Rahasia Abu Hurairah

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 Hadis

Bangsa Arab, sebelum datangnya Islam yang merombak seluruh lini kehidupannya, merupakan bangsa yang tidak diperhitungkan peranan dan kiprahnya di dunia timur maupun barat. Peradaban mereka masih tertinggal jauh. Jangankan minat mengembangkan bidang keilmiahan dan penemuan-penemuan, justru mereka masih sibuk dengan konflik internal yang berkepanjangan. Perang antar suku yang setiap detiknya bisa tercetus, seperti api yang menemukan dedaunan kering untuk disantap. Bahkan pemantiknya bisa datang dari perkara-perkara yang remeh temeh.

Bukannya latah hendak berkata “semua berubah setelah negara api menyerang”, tapi memang nyatanya demikian. Tentu perubahan yang dimaksud tidaklah yang berkonotasi negatif seperti dalam cerita film The Legend itu. Islam hadir membawa cahaya kehidupan baru bagi bangsa kakbah ini. Mereka yang awalnya hanya direpotkan dengan perang, kini Islam mampu mempersaudarakan mereka dengan begitu mengharukan tiada dua.

Perubahan yang divisikan Islam merambah di segala porsi kemanusiaan mereka. Dalam sekejap, mereka bertransformasi menjadi bangsa super power yang mencengangkan. Menggulung kemusyrikan di timur dan barat. Namun demikian tanpa berlaku vandalisme seperti kebanyakan bangsa yang tengah berada di atas angin sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Fotomemory

Cukuplah, sebenarnya saya ingin mengulas soal lain, yakni daya hafalan yang dimiliki penduduk bangsa ini yang sangat luar biasa. Sudah tidak perlu ambil contoh jauh-jauh, Al-Quran dan ribuan hadis yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir itu saja bisa menjadi bukti kualitas mereka. Terlepas dari jaminan Allah untuk menjaga keotentikan Al-Quran itu sendiri.

Padahal, mungkin di masa yang sama, di negeri kita ini, sedikit sekali perkataan-perkataan moyang kita yang sampai ditelinga kita dengan selamat tanpa penambahan maupun pengurangan.

Mula-mula, sebelum mengenal istilah tulis menulis lebih dalam, yang diimpor dari bangsa Persia saat mendapati tawanan mereka pandai akan hal ini dan dijadikan sebagai tebusan pembebasan dengan syarat mau mendidik beberapa orang arab untuk belajar menulis dan membaca, bangsa Arab sangat malu-kalau enggan mengatakan antipati- terhadap bidang kepenulisan.

Mencatat informasi dalam selembar pelepah kurma atau kulit binatang, bagi mereka adalah sebuah aib, sebab hal tersebut menandakan lemahnya daya ingat yang mereka banggakan itu. Konon sampai sekarang, orang-orang dengan gen kekuatan hafalan yang luar biasa ini masih bisa kita jumpai di sana. Jadi, pada waktu itu, kalau mau membawa pensil dan mencatat, seseorang harus sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan orang lain, kalau tidak ia akan mendapatkan cemoohan.

Isyarat Al-Quran menjelaskan :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 hadis

Nama aslinya sebelum masuk Islam adalah Abdul Syam, datang dari tanah wali, Yaman. Setelah masuk Islam namanya berubah menjadi Abdul Rahman, lalu lebih dikenal dengan Abu Hurairah Ra.

Beliau adalah Sahabat yang paling banyak periwayatan hadisnya, sejumlah 5374 hadis yang beliau hafal. Bahkan, sahabat Abdullah ibn Umar Ra yang jumlah hafalannya 2630 hadis dan tepat di urutan setelahnya hanya mencapai hitungan separuh dari keseluruhan hafalan milik Abu Hurairah. Karena memang beliau sangat totalitas dalam bidang ini.

Saat kebanyakan Sahabat Muhajirin sibuk dengan urusan transaksi di pasar, dan Sahabat Anshar dengan perniagaannya, beliau tak pernah menjauh dari mengais mutiara-mutiara yang keluar dari lisan orang termulia, Nabi. Seharusnya memang seperti itu semangat seorang santri. Mendekatkan diri pada mata air.

Tak heran nama kunyah yang familiar terhadap beliau adalah Abu Hurairah yang artinya bapaknya kucing. Sebab beliau selalu mengikuti di mana pun Nabi pergi, yang seperti ini mirip dengan perilaku kucing yang mengincar seekor ikan teri. Tapi kenyataannya memang beliau sangat menyukai hewan yang juga dicintai Nabi tersebut.

Kunyah itu memang nama anugerah bagi Abu Hurairah yang disematkan langsung oleh baginda nabi saat menjumpainya sedang membawa ia seekor anak kucing, hingga setelah itu tiada seorang pun yang memanggilnya dengan nama asli.

Pemacu

Dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh beliau sendiri, pernah suatu ketika beliau ingin menemui Nabi untuk mengadukan permasalahan dari hafalannya yang sering lupa. Ia sangat takut akan hal ini. Padahal spiritnya untuk memperbanyak untaian mutiara dari kalam nabi itu agar ia tidak tergolong dari kelompok yang diancam Allah dengan siksaan yang pedih, yakni kelompok yang menyembunyikan ilmu tanpa menyebar dan mengajarkannya kepada orang lain.

Akhirnya beliau beranjak pergi menemui Nabi. Setelah berjumpa, ia ungkapkan kekhawatirannya itu.

“Wahai Rasulullah, sungguh aku telah menghafalkan banyak hadis dari engkau, namun aku sering dibuat lupa. ” Begitu keluhnya, yang bisa ditangkap nabi kalau Abu Hurairah meminta solusi kepada beliau tentang permasalahannya itu.

Tanpa banyak berbicara, beliau meminta Abu Hurairah menggelar selendang miliknya.

“Gelarlah selendangmu.” perintah Nabi yang segera disambut Abu Hurairah. Setelah selendang tergelar di tanah, beliau Nabi mendekat. Lalu menyaukkan kedua telapak tangan suci beliau di udara, seakan beliau sedang mendapatkan sesuatu. Lalu ‘sesuatu’ yang beliau ‘ambil’ dari udara itu di letakkan di atas selendang.

“Dekaplah selendang itu.” ujar baginda Nabi. Mendengar perintah dari orang yang paling dicintainya melebihi apa pun, Abu Hurairah lekas menaati titah. Ia mendekap selendangnya. Ajaib, dengan izin Allah, setelah kejadian ini, Abu Hurairah tidak pernah mengalami kelupaan dalam meriwayatkan ribuan hadis yang telah rapi terkodifikasi dalam memori otaknya.

“Setelah itu aku tak pernah mengalami kelupaan.”

Berselera humor tinggi

Mungkin selama ini kita tahu kalau Abu Hurairah selalu berkutat dengan ilmu saja, sangat wirai dan zuhud terhadap dunia. Karena memang datang ke kota nabi tanpa membawa harta bendanya. Ia khusus mengkhidmahkan diri kepada nabi dan cukup baginya hanya bertempat tinggal di shuffah Masjid Nabawi bersama kawan-kawannya.

Namun ternyata ada sisi lain yang mungkin jarang kita ketahui, Abu Hurairah adalah seorang yang periang dan humoris. Seakan kehidupannya serba kekurangan dan tanpa memiliki materi. Bahkan untuk makan pun harus menunggu uluran tangan para dermawan, bukanlah alasan bagi beliau untuk tetap bisa berkelakar.

Setiap berjumpa dengan bocah-bocah sahabat Anshar-Muhajirin, beliau pasti membuat mereka tertawa. Ketika bertemu orang-orang yang sedang beraktivitas di pasar, beliau menghibur mereka hingga bisa membuat lupa beban pikiran.

Dan dari tingkahnya yang selalu menjadi penghibur banyak orang itu, beliau akan menjadi hamba yang penuh pasrah kala malam menjelang, khusyuk bermunajat kepada Rabbul izzah menyingkirkan kerikil-kerikil hubbuddunya. [ABNA]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.