Tag Archives: salaf

Hakikat Kaya dan Miskin

Pada suatu hari, ada orang kaya hendak memberi hadiah uang senilai lima ratus dinar kepada imam Junaid. Uang itu diletakkan di depan ulama yang terkenal dengan kesufiannya tersebut.

Melihat hal itu, imam Junaid bertanya, “Engkau masih punya uang selain itu?”

Iya, uang saya sangat banyak.” jawab orang kaya tersebut.

“Apakah engkau masih terus bekerja untuk mendapatkan uang?” imam Junaid kembali bertanya.

“Iya.” orang kaya itu menjawabnya singkat.

“Engkau lebih berhak atas uang ini daripada saya. Saya tidak memiliki uang sebanyak ini. Alhamdulillah, aku tidak ingin mencari bahkan mendapatkannya.” terang imam Junaid kepada orang kaya tersebut.

Dari jawabannya memberikan kejelasan bahwa hakikat kaya adalah perasaan cukup dan mensyukuri atas apa yang dimiliki. Begitu pula sebaliknya, hakikat kefakiran adalah perasaan tamak dan tidak cukup dengan apa yang dimilikinya meskipun ia bergelimang harta.[1] []


[1] Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, hlm. 378.

Di Antara Dua Kesibukan

Pada suatu hari, ada seseorang yang berkata kepada Hasan al-Basri, “Wahai Abu Said (julukan Hasan al-Basri), di balik tiang itu ada seorang pria yang selalu duduk menyendiri dan enggan bergabung dengan yang lainnya.”

Wahai hamba Allah, aku melihatmu suka menyendiri, apa yang menghalangimu untuk bergaul dengan yang lain?” tanya Hasan al-Basri seraya menghampiri orang tersebut.

Ada satu hal yang membuatku tak sempat bergaul dengan masyarakat”.

Apakah perkara yang juga membuatmu tak sempat mendatangi Hasan al-Basri dan duduk bersamanya?

Iya, aku memang memiliki satu urusan yang membuatku tak sempat bergaul dengan masyarakat dan juga tak sempat mendatangi Hasan al-Basri.”

Apa itu?

Setiap hari aku berada di antara dua hal, nikmat dan dosa. Maka kuputuskan untuk menyibukkan diri dengan dengan mensyukuri nikmat dan memohon ampun atas dosa yang telah aku lakukan.” Jawabnya.

Wahai Hamba Allah, sungguh engkau lebih alim dari Hasan al-Basri, pertahankanlah keadaanmu yang demikian ini.” pungkas Hasan al-Basri.

 

_______________

Disarikan dari kitab Raudlatur Rayyan Fii Hikayah as-Shalihin, hal. 183, cet. Maktabah At-Tauqifiyah.

 

 

Kisah Pengampunan di Hari Jum’at

Diriwayatkan dari salah satu hadis Rasulullah SAW. Beliau pernah bercerita:

Ketika hari jum’at tiba, Allah SWT mengutus para malaikatnya untuk turun ke bumi. Masing-masing dari malaikat tersebut membawa pena dari emas dan lembaran kertas dari perak. Mereka berdiri di pintu-pintu masjid untuk menulis setiap orang Islam yang masuk masjid dan mendirikan shalat Jum’at.

Ketika shalat Jum’at selesai dilaksanakan, para malaikat tersebut akan kembali ke langit. Mereka berkata kepada Allah SWT, “Wahai Tuhan kami, kami telah mencatat setiap orang yang masuk ke dalam masjid dan mereka yang mendirikan shalat Jum’at”.

Mendengar ungkapan itu, Allah SWT menjawab “Wahai para malaikat-Ku, demi kemuliaan dan keagungan-Ku, sesungguhnya aku telah mengampuni dosa atas mereka (setiap orang yang masuk ke dalam masjid dan mereka yang mendirikan shalat Jum’at)”.

 

_______________

Disarikan dari kitab Dzurrotun Nashihin, halaman 247.

Jadwal Pengajian Lirboyo Ramadan 1439 H.

Bulan Ramadan hampir tiba. Mayoritas pondok-pondok pesantren mempersiapkan diri untuk memenuhi bulan mulia ini dengan rangkaian pengajian. Tidak terkecuali Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam bulan Ramadan kali ini, puluhan pengajian kitab digelar. Satu diantaranya bahkan sudah dimulai sejak 18 Sya’ban lalu, yakni pengajian kitab Shahih Bukhari. Kitab ini dibaca secara estafet oleh sembilan qari’, yang seluruhnya adalah dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo.

Pengajian seluruhnya ditutup pada malam 21 Ramadan, sekaligus memperingati Haul Simbah KH. Abdul Karim dan segenap dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo.

Jadwal lengkap pengajian bisa didownload di sini.

 

 

Haflah, Negara Berharap Santri Terus Bersumbangsih

LirboyoNet, Kediri—Haul & Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren Lirboyo dan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien yang dilaksanakan Selasa malam Rabu, (24/04) kemarin, berlangsung semarak.

Hujan deras sempat mengguyur Lirboyo sore harinya. Namun, acara yang dimulai pukul 18.30 WIB itu tidak kehilangan hadirinnya. Ribuan alumni dan masyarakat umum tetap tumpah ruah di Aula Al-Muktamar, tempat di mana acara dilaksanakan.

Diawali dengan istighotsah, rangkaian acara berlanjut dengan sambutan KH. An’im Falahuddin Mahrus atas nama keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo. “Kami dzuriyah Pondok Lirboyo mengucap terima kasih kepada para wali murid yang telah memberikan kepercayaan untuk mendidik putra-putri panjenengan.” Lebih jauh, beliau berharap, apa yang dipelajari santri kini benar-benar bisa membentuk kepribadian santri yang berakhlakul karimah dan menjadi manusia yang baik. “Semoga apa yang diberikan para dzuriyah mampu menjadi sumbangsih yang berarti bagi bangsa dan negara,” tutup beliau.

Undangan pemerintah provinsi diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Gubernur, Abdul Hamid. Ia mengungkapkan, pesantren sekarang telah menjadi faktor utama pembangunan provinsi. “Pembangunan sektor pendidikan sedang giat-giatnya oleh pemerintah provinsi. Terutama di pesantren. Ada kerjasama yang dibangun oleh pemerintah, yang menghubungkan pesantren dengan pihak industri.” Bagi pemerintah, ini adalah momen berharga bagi pesantren untuk ikut andil menyejahterakan bangsa. “Ini saatnya pesantren ikut menjadi pendorong aktivitas ekonomi daerah, disamping menjadi pelopor dan pusat lembaga keagamaan,” ungkapnya.

Seperti yang telah direncanakan, penceramah dalam acara besar malam itu hadir tanpa kendala. KH. Said Aqil Siroj, yang terbang langsung dari Jakarta, segera bersimpuh di depan KH. M. Anwar Manshur begitu turun dari mobil pengantarnya. Beliau mengambil tempat duduk di belakang para pengasuh. Bagi para santri, ini adalah bukti luapan penghormatan dan rasa takdzim kepada orang-orang mulia.

Dalam ceramahnya, panjang lebar beliau paparkan bagaimana seharusnya santri kini berperan. “Kitab Fathul Muin itu sudah luar biasa. Itu sudah sangat cukup sebagai bekal menghadapi tantangan masyarakat nantinya.”

Beliau memuji apa yang dipelajari santri di Lirboyo sudah lebih dari cukup untuk menjawab perihal-perihal yang terjadi di masyarakat. Dari permasalahan ibadah, ekonomi, hingga politik praktis. Hanya saja, santri masih kurang begitu pandai mengemas kemampuan mereka sehingga bisa dikonsumsi khalayak banyak.

Menurut beliau, santri zaman sekarang harus bisa membumikan ajaran yang ia terima di pesantren. Masyakarat kini menuntut santri untuk berbahasa yang bisa dipahami mereka. Dengan begitu, Islam akan lebih mudah diajarkan dan benar-benar menjadi jalan terbaik yang  harus mereka pilih untuk mengarungi kehidupan dunia.][