ajarilah anak kalian sesuai dengan zamannya. Karena mereka tidak hidup di zaman kalian.”

Keharusan Pembaruan

Pembaruan (tajdīdiyyah, renewal) bukanlah sesuatu yang aneh dalam Islam. Syaikh Abdullah bin Bayyah menyebut hal itu sebagai sebuah keniscayaan Ilahi. Hal ini menurut beliau, bersandar pada hadis Nabi Saw:

إنّ الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها أمر دينها

“Sesungguhnya Allah Swt mengutus bagi umat ini di setiap awal seratus tahun seseorang yang membarui urusan-urusan agamanya.”

Oleh karena itu, menutup diri dari pembaruan merupakan perlawanan terhadap kenyataan Ilahi. Pembaruan-pembaruan yang disasar di sini haruslah sesuatu yang bersifat match dengan perkembangan zaman. Karena, seperti sering dikatakan, al-ālim ibnul waqti. Orang pandai adalah dia yang memahami masanya; Putera Zaman. Begitu juga, setiap usaha pembaruan yang melawan dan bertentangan dengan zaman bukanlah merupakan pembaruan secara nyata. Melainkan retorika yang diulang-ulang. Keharusan pembaruan ini harus dilakukan agar dua doktrin yang telah disebutkan di atas (universalitas dan keluhuran Islam) tidak kehilangan relevansinya. Apabila ini yang terjadi, hal ini tentulah tidak akan bisa diterima oleh kalangan Islamis.

Seiring dengan berkembangnya budaya dan ilmu pengetahuan, old lifestyle dengan segala cara-cara dan langkahnya yang kuno tidak lagi relevan dengan kehidupan era modern ini. Peradaban modern selalu menuntut suatu hal yang kreatif-inovatif. Begitu pula karakter masyarakatnya yang cepat bosan dengan hal-hal monoton. Berangkat dari kenyataan seperti itu, maka upaya-upaya dalam menjadikan Islam sebagai yang terdepan haruslah menggunakan cara yang modern pula. Cara yang diminati masyarakat pada masa sekarang ini, bukanlah menundukkan agama pada realita. Namun langkah-langkah seperti ini sejatinya adalah upaya agar Islam tetap menapak bumi dan relevan (shalih likulli zaman), tidak menjadi hal yang mengambang dan absurd. Sehingga segala sesuatu yang bersifat destruktif terhadap kondisi sosial juga harus ditolak. Ada beberapa pola dasar yang bisa menjadi contoh konkret bagi hal-hal yang destruktif ini.

Contoh Klasik

Contoh klasik, tanggal 25 Desember dan 14 Februari selalu menjadi hari yang kontroversial di negeri kita yang mayoritas Muslim ini. Hampir setiap tahun, dua hari besar yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam itu selalu melahirkan fatwa haram, atau bahkan kafir bagi umat Islam yang ikut memeriahkan atau bahkan sekedar memberi ucapan selamat. Alih-alih menunjukkan independensi dan keteguhan agama Islam, fatwa ini malah menggambarkan kekalahan umat Islam dalam percaturan peradaban. Fatwa ini semakin memperlihatkan kegagalan “ulama” dalam mengawal umat. Beberapa orang Muslim seakan-akan menganggap hal itu sebagai ancaman yang membahayakan sehingga umat harus dibentengi dari hal itu dengan fatwa haram. Ada subyektifitas yang terselubung dari fatwa itu. Memang, kita harus melindungi diri kita sendiri dari invasi budaya di luar apa yang kita miliki. Tetapi tidak dengan cara destruktif dan kontra produktif. Tidak dengan cara menyerang mereka dengan selusin berondongan fatwa-fatwa agama.

Contoh lain yang bisa kita ambil adalah fatwa pelarangan pemimpin non-Muslim. Pelarangan ini menunjukkan bahwa kondisi agama Islam seakan kalah dalam pertarungan politik dan merasa terancam. Karena, seperti telah dijelaskan di muka—agama Islam adalah agama yang selalu luhur. Maka segala hal yang membuat agama Islam merosot dan tidak luhur harus dibentengi dan dilindungi. Kesalahan penerapan prinsip ini (ya’lu wala yu’la ‘alaih) adalah penyakit yang sedang melanda umat Islam saat ini.

Anggapan ancaman terhadap setiap sesuatu yang dianggap tidak Islami dan pelarang terhadap hal itu adalah sumber gejala kemunduran umat Islam yang semakin membuat Islam tampak terperosok ke bawah. Bukan malah semakin membuat Islam tampak sebagai agama yang luhur dan teguh memegang prinsip tapi semakin membuat Islam tampak sebagai pesakitan.

Analogi

Sebuah perumpamaan klasik sering dikatakan untuk menggambarkan hal ini: andaikan kita seorang pemilik restoran, kebetulan ada restoran milik orang lain yang tak jauh letaknya dari restoran kita, dan ternyata restoran milik orang lain lebih diminati konsumen, maka cara agar restoran kita bisa unggul bukanlah dengan menyebar fitnah bahwa restoran “tetangga” menjual makanan yang telah dicampuri bahan pengawet atau zat kimia berbahaya, ini persaingan amatir dan tidak sehat. Cara yang tepat dalam kasus di atas adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas restoran kita misalkan dengan tampilan fisik restoran yang baru, menambahkan menu baru, atau menyajikan menu lama dengan cara yang baru. Cara yang sehat inilah yang bisa menjadi obat bagi umat Islam dalam menghadapi era modern agar agamanya tidak kehilangan relevansi serta selalu unggul, sesuai dengan doktrinnya.

Dengan kasus fatwa-fatwa tadi, persaingan secara sehat harus dilakukan dengan meningkatkan kualitas penganut agama Islam. Peningkatan kualitas ini, dalam konteks fatwa di atas, bukan dengan menggalakkan fatwa bahwa Natal atau Valentine itu haram dirayakan, melainkan dengan membuat fatwa yang bisa meningkatkan kualitas umat. Sebagai contoh, fatwa untuk merayakan 10 Muharram atau Maulid Nabi harus dibuat dan dipromosikan dengan gencar tanpa perlu memfatwakan melarang merayakan Natal.

Begitu juga dengan permasalahan pemimpin, yang harus dilakukan bukanlah melarang untuk memilih non-Muslim. Melainkan umat Islam harus meningkatkan kualitas menciptakan kader-kader berkompeten yang mampu bersaing. Persaingan-persaingan secara sehat inilah yang harus digalakkan umat Islam agar ia bisa luhur dan universal.

Jika umat Islam sudah senang dan bangga dengan syiar dan kebudayaan Islam sendiri, tanpa fatwa pun mereka dengan sendirinya akan meninggalkan kebudayaan dan segala hal yang kontras dengan Islam.[]

Penulis: Arif Rahman Hakim Syadzili

Baca juga:
FANATIK KEBANGSAAN, BASIS MILITANSI SANTRI MEMBELA NEGERI

Follow juga:
@pondoklirboyo

# Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif

Islam dan Barat : Tak Terpisah Perang

Hubungan Barat dan Islam.

Islam dan Barat dalam sejarahnya telah memberikan sumbangsih sangat besar dalam peradaban Eropa.sudah seharusnya ketegangan kedua peradaban ini tidak menjadi konflik seperti perang dan sebagainya. Warisan peradaban Islam di Spanyol yang dibangun oleh Dinasti Umayyah di sana telah memberikan batu loncatan untuk peradaban Eropa saat ini. Dalam banyak bidang keilmuan yang berkembang di Barat, ulama-ulama Islam telah banyak menghiasi peradaban Eropa.

Tentu dunia Barat sangat berterimakasih kepada Muhammad bin Musa al-Khawarizmi yang telah mengenalkan kepada dunia dasar-dasar algoritma, juga kepada Ibnu Rusydi dan Ibnu Khaldun yang telah mengenalkan mereka kepada pendekatan filsafat yang dibangun sebelumnya di masa Plato dan Aristoteles dan sederet intelektual muslim lainnya.

Sejarah juga telah menceritakan bagaimana Islam dan Barat saling memberikan sumbangsih satu sama lain. Kedua peradaban ini hanya terpisahkan oleh laut Mediterania. Peradaban yang di bangun umat Islam di Kairo tentu sangat dekat jaraknya dengan peradaban Barat yang dibangun di Prancis kala itu.

Mengenai peradaban Islam dan Barat yang agaknya selalu dipertentangkan oleh sebagian orang, Alquran menjawabnya dengan dogma bahwa perbedaan adalah sebuah hal yang tak bisa terelakkan dalam kehidupan manusia. Karena pada hakikatnya manusia telah diciptakan dengan bermacam-macam warna kulit dan bahasa yang berbeda-beda. Karena itulah, perbedaan peradaban Islam dan Barat tidak seharusnya menjadi alasan kebencian dalam motif apapun, termasuk islamophobia yang saat ini sedang berkembang di Barat. Justru adanya perbedaan inilah yang harusnya merekatkan hubungan keduanya.

Baca Juga : Islam yang Ketinggalan

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” (Qs. Ar-Rum: 22)

Di balik semua perbedaan itu, Alquran dari jauh hari juga telah menjelaskan pentingnya pertemuan berbagai suku bangsa agar mampu saling mengenal satu sama lain. Hingga tidak ada lagi pertikaian di antara mereka.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (Qs. Al-Hujurat: 13)

Dari sini, kita memahami Alquran telah mengarahkan umat Islam menuju perdamaian dan kasih sayang dengan segala umat beragama.

“Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (Qs. Al-Mumtahanah: 8)

Tidak hanya itu, Alquran juga telah melarang kita untuk mencaci-maki agama lain agar mereka pun tak balik mencaci agama Islam.

“Dan janganlah kamu memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. Al-An’am: 108).

Alquran juga melarang umat Islam untuk merusak tempat beribadah umat agama lain, terlebih umat Nashrani dan Yahudi. Karena di dalam tempat peribadatan Nashrani dan Yahudi, juga banyak disebut nama Allah.

“….Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Maha Perkasa.” Qs. Al-Hajj : 40.

Alquran juga membatasi peperangan sebagai upaya terakhir dalam mempertahankan diri. Kita bisa teliti kembali di mana Alquran banyak memakai lafadz قاتلوا dari asal kata قتل. Di dalam ilmu tashrif, adanya tambahan alif (ا) di sini bermakna musyarakah,atau perbuatan yang dilakukan sebagai balasan dari perbuatan yang sama. Yang artinya umat Islam tidak diperbolehkan memulai sebuah peperangan kecuali dalam rangka mempertahankan diri dari ancaman musuh.

Bahkan bila memang peperangan sebagai pilihan terakhir harus terjadi, Alquran membatasi umat Islam agar tidak berlebihan dalam melaksanakannya.

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampaui batas. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al-Baqarah: 190)

Ayat-ayat di atas menunjukkan betapa perdamaian adalah cita-cita tertinggi dalam Islam. Inilah mengapa Allah mengutus nabi Muhammad sebagai rahmat bagi alam semesta. Sebagai utusan yang membawa pesan dan ajaran penuh kedamaian.

Namun, sebagian orang yang menahbiskan diri sebagai pelaku ajaran Islam murni, menganggap peperangan terhadap kaum yang berbeda iman sah-sah saja. Hal ini dipercayai mereka, karena ada satu ayat yang—menurut kacamata mereka—melegalkan apa yang mereka yakini itu.

“Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al-Anfal: 39).

Ada kekeliruan yang sangat fatal dalam memahami ayat ini dengan kacamata itu. Ayat ini justru sejatinya adalah perintah untuk berdamai dengan siapapun. Adapun teks perintah berperang, itu semata seruan agar perang diarahkan hanya untuk kepentingan menghilangkan terjadinya fitnah. Sementara maksud fitnah dalam ayat ini adalah “larangan dari oknum manapun bagi seseorang yang ingin memeluk agama Islam dengan damai.” Dari pengertian fitnah ini lahirlah sebuah pemahaman yang arif: bahwa kebebasan memeluk agama adalah ajaran yang ditekankan dalam Islam. Tak terkecuali, orang-orang di luar Islam yang ingin memeluk agama Islam.

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah: 256)

Penulis, M. Tholhah al Fayyadl, mutakharrijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo.

Demonstrasi dalam Sudut Pandang Islam

Dalam negara demokrasi, demontrasi damai adalah aktifitas legal yang dilaksanakan dalam rangka untuk mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai tidak bermaslahat atau guna menyuarakan aspirasi rakyat. Menyuarakan aspirasi merupakan hak kebebasan mengemukakan pendapat yang dilindungi dilindungi undang-undang, bahkan mendapatkan payung hukum dari syariat. Sebagaimana pemaparan Dr. Abdul Qadir ‘Audah dalam kitabnya yang berjudul At-Tasyri’ al-Jina’i al-Islami:

حُرِّيَّةُ الْقَوْلِ: أَبَاحَتِ الشَّرِيْعَةُ حُرِّيَّةَ الْقَوْلِ وَجَعَلَتْهَا حَقًّا لِكُلِّ إِنْسَانٍ …فَإِنَّ حُرِّيَةَ الْقَوْلِ لَيْسَتْ مُطْلَقَةً، بَلْ هِيَ مُقَيَّدَةٌ بِأَنْ لَا يَكُوْنَ مَا يُكْتَبُ أَوْ يُقَالُ خَارِجًا عَنْ حُدُوْدِ الْآدَابِ الْعَامَّةِ وَالْأَخْلَاقِ الْفَاضِلَةِ أَوْ مُخَالِفًا لِنُصُوْصِ الشَّرِيْعَةِ. .

Kebabasan berpendapat: syariat melegalkan adanya kebebasan berpendapat dan menjadikannya sebagai hak bagi setiap manusia… Maka kebebasan berpendapat tidaklah mutlak. Akan tetapi dibatasi sekiranya apa yang ditulis atau diucapkan tidak keluar dari batas-batas etika secara umum dan budi pekerti yang baik atau tidak menyalahi aturan syariat.”[1]

Dengan demikian, menggelar aksi demontrasi dapat dibenarkan menurut syariat selama mematuhi aturan-aturan dan regulasi yang berlaku. Sebagaimana dijelaskan secara terperinci dalam undang-undang nomor 9 tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyatakan Pendapat di Muka Umum.

Namun dalam beberapa keadaan tertentu, demostrasi ini akan menjadi haram apabila menyalahi syariat dan peraturan perundang-undangan. Di antaranya adalah keharusan menjaga ketertiban umum, tidak berpotensi pada aksi anarkis, tidak mengarah pada pelecehan terhadap pemerintah, bersih dari tindakan makar dan pemberontakan dan tindakan yang menyulut fitnah serta konflik horisontal. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan dalam kitab al-Fiqh al-islami Wa Adillatuhu:

وَلَا يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ عَنِ الطَّاعَةِ بِسَبَبِ أَخْطَاءٍ غَيْرِ أَسَاسِيَّةٍ لَاتُصَادِمُ نَصًّا قَطْعِيًّا سَوَاءٌ أَكَانَتْ بِاجْتِهَادٍ أَمْ بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ حِفَاظًا عَلَى وِحْدَةِ الْأُمَّةِ وَعَدَمِ تَمْزِيْقِ كِيَانِهَا أَوْ تَفْرِيْقِ كَلِمَاتِهَا

Tidak diperbolehkan memberontak pemerintah sebab kesalahan yang tidak mendasar yang tidak menabrak nash qath’i, baik dihasilkan dengan ijtihad atau tidak, demi menjaga persatuan umat dan menghindari perpecahan dan pertikaian di antara mereka.”[2]

[]WaAllahu a’lam


[1] Abdul Qadir ‘Audah, At-Tasyri’ al-Jina’i al-Islami, vol. I hlm. 242.

[2] Wahbah az-Zuhaili, Al-Fiqh al-islami Wa Adillatuhu, vol. VI hlm. 705.

Sistem Jual Beli Kredit Menurut Islam

Islam memiliki perhatian serius terhadap aktivitas sosial dan ekonomi melalui legislasi konsep-konsep interaksi sosial (Fiqih Muamalah) dalam khazanah fiqih. Hal ini ditujukan dalam rangka memberikan penjagaan dan perlindungan terhadap asas-asas primer kehidupan tersebut, agar memungkinkan terciptanya kemaslahatan.

Dalam realisasinya, berbagai macam bentuk transaksi perekonomian termuat di dalamnya, salah satunya adalah transaksi jual beli dengan sistem kredit atau cicilan. Yang mana praktek tersebut merupakan transaksi perniagaan yang marak dilakukan masyarakat Islam, dari dulu hingga sekarang.

Berkaitan dengan hal tersebut, Imam An-Nawawi pernah menjelaskan dalam salah satu kitabnya yang berjudul Raudlah At-Thalibin:

أَمَّا لَوْ قَالَ بِعْتُكَ بِأَلْفٍ نَقْداً وَبِأَلْفَيْنِ نَسِيْئَةً… فَيَصِحُّ الْعَقْدُ

Ketika penjual berkata kepada seorang pembeli: Aku jualpadamu, bila kontan dengan 1.000 dirham, dan bila tempo sebesar 2.000 dirham, maka akad seperti ini adalah sah.”[1]

Ungkapan imam An-Nawawi tersebut menjadi angin segar atas terbukanya legalitas sistem jual beli kredit yang memberikan kelonggaran kepada pelaku transaksi untuk membayar di waktu yang akan datang (tempo). Sehingga maklum saja, dalam berbagai literatur fikih kontemporer, jual beli kredit atau cicilan kembali dibahas dan dikenal dengan istilah Bai’ Taqsith (jual beli kredit). Salah satunya sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qadli Muhammad Taqi Al-Utsmani:

اَلْبَيْعُ بِالتَّقْسِيْطِ بَيْعٌ بِثَمَنٍ مُؤَجَّلٍ يُدْفَعُ إِلَى الْبَائِعِ فِي أَقْسَاطٍ مُتَّفَقٍ عَلَيْهَا، فَيَدْفَعُ الْبَائِعُ الْبِضَاعَةَ الْمَبِيْعَةَ إِلَى الْمُشْتَرِيْ حَالَةً، وَيَدْفَعُ الْمُشْتَرِي الثَّمَنَ فِي أَقْسَاطٍ مُؤَجَّلَةٍ، وَإِنَّ اسْمَ الْبَيْعِ بِالتَّقْسِيْطِ يَشْمِلُ كُلَّ بَيْعٍ بِهَذِهِ الصِّفَةِ سَوَاءٌ كَانَ الثَّمَنُ الْمُتَّفَقُ عَلَيْهِ مُسَاوِيًا لِسُعْرِ السُّوْقِ، أَوْ أَكْثَرَ مِنْهُ، أَوْ أَقَلَّ، وَلَكِنَّ الْمَعْمُوْلَ بِهِ فِي الْغَالِبِ أَنَّ الثَّمَنِ فيِ ” الْبَيْعِ بِالتَّقْسِيْطِ ” يَكُوْنُ أَكْثَرَ مِنْ سُعْرِ تِلْكَ الْبِضَاعَةِ فِي السُّوْقِ

Bai’ taqsith (kredit) adalah jual beli dengan harga bertempo yang dibayarkan kepada penjual dalam bentuk cicilan yang disepakati. Sementara itu, penjual menyerahkan barang dagangan kepada pembeli seketika itu dan pembeli menyerahkan harga dalam bentuk cicilan berjangka. Jual beli ini juga mencakup setiap transaski jual beli dengan ketentuan di aras, baik harga yang disepakai sama dengan harga pasar, lebih mahal, atau pun lebih murah. Namun yang sering berlaku adalah harga dari jual beli kredit lebih tinggi dibanding harga jual pasar.”[2]

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem kredit hukumnya legal dan sah dengan beberapa syarat yang harus terpenuhi, di antaranya adalaha batas waktunya telah ditentukan dan diketahui kedua belah pihak (ma’luman), tidak ada syarat yang kontra produktif (munafin li muqtadhi al-‘aqd) dengan konsekuensi akad ketika akad berlangsung (shulb al-‘aqd) dan sebelum akad selesai (luzum al-‘aqd). Misalnya ketika tidak sanggup melunasi cicilan, barang akan ditarik dan cicilan yang dibayar dianggap hangus, dan lain-lain.[3]

[]waAllahu a’lam


[1] Raudlah At-Thalibin, vol. III hal. 397, CD. Maktabah Syamilah

[2] Majma’ Al-Fiqhi Al-Islami, vol. VII hal. 596

[3] Hasyiyah Al-Bujairomi ‘Ala Al-Manhaj, vol. II hal. 210, cet. Darul Fikr

Menjawab Adzan Asli dan Aplikasi


Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Ada permasalahan yang ingin saya tanyakan mengenai kesunahan menjawab adzan. Mengapa dibedakan antara adzan yang berasal dari speaker di masjid atau mushola dengan adzan yang berasal dari aplikasi atau rekaman? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Abdus Shomad, Pontianak)

_________________

Admin- Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ketika adzan berkumandang, maka bagi orang yang mendengarnya disunnahkan untuk menjawab adzan tersebut, meskipun hanya terdengar melalui perantara speaker atau pengeras suara. Alasannya, adzan yang terdengar merupakan suara asli seseorang yang adzan (muadzin) yang dikeraskan dengan bantuan teknologi speaker.

Beda halnya ketika suara adzan tersebut berasal dari suara rekaman, seperti halnya adzan yang ada dalam aplikasi waktu shalat, televisi, radio, dan semacamnya. Maka untuk adzan yang seperti ini tidak ada kesunahan untuk menjawabnya. Sebagimana penjelasan Syekh Ismail Zain dalam kitab fatwanya:

سُؤَالٌ هَلْ يُسَنُّ جَوَابُ اْلأَذَانِ مِنْ مُكَبِّرِ الصَّوْتِ إِذَا كَانَ الْمُؤَذِّنُ بَعِيْدًا عَنْهُ بِحَيْثُ لَا يَسْمَعُ أَذَانَهُ إِلَّا بِوَاسِطَةِ مُكَبِّرِ الصَّوْتِ أَوْ لَا، بَيِّنُوْا لَنَا ذَلِكَ؟ الْجَوَابُ نَعَمْ يُسَنُّ إِجَابَةُ الْمُؤَذِّنِ الْمَذْكُوْرِ وَالْمُكَبِّرُ غَايَةُ مَا فِيْهِ أَنَّهُ يُقَوِّي الصَّوْتَ وَيُبْلِغُهُ اِلَى مُدِيٍّ بَعِيْدٍ، هَذَا اِذَا كَانَ الْأَذَانُ مَنْقُوْلًا بِوَاسِطَةِ الْمُكَبِّرِ عَنْ مُؤَذِّنٍ يُؤَذِّنُ بِالْفَعْلِ، أَمَّا إِذَا كَانَ الْأَذَانُ فِي الشَّرِيْطِ الْمُسَجَّلِ فَلَا تُسَنُّ إِجَابَتُهُ لِأَنَّهُ حَاكٍ


Soal: Apakah disunahkan atau tidak menjawab adzan dari pengeras suara (speaker) ketika keberadaan orang yang adzan jauh dari pendengarnya, sekiranya adzan tersebut tak terdengar kecuali dengan perantara pengeras suara. Jelaskan itu pada kami? Jawab: Ya, disunnahkan menjawab adzan tersebut. Adapun pengeras suara (speaker) hanya mengeraskan dan menyampaikan suara pada jarak jauh. Kesunahan ini berlaku apabila adzan bersumber dari muadzin yang adzan secara nyata. Apabila adzan bersumber dari kaset rekaman maka tidak sunah menjawabnya, karena itu sebatas memutar rekaman.”[1]

Pemilahan hukum di atas juga berlaku pada setiap kesunahan yang didasari atas pendengaran, seperti kesunahan mengucapkan amin ketika mendengar doa. Ketika doa tersebut didengar secara nyata—meskipun melalui speaker atau telefon atau live streaming—dalam waktu yang bersamaan, maka ada muncullah kesunahan membaca amin bagi pendengarnya. Karena pada dasarnya suara itu terdengar secara nyata, bukan berupa rekaman yang mana suaranya direkam di waktu lampau dan diputar berulang-ulang di waktu mendatang. []waAllahu a’lam


[1] Qurroh Al-‘Ain Bi Fatawa Ismail Zain, hal. 52