Mengaji di Pesantren

Merawat Warisan Budaya dengan Mengaji di Pesantren

 “Santri seharusnya turut berperan penting dalam menjaga dan melestarikan sistem pendidikan yang telah dirancang sedemikian rupa, guna menjadikan manusia yang mempunyai harkat dan martabat yang luhur, oleh para leluhur kita.” Bagi masyarakat, nama pesantren sudah tak asing lagi di telinga, pesantren merupakan pendidikan pertama Islam di Indonesia yang sampai detik ini tetap eksis. Pesantren juga…

Lanjutkan
Rahasia Kebahagiaan Ada di Ikhlas

Rahasia Kebahagiaan: Belajar Ikhlas Total dari Cara Kita Buang Hajat

Oleh: Nu’man Hasan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo Semester V Tahun Pelajaran 2025-2026 Memahami Ikhlas Berdasarkan Ayat Suci وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ ۝٥ “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan…

Lanjutkan

Berbuat Baik terhadap Hewan: Cermin Keimanan Seorang Muslim

Oleh: Muhammad Talhah Hewan merupakan salah satu ciptaan Allah Swt. yang lahir dari sifat qudrah-Nya. Dengan kekuasaan-Nya, Allah mampu menciptakan berbagai jenis hewan dengan bentuk, fungsi, dan manfaat yang beragam. Dalam hal ini, Islam memberikan batasan yang jelas mengenai hewan yang boleh dimakan dan yang tidak. Akan tetapi, pembatasan itu bukan berarti Islam melarang untuk…

Lanjutkan

Peran Tiga Generasi Menuju Indonesia Emas atau Cemas?

Oleh: M. Kaisa Aqla (MA I-II) Indonesia tengah menapaki jalan menuju Indonesia Emas 2045. Momen saat bangsa ini genap berusia satu abad. Namun, keberhasilan atau kegagalan cita-cita besar itu sangat bergantung pada tiga generasi yang kini menjadi penggerak utama perubahan: Baca juga: Dimensi Ta’abbudi: Seni Tuhan Menguji Hamba-Nya Generasi Millenial: Pondasi penggerak Lahir antara 1981-1996,…

Lanjutkan

Mengenal Thariqah Ta’lim wa Ta’allum

Oleh: M. Maliki Ilham (III Tsanawiyah Bag. M. 03) Tersebarnya pondok pesantren di seluruh pelosok Indonesia merupakan wujud nyata dari ikhtiar para ulama dalam memperkokoh ajaran Islam di bumi Nusantara. Jika para Walisongo dahulu menyebarkan Islam melalui metode (thariqah) dakwah dan keteladanan mereka di tengah masyarakat. Maka para ulama setelahnya menanamkan ajaran Islam dengan cara…

Lanjutkan
Ta'abbudi Seni Tuhan Menguji Hambanya

Dimensi Ta’abbudi: Seni Tuhan Menguji Hamba-Nya

Dalam tradisi keislaman, ta’abbudi merupakan istilah yang merujuk pada ketaatan hamba kepada Allah secara mutlak, tanpa memperhitungkan manfaat duniawi atau alasan rasional yang jelas. Konsep ini menekankan dimensi penghambaan yang bersifat total — baik secara ritual, moral, maupun spiritual. Fenomena ta’abbudi menimbulkan pertanyaan mendasar terkait posisi akal dalam ketaatan: apakah ketaatan mutlak ini mengesampingkan fungsi…

Lanjutkan
Ilustrasi kongres pemuda

Latar Belakang Berdirinya Sumpah Pemuda

“Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Awal Mula Bahasa Persatuan: Dari Melayu ke Indonesia Perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi bahasa Indonesia membentuk perjalanan menuju lahirnya Sumpah Pemuda. Sejak lama, masyarakat di kepulauan Nusantara telah menggunakan bahasa Melayu secara luas, terutama sebagai bahasa perdagangan di berbagai pelabuhan. Selain itu, bahasa…

Lanjutkan
Santri Bukan Pemuda Berjiwa Kosong

Santri Bukan Pemuda Berhati Kosong

Tepat pada tanggal 22 Oktober, peran santri dan kiai divalidasi serta diabadikan dalam sejarah bangsa dengan sebutan Hari Santri Nasional. Hal ini wajar, sebab para santri telah turut serta menyalurkan tenaga, pikiran, dan pengorbanan untuk mempertahankan serta memajukan negara. Para santri dididik dengan kedisiplinan tinggi dan adab yang mulia. Meskipun santri identik dengan aktivitas keagamaan,…

Lanjutkan
Memilih Lingkungan yang baik

Pentingnya Memilih Lingkungan bagi Santri

عن المرء لا تسأل وأبصر قرينه، فإن القرين بالمقارن يقتدي “Janganlah melihat seseorang hanya dari dirinya, tetapi lihatlah dengan siapa ia berteman.” Perkembangan zaman menjadi pemicu utama hilangnya nilai-nilai moral. Segala hal kini dapat kita akses dengan mudah, cukup dengan duduk santai sambil menggeser layar gawai. Lebih dari itu, kemajuan teknologi membuka peluang bagi seseorang…

Lanjutkan