Category Archives: Santri Menulis

Santri Sebagai Cermin Pemimpin Negeri

Euforia pengakuan pemerintah pada elektabilitas pelajar-pelajar pesantren menjadi kebahagiaan tersendiri bagi dunia kaum tradisional. Meski pengakuan bukanlah tujuan akhir dari seluruh kinerja lulusan pesantren, setidaknya hal ini dapat menjadi cambuk penyemangat untuk terus berkarya dan mengabdi kepada bangsa.


Pesantren, dengan kurikulum-kurikulum yang secara garis besar dapat menggambarkan kualitas lulusannya, sekarang ini menjadi barometer pendidikan di Indonesia. Ketidakpuasan atas kredibilitas lulusan di luar pesantren yang ketika diberi kesempatan untuk berkarya justru cenderung merugikan negara, mendorong pemerintah untuk memberikan kesempatan kepada pesantren untuk mengirimkan lulusan terbaiknya, guna turut berkarya untuk kemajuan bangsa. Terlebih dalam masalah moralitas anak-anak bangsa. Meski begitu, saat ini masih sedikit sekali lulusan pesantren yang mengabdikan diri dalam jajaran kepemerintahan.


Pencederaan nilai-nilai pancasila banyak sekali dilakukan oleh para peminmpin negeri, mulai dari korupsi, tindak asusila, dan masih banyak tindakan tak beradab lainnya. Para alumni pesantren dituntut untuk mengisi kekosongan pemimpin yang berprinsip tegas sesuai dengan nilai-nilai pancasila—terutama kandungan dalam kutipan sila keempat yaitu “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan, dalam permusyawaratan, perwakilan.” Sila keempat adalah wujud gambaran ideal seorang pemimpin. Dengan “hikmat,” seorang pemimpin akan menjaga amanat kepemimpinan melalui penjagaan nila-nilai agama, serta sesuai dengan tatanan negara.


Wujud kebijaksanaan dalam diri seorang pemimpin menjadi prinsip dasar munculnya keputusan-keputusan yang bersifat toleran dan menjaga persatuan. Pemimpin negara besar dengan aneka ragam suku, budaya, dan agama, haruslah memiliki sikap kepemimpinan yanng penuh hikmat serta kebijaksanaan dan beberapa faktor pendukung lainnya. Melihat betapa sulit memenuhi kriteria ideal seorang pemimpin, mengharuskan penanaman prinsip-prinsip dasar sejak dini. Hal inilah yang menjadikan pemerintah Indonesia memberikan apresiasi dan kesempatan kepada pesantren.


Dalam kajian sejarah, sejak era kepemimpinan berada dalam garis komando Nabi sebagai panjang tangan kebijakan Tuhan hingga era kebijakan Pak Jokowi, telah mengalami beberapa perubahan dalam konteks “keterkaitan pemimpin dengan agama,” yang secara tidak langsung menghasilkan kriteria ideal bagi seorang pemimpin. Era pertama dalam kepemimpinan Nabi, seluruh keputusan yang diambil dan dilaksanakan di masa itu merupakan wujud keputusan Tuhan. Maka tidak janggal jika semuanya menghasilkan kebijakan yang penuh maslahah dan keadilan.


Nabi Muhammad saw selaku sosok imam yang menjadi gambaran kriteria pemimpin ideal, dengan kesempurnaan berfikir dan penguasaan ilmu tata negara, serta sebagai utusan Tuhan yang secara tidak langsung dalam semua kebijakannya mengandung kebenaran yang tidak bisa disalahkan. Kajian sejarah yang mengambarkan kemajuan-kemajuan Madinah, banyak ditemukan dalam tinta emas islam. Pembentukan “Piagam Madinah” menjadi tonggak awal dunia sebagai sikap bijaksana untuk menjaga persatuan sebuah negara yang di dalamnya terdapat beberapa suku, budaya, dan agama. Dengan ide cemerlang ini, Madinah menjadi satu-satunya negara yang memiliki garis-garis demokrasi bagi setiap warga negaranya.


Kesejahteraan tidak menjadi khayalan bak lautan tidak bertepi. Peraturan-peraturan yang tertuang di dalamnya adalah gambaran kecil dari proses demokrasi terpimpin. Kesepakatan untuk hidup bersama dengan peraturan-peraturan yang menghilangkan fanatik kesukuan dan digantikan dengan semangat kenegaraan adalah langkah besar dalam dunia ketatanegaraan. “Sempurna” adalah kata dari nilai pemerintahan era Rasulullah saw, dengan struktural yang diisi oleh para ahli dalam bidangnya—menjadi faktor penting dari keputusan-keputusan yang cemerlang.


Berlanjut pada era Sahabat, kepemimpinan masih berada dalam jalur yang benar. Di mana tonggak kepemimpinan di bawah komando para ahli. Baik dari sistem tata negara, politik, hingga bekal pemahaman agama secara mendalam. Masa Sahabat Abu Bakar ra menjadi awal perubahan dalam tata cara mengambil kebijakan-kebijakan baru. Jika di zaman Nubuwwah, semua melalui perantara Nabi sebagai panjang tangan dari peraturan-peraturan Tuhan, di masa para sahabat semua keputusan merupakan hasil dari permusyawarahan yang dilakukan oleh para sahabat. Dengan kejelian dalam melihat maslahat dan madhorot, serta didasarkan kepada keputusan bersama, mewujudkan kebijakan-kebijakan baru menjadi lebih efektif untuk merubah tatanan kehidupan masyarakat.


Di era Sahabat Umar ra, kemajuan Madinah semakin terlihat. Dalam kepemimpinannya yang relatif sebentar, Umar dapat memberikan gambaran atas sikap patriotisme sebagai seorang pemimpin yang dapat mengesampingkan kepentingan pribadi. Di masanya, islam dengan kota Madinah menjadi pusat kemajuan bangsa Arab. Kebijaksanaannya semakin terlihat saat mengambil keputusan untuk tidak memberlakukan hukum potong tangan bagi pencuri ketika Madinah mengalami krisis moneter. Kontekstualisasi hukum islam menjadi semakin mudah ketika pemimpin juga ahli dalam penguasaan ajaran agama. Namun, semakin jauh dari era Nabi serta para sahabatnya, tidak ditemukan sosok pemimpin yang dapat memenuhi kriteria sebagai pemimpin ideal.


Relasi umara (pemimpin) dengan ulama menjadi benang merah dalam sejarah kepemimpinan. Di era sahabat hampir semua pemimpin memiliki dua komponen tersebut. Sehingga menciptakan sosok pemimpin yang tidak hanya ahli dalam sistem tata negara, namun juga menguasai ajaran serta aturan agama. Kejayaan negara menjadi hal yang dapat diperoleh dengan tanpa melewati garis-garis agama. Permasalah muncul ketika islam berada dalam negara yang pemimpinnya tidak memiliki dua komponen di atas. Seperti gambaran kecil di era kerajaan islam (sistem monarki), dalam setiap keputusannya seringkali akan membawa kerusakan yang muncul karena tidak adanya kredibilitas, serta kepemimpinan mutlak—yang menghilangkan tuntunan nabi untuk memusyawarahkan setiap keputusan. Kandungan nilai demokrasi islam pada saat itu kehilangan kekuataannya.


Hubungan yang seharusnya dapat menjadi solusi untuk menutupi kekurangan kualitas pemimpin, tidak sepenuhnya dilakukan oleh sultan-sultan di masa itu. Meski mereka tetap memberi tempat tinggi kepada para ulama, namun tidak semua masukan para ulama diterapkan (kendati secara riil merupakan keputusan terbaik). Hampir setiap keputusan yang diambil adalah wujud usaha mereka untuk mempertahankan kekuasaan.

Begitu juga dalam kajian sejarah kepemimpinan kemerdekaan Indonesia. Di era awal kemerdekaan, sulit sekali ditemukan sosok yang kredibel sebagai pemimpin negara sekaligus ahli agama. Akhirnya semua itu ditutupi dengan semangat gotong royong untuk saling bahu membahu antar ahli dalam setiap bidangnya. Para umara selalu meminta pertimbangan ulama dalam setiap keputusan yang akan diambil. Sehingga tercipta buah terbesar dari kuatnya relasi keduanya, kemerdekaan.


Memasuki era Orde Baru, kerenggangan terjadi antara dua komponen ini. Para ulama memilih untuk menjauhi umara karena mereka semakin jauh dari prinsip awal dibentuknya negara Indonesia. Semua nilai-nilai pancasila hingga arti semboyan Bhineka Tunggal Ika tidak berlaku lagi. Masukan-masukan dari para ulama hanyalah angin berhembus yang tidak perlu diambil kebijaksaannya. Kerusakan-kerusakan pun terjadi hingga Indonesia berada dalam titik nadir dengan maraknya peristiwa dan pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di masa itu.


Belum ada perubahan signifikan hingga memasuki akhir tahun 2019 masehi ini. Meski secara tidak langsung, relasi dari keduanya saat ini nampak semakin kokoh dengan tampilnya lulusan pesantren yang menempati beberapa posisi strategis. Namun, semua itu tidak bisa menjadi solusi akhir dari kekacauan yang sering terjadi di negara Indonesia. Diperlukan seorang pemimpin yang dapat menyelesaikan problem-problem masyarakat dengan bijaksana dan pemegang amanat dengan hikmat.


Melihat kenyataan ini, sudah saatnya kepemimpinan berada di bawah komando sosok yang menjadi gambaran nilai-nilai pancasila serta dapat mengibarkan semboyan bangsa. Para alumni pesantren dengan bekal agama kuat, sudah seharusnya membuka diri untuk juga mempelajari ilmu-ilmu trias politika, serta ilmu-ilmu lain. Karena banyak klaim bahwa sebagian besar teori siasat dalam kitab kuning sudah tidak relevan dengan zaman. Perlunya bukti bahwa relevansi ilmu fiqh selalu dapat menjawab permasalahan baru. Tidak cukup dengan kita hanya menyampaikan sebatas teori, namun hanya cenderung kepada pengaplikasiaan teori-teori yang menurut banyak pihak yang sedemikian rumit.


Sebagian pesantren memang masih merasa antipati terhadap proses pemerintahan Indonesia. Bukankah KH. Wahab Hasbullah sudah memberikan contoh dalam memperjuangkan kebenaran dan usaha merubah kemungkaran yang mengharuskan kita untuk bersentuhan langsung, meski dalam beberapa fase kita juga akan turut dalam pelaksaan kemungkaran tersebut. Namun dalam agama hal seperti ini bukanlah larangan.

Perubahan-perubahan mindset alumni pesantren harus menjadi agenda besar di setiap tahun. Karena berdiam atas kemungkaran bisa jadi merupakan gambaran kerelaan wujudnya mungkar itu sendiri. Pemerintah telah memberikan peluang besar untuk para alumnus pesantren guna terjun dalam kabinet pemerintah. Program penyetaraan lulusan Ma’had Aly menjadi jalan terkonkret keseriusan pemerintah. Saat ini, para santri bukanlah sosok yang dianggap kolot, cupu, serta tidak cakap dalam bidang selain agama. Mereka adalah bibit unggulan yang menjadi harapan bangsa untuk memimpin negeri. Dengan kurikulum pesantren yang syarat akan makna persatuan, sudah seharusnya menjadikan mereka tampil sebagai yang terdepan di negeri ini.


Dunia tidak akan berhenti untuk sekedar menunggu kita. Jika tidak mengubah mindset, kita akan semakin tertinggal dengan perubahan-perubahan baru yang tidak dapat kita hentikan. Tuntunan agama untuk menjadi sosok yang mengamalkan amr bil ma’ruf wan nahyu anil munkar mengharuskan kita untuk siap dan sedia sebagai jawaban atas kerusakan moral masyarakat.


Analogi sederhana, kebaikan yang kita serukan dengan posisi kita hanya sebatas rakyat jelata—tidak jauh berbeda dengan mereka yang menghabiskan tenaga serta dana untuk berteriak-teriak tanpa kepastian akan tersampaikannya aspirasi dan usulan. Tindakan kita bisa lebih efektif jika kita pemengang otoritas atas setiap kebijakan yang diambil. Kita dapat menentukan besarnya maslahat dan kecilnya madhorot. Kabur dari semua permasalahan ini bukanlah solusi terbaik. Bom waktu akan meledak saat semua kemungkaran menguasai. Kita yang bersembunyi dari semua kewajiban ini hanya akan menunggu waktu untuk tersingkir dari persaingan.


Kita perlu belajar kepada sosok KH. Wachid Hasyim. Sosok santri yang dapat memberi perubahan dan pengabdian penuh totalitas kepada bangsa Indonesia. Berada di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari menjadikannya sebagai sosok intelektual. Bahkan sampai menguasai ilmu-ilmu dari negara barat, yang saat itu cenderung dilarang untuk dipelajari karena wujudnya sentimen terhadat ajaran penjajah. Bekerja sama dengan berbagai ahli dari luar pesantren menjadikannya mengerti, bahwa cita-cita bangsa tidak akan bisa tercipta jika kita berdiam diri tanpa ada semangat perubahan. Banyak pemimpin yang menjadi pejuang intelektual dari kalangan santri, seperti halnya KH. Mahrus Ali yang mempunyai inisiatif untuk mendirikan Sekolah Tinggi di tengah lingkungan pendidikan salaf. Hal ini merupakan gebrakan luar biasa. Ada lagi KH. Badrus Sholeh yang mendirikan pondok pesantren putri pertama di Karesidenan Kediri. Beliau memberikan kesempatan bagi perempuan-perempuan bangsa untuk turut belajar ilmu agama dan memiliki cita-cita mengabdi pada bangsa.


Pembaharusan seperti ini, juga perlu diterapkan dalam konteks kepemimpinan negara Indonesia. Dengan kesempatan yang diberikan oleh pemerintah, tidak ada salahnya bagi lulusan pesantren untuk berusaha mengabdikan diri kepada negara. Meski dalam kajian sejarah banyak sekali ulama yang lebih memilih untuk menghindari jabatan-jabatan pemerintah. Namun sekali lagi, bukan jabatan yang kita tuju. Semangat untuk membawa Indonesia kepada peradaban yang lebih maju, dengan tanpa menyalahi aturan agama, salah satunya dapat dicapai dengan masuk ke jajaran elit pemegang kekuasaan dan pemutus setiap permasalahan.


Dalam kajian fiqh, bukanlah larangan bagi orang-orang yang memiliki kecakapan dalam bidangnya untuk mengajukan diri sebagai calon pemimpin bangsa. Bahkan jika ia adalah sosok yang memiliki kreadibilitas serta memiliki keyakinan mampu memberi perubahan, maka wajib baginya untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin bangsa dalam konsep untuk membawa kepada yang lebih baik.


Bangsa Indonesia telah menyematkan kepercayaan tinggi kepada lulusan pesantren untuk memberi sentuhan perubahan. Tidak ada yang harus diperdebatkan. Semua itu hanya perlu pembuktian atas kepercayaan serta amanat bangsa. Tidak ada waktu lagi untuk menghindari atau lari dari tanggung jawab. Prinsip kuat yang ditanamkan para ulama kepada lulusan-lulusan pesantren seharusnya menjadikan semangat untuk berjuang dan mengabdi kepada negara semakin bergelora.


Terkekang dalam ketakutan yang menguasai pikiran, menjadikan kita tidak berani mengambil langkah efektif. Meski dengan sedikit kontroversi bukanlah hal yang perlu ditakuti. Semua itu hanyalah sebagai jalan menuju arah yang lebih baik. Prinsip sederhana yang harus ditanamkan dalam mindset para santri; “Berfikirlah untuk langkah yang memberi perubahan, bukan hanya mengolok-ngolok mereka yang berkorban untuk satu kebenaran dengan perubahan”.

Penulis: Muhammad Hasbullah Siswa Ma’had Aly Smt. IV

Belajar Adab dari Nadzam Alfiyah

كَإِنَّ زَيْدَاً عَالِمٌ بِأَنِّي

كُفءٌ وَلكِنَّ ابْنَهُ ذُو ضِغْنِ

“Sesungguhnya Zaid adalah sosok yang alim, sepadan denganku (Ibnu Malik), akan tetapi anaknya adalah sosok yang pendendam”

Penggalan bait syair ini ada di nadzam Alfiyah Ibnu Malik. Orang pesantren pasti tahu/paham/hafal (walau mungkin sudah lupa, hehe). Sedikit gambaran, Alfiyah Ibnu Malik adalah karya monumental dari abad ke-13, yang menjelaskan gramatika Arab. Penulisnyapun bukan orang Arab, tapi daerah Jaén, Spanyol. Ia adalah Ibnu Malik (w. 22 Februari 1274 M).

Penggalan syair di atas sebenarnya memberikan contoh efek/dampak إنّ pada pola suatu susunan kalimat yang terdiri dari mubtada’ (subjek) dan khabar (predikat). Namun seperti yang sering disampaikan oleh guru-guru saya, bahwa setiap contoh yang diuraikan di dalam Alfiyah memiliki nilai dan pesan moral yang kuat—entah itu cocokologi, atau semacamnya. Akan tetapi acapkali setiap contoh yang ditulis oleh Ibnu Malik memang memiliki pesan moral yang kuat, seperti penggalan contoh berikut

وَقِسْ وَكَاسْتِفْهَامٍ النَّفْيُ وَقَدْ

يَجُوْزُ نَحْوُ فَائِزٌ أولُو الرَّشَدْ

Yang bercetak tebal: “…sungguh beruntung mereka yang mendapat petunjuk.”

Tiga belas abad silam Ibnu Malik sudah menyatakan hal yang visioner. Bahkan jauh sebelum itu, bahwa moral, akhlak, adab, ilmu, bukanlah sesuatu yang diwariskan. Bisa jadi ada seorang yang mewarisi pengetahuan, disiplin keilmuan, terlebih agama Islam, akan tetapi tak sedikit dari mereka hanya tahu—bukan paham, sehingga kosong. Mereka menggunakan dalil ini, dalil itu, namun minim akhlak dan etika.

Hal ini diperparah dengan gelar ulama ataupun ustaz yang disematkan kepada mereka. Mereka hafal ayat dan hadis tapi propaganda kebencian, dengki, dan fitnah acapkali mewarnai kata-kata mereka di mimbar konvesional hingga media sosial. Lebih buruk lagi, hal ini diamini ribuan pengikut mereka yang terjebak dalam kefanatikan buta.

Bisa jadi mereka yang bergelar ustaz, ulama, mewarisi darah biru leluhur mereka. Namun hanya mewarisi itu saja. Sehingga oleh Ibnu Malik disindir di nadzam yang tertulis di awal tulisan ini, “ayahnya sepadan denganku, tapi apakah anaknya demikian?”

Terdapat pepatah jawa mengenai hal ini, Kakudung welulang macan (berkalung kulit macan)”. Ia memang terlahir dari macan, tetapi perangai dan sikapnya tak lebih dari sekedar keledai. Terlahir dari siapapun adalah takdir, tapi untuk menjadi baik, tak perlu ditanya keturunan siapa. Hal itu justru hanya anugerah saja.

Nurul Mustofa, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2012.

Tajdid al-Turats: Feminisme dalam Hadis Ummu salamah

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Imam Hakim diceritakan bahwa suatu ketika Ummu Salamah ra. bertanya kepada Rasulullah Saw: “Wahai Rasulullah Saw., aku tidak mendengar sama sekali bahwa Allah Swt. menyebut sesuatu tentang perempuan dalam berhijrah.”

Sebab pertanyaan tersebut, lalu diturunkanlah ayat:

 فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS. Ali Imran: 195)

Dalam riwayat lain oleh Imam Hakim, Ummu Salamah Ra. berkata: “Aku berkata: wahai Rasulullah. Engkau telah menyebut laki-laki saja, dan engkau tidak menyebut perempuan.” Lalu turunlah ayat:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Dan turun juga ayat QS. Ali Imran: 195 di atas.

Setelah membaca hadis ini, saya menjadi teringat pemikiran Thaha Abdurrahman, seorang Filsuf Islam kontemporer asal Maroko yang sangat saya kagumi. Ia pernah berbicara mengenai konsep “tajdid at-turats” (pembaharuan khazanah intelektual kuno). Kata tajdid yang secara harfiah bermakna pembaharuan, sebenarnya mempunyai muatan makna yang kompleks. Dalam arti, perihal pembaharuan terhadap turats, terdapat ketidaksepakatan di antara para cendikiawan Islam tentang “apa makna”, dan “bagaimana seharusnya” pembaharuan itu mungkin dilaksanakan. Tidak sebatas itu saja, bahkan sampai ada “tindak” pemurtadan terhadap pola pikir tertentu dalam hal ini.

Kalau memang benar tajdid melulu diartikan sebagai sebuah proyek intelektualitas keagamaan yang positif, lantas mengapa sampai ada perselisihan yang kuat di antara para pakar. Dan kalau kita cermati dalam literatur arab kontemporer, pembahasan tajdid ini begitu ramai dibicarkan terus-menerus seolah tidak pernah habis. Di antara yang memberikan penyegaran terhadap wacana tersebut adalah Thaha Abdurrahman.

Dalam pandangannya, pengertian tajdid itu tidak sesederhana “yujaddidu at-turats” secara langsung. Tapi lebih ditekankan pada sisi ’alaqah (hubungan esensial), berupa nadzar (pandangan) yang beperan sabagai gerak-esensial dalam suatu proses pembaharuan. Dengan pemaknaan seperti ini, yakni “tajdid-nadzr-turats“, adalah proses pengulangan pandangan teoritis terhadap turats (i’adat an-nadzar fi at- turats), yang mengandaikan wujud kerja teoritis yang baru, yang tidak sama atau mengulangi yang “sudah ada”.

Maka ringkasnya tajdid at-turats itu bukanlah “fiqhu at-turats“, atau sekadar pemahaman terhadap literer, di mana turats diposisikan sebagai objek secara langsung. Melainkan yang tepat adalah “fiqh an-nadzr fi at-turats“, memahami opini terhadap turats, yang juga memberikan konsekuensi berupa “nadzar ‘ala an-nadzr”, atau “nadzr fi an-nadzr”, pemahaman bertingkat terhadap suatu opini tentang turats.

Dari penjelasan di atas, bisa diambil pemahaman bahwa visi utama suatu pembaharuan adalah menghadirkan pembacaan teoritis yang baru terhadap turats. Tidak boleh ada pengulangan, dan menguak sisi-sisi yang belum tersentuh atau terbakukan dalam kajian-kajian sebelumnya.

Kembali ke awal: lalu apa hubungannya konsep tajdid dengan hadis di atas tadi?

Begini. Hadis Ummi Salamah di atas dalam diskursus ‘ulum al-qur’an—spesifiknya dalam bab asbabun nuzul—oleh para ulama dijadikan sebagai argumen atas legalitas banyaknya ayat yang diturunkan walau hanya memiliki satu sebab saja. Yaitu diturunkannya dua ayat di atas: Ali Imran: 195 dan Al-Ahzab: 35 tersebut ternyata mempunyai satu sebab saja, yakni pertanyaan Ummu Salamah ra.

Dalam ‘ulum al-qur’an, hadis Ummu Salamah tersebut dijadikan sebagai pembentuk teori asbabun nuzul, itu saja. Padahal dalam konteks kekinian, bisa saja hadis tersebut diindikasikan sebagai benih-benih wacana feminisme dalam Islam. Ternyata dalam Islam juga ada nilai-nilai kesetaraan hak, serta keadilan yang sama terhadap kaum perempuan. Dan secara jelas, memberikan penegasan bahwa agama ini tidak hanya berputar dalam urusan-urusan patriarki.

Memang ada perbedaan yang signifikan antara kajian dulu dan sekarang. Memang dulu belum ada  wacana feminisme seperti hari-hari ini. Wacana ini baru lahir di masa pasca-pencerahan dan dipelopori oleh Mary Wollstonecraft, yang memang pada masa itu memberi corak yang dominan atas wacana-wacana humanistik, common sense misalnya. Terlebih desakan terhadap pihak gereja yang dianggap telah berbuat zalim terhadap kaum hawa sepanjang abad pertengahan. Maka feminisme yang disuarakan pun cenderung menolak apapun yang bersifat otoritatif dan merugikan perempuan. Semuanya akan ditentang, sekalipun itu berupa doktrin keagamaan.

Sementara, jauh sebelum feminisme disuarakan oleh Barat, ternyata sudah tergambar secara jelas nilai-nilai tersebut dalam ajaran Islam. Hanya saja belum tersistematis dan masif seperti sekarang. Karena bagaimanapun, terdapat perbedaan yang sangat esensial antara keduanya: feminisme Islam dan feminisme Barat. Tapi justru itulah tugas sebuah kajian ilmiah. Ia harus senantiasa bergerak, kreatif dan aktual.

 Sebagaimana pemaknaan tajdid di atas, maka upaya menyegarkan kembali pengkajian turats adalah amanah yang harus dilestarikan oleh setiap generasi penerus.

Penulis: Farhan al Fadhil, mutakharijin Madrasah Hidayatul Mubtadiin tahun 2017, mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, jurusan tafsir.

Hukum Buka Bazar untuk Natalan di Gereja

Di sebagian daerah menjelang perayaan natal, kaum muslimin pun banyak yang menggunakan momentum ini untuk mengais rejeki dengan berjualan berbagai barang untuk kepentingan perayaan tersebut. Dari makanan, minuman, pakaian, dan selainnya. Lalu bagaimana hukumnya dalam perspektif fikih? Adakah pendapat fikih Ahlussunah wal Jamaah yang dapat mengakomodirnya?

Dalam hal ini, pakar fikih mazhab Maliki,  Muhammad bin Yusuf al ‘Abdari (w. 897) atau yang terkenal dengan nama Abu Abdillah Al Mawaq dalam at-Taj al-Iklil li Mukhtashar Khalil (V/481) mencatat:

وروى ابن القاسم أن مالكا سئل عن أعياد الكنائس فيجتمع المسلمون يحملون إليها الثياب والأمتعة وغير ذلك يبيعون يبتغون الفضل فيها، قال: لا بأس.

Ibn al Qasim meriwayatkan, bahwa Imam Malik pernah ditanya tentang berbagai hari raya di gereja, kemudian orang-orang Islam membawa pakaian, bermacam-macam barang dan dagangan lainnya ke gereja untuk berjualan dan mengais keuntungan (membuka bazar) di sana. Imam Malik berkata: “Itu tidak apa-apa.”

Tidakkah itu termasuk maksiat dan menolong kemaksiatan?

Al-Mawaq menegaskan, bahwa hal itu diperbolehkan, makruh pun tidak, karena berdasarkan prinsip bahwa manusia tidak bisa dianggap bermaksiat kecuali setelah beriman:

ولا يكره ذلك على القول بأنه ليس بعاص في ذلك إلا بعد الإيمان.

Berjualan di gereja untuk kepentingan hari raya  tidak dimakruhkan, berdasarkan pendapat yang menyatakan bahwa orang tidak bisa disebut sebagai pelaku maksiat dalam perayaan di gereja kecuali setelah keimanannya.”

Berdasarkan prinsip ini pula, dalam riwayat Abdul Malik bin Al Husain (w. 232 H) yang terkenal dengan sebutan Zunan, Ibn Wahb (w. 197 H) sebagai murid langsung Imam Malik memperbolehkan seorang muslim pergi mengantar ibunya yang Nasrani ke gereja. Al-Mawaq melanjutkan:

وعلى هذا أجاز في سماع زونان أن يسير بأمه إلى الكنيسة.

Berdasarkan pendapat bahwa orang tidak bisa dianggap bermaksiat kecuali setelah beriman ini, dalam riwayat Zunan, Ibn Wahb membolehkan orang pergi mengantarkan ibunya yang kebetulan beragama Nasrani ke gereja.”

Artinya, ibadah ibunya yang Nasrani itu tidak bisa dianggap sebagai maksiat karena belum beriman. Karena itu, anaknya tidak bisa dianggap menolong kemaksiatan ibunya.

Sekarang menjadi jelas, bahwa hukum seorang muslim berjualan makanan, minuman dan semisalnya untuk keperluan hari raya umat lain adalah diperbolehkan, dengan merujuk beberapa riwayat dalam fikih Maliki di atas.

Sumber:

1. Muhammad bin Yusuf Al ‘Abdari, at Taj al Iklil li Mukhtashar Khalil, (Bairut: Dar Al Fikr, 1398 H), V/418-419.

2. Ibn Rusyd al Qurtubi, al Bayan wa at Tahshil, (Bairut: Dar al Gharb al Islami, 1408 H/1988 M), XVI/441.

Oleh: Ahmad Muntaha AM, Sekretaris LBM PWNU Jawa Timur, Mutakhorrijin MHM Pondok Pesantren Lirboyo Tahun 2010

Mentalitas Berpikir

Pada umumnya seni berpikir sangatlah kental dengan nilai filosofis yang ada dalam jagat raya ini. Setidaknya kita bisa lebih bijak menggunakan kemampuan otak untuk berpikir lebih peka dan praktis dari lini setiap persoalan yang ada. Hal ini sebagai manifestasi rasa syukur atas anugerah yang diberikan Allah kepada manusia sebagai pembeda dengan mahluk yang lainya.

Pernahkah kita memikirkan bahwa kita tidak ada sebelum dilahirkan ke dunia ini dan kita telah diciptakan dari sebuah ketiadaan? Pernahkan kita berpikir bagaimana bunga yang setiap hari kita lihat di ruang tamu, yang tumbuh dari tanah yang hitam, ternyata memiliki bau yang harum serta berwarna-warni? Pernahkan kita memikirkan seekor nyamuk, yang sangat mengganggu ketika terbang mengitari, mengepakkan sayapnya dengan kecepatan yang sedemikian tinggi sehingga kita tidak mampu melihatnya? Pernahkan kita berpikir bahwa gempa bumi mungkin saja datang secara tiba-tiba ketika kita sedang tidur, yang menghancur luluhkan rumah, kantor dan kota hingga rata dengan tanah sehingga dalam tempo beberapa detik saja kita pun kehilangan segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini? Pernahkan kita berpikir bahwa kehidupan kita berlalu dengan sangat cepat, kita pun menjadi semakin tua dan lemah, dan lambat laun kehilangan ketampanan atau kecantikan, kesehatan dan kekuatan?

Manusia adalah makhluk yang dilengkapi Allah sarana berpikir. Namun sayang, kebanyakan dari kita tidak menggunakan sarana yang teramat penting ini sebagaimana mestinya. Bahkan pada kenyataannya sebagian manusia hampir tidak pernah berpikir. Sebenarnya, setiap orang memiliki tingkat kemampuan berpikir yang seringkali ia sendiri tidak menyadarinya. Ketika mulai menggunakan kemampuan berpikir tersebut, fakta-fakta yang sampai sekarang tidak mampu diketahuinya, lambat laun mulai terbuka di hadapannya. Semakin dalam ia berpikir, semakin bertambahlah kemampuan berpikirnya dan hal ini mungkin sekali berlaku bagi setiap orang. Harus disadari bahwa tiap orang mempunyai kebutuhan untuk berpikir serta menggunakan akalnya semaksimal mungkin.

Kemalasan mental

Kemalasan adalah sebuah faktor yang menghalangi kebanyakan manusia dari berpikir.Akibat kemalasan mental, manusia melakukan segala sesuatu sebagaimana yang pernah mereka saksikan dan terbiasa mereka lakukan. Seperti cara yang digunakan para ibu rumah tangga dalam membersihkan rumah adalah sebagaimana yang telah mereka lihat dari ibu-ibu mereka dahulu. Pada umumnya tidak ada yang berpikir, “Bagaimana membersihkan rumah dengan cara yang lebih praktis dan hasil yang lebih bersih” dengan kata lain, berusaha menemukan cara baru. Demikian juga, ketika ada yang perlu diperbaiki, manusia biasanya menggunakan cara yang telah diajarkan ketika mereka masih kanak-kanak.

Umumnya mereka enggan berusaha menemukan cara baru yang mungkin lebih praktis dan berdaya guna. Cara berbicara orang-orang ini juga sama. Cara bagaimana seorang akuntan berbicara, misalnya, sama seperti akuntan-akuntan yang lain yang pernah ia lihat selama hidupnya. Para dokter, banker, penjual dan orang-orang dari latar belakang apapun mempunyai cara bicara yang khas. Mereka tidak berusaha mencari yang paling tepat, paling baik dan paling menguntungkan dengan berpikir. Mereka sekedar meniru dari apa yang telah mereka lihat. Cara pemecahan masalah yang dipakai juga menunjukkan kemalasan dalam berpikir. Sebagai contoh dalam menangani masalah sampah, seorang manajer sebuah gedung menerapkan metode yang sama sebagaimana yang telah dipakai oleh manajer sebelumnya. Atau seorang walikota berusaha mencari jalan keluar tentang masalah jalan raya dengan meniru cara yang digunakan oleh walikota-walikota sebelumnya. Dalam banyak hal, ia tidak dapat mencari pemecahan yang baru dikarenakan tidak mau berpikir.

Sudah pasti, contoh-contoh di atas dapat berakibat fatal bagi kehidupan manusia jika tidak ditangani secara benar. Padahal masih banyak masalah yang lebih penting dari itu semua. Bahkan jika tidak dipikirkan, akan mendatangkan kerugian yang besar dan kekal bagi manusia. Penyebab kerugian tersebut adalah kegagalan seseorang dalam berpikir tentang tujuan keberadaannya di dunia.

Ketidakmampuan dalam mengendalikan pikiran ke arah yang baik akan mengakibatkan seseorang seringkali merasa khawatir atau mengalami peristiwa-peristiwa yang sebenarnya belum terjadi seolah-olah telah terjadi dalam benaknya, dan terseret dalam kesedihan, kekhawatiran dan ketakutan. Misalnya, orang tua yang mempunyai anak yang tengah belajar untuk menghadapi ujian kadangkala membuat sebuah skenario sebelum ujian tersebut berlangsung dalam benaknya: “Apa yang akan terjadi jika anaknya tidak lulus ujian? Jika anak laki-lakinya tidak memperoleh pekerjaan yang layak di masa depan, mendapatkan penghasilan yang cukup, maka ia tidak dapat menikah. Kalaulah ia menikah, bagaimana ia dapat membiayai pernikahannya? Jika ia tidak lulus ujian, semua uang yang dikeluarkan untuk persiapan ujian tersebut akan terbuang percuma. Tambahan lagi, ia akan terhina di mata orang-orang. Apalagi jika anak laki-laki teman dekatnya ternyata lulus sedang anaknya sendiri gagal. Khayalan-khayalan tersebut terus berkembang, padahal anaknya belum melaksanakan ujian. Seseorang yang jauh dari agama akan mudah terbawa oleh khayalan sia-sia yang serupa sepanjang hidupnya.[]

Penulis Luthfi Hakim santri asal Kendal Jawa Tengah, Mahad Aly Lirboyo