Category Archives: Santri Menulis

Rumah Ibadah Non-Muslim dalam Pandangan Fikih Klasik


Sebelum mengkaji hukum menjaga tempat ibadah umat lain, perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana pandangan fikih tentang tempat ibadah non-Muslim. Dalam menghukumi hal ini, para ulama mengklasifikasinya berdasarkan pertimbangan daerah atau tempat dimana rumah ibadah tersebut dibangun. Para ulama memetakan daerah tersebut menjadi tiga bagian. Pertama, daerah yang sejak awal dibangun umat Islam. Kedua, daerah yang ditaklukkan umat Islam melalui jalur diplomasi dan perdamaian. Ketiga, daerah yang ditaklukkan umat Islam dengan kekuatan militer dan peperangan. Berikut ini penjelasan ketiganya:

Daerah yang sejak awal dibangun umat Islam

Daerah ini biasa disebut dengan kotanya umat Islam (amshar al-Muslimin). Terjadi kesepakatan di antara empat Imam Mazhab mengenai pelarangan membangun atau mendirikan tempat ibadah bagi umat non-Muslim di daerah ini. Bahkan Imam Najmu ad-Din al-Hanafi mengklaim hal ini sebagai konsensus seluruh ulama (ijma’). Meski demikian, perlu dicatat bahwa hukum ini adalah “hukum mentah” yang belum tentu dapat dipraktekkan di segala kondisi. Sebab, antara menghukumi sesuatu dan menerapkannya, adalah dua hal yang sangat berbeda. Sehingga, belum tentu secara hukum fikih haram kemudian dalam penerapannya menjadi tidak boleh.

Dalam tataran aplikatif, hukum taklifi yang berjumlah lima hukum (wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah) sangat terikat erat dengan hukum wadh’iy (sabab, syarat, mani’, sah, dan fasad, menurut satu versi—termasuk diantaranya rukhsah dan ‘azimah) yang menentukan keberlangsungan serta eksistensinya. Dalam konteks ini, apabila melarang umat non-Muslim mendirikan rumah ibadahnya mengakibatkan dloror yang lebih besar dibanding membiarkannya, maka membiarkan dan membebaskan mereka untuk membangun tempat ibadahnya adalah sikap yang harus dipilih. Melalui dasar kaidah:

ارتكاب أخف الضررين

“Menanggung resiko bahaya yang lebih ringan”
Hal ini juga sesuai dengan apa yang telah dijelaskan dalam Syarh Shaghir kitab fikih muktabar Madzhab Maliki. Dalam konteks ke-Indonesiaan dengan segala kemajemukan, serta tingkat intoleransinya yang akhir-akhir ini cukup menanjak—melarang mereka untuk membangun rumah ibadah bukan hanya berakibat fatal yang dapat mengakibatkan terjadinya disintegrasi bangsa. Namun juga berdampak perlakuan diskriminatif yang akan menimpa umat Islam di daerah minoritas. Di samping itu, klaim ijma’ di atas sebenarnya masih perlu dikoreksi ulang. Sebab menurut Madzhab Zaidiyyah diperbolehkan bagi pemerintah untuk memberi izin umat non-Muslim membangun rumah ibadah mereka di daerah tersebut, selama menurut pandangan pemerintah—hal ini membawa kemashlahatan yang menjadi orientasi segala kebijakannya.

Bahkan, sebagaimana disampaikan Dr. Abdul Karim Zaidan, pendapat Madzhab Zaidiyyah inilah yang lebih kuat dibanding pendapat Madzhab lain. Sebab, jika kita telah menerima untuk hidup berdampingan serta mengakui eksistensi masyarakat non-Muslim sebagai warga negara dan membiarkan mereka dengan keyakinannya, maka tentu konsekuensinya adalah kita juga harus membiarkan mereka menjalankan kegiatan keagamaanya dengan membangun rumah ibadah.

Sementara berdasarkan pemahaman Sa’id Ramadan al-Buthi, bahwa boleh tidaknya membangun rumah ibadah non-Muslim di daerah ini lebih didasarkan pertimbangan kebutuhan mereka terhadap tempat ibadah atau tidak. Sehingga para ulama melarang hal ini. Sebab secara umum di daerahnya umat Islam, masyarakat non-Muslim tidak membutuhkan adanya tempat ibadah untuk menjalankan kegiatan keagamaan mereka.

Konteks Ke-Indonesiaan

Dalam konteks Indonesia, apa yang disampaikan Dr. Sa’id Ramadan al-Buthi ini sangat sesuai dengan peraturan yang berlaku di negara kita. Dalam keputusan bersama Kementerian Agama dan Kementreian Dalam Negeri, prosedur pembangunan rumah ibadah di samping harus mendapat dukungan masyarakat setempat paling sedikit enam puluh (60) warga, juga harus memiliki pengguna rumah ibadah minimal sembilan puluh (90) orang. Dalam peraturan ini, angka 90 orang merupakan presentasi dari kebutuhan penggunaan rumah ibadah setelah melalui pertimbangan panjang.
Daerah yang ditaklukkan umat Islam melalui jalur perjanjian, diplomasi, atau perdamaian

Apabila ada daerah yang disepakati dalam perjanjian, daerah ini tetap menjadi milik masyarakat non-Muslim. Mereka dibebaskan untuk membangun tempat ibadahnya, dengan bersedia membayar pajak tanah (kharaj) kepada pemerintah.Sementara jika dalam kesepakatan perjanjian daerah ini menjadi milik umat Islam dan masyarakat non-Muslim bersedia membayar jizyah kepada pemerintah, maka mereka boleh membangun tempat ibadahnya apabila mensyaratkan diperbolehkan.

Sementara menurut Madzhab Maliki mereka boleh mendirikan tempat ibadahnya secara mutlak. Baik ada persyaratan atau tidak selama di daerah tersebut tidak dihuni umat Islam. Namun menurut Imam Ibnu Qasim salah seorang ulama Madzhab Maliki, di daerah ini mereka dibebaskan untuk mendirikan tempat ibadahnya. Baik ada persyaratan atau tidak, baik di daerah ini terdapat umat Islam yang menghuninya atau tidak.

Sementara rumah ibadah yang sudah ada sejak sebelum daerah ini ditaklukkan, maka harus tetap dipertahankan, dilindungi, dan tidak boleh dirusak selama ada pensyaratan dari mereka yang menginginkan hal ini.

Daerah yang ditaklukkan dengan kekuatan militer dan peperangan

Para ulama sepakat bahwa di daerah ini, non-Muslim tidak diperbolehkan membangun rumah ibadahnya. Sebab dengan ditaklukkannya daerah ini dengan peperangan, maka secara otomatis daerah ini menjadi harta ghanimah yang menjadi milik umat Islam. Hanya saja, Imam Ibnu Qasim al-Maliki memperbolehkannya selama mendapat perizinan dari pemerintah. Dalam hal ini, pendapat Ibnu Qasim menjadi pendapat mu’tamad dalam Madzhab Maliki. Sedangkan rumah ibadah yang sudah berdiri sebelum penaklukkan, maka harus tetap dilindungi dan tidak diperbolehkan untuk dirusak. Sebab dalam masa pembebasan awal Islam (futuhaat al-ulā) tidak ada satu pun dari para sahabat yang menginstruksikkan untuk merusak bahkan merobohkan tempat-tempat ibadah umat non-Muslim. Bahkan menurut Imam Ibnu Qudamah, hal ini telah menjadi ijma’. Sebab faktanya, banyak rumah ibadah non-Muslim yang tidak diganggu meski sudah ditaklukkan oleh umat Islam dengan kekuatan militer dan hal ini tidak ada yang mengingkarinya. Sebagaimana isi surat instruksi Khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada seluruh pegawai pemerintahannya:

أَنْ لَا يَهْدِمُوا بِيعَةً وَلَا كَنِيسَةً وَلَا بَيْت نَار

“Jangan dirobohkan sinagog, gereja, dan juga rumah penyembahan api”
Dalam konteks Indonesia, dengan keluasan wilayahnya, beberapa pemetaan di atas tentu tidak bisa digeneralisir untuk kemudian diterapkan pada seluruh daerah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masing-masing daerah tentunya memiliki status yang berbeda-beda, tergantung cara penaklukan, kesepakatan perjanjian, dan pembangunan daerahnya. Namun demikian, setidaknya semua pemetaan daerah di atas masih dalam masing-masing daerah yang memiliki landasan otoritatif (qoul ulama) yang memperbolehkan bagi masyarakat non-Muslim untuk mendirikan rumah ibadahnya. Undang-Undang 1945 Indonesia juga menjamin kebebasan menjalankan kegiatan keagamaan bagi setiap rakyatnya. Dalam aturan yang lebih terperinci, pemerintah melalui Kemendagri dan Kemenag juga telah mengeluarkan keputusan bersama (SKB) tentang tugas kepala daerah atau wakil kepala daerah dalam pemeliharaan kerukunan antar umat beragama, pemberdayaan forum kerukunan umat beragama, dan pendirian rumah ibadah.[]

Oleh: Agus Hamim HR

Baca juga:
STATUS AMAL KEBAJIKAN NONMUSLIM

Youtube Pondok:
Dawuh Masyayikh

Menangkal Disrupsi Informasi Melalui Kitab Kuning di Era Digital

“Diam adalah jawaban terbaik untuk semua pertanyaan. Tersenyum adalah reaksi terindah dalam semua situasi”.
Begitulah seharusnya kita. Namun tidak untuk manusia spesialis millenial. Hadirnya internet dan maraknya pengguna gawai menjadi alarm—menandakan bahwa kita, telah memasuki era disrupsi. Era di mana kekacauan mulai merambah luas. Media informasi baik di internet maupun media cetak, sampai saat ini terus berkembang mengikuti arus perubahan zaman. Tak dapat dipungkiri, jika informasi sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat awam maupun kaum berpendidikan.

Dari arah sini, terdapat benang merah yang dapat ditarik yaitu—sangat dibutuhkannya berita informasi yang benar—baik secara lisan, media cetak, atau internet. Karena faktanya internet atau media sosial menjadi pilar utama dalam perkembangan berita palsu. Santri sebagai penerus perjuangan para ulama yang selalu menebarkan citra baik, sepatutnya dapat selalu mengaktualisasikan bagaimana perkembangan informasi yang terjadi dalam masyarakat. Bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok semata, namun sebagai upaya menanggulangi dan meminimalisir dampak negatif arus perubahan yang mengkibatkan disrupsi ini. Demi menyemerbakkan rasa damai dalam setiap jiwa insan.

Dalam tinjauan hasil riset Kapolda Sulawesi Tenggara menjelaskan, bahwa saat ini jumlah pengguna internet atau media sosial terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Bahkan, Kementrian Komunikasi dan Informasi mencatat, jumlah pengguna di Indonesia telah mencapai 132.7 juta orang. Data tersebut juga menyebutkan, “ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu.” Kominfo menuturkan, bahwa internet sudah salah dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai antar masyarakat.

Mengabsahkan Kitab Kuning

Saat ini, generasi santri millenial mengalami tantangan yang sangat berat. Dengan keadaan pola pengajaran yang tetap menggunakan Kitab Kuning (turats karangan ulama terdahulu), mereka harus bisa mengimbangi arus perubahan sosial yang meliuk-liuk dengan begitu deras. Karena jika tidak, mereka hanya akan menjadi generasi penonton, bahkan korban dari kemajuan teknologi yang terus berkembang dari revolusi industri 4.0 hingga menuju revolusi society 5.0.

Sebagai warisan khazanah Islam, keberadaan Kitab Kuning yang sampai saat ini masih dijadikan sebagai kurikulum wajib dari semenjak puluhan abad lalu, tak pernah mencecap rasa kadaluwarsa dari negara yang mayoritas Islam ini untuk terus dinikmati. Di dalamnya, mencangkup kajian ilmiah dari para intelektual Muslim tentang ilmu tauhid, tasawuf, fikih, tata bahasa arab (nahwu), hadist, ahlak, serta keilmuan lainnya. Sebagai aktualisasi dalam ilmu pengetahuan melalui penciptaan yang sanadnya sampai kepada Rasulullah Saw., Kitab Kuning menjadi salah satu alat untuk menangkal adanya disrupsi informasi atau sering disebut hoaks.

Namun sangat miris sekali, jika ada anggapan perihal Kitab Kuning terbelakang dan tidak relevan.

Mempelajari Kitab Kuning merupakan salah satu upaya paling mudah untuk menyelaraskan pemahaman yang tepat dalam mengamalkan syariat Islam. Hal ini dapat ditasawurkan melalui kajian yang sering dilakukan oleh kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam memecahkan sebuah problematika umat. Diantaranya melalui musyawarah bahtsul masa’il. Kenapa dalam hal ini referensi yang diambil menggunakan Kitab Kuning? Sudah maklum, Kitab Kuning merupakan hasil dari goresan tangan terpercaya dari Intelektualis Muslim yang memiliki kredibilitas dalam bidangnya. Dengan begitu, tidak diragukan lagi kekhawatiran pemahaman yang salah untuk dijadikan sebagai tendensi kajian ilmiah. Tidak hanya itu, bahkan kefalidan data yang terkandung dalam Kitab Kuning sangat dibutuhkan oleh peneliti, mahasiswa dan sekolah Islam sebagai suatu yang sangat diperhitungkan dalam pedoman keaslian sumber. Karena dengan kerumitan metode penulisan menggunakan bahasa Arab, bisa diasumsikan hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat menuliskannya.

Melalui hal di ataslah, Kitab Kuning yang dijadikan pedoman di setiap pondok pesantren menemukan relevansitasnya—juga menjadi fakta baru bahwa dengan mempelajarinya, berarti telah memberikan sumbangsih maha penting dan berharga bagi masyarakat sebab dapat menangkal adanya disrupsi informasi.

Pekerjaan sekarang bagi santri millenial yaitu mengupayakan bagaimana menciptakan ide kreatif dan inovatif dalam menyampaikan keagamaan di tengah fenomena sosial yang terus berubah. Era disrupsi menjadi tantangan sekaligus peluang baru bagi kaum sarungan untuk menyampaikan narasi keagamaan yang sesuai dengan ajaran Islam dan merujuk pada sumber yang tepat. Dan yang menjadi perhatian penting saat ini adalah bagaimana Kitab Kuning menjadi sumber referensi keilmuan yang dapat mengisi ruang media internet sekaligus media sosial lainnya. Yaitu perlunya digitalisasi Kitab Kuning yang disebar-luaskan di berbagai platfrom media, sebagai ikhtiar menyemarakkan aktivitas mengonsumsi Kitab Kuning—dengan hal ini dapat meminimalisir opini keagamaan tidak sejalur yang telah menyebar luas karena digitalisasi.[]

Penulis: Laeli Zakiyah

Baca juga:
PENGGUBAH SHOLAWAT BADAR ITU SANTRI LIRBOYO

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Kitab Kuning Karya Sepanjang Masa

Peradaban manusia akan terus bergerak, sejalan dengan berdetaknya jarum jam. Setiap yang bergerak, memiliki sumber energi berupa bahan bakar sebagai penggerak mesin atau sistem organnya. Pesawat terbang dapat mengangkat badan, bermanufer, dan menembus awan dengan Aviation Turbine alias avtur sebagai bahan bakarnya. Mobil mampu bergerak jika mesin telah meneguk cairan pertalite dari selang pengisian. Dan kapal laut bisa berekspedisi ketika Marine Fuel Oil (MFO) telah memasuki arteri mesin dari tangkinya.

Benda hidup juga perlu bahan bakar. Tumbuhan membutuhkan unsur hara tanah, karbon dioksida, air, dan sinar matahari sebagai bahan energi. Manusia dan binatang membutuhkan nutrisi dari makanan yang mereka makan. Dengan begitu, tumbuhan akan bergerak dengan caranya, sedang manusia dan binatang dapat beraktivitas sesuai keinginannya. Aktivitas manusia inilah yang paling dominan mengubah gerak suatu peradaban. Maju tidaknya peradaban suatu kaum, memiliki hubungan erat dalam komunitas kaum tersebut. Sementara bahan bakarnya, muncul dari ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan bisa didapat dari mana saja. Tak ketinggalan, pondok pesantren. Sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia, pesantren—hingga kini terus merawat semangatnya dalam membangun peradaban. Layaknya sebuah kendaraan, pondok pesantren akan terus bergerak dengan adanya mesin pelumas keorganisasian yang tertata, disertai bahan bakar berupa kurikulum yang bermutu. Melalui kurikulum yang bermutu inilah, sepak terjang pesantren dalam menghadapi tantangan medan zaman, dapat dilaluinya dengan teguh.

Berbicara kurikulum, pondok pesantren tak akan lepas dari Kitab Kuning. Perwujudan Kitab Kuning dalam dunia pesantren, menjadi konsentrasi utama dalam sistem program studinya. Sesuai dengan tujuan didirikannya pesantren oleh Wali Songo, yaitu—memberikan ruang kepada umat untuk memperdalam ajaran agama Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunah. Sehingga memahami tafsiran al-Qur’an dan as-Sunnah begitu sangat penting. Tetapi sebelum itu, terlebih dahulu santri diharuskan untuk menguasai ilmu alat, balaghoh, dan gramatika bahasa Arab. Sebab batang tubuh al-Qur’an memuat semua itu. Dengan hal ini, al-Qur’an tidak serta merta ditafsiri sekehendak hati menggunakan hawa nafsu.

Keberadaan Kitab Kuning memiliki kaitan yang sangat kuat dengan kepulan asap dapur pesantren khalaf atau modern. Konsentrasi Kitab Kuning juga mencakup kecakapan dalam ilmu syariat—menuntut para pembacanya untuk berlayar dalam samudra ilmu fikih. Tak lupa, ilmu ahlak dan tasawufnya.

Tirakat

Dalam menuliskan Kitab Kuning, ulama tidak hanya bermodal kecermerlangan intelektualitas saja. Tetapi disertai akhlak bathiniyyah yang selalu dijaga—hal inilah yang membedakan kebanyakan pengarang dan penulis pada zaman sekarang. Tirakat yang dilakukan oleh Mushonif sebelum menuliskan hasil renungan pemikiran intelektualitas, diantaranya dengan selalu daimul wudhu, berpuasa, dan mendawamkan qiyamul lail. Tamsil saja seperti tokoh Imam Al-Bukhori yang sebelum menuliskan hadist, beliau terlebih dahulu untuk mentajdidkan (memperbaharui) wudhu dan melakukan sholat sunnah dua rakaat—sehingga bagi orang yang mempelajarinya, dapat memunculkan keberkahan tersendiri. Kitab Kuning bagai memiliki tuah sakti atas izin Allah Swt. Keberkahan Kitab Kuning menjadi primadona. Bahkan kesuksesan bagi orang yang mempelajarinya, tidak ditentukan dari kepandaian akademis yang dimiliki—tetapi dilihat dari faktor Bifadh Lillahi Ta’ala sesuai dengan kadar kesungguhan, keistiqomahan, serta akhlak saat masa ta’lim wa ta’alum.

Hasil tirakat dari para Mushanif sangat berpengaruh pada relevansitas Kitab Kuning sampai saat ini. Sehingga memunculkan penilaian bahwa Kitab Kuning tidak akan ada tenggang waktu kadaluwarsa. Dengan adanya Kitab Kuning, santri belajar. Dunia pesantren tetap hidup dan terus hidup meramaikan peradaban—sekalipun di era 4.0 seperti sekarang ini. Walaupun Kitab Kuning disusun jauh berabad silam, tetapi melalui bahstul masa’il yang digelorakan oleh para santri, permasalahan kekinian bisa dipecahkan. Dulu santri dianggap khariqul adat bagi masyarakat non-pesantren. Sedang sekarang, mereka tampil dipermukaan untuk memberi solusi permasalah umat. Bahkan karena menterengnya, mereka banyak yang menjadi sosialita.[]

Penulis: Nayla I. Hisbiyah (Penulis adalah santri Pon-Pes Unit Tanfidzil Qur’an Lirboyo, asal Mojokerto)

Baca juga:
IJTIHAD KONTEMPORER SEBAGAI UPAYA REVITALISASI KITAB KUNING DI ERA MILLENIAL

Subscribe juga:
Pondok Pesantren Lirboyo

Santri Mengaji
LIM Production

# Kitab Kuning Karya Sepanjang Masa
# Kitab Kuning Karya Sepanjang Masa

Islam Adalah Kepatuhan

Fikih secara khusus, dan syariat Islam secara umum—adalah derivasi praktikal dari al-Qur’an dan hadits. Kita sebagai pemeluk agama Islam tidak serta merta mampu melepaskan kesinambungan itu secara mutlak. Sebab bagaimanapun juga, fikih membutuhkan al-Qur’an dan hadits sebagai harga mati untuk acuan pertama.
Kitapun dalam bersyariat butuh akan bimbingan Nabi Muhammad Saw. dan beliau sebagai pembawa syariat, mutlak membutuhkan wahyu dari Allah Swt. Sang Pemilik Alam Semesta. Artinya, agama bukan produk sembarangan. Tidak bisa asal gagasan dan opini menciptakan adanya kebenaran mutlak di mata umat manusia, pada hakikatnya.

Tapi kemudian, perlu digaris bawahi jika ulamalah yang merumuskan adanya hukum baru. Mereka memakai gagasan ijtihad menggunakan akal—mengurai benang kusut, dan menghasilkan suatu kodifikasi yang juga dipraktikan dalam kehidupan bermasyarakat. Semacam solusi bagi permasalahan aktual yang tidak tertulis secara langsung dalam al-Qur’an dan hadits. Sebuah tuntunan hidup, muaranya tak pernah lepas dari al-Qur’an dan hadits.

Ijtihad

Nabi Muhammad Saw. dahulu memuji sikap Sahabat Mu’adz bin Jabal Ra. ketika hendak didelegasikan berdakwah ke negeri Yaman. Sahabat Mu’adz Ra. yang diberi amanat dan mandat menyebarkan Islam ini ditanyai oleh Nabi, “Bagaimana kamu nanti memberikan keputusan?” Sahabat Mu’adz menjawab, “Dengan apa yang tertera dalam Kitabullah.” Nabi kembali bertanya, “Jika tidak terdapat dalam Kitabullah?” Sahabat Mu’adz melanjutkan, “Dengan apa yang ada dalam sunnah Rasulullah.” Nabi pun kembali bertanya, “Jika tidak terdapat di dalam Sunnah?” Sahabat Mu’adz memberikan jawaban yang menggembirakan Nabi, “Aku berijtihad dengan pendapatku.”
Beliau memuji Sahabat Mu’adz yang lebih dahulu merujuk kepada al-Qur’an dan hadits sebelum memutuskan masalah lewat pendapatnya sendiri. Pendapat yang tentunya tak lepas dari garis pemikiran al-Quran dan hadits. “Alhamdulillah, yang telah memberikan taufiq kepada utusannya Rasulullah.” Sabda Nabi.

Islam sejatinya adalah kepatuhan secara mutlak. Ada semacam kaidah umum yang dipelopori oleh ulama, bahwa al-dîn mabniyy ‘alâ al-ittibâ’. Agama berpondasi di atas kepatuhan terhadap firman-Nya. Mushannif kitab Al-Asyâ’irâh fî Mîzâni Ahl as-Sunnah mengemukakan pendapat ulama Ahlussunnah tentang poin penting dalam Islam bahwa; ”Adapun ahli sunnah, mereka mengatakan bahwa pondasi dalam agama adalah mengikuti tuntunan Nabi, sedangkan akal hanya mengikuti pondasi ini. Andaikan saja pokok agama adalah akal, maka makhluk tak akan lagi membutuhkan wahyu dan para Nabi, hakikat perintah dan larangan akan sirna, dan siapapun orang akan mengatakan apa yang mereka mau. Dan andaikan saja agama berpondasi pada akal, sudah barang tentu tidak diperbolehkan bagi kaum Mukminin untuk menerima sesuatu sebelum mereka memikirkannya.”

Kita bisa meraih konklusi dari beberapa kejadian-kejadian yang terjadi di masa Nabi Muhammad Saw. Sebuah contoh kecil adalah tentang sholat dhuha, yang lebih baik jika dikerjakan hanya empat rakaat saja, dari pada bila kita kerjakan dua belas rakaat. Bilangan yang lebih banyak justru keutamaannya tidak lebih besar daripada bilangan yang lebih kecil. Padahal logikanya, kalau kita melaksanakan salat dengan kuantitas lebih banyak, akan mendapatkan lebih banyak pula fadhilah.

Kuncinya, adalah dulu Nabi selalu melaksanakan sholat dhuha ini sebanyak empat rakaat saja. Memang beliau pernah mengerjakan hingga delapan atau dua belas rakaat, tapi yang sering beliau lakukan adalah empat. Kita juga bisa melihat pendapat ulama yang mengatakan bahwa melempar jumrah sambil mengendarai unta lebih baik dari pada dengan berjalan kaki. Padahal logikanya jika kita berjalan kaki, kita akan lebih merasa kepayahan. Artinya ada esensi lebih dalam taraf ibadah kita. Namun dulu menurut riwayat, Nabi melempar jumrah dengan menunggang unta. Maka hal ini lebih utama dengan alasan ittiba’ menurut segelintir ulama.

Kita bisa menangkap esensi dari perkataan Sayyidina ‘Ali Krw.

وعن علي رضي الله عنه ، أنه قال : لو كان الدين بالرأي لكان أسفل الخف أولى بالمسح من أعلاه ، وقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح على ظاهر خفيه . رواه أبو داود ، وللدارمي معناه .

Dari Sahabat ‘Ali Ra., beliau berkata,“Andaikan saja agama hanya bermodalkan akal, niscaya bagian bawah muzah lebih patut untuk dibasuh dari pada bagian atasnya. Sedangkan aku melihat Rasulullah Saw. membasuh bagian atas kedua muzah beliau.” (HR. Abu Dawud)
Imam Abu Hanifah sendiri mengatakan, “Andaikan saja aku berpendapat (berijtihad) hanya dengan akal, pastinya aku akan mewajibkan mandi sebab kencing (bukan sebab keluarnya mani seperti dalam hadis Nabi), karena air kencing jelas najisnya. Mewajibkan wudhu sebab keluarnya mani sebab air mani hukum najisnya masih diperselisihkan. Dan aku akan memberikan harta warisan hanya separuh bagian dari perempuan untuk kaum laki-laki, sebab kaum perempuan lebih lemah .”

Tapi agama bukanlah masalah akal atau naluri. Agama adalah masalah kepatuhan. Demikianlah syariat, ia menguji kita akan seberapa besar nilai kepatuhan yang kita persembahkan kepada-Nya. Dan Allah lah yang berhak menilai kita atas seberapa besar himmah dan rasa peduli kita akan firman-Nya. Pada awal-awal Islam mulai tumbuh di negeri Makkah, Allah “menguji’ keimanan kaum Quraisy akan berita adanya hari akhir, dan kehidupan setelah mati. Sesuatu yang ditentang habis-habisan oleh kaum Musyrik. Namun kaum yang beriman tetap percaya.

Fikih barulah contoh kecil dari agama dan syariat. Masih banyak lingkup lain yang menggaris bawahi kaidah syari’at mabniyy ‘ala ittiba’. Seperti dunia tasawwuf sebagai contoh lain.
Pelajaran dan pesan penting yang ingin penulis sampaikan adalah dalam masalah agama, kita jangan mudah gegabah dan buru-buru mengambil keputusan dan kesimpulan. Harus lebih dulu memperhatikan betapa luasnya samudara agama Islam. Jangan-jangan yang kita ketahui baru segenggam atau bahkan hanya setetes dari lautan tersebut, lalu kita sudah berani berfatwa dan dengan mudahnya berani menyalahkan orang lain. Seolah kebenaran mutlak hanya ada pada hal yang kita tahu saja.

Dahulu para ulama dan sahabat berebut untuk menolak berfatwa. Mereka takut akan jawaban yang dikemukakan. Kelak jika dimintai pertanggung jawaban apa yang akan mereka katakan dihadapan Dzat Yang Maha Besar? Tapi hari ini, banyak dari kita yang dengan mantap dan percaya diri berebut untuk berfatwa dan menjadi pemimpin, meskipun sejatinya belum begitu bisa dikatakan layak secara kualitas.
Semoga saja kita termasuk yang mengikuti generasi salaf as-soleh yang do’anya tercantum dalam al-Qur’an,

آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ – آل عمران:53

“Kami beriman atas apa yang Engkau turunkan, dan kami mengikuti Rasul. Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas keesaan Allah).” (QS. Ali Imran: 53).[]

Penulis: Muhammad Khoirul Wafa

Baca juga:
ATMOSFER ISLAM DI BUMI NUSANTARA

Follow juga ig:
@pondoklirboyo

Islam Produktif dalam Persaingan Budaya yang Fluktuatif

Umat Muslim dalam keresahan, terutama para kaum cendekia, baik yang biasa dipanggil ulama atau yang bukan. Bagaimana tidak, peradaban Islam yang pernah agung itu, saat ini mengalami kemerosotannya yang paling tajam. Keresahan ini bisa dipahami karena sudah tercetak dalam keyakinan orang Muslim bahwa agama mereka adalah agama yang menyeluruh, universal dalam setiap waktu dan tempat (shālih li kulli zamān wa makān). Adagium ini bukanlah isapan jempol belaka. Dilihat dari penganutnya, agama Islam tidak tersekat batas-batas genealogis dan geografis. Segala macam ras dan berbagai macam suku bangsa bisa menganut agama Islam.

Realitas ini semakin membuat adagium itu mendapatkan tempatnya, meskipun ia bukan nash. Apalagi, akan sangat aneh jika kita melihat orang Aborigin menganut agama Yahudi atau pun orang Negro dari Zimbabwe menganut agama Tokugawa di Jepang. Jadi realitas-realitas sosial semacam itu membuat prinsip universalitas Islam semakin menemukan relevansinya. Bahkan Allah Swt. menyebut hal itu sebagai tanda-tanda-Nya.

Maka ketika eksistensi peradaban agama Islam terancam oleh invasi-invasi yang bersifat inovatif dan modern, reaksi pertama umat Islam adalah resistensi serta penolakan mentah-mentah. Paradoks ini sangat membingungkan; di sisi lain ada doktrin-doktrin yang meyakini bahwa agama ini universal dan selalu unggul (ya’lū wa lā yu’lā alaih), namun reaksi yang ditunjukkan terhadap inovasi modernisme adalah penolakan. Oleh karena itu, reaktualisasi dan reinterpretasi (meskipun hal ini telah didengungkan beribu-ribu kali) menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Keluhuran agama Islam tidak bisa dicapai dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai tradisional sambil meninggalkan keagungan kebudayaan modern. Agama Islam haruslah dinamis. Hal ini bukanlah hal yang asing bagi Islam. Sahabat Ali Ra. pernah berkata dalam satu kesempatan:

علّموا أولادكم في زمانهم فإنهم يعيشون في غير زمانكم

“Ajarilah anak kalian sesuai dengan zamannya. Karena mereka tidak hidup di zaman kalian.”

Keharusan Pembaruan

Pembaruan (tajdīdiyyah, renewal) bukanlah sesuatu yang aneh dalam Islam. Syaikh Abdullah bin Bayyah menyebut hal itu sebagai sebuah keniscayaan Ilahi. Hal ini menurut beliau, bersandar pada hadis Nabi Saw:

إنّ الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها أمر دينها

“Sesungguhnya Allah Swt mengutus bagi umat ini di setiap awal seratus tahun seseorang yang membarui urusan-urusan agamanya.”

Oleh karena itu, menutup diri dari pembaruan merupakan perlawanan terhadap kenyataan Ilahi. Pembaruan-pembaruan yang disasar di sini haruslah sesuatu yang bersifat match dengan perkembangan zaman. Karena, seperti sering dikatakan, al-ālim ibnul waqti. Orang pandai adalah dia yang memahami masanya; Putera Zaman. Begitu juga, setiap usaha pembaruan yang melawan dan bertentangan dengan zaman bukanlah merupakan pembaruan secara nyata. Melainkan retorika yang diulang-ulang. Keharusan pembaruan ini harus dilakukan agar dua doktrin yang telah disebutkan di atas (universalitas dan keluhuran Islam) tidak kehilangan relevansinya. Apabila ini yang terjadi, hal ini tentulah tidak akan bisa diterima oleh kalangan Islamis.

Seiring dengan berkembangnya budaya dan ilmu pengetahuan, old lifestyle dengan segala cara-cara dan langkahnya yang kuno tidak lagi relevan dengan kehidupan era modern ini. Peradaban modern selalu menuntut suatu hal yang kreatif-inovatif. Begitu pula karakter masyarakatnya yang cepat bosan dengan hal-hal monoton. Berangkat dari kenyataan seperti itu, maka upaya-upaya dalam menjadikan Islam sebagai yang terdepan haruslah menggunakan cara yang modern pula. Cara yang diminati masyarakat pada masa sekarang ini, bukanlah menundukkan agama pada realita. Namun langkah-langkah seperti ini sejatinya adalah upaya agar Islam tetap menapak bumi dan relevan (shalih likulli zaman), tidak menjadi hal yang mengambang dan absurd. Sehingga segala sesuatu yang bersifat destruktif terhadap kondisi sosial juga harus ditolak. Ada beberapa pola dasar yang bisa menjadi contoh konkret bagi hal-hal yang destruktif ini.

Contoh Klasik

Contoh klasik, tanggal 25 Desember dan 14 Februari selalu menjadi hari yang kontroversial di negeri kita yang mayoritas Muslim ini. Hampir setiap tahun, dua hari besar yang dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam itu selalu melahirkan fatwa haram, atau bahkan kafir bagi umat Islam yang ikut memeriahkan atau bahkan sekedar memberi ucapan selamat. Alih-alih menunjukkan independensi dan keteguhan agama Islam, fatwa ini malah menggambarkan kekalahan umat Islam dalam percaturan peradaban. Fatwa ini semakin memperlihatkan kegagalan “ulama” dalam mengawal umat. Beberapa orang Muslim seakan-akan menganggap hal itu sebagai ancaman yang membahayakan sehingga umat harus dibentengi dari hal itu dengan fatwa haram. Ada subyektifitas yang terselubung dari fatwa itu. Memang, kita harus melindungi diri kita sendiri dari invasi budaya di luar apa yang kita miliki. Tetapi tidak dengan cara destruktif dan kontra produktif. Tidak dengan cara menyerang mereka dengan selusin berondongan fatwa-fatwa agama.

Contoh lain yang bisa kita ambil adalah fatwa pelarangan pemimpin non-Muslim. Pelarangan ini menunjukkan bahwa kondisi agama Islam seakan kalah dalam pertarungan politik dan merasa terancam. Karena, seperti telah dijelaskan di muka—agama Islam adalah agama yang selalu luhur. Maka segala hal yang membuat agama Islam merosot dan tidak luhur harus dibentengi dan dilindungi. Kesalahan penerapan prinsip ini (ya’lu wala yu’la ‘alaih) adalah penyakit yang sedang melanda umat Islam saat ini.

Anggapan ancaman terhadap setiap sesuatu yang dianggap tidak Islami dan pelarang terhadap hal itu adalah sumber gejala kemunduran umat Islam yang semakin membuat Islam tampak terperosok ke bawah. Bukan malah semakin membuat Islam tampak sebagai agama yang luhur dan teguh memegang prinsip tapi semakin membuat Islam tampak sebagai pesakitan.

Analogi

Sebuah perumpamaan klasik sering dikatakan untuk menggambarkan hal ini: andaikan kita seorang pemilik restoran, kebetulan ada restoran milik orang lain yang tak jauh letaknya dari restoran kita, dan ternyata restoran milik orang lain lebih diminati konsumen, maka cara agar restoran kita bisa unggul bukanlah dengan menyebar fitnah bahwa restoran “tetangga” menjual makanan yang telah dicampuri bahan pengawet atau zat kimia berbahaya, ini persaingan amatir dan tidak sehat. Cara yang tepat dalam kasus di atas adalah memperbaiki dan meningkatkan kualitas restoran kita misalkan dengan tampilan fisik restoran yang baru, menambahkan menu baru, atau menyajikan menu lama dengan cara yang baru. Cara yang sehat inilah yang bisa menjadi obat bagi umat Islam dalam menghadapi era modern agar agamanya tidak kehilangan relevansi serta selalu unggul, sesuai dengan doktrinnya.

Dengan kasus fatwa-fatwa tadi, persaingan secara sehat harus dilakukan dengan meningkatkan kualitas penganut agama Islam. Peningkatan kualitas ini, dalam konteks fatwa di atas, bukan dengan menggalakkan fatwa bahwa Natal atau Valentine itu haram dirayakan, melainkan dengan membuat fatwa yang bisa meningkatkan kualitas umat. Sebagai contoh, fatwa untuk merayakan 10 Muharram atau Maulid Nabi harus dibuat dan dipromosikan dengan gencar tanpa perlu memfatwakan melarang merayakan Natal.

Begitu juga dengan permasalahan pemimpin, yang harus dilakukan bukanlah melarang untuk memilih non-Muslim. Melainkan umat Islam harus meningkatkan kualitas menciptakan kader-kader berkompeten yang mampu bersaing. Persaingan-persaingan secara sehat inilah yang harus digalakkan umat Islam agar ia bisa luhur dan universal.

Jika umat Islam sudah senang dan bangga dengan syiar dan kebudayaan Islam sendiri, tanpa fatwa pun mereka dengan sendirinya akan meninggalkan kebudayaan dan segala hal yang kontras dengan Islam.[]

Penulis: Arif Rahman Hakim Syadzili

Baca juga:
FANATIK KEBANGSAAN, BASIS MILITANSI SANTRI MEMBELA NEGERI

Follow juga:
@pondoklirboyo

# Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif # Islam Produktif