Dawuh KH. AHS. Zamzami Mahrus: Rajin Itu Riyadhoh

Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab kuning, tetapi juga ruang membentuk karakter dan akhlak. Tidak heran jika para masyayikh sering menekankan pentingnya kesungguhan santri (rajin) dalam menuntut ilmu. Salah satu dawuh beliau pada acara Penutupan Bahstul Masa’il Kubro Pondok Pesantren Lirboyo, 21 Februari 2019 M. di serambi masjid PP. Lirboyo, sarat dengan hikmah yang patut direnungkan oleh setiap santri.

Santri Harus Rajin

Beliau berpesan:

“Mumpung masih di pondok, harapan mempeng itu lebih besar. Rajin belajar itu juga termasuk Riyadhoh.”

Dari pesan beliau dapat kita simpulkan bahwasnnya hidup di pondok adalah kesempatan emas. Waktu kita akan lebih banyak tersita untuk belajar dan beribadah.

Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Ilmu adalah Fadlullah

Sedangkan rajin mengaji kitab, muroja’ah pelajaran, bahkan menulis catatan, semuanya adalah bentuk riyadhoh—latihan spiritual yang mendekatkan diri kepada Allah.

Kemudian beliau berpesan kembali:

“Orang yang berilmu itu derajatnya akan naik, entah itu formal ataupun syariat. Kalau ilmu formal derajat akan naik dalam pandangan manusia, kalau ilmu syariat di sisi Allah maupun manusia akan naik.”

Baca juga: KH. AHS. Zamzami Mahrus: Ilmu dan Barokah

Dawuh ini menegaskan bahwa ilmu adalah jalan menuju kemuliaan. Ilmu formal, seperti akademik, membuat seseorang dihormati di masyarakat. Sedangkan ilmu syariat tidak hanya meningkatkan derajat di mata manusia, tetapi juga di sisi Allah. Dengan kata lain, menekuni ilmu agama memberikan keberkahan dan kedudukan yang lebih abadi dibanding sekadar prestasi duniawi.

Beliau juga mengingatkan:

“Kalau sudah umur empat puluh tahun lebih, sementara otak tidak lagi digunakan untuk belajar ataupun mengajar, itu bisa menimbulkan efek pikun.”

Baca juga: KH. M. Anwar Manshur: Berdoa saat Menghadapi Cobaan

Pesan ini menekankan pentingnya belajar sepanjang hayat. Pikiran yang tidak diasah akan melemah seiring waktu. Oleh karena itu, menuntut ilmu bukan hanya kewajiban santri muda, tetapi juga aktivitas yang menjaga kejernihan pikiran dan ketajaman akal hingga dewasa.

Adab kepada Guru

Selanjutnya, beliau menekankan adab kepada guru:

“Kita mencari ilmu supaya barokah itu di antaranya dengan memuliakan guru. Kita tidak boleh berperasangka buruk kepada guru, walaupun terkadang ada kesalahan-kesalahan yang keluar dari guru. Yang baik, kita harus tetap khusnudzon.”

Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Syukur atas Kelahiran Nabi

Adab kepada guru menjadi pintu keberkahan ilmu. Meskipun guru memiliki kelemahan, murid harus menjaga husnudzon agar ilmu yang diterima dapat menembus hati dan memberikan manfaat. Kehilangan adab kepada guru bisa membuat ilmu sekadar hafalan tanpa barokah.

“Walaupun mungkin saja murid itu menjadi lebih alim dari gurunya, tetapi yang baik harus tetap memuliakan sang guru. Bukan berarti kita memuliakan orang lain, lalu kita menjadi rendah. Tetapi insyaallah kita juga akan dimuliakan orang lain.”

Adab kepada guru adalah pintu keberkahan ilmu. Walaupun guru tidak sempurna, murid harus menjaga husnudzon agar ilmu yang diterima bermanfaat. Kehilangan adab dapat menjadikan ilmu sekadar hafalan tanpa barokah.

Baca juga: KH. M. Anwar Manshur: Perintah Rasulullah untuk Para Pelajar

“Walaupun mungkin saja murid itu menjadi lebih alim dari gurunya, tetapi yang baik harus tetap memuliakan sang guru. Bukan berarti kita memuliakan orang lain, lalu kita menjadi rendah. Tetapi insyaallah kita juga akan dimuliakan orang lain.”

Kedalaman ilmu tidak menghapus rasa hormat. Bahkan jika murid lebih alim, memuliakan guru tetap wajib. Sikap tawadhu ini adalah cara agar Allah dan manusia turut memuliakan kita.

Anak yang Paling Beruntung

“Anak yang paling beruntung adalah anak yang betah di pondok, karena potensi maksiat lebih kecil. Orang tua yang menafkahi anaknya di pondok, insyaallah rizkinya berkah.”

“Jangan sampai kita jadi orang yang kapok (jera) mondok. Kapok mondok itu misalnya ada alumni pondok yang sukses lalu setelah punya anak ia tidak memondokkan anaknya.”

Baca juga: KH. M. Anwar Manshur : Keutamaan Birrul Walidain

Santri yang istiqamah mondok, akan lebih terlindungi dari godaan dunia. Karena akses godaan lebih sedikit jika kita bandingkan dengan anak yang tidak berada di dalam pondok.

Alumni yang sukses harus menjadi teladan, bukan justru memutus tradisi pesantren yakni dengan tidak menyekolahkan anak-anak mereka ke pondok. Mengirim anak ke pondok adalah bentuk kesinambungan tradisi.

Dakwah Walisongo

“Dakwah yang baik yaitu kita meneruskan dakwahnya Walisongo. Para santri agar benar-benar menekuni ilmu fikih.”

Santri adalah pewaris dakwah Walisongo. Dengan menguasai fikih, santri dapat memberikan bimbingan hukum Islam yang tepat dan melanjutkan tradisi dakwah yang bijaksana.

Baca juga: KH. Abdulloh Kafabihi: Syafaat Nabi Muhammad

“Saya sangat bersyukur dan senang sekali Bahstul Masa’il ini bisa tetap berjalan, karena itu tandanya masih banyak santri yang menekuni ilmu fikih.”

Keberlangsungan Bahstul Masa’il adalah bukti hidupnya tradisi intelektual pesantren. Forum ini bukan sekadar diskusi kitab, tetapi latihan berpikir kritis dan menyiapkan santri menjadi pemimpin umat yang cerdas dan berakhlak.

Penutup

Dawuh ini mengingatkan bahwa mondok bukan sekadar belajar, tetapi jalan menuju keberkahan. Santri yang bersungguh-sungguh, menjaga adab, serta istiqamah dalam menekuni ilmu fikih akan menjadi pewaris dakwah Walisongo sekaligus penopang umat di masa depan.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses