Generasi Sholeh Ummu Sulaim

Generasi Unggul Ummu Sulaim

Nama lengkap beliau Ummu Sulaim binti Milhan Al-Anshary Ra., salah seorang sahabat wanita dari golongan Anshar. Beliau merupakan Srikandi Islam, turut serta dalam peperangan, di antaranya perang Hunain dan Uhud. Hal itu menjadikan beliau termasuk tokoh perempuan yang disegani di kalangan sahabat nabi.

Konon kala mengajukan diri sebagai veteran perang, suami beliau, Abu Thalhah Ra. mengajaknya menemui Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, ini Ummu Sulaim (ikut peperangan) berbekal belati.”

“Wahai Rasulullah, jika ada orang musyrik yang mendekat kepadaku, akan kutusuk perutnya menggunakan belati ini.” Begitu timpal Ummu Sulaim dengan semangat jihad yang membara tanpa rasa takut sedikit pun meski ia perempuan.

Abu Thalhah adalah suaminya yang kedua setelah Malik meninggal, Abu Thalhah melamarnya karena terpesona dengan perangai Ummu Sulaim yang baik. Namun saat itu Abu Thalhah masih belum masuk Islam, sehingga lamarannya ditolak.

Hidayah

“Sungguh tidak pantas bagiku menikah dengan seorang musyrik.” Begitu kiranya penolakan dari Ummu Sulaim, bukan berarti beliau membenci. “Abu Thalhah, coba kau pikirkan. Tuhan kalian yang dibuat dengan cara dipahat itu, jika kalian nyalakan api padanya pastilah terbakar. ” Pesan logis ini ternyata mampu mengendap dalam pikiran Abu Thalhah setelah mereka berpisah dalam pertemuan itu.

Selang beberapa hari kemudian Abu Thalhah datang kembali. “Apa yang kau utarakan kemarin, sungguh aku sependapat.” Akhirnya mereka berdua menikah dengan mahar berupa Islamnya Abu Thalhah.

Hari-hari selanjutnya kehidupan mereka diwarnai dengan perjuangan dan keringat dalam membantu dakwah Nabi membumikan Islam.

Kepergian Sang Anak

Sampai suatu ketika, putra mereka jatuh sakit, sedang Abu Thalhah sedang keluar dalam peperangan bersama Nabi. Tidak lama setelah itu sang putra menghembuskan nafas terakhirnya. Dibantu orang-orang di sekitarnya Ummu Sulaim memandikan putranya.

Setelah semua prosesi tajhiz selesai, ia memerintahkan agar putranya diletakkan di sudut kamar dan menutupinya dengan kain sambil berpesan, “Jangan beritahu kabar kematian ini kepada Abu Thalhah. ” Sore harinya Abu Thalhah datang dari perjalanan jihadnya dengan kondisi yang jelas sangat melelahkan.

Mengetahui situasi ini, pikir Ummu Sulaim tidak mungkin serta-merta memberitahu suaminya yang sedang letih, sebagai istri yang salehah ia mencari cara agar ketika tahu kabar kematian putra tercinta, suaminya tidak kaget.

Ia segera berdandan demi menyambut kedatangan suaminya. Dandanannya kali ini tidak seperti biasanya, ia memaksimalkan semuanya.

“Bagaimana keadaan putra kita?” Abu Thalhah menanyakan kondisi putranya yang memang sudah jatuh sakit sejak kepergiannya.

“Sungguh malam ini ia lebih tenang daripada malam-malam sebelumnya.” Jawab Ummu Sulaim. Jelas suaminya mengira si kecil sudah sembuh dari sakitnya.

Selesai itu, Ummu Sulaim mempersiapkan hidangan makan malam. Mereka makan dengan tenang sambil melepas rindu tanpa beban sama sekali, seakan tidak terjadi apa-apa.

Makan malam usai dengan syahdu. Ummu Sulaim menawarkan dirinya kepada sang suami, “Adakah engkau ‘menginginkannya’ malam ini?. Tawarannya disambut, mereka menuai kerinduannya dalam rengkuhan berpahala.

Kecerdasan Ummu Sulaim

Usai itu, Ummu Sulaim menemukan celah untuk membuka kabar dukanya.

“Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang tetangga kita?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.