Category Archives: Santri Menulis

Tugas Santri Untuk Negeri

Indonesia adalah negera dengan tingkat kemajemukan dan pluralitas yang tinggi. Bangsa besar yang melingkup 17.504 pulau ini, terdiri dari berbagai ragam agama, suku, dan budaya. Untuk mewadahi kemajemukan tersebut, didirikanlah sebuah negara kesatuan. Negara kesatuan merupakan sebuah wadah yang melindungi dan menyatukan seluruh aspek kehidupan sosial.

Keputusan memilih negara kesatuan tersebut, merupakan pilihan paling tepat dan maslahat dalam mewadahi dan mengakomodir ide persatuan sebuah bangsa yang plural dan majemuk.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila sebagai hasil perjuangan yang melelahkan, menguras tenaga, dan pemikiran para pendiri bangsa, mendapatkan berbagai tantangan dan terus diuji eksistensinya. Bisa dirasakan sampai sekarang, rongrongan dari berbagai pihak terus menerus menggerogoti sejak awal pembentukan NKRI dan perumusan Pancasila.

Dalam sebuah rekam jejak penelitian, gerakan Islam trans-nasional telah berhasil melakukan infiltrasi pembanding ke dalam dakwah NU dan Muhammadiyah. Tamsilnya, pada permasalahan penyerobotan masjid secara bengis dalam tingkat yang cukup memprihatinkan. Islam trans-nasional ini, cenderung berpotensi mengancam Pancasila, UUD 45’ serta keutuhan NKRI.

Maka, dari balik “tembok kokoh” pesantren, secara langsung mapun tidak, para santri secara continue menggelar telaah ilmiah atas berbagai persoalan yang terjadi hari ini, meningkatnya sentimen SARA, ujaran kebencian, perundungan dan lain sebagainya untuk membuat problem solving yang tidak berhenti hanya sebagai gagasan dan cita-cita.

Semua itu dilakukan sebagai bentuk dari konsistensi Pesantren dalam menjaga umat agar tetap istiqomah dalam menjalankan dan melestarikan ajaran Ahlussunnah wal jama’ah ala Nahdlatul Ulama guna mewujudkan sebentuk masyarakat yang kosmopolitan, baldatun toyyibatun wa rabbun ghofur.

Kawah Candradimuka

Seperti sebuah “kawah candradimuka”, Pesantren adalah sebuah tempat menempa karakter, emosi, pengetahuan, sekalingus sikap manusia agar kelak—ia siap menghadapi kehidupan dengan intelektual keilmuan yang dimilikinya. Dalam dunia pewayangan, “kawah candradimuka” dikenal sebagai tempat penggodokan Gatot Kaca.

Hal tersebut diimplikasikan—agar kelak ia menjadi sosok yang kuat, berotot kawat, dan tahan banting, serta dapat terbang tinggi di samudra angkasa. Demikian sama halnya dengan pesantren, santri dididik sedemikian rupa dengan pola kulturnya, dengan harapan—kelak memiliki pengetahuan luas dan pemahaman yang mendalam terhadap ilmu agama untuk disebar dan diamalkan.

Selain menjadi manusia saleh, maka seorang santri mempunyai tugas (yang sebenarnya integral sebagai suatu proses untuk menjadi manusia saleh) untuk menjaga kerukunan dalam berbangsa dan bernegara sebagai pengejawentahan atas prinsip pendidikan pesantren, ‘anfauhum linnas. Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan dakwah diantaranya:

Pertama, perlunya keahlian (kepekaan) melihat kondisi kebutuhan, titik lemah masyarakat, faktor lingkungan—juga keahliannya dalam memanfaatkan potensi yang dimiliknya.

Sebab, dakwah merupakan wujud interaksi sosial dengan masyarakat yang tentu beragam tabiat yang dimiliki dalam pembawaan setiap individu. Kepekaan dan sikap kritis terhadap persoalan yang dihadapi, dapat membantunya dalam menentukan sikap bijak atas kondisi dan situasi yang sedang dituju.

Kedua, Berdakwah dengan kelemahlembutan dan jiwa pitutur sejuk yang dapat membawanya untuk lebih dapat diterima dikalangan masyarakat.

Kelemahlembutan harus mewarnai proses dalam berdakwah. Dan melalui jiwa pitutur yang sejuk, dapat mengajak masyarakat untuk tidak bersikap anarki. Sehingga dapat mempengaruhi mereka agar tetap patuh pada pemerintah dan melarang untuk memberontak pemerintahan yang telah ditetapkan kesahannya.

Walaupun ada sebuah landasan jika ada perbuatan pemimpin yang menyimpang—membuatnya pantas untuk dibenci oleh rakyatnya. Namun Rasulullah Saw. dengan tegas memperingatkan bahwa betapapun seorang pemimpin salah dan menyeleweng, pembiaran berupa sabar dan tetap taat terhadapnya adalah hal yang lebih urgen untuk ditampakkan.

Pembiaran bukanlah bagian dari kerelaan kita kepada hal munkar (ridha bil munkar). Peringatan Rasulullah ini harus kita terjemahkan sebagai bentuk dakwah antisipatif sekaligus orgesif. Rasulullah mencoba memberi tahu kepada kita untuk lebih memilih meminimalisir dampak buruk dari suatu kasus daripada mempersalahkan, menumbangkannya secara terang-terangan, apalagi menggunakan tindakan frontal dan radikal dalam sebuah tindakan. Bagaimanakah sikap seharusnya yang kita pilih, jika kondisi seorang pemimpin seperti diatas?.

Tindakan yang harus kita tempuh adalah cara memilih suatu perkara yang memiliki resiko dharar terendah dari pada mengambil suatu maslahat, akan tetapi berdampak pada dharar yang lebih besar.

Ketiga, Melestarikan tradisi budaya lokal yang tidak bertentangan.

Berdakwah di area kebhinekaan masyarakat tidak bisa tidak; wajib untuk menghargai tradisi budaya lokal.

Keempat, pemupukan rasa nasionalisme.

Agar paham ke-Islaman dan paham kebangsaan berjalan bersama, jika paham ke-Islaman dan paham kebangsaan tidak bergandengan, maka gejolak konflik Negara akan lahir. Dari sikap ini, akan memunculkan mengamankan pengertian yang benar tentang arti Pancasila dan pengamalannya yang murni. Memberikan pemahaman pada lapisan masyarakat—bahwa Pancasila dan Islam bukanlah dua hal yang harus dipilih satu dan membuang yang lain.

Keduanya harus berjalan beriringan dan saling mengukuhkan. Tidak bertentangan dan juga tidak boleh dipertentangkan. Pancasila dan agama Islam, berjalan dan tidak saling mengalahkan, bahkan keduanya saling menjunjung, saling mempererat dalam keutuhan, melengkapi dalam bingkai kenegaraan.

Tugas yang terakhir ialah menyikapi perbedaan dengan akhlaqul karimah dan berusaha semaksimal mungkin agar perbedaan tidak menimbulkan perpecahan, permusuhan, pertengkaran saling mencela, dendam antar berbeda kolompok. Dengan begitu, perbedaan diaplikasikan untuk saling melengkapi kekurangan.

Sebab ihwal inilah, santri akan berhasil menjadi ‘anfauhum linnas. Dan seseorang yang memiliki pandangan yang luas, akan lebih adatif terhadap perkembangan situasi zaman, tempat, dan waktu yang terus berjalan. Ia akan menjadi cahaya penuntun pagi siapa saja yang dikehendakiNya untuk merawat dan melestarikan kehidupan yang adil dan beradab.[]

*Penulis Siti Nuriah santri Pondok Unit Putri Mubtadi’at Lirboyo, asal Pandeglang, Banten.

Baca juga:
– BELAJAR SABAR DARI ANAK KECIL

Subscribe juga channel kami di:
Pondok Pesantren Lirboyo

Tugas Santri untuk Negeri. Tugas Santri untuk Negeri. Tugas Santri untuk Negeri. Tugas Santri untuk Negeri. Tugas Santri untuk Negeri.

CERPEN: Guruku; Rimba-Raya

Semilir angin berkelit di antara jendela kelas, membuat rambutmu yang biasa disisir rapi terlihat memberontak bosan, berusaha bercengkrama dengan alam. Sedikitpun kau tak bergeming, tetap fokus pada buku pelajaran. Mendung di luar membuat seisi ruangan menjadi gelap. Kau suruh salah seorang muridmu menyalakan lampu meski saat itu masih pukul 10 pagi.

“Cuaca akhir-akhir ini tak memungkinkan kita untuk mengadakan praktek di lapangan sekolah. Sebagai gantinya saya akan bercerita pada kalian.” Tuturmu membuka pelajaran.

               “Anak-anak, ketahuilah, akibat dari pemanasan global cuaca sekarang tidak menentu dan sulit diprediksi.” Kau bercerita bahwa kebakaran hutan menyebabkan polusi udara, laut sekarang tak sebiru di masa lalu. Kami, anak zaman kerusakan selalu dikambing-hitamkan oleh angkuhnya moral manusia.

               “Masih penak zamanku, toh?” Dengan gaya bapak pembangunan kau mengejek kami. Separah apapun kau merendahkan kami, anak zaman sekarang, di akhir kelas kau selalu meniupkan semangat kepada kami, untuk bangkit dari keterpurukan.

Kau jelaskan bahwa air yang mengalir selalu mencari tempat yang lebih landai. Sesuai yang sudah digariskan oleh penciptanya, air takkan menggenang pada dataran yang lebih tinggi. Kau lanjutkan dengan mengutip teori Galileo, manusia tidak akan selamanya berada pada posisi yang sama dalam sehari-semalam. Bahkan, akan terus berputar dari tempat tinggi lalu beranjak ke posisi terendah. Walhasil, kehidupan tak selamanya indah, suatu saat akan berubah menuju titik terburuk yang tak pernah dirindukan. Begitupun sebaliknya.

               “Kita terluka hari ini, mereka terluka selamanya. Kalian harus bertahan dalam masa perjuangan, agar esok menuai hasil yang memuaskan. Karena sukses itu dinilai dari usahanya, bukan hasilnya. Nikmati prosesnya, jangan hanya berandai-andai esok hari kita akan menjadi seperti apa.” Ucapmu waktu itu menyulut sorak-sorai dan tepuk tangan dari kami, murid-muridmu. Menggugah jiwa-jiwa yang masih setia di titik nyaman, agar beranjak pergi menyaksikan dunia di luar sana yang begitu indah untuk sekedar diratapi.

Layaknya sungai, kau adalah mata air yang mengalirkan semangat pada muara di hati kami.

               Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kau hadir di sekolah kami. Kuingat kebiasaanmu membubuhkan kalimat motivasi di papan tulis, untuk kemudian kami baca bersama-sama dengan lantang. Man jadda wajada, adalah salah satunya. Aku sendiri awalnya tak mengerti maksud tulisan itu, hingga suatu hari kau bercerita bahwa kalimat arab itu kaudapat dari gurumu dulu di pesantren. Arti kalimat itu adalah barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapat hasil yang memuaskan.

               Kau juga begitu perhatian pada setiap muridmu. Selalu kau tanyakan kabar muridmu yang tidak hadir karena sakit atau uzur yang lain.

               Bagiku kau bukan sekedar PNS pengharap gaji pemerintah. Dengan ikhlas kau sumbangkan sebagian uang gajimu kepada orang tua siswa yang kurang mampu. Tak perlu ragu, aku yakin anak-istrimu pastilah tercukupi dengan hasil pekerjaanmu di luar jam sekolah. Kau sering berpesan, “Sebagian dari penghasilan yang kita terima, terdapat hak yang harus diberikan kepada orang lain, agar kehidupan ini seimbang.”

               “Lihatlah, betapa banyak anak kecil yang terpaksa bekerja, berpanas-panasan di pinggir jalan . Sementara kita sering lupa betapa perih kehidupan yang mereka jalani. Bersyukurlah, kalian masih bisa menikmati indahnya belajar!” Nasehatmu pada kami.

               Sebagai ketua kelas, aku menoleh ke kanan-kiri, memastikan seisi kelas memperhatikan ucapanmu. Tepat saat mataku berhenti, di bangku paling belakang kulihat sesosok muridmu tertunduk bagai pohon kelapa di tepi pantai, terhempas oleh kencangnya angin, akarnya rapuh tak sanggup mencengkeram tanah yang lemah akibat terkikis abrasi kehidupan.

               Tak berselang lama, lonceng sekolah terdengar memekik di telinga, begitu angkuh menghabisi kami yang sedang asyik-masyuk oleh keterangan-keterangan yang kau paparkan. Kami seolah dipaksa pergi dari rumah sendiri.

               “Anak-anak, sekarang waktunya istirahat. Silahkan kalian gunakan dengan bijak.” katamu meredakan kejengkelan kami.

               Setelah seisi kelas berhamburan pergi, aku beranjak menemui sosok lesu di bangku belakang tadi. “Boleh aku duduk di sampingmu?” Aku memohon padanya.

               Dengan satu anggukan ritmis, sosok itu sepertinya berkenan dengan keberadaanku di sampingnya.

   “Perkenalkan namaku Rimba!” Aku menawarkan tangan.

“Aku Raya.” Ucapnya lirih tak bersemangat.

Kulihat jauh di dalam matanya, ada sesuatu yang merongrong sebentuk kepedihan bertumpuk-tumpuk. “Kenapa kamu tidak keluar kelas?” Dengan canggung aku berusaha membuka pembicaraan.

               “Kalau pun aku menjawabmu, kau pasti takkan mengerti maksudku.” Jawabnya ketus. “Rimba. Dari awal aku sudah tahu namamu. Kau pasti heran melihatku lemas saat siswa lain bersemangat. Sadarlah! Sejatinya aku tidak pernah ada dalam kehidupan yang kaujalani.”

               Aku tak mengerti apa yang ia bicarakan. Jawaban Raya tidak sesuai dengan pertanyaanku. “Apa maksudmu?” Tanyaku lagi.

               “Perlu kau ketahui, aku ada bukan sebagai kenyataan yang sesungguhnya. Aku hanyalah isyarat alam terhadapmu. Lihat sekitarmu! Alam sudah tidak lagi bersahabat dengan manusia. Mungkin hanya dengan bencana kita bisa sadar, berusaha merawat, dan memperbaiki kerusakan di muka bumi.” Lanjut Raya.

               Aku semakin heran dengan Raya. Ia tiba-tiba melampiaskan kekesalannya padaku. Sedang, apa penyebabnya hingga ia bertingkah seakan aku telah berbuat kesalahan yang sebegitu besar? Padahal baru kali ini aku melihatnya di kelas. Kemana saja dia selama ini? Ataukah, aku saja yang terlalu acuh sampai teman sekelas saja tidak semua aku kenali, padahal aku ketua kelas?

               Hening semakin menyeruak di antara kami. Raya masih terdiam, tak nampak akan melakukan sesuatu. Namun, dugaanku salah. Ia sedikit bergeser dari tempat duduknya, berusaha mendekat padaku. Tanpa rasa canggung, tiba-tiba Raya berbisik lirih di dekat telingaku.

               “Rimba, kau harus tetap hijau! Tunggulah, suatu saat alam akan menyirami duniamu.”

*

               “Rimba, bangun!” Ucapmu sambil menepuk kencang pundakku.

               “Hah….!” Aku terlonjak. Bangun dari tidurku. Keringat membasahi tubuhku dan membuat nafasku naik-turun. Kau membangunkanku.

               “Kita harus segera pergi mencari tempat berlindung. Ada gempa bumi!”     Ruangan kelas begitu riuh oleh teriakan. Semua siswa berlarian tak tentu arah. Syahdan, ternyata sedari tadi aku lelap tertidur. Dan pertemuanku dengan Raya hanya sebatas mimpi!

“Ah, aku harus lari!” Seruku dalam hati.

*

               Nahas, gempa dan tsunami banyak menelan korban. Ribuan jiwa terenggut nyawanya, menyisakan kecamuk pada pikiran orang-orang yang ditinggalkan. Aku menyisir kesana-kesini. Kulihat pohon-pohon berserakan, bangunan jungkir-balik tak beraturan, bercampur bersama bekas air laut yang mengamuk hingga daratan. Hari itu, dengan bermodal seragam sekolah koyak, aku berjalan tertatih. Ada sedikit luka lebam akibat tertimpa reruntuhan saat banjir bandang berlangsung. Syukur aku selamat.

               Kusadari, bencana adalah sebuah perwujudan dari murka alam. Hutan yang dahulu hijau tertanami pepohonan rindang menjelma gedung pencakar langit. Laut biru kini tak lagi indah karena tercemar limbah. Katanya itu semua adalah satu bentuk perkembangan zaman. Namun imbas yang timbul darinya adalah rusaknya lingkungan. Perkembangan harusnya tak merusak! Jika merusak, patutkah dikatakan demikian? Sebut saja, globalisasi kalian itu adalah awal menuju kematian dunia.

*

               Langit kembali cerah. Hari di mana aktivitas sekolah kembali berjalan seperti semula. Gempa-tsunami telah lalu, membekas pada ranting, bangunan dan bekas-bekas lain di setiap sudut sekolah. Juga pada hati kami yang runtuh saat mendengar kabar bahwa kau menghilang! Hingga detik di mana kisah ini ditulis kau belum juga ditemukan.

               “Akan selalu ku kenang tiap nasihatmu. Kau disana, atau entah dimana, akan tetap menjadi guru kami!”

               Do’aku sepanjang waktu.[]

Lirboyo, 24 November 2019

*Penulis Muhammad Abdu Fadlillah. Santri 22 tahun asal Indramayu, Asrama HMC-15.

Baca juga:
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA (BAG. 1)

Subscribe Juga: Pondok Pesantren Lirboyo

Unta yang Meluruskan Hukum Rasulullah saw

Seorang yahudi melapor kepada Nabi. Unta miliknya ada yang mencuri. Seorang muslim dia curigai. Di depan Nabi, ia hadirkan empat saksi. Keempat-empatnya bersaksi, bahwa muslim yang dituduh si Yahudi memang benar-benar mencuri.

Sang muslim merasa tak bersalah. Unta itu adalah benar-benar miliknya. Tetapi Nabi, berdasar saksi-saksi, tetap memvonisnya. Harus dipotong tangannya. Ini adalah bentuk ketegasan Nabi. Hukum harus tetap berdiri. Walau terhadap kawan sendiri.

Tampaknya sang muslim memang benar-benar tak bersalah. Ia kukuh menolak hukuman itu. Ia yakin. Empat saksi yang dihadirkan itu munafik semua. Tetapi apalah daya. Ia hanya bisa berpasrah. Ia mendesah. Menghempaskan masalahnya kepada Allah semata. “Wahai Tuhanku. Engkau mesti tahu. Aku sungguh tak mencuri unta itu.”

Ia lalu menghadap Rasulullah saw. Melepaskan satu anak panah terakhirnya. “Wahai Rasulullah. Hukummu adalah hukum yang benar. Tetapi tolong. Tanyakan pada unta itu. Siapakah pemiliknya.” Permohonan yang aneh. Lebih terdengar seperti ungkapan keputusasaan seorang terdakwa. Bukan bentuk pembelaan yang semestinya. Bagaimana pula meminta kesaksian dari seekor hewan, yang tak berakal dan tak bisa bicara?

Namun tanpa diduga, Rasulullah menuruti kemauan aneh itu. Beliau bertanya pada unta itu, “Hai unta. Siapakah pemilikmu sebenarnya?”

Unta itu tiba-tiba bisa bicara. Fashih bicaranya, layaknya manusia. “Wahai Rasulullah. Sungguh aku adalah milik muslim ini. Dan saksi-saksi itu sungguh pembohong.”

Sang muslim pun terlepas dari hukuman yang sudah seharusnya tidak ia terima itu.

Atas peristiwa itu, Nabi kemudian bertanya kepada sang muslim. “Apa yang kau perbuat, sehingga Allah menjadikan unta ini berbicara dan membelamu?”

“Wahai Rasulullah. Tidaklah aku tidur, kecuali sesudah aku membaca shalawat kepadamu sepuluh kali.”

“Kalau begitu, kau telah selamat dari hukuman di dunia. Dan kau juga nanti akan selamat dari hukuman di akhirat berkat bacaan shalawatmu atas diriku.”

Durrah an-Nashihin 174.

Penulis: Hisyam Syafiq

Nasihat Agar Hati-hati dalam Memperlakukan Makhluk Lain

Ada satu keterangan yang menyebutkan bahwa Nabi Ya’qub ‘alaihissalam diuji dengan dipisahkan dari putra tersayangnya, nabi Yusuf ‘alaihissalam, adalah sebab beliau pernah menyembelih anak sapi di hadapan induknya. Padahal induknya melenguh di depan anaknya.

Dalam riwayat lain, ada yang mengatakan bahwa sebabnya adalah pernah suatu hari nabi Ya’qub ‘alaihissalam makan bersama putra beliau. Makan makanan enak. Sementara tetangga beliau ada anak yatim, yang mencium bau masakan tersebut.

Anak tersebut menginginkan makanan tersebut, tapi apalah daya. Hingga anak tersebut hanya bisa menangis. Neneknya akhirnya turut menitihkan air mata. Sementara beliau dan keluarga anak yatim itu hanya terpisahkan sebuah tembok. Dan nabi Ya’qub ‘alaihissalam tidak tahu akan hal tersebut.

Akhirnya saat nabi Ya’qub ‘alaihissalam dipisahkan dengan nabi Yusuf ‘alaihissalam, beliau menangis terus menerus hingga putih kedua mata beliau.

Setelah itu, pada sisa usia beliau, nabi Ya’qub ‘alaihissalam memerintahkan orang untuk naik ke atap rumah beliau. Berteriak lantang, agar memberitahu siapa saja yang butuh makanan, untuk makan di kediaman beliau…

Ada pula kisah lain…

Menurut cerita, dalam kitab Jawahir Lukluiyyah, pernah suatu ketika, ada seseorang yang menyembelih anak sapi di depan induknya. Maka seketika orang tersebut hilang akal atau stres (ada yang bilang seketika tangannya lumpuh).

Setelah beberapa waktu berlalu, suatu saat orang itu berada di bawah pohon. Dan di atas pohon itu ada sarang burung. Lalu ada anak burung di sarang itu yang jatuh di depannya, sedangkan induknya hanya bisa melihat anaknya jatuh dan tidak bisa menolongnya.

Melihatnya, orang yang stress atau lumpuh tangannya itu pun merasa kasihan lalu mengambilnya dan mengembalikannya ke sarang di atas. Maka Allah Subhanahuwata’ala pun berbelas kasihan kepada orang itu, dan mengembalikan akalnya atau tangannya menjadi kembali sehat.*

الراحمون يرحمهم الرحمن ارحموا من في الأرض يرحمكم من في السماء

Bagaimana kita memperlakukan orang lain, biasanya itu akan kembali pada kita. Maka kita bisa menjadikan beberapa kejadian dalam kisah diatas sebagai pelajaran…

Menurut sebagian keterangan, Syaikh Mutawalli as-Sya’rawi pernah dawuh, “ketika bakti kepada kedua orang tua bertambah, maka taufiq dari Allah Subhanahuwata’ala pun akan semakin bertambah.”

Tentunya banyak hal yang tidak masuk akal dalam hidup. Demikian juga doa. Adatnya salaf salih, akan mendoakan orang lain saat menginginkan sesuatu. Ingin rumah misalnya, maka mendoakan orang lain agar bisa membangun rumah baru terlebih dahulu. Harapan besar, agar nantinya doa itu akan kembali juga pada dirinya.

Mendoakan orang lain, biasanya doa akan kembali pada kita. Orang salih biasanya melakukan hal tersebut. Bila ingin sesuatu, mereka mendoakan orang lain.

Membaca sholawat saja, akan kembali kepada kita. Maka doa yang baik, juga semestinya ada imbal balik kepada pengucapnya.*

Wallahu a’lam…

Penulis: M. Khoirul Wafa

Baca juga:
– DAWUH KH. ABDULLAH KAFABIHI MAHRUS: TANDA ORANG YANG DIBERI KEBAIKAN OLEH ALLAH SWT

Langganan Video:
– Pondok Pesantren Lirboyo

Belajar Sabar dari Anak Kecil

Syaikh Fudhail bin ‘Iyadz adalah salah seorang ulama besar ahli tasawuf. Suatu hari beliau melihat kejadian sederhana yang menarik dan berharga. Karena mengandung pelajaran hidup tentang kesabaran. Sabar untuk bertaubat, sabar untuk selalu berdoa dan berharap kepada Sang Pencipta.

Alkisah, suatu hari pada saat beliau hendak pergi ke masjid, beliau melihat ada seorang anak kecil yang mendapat amarah dari ibunya. Ibu itu memukul anaknya. Karena dipukul oleh ibunya, si anak berteriak dan melarikan diri keluar rumah. Dia menjerit lalu pergi. Mungkin menghindar dan takut dipukuli.

Melihat anaknya pergi keluar rumah meloloskan diri, si ibu akhirnya menutup pintu rumahnya. Dia mengunci pintu agar si anak tidak bisa masuk. Mungkin sebagai bentuk hukuman.

Dari jauh Syaikh Fudhail bin ‘Iyadz memperhatikan kejadian itu sekilas. Dan beliau kembali melanjutkan perjalan menuju ke masjid.

Sepulang dari masjid, Syaikh Fudhail bin ‘Iyadz kembali melewati rumah si ibu tadi. Rumahnya masih tertutup dan terkunci. Si anak belum boleh masuk. Namun dia menanti dengan sabar di dekat pintu rumah. Terlihat jelas bekas guratan air mata yang lewat dari pelupuk mata anak itu. Air mata yang masih membekas membasahi pipi. Anak itu menangis mengharapkan belas kasih ibunya.

Syaikh Fudhail bin ‘Iyadz mengamati kejadian itu. Beliau menyempatkan diri untuk memperhatikan. Mungkin dari jauh.

Ibu anak itu melihat anaknya tertidur di dekat pintu. Anak itu masih menunggu kebaikan ibunya. Dia menanti dengan sabar hingga pulas dibalut mimpi. Dan hati si ibu mulai tergerak dan bergetar. Tersentuh hatinya oleh kegigihan anaknya. Iba mengetahui ada bekas air mata di pipinya.

Si ibu pun akhirnya tak tega. Terharu perasaannya. Dia lepaskan juga kunci pintu rumahnya. Dan mempersilahkan anaknya masuk dengan hati terbuka.

Mengetahui itu, Syaikh Fudhail bin ‘Iyadz tergetar. Sederhana kejadian itu, namun begitu dalam bermakna bagi beliau. Ada pelajaran yang sangat penting dan berharga. Tak terasa air mata Syaikh Fudhail bin ‘Iyadz juga ikut menetes. Basah jenggot beliau oleh air mata.

Beliau berkata, mengambil hikmah luar biasa dari kejadian sederhana itu, “subhanallah. Andaikan seorang hamba bersabar selalu menunggu didepan pintu-Nya. Niscaya Allah Subhanahuwata’ala pasti akan membukakan pintu untuk hamba-Nya.”

“Aku mendapatkan pelajaran tentang sabar dari anak kecil…” Kata Syaikh Fudhail bin ‘Iyadz hari itu.

Maka demikian juga dalam berdoa dan bertaubat. Seorang hamba tak boleh hilang harapan. Jangan pernah menyerah dan putus asa. pintu-Nya akan terbuka bagi hamba yang tak pernah lelah meminta. Meminta ampunan, memohon rahmat, dan mengharapkan anugerah.

سلسلة الدار الآخرة صـ ١٦ جـ ٢

قال الفضيل بن عياض: تعلمت الصبر من صبي صغير، يقول: ذهبت مرة إلى المسجد فوجدت امرأة تنظر من داخل دار، وهي تضرب ابنها، وهو يصرخ، ففتح الباب وهرب، فأغلقت عليه الباب، قال: فلما رجعت نظرت فلقيت الولد بعدما بكى قليلاً نام على عتبة الباب يستعطف أمه؛ فرق قلب الأم ففتحت الباب، فبكى الفضيل حتى ابتلت لحيته بالدموع وقال: سبحان الله! لو صبر العبد على باب الله عز وجل لفتح الله له.

Penulis: M. Khoirul Wafa Santri asal Wonosobo.