HomeAngkringJimat Anti Galau: Alon-Alon Waton Kelakon

Jimat Anti Galau: Alon-Alon Waton Kelakon

0 1 likes 97 views share

Mungkin diantara kita sebagai para pencari ilmu/pelajar pernah merasakan suatu titik kejenuhan atau lebih tepatnya kejengkelan dengan kemampuan daya pikir atau daya hafalan kita, karena seringkali begitu sulit untuk menghafalkan, memahami  atau kalau sudah hafal dan paham paling-paling beberapa hari berikutnya sudah lupa lagi, yang lebih parah dari ini dinamakan dengan ilmu ‘barlen’ alias bubar klalen (selesai langsung lupa). Sehingga perasan-perasaan semacam ini pada akhirnya membuat malas untuk belajar atau minder melihat teman-teman yang begitu jago dan lebih maju dari kita bahkan mungkin dampak terburuknya akan membuat kita patah semangat.

masih wajar kalau semangat itu nantinya nyambung lagi, tapi kalau sudah putus dan tidak mau konek lagi, ini kan sudah gawat. Ibarat handphone yang kosong sinyal maka kegunaanya ya hanya muter-muter fitur dan file simpanannya saja. Tidak bisa menjangkau dan mencari hal-hal baru lagi. untuk menghindari hal demikian setidaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan.

1. Mulailah Berpikir Ulang

ada suatu kisah dimana Imam Ibnu Hajar al-Asqolani pengarang kitab Fathul bari syarah Sohih Bukhari, pada masa-masa belajarnya dulu pernah mengalami suatu titik ke-putusasa-an terhadap kemampuan pribadinya. Ibnu hajar muda merasa bahwa kesungguhan belajarnya tidak begitu menghasilkan apa-apa. Ia geram terhadap dirinya sendiri, dan karena dirasa belajarnya sudah tidak bermanfaat apa-apa lagi akhirnya Ibnu Hajar muda memutuskan untuk pulang. Berhenti sebagai seorang pelajar.

Disaat perjalanan pulangnya itulah Ibnu Hajar muda menemukan suatu peristiwa alam yang membuka kembali semangat belajarnya. Ia melihat sebuah batu yang terlubangi oleh tetesan air. Sekeras batu pun bisa terlubangi oleh air jika itu terus-menerus menetesinya, bagaimana kemampuannya tidak? Terbukalah beliau, bahwa ke-istiqomah-an adalah kunci dari kegalauannya selama ini. peristiwa ini menjadi titik balik yang mengantarkan Ibnu hajar muda menjadi seorang ulama besar yang sampai saat ini karya-karyanya masih senantiasa menjadi salah satu rujukan umat islam se-dunia.

Dari kisah Imam Ibnu Hajar ini setidaknya memberi pelajaran kepada kita bahwa tatkala tujuan sulit tercapai, mungkin masih ada hal-hal kunci yang terlewatkan. Oleh karenanya, mulailah berpikir ulang.

2. Waspadai Hal-hal Pemicu frustasi

Semua para ahli pada awalnya adalah pemula, pernah jatuh; Dan kesuksesan -dalam hal apapun- memerlukan suatu proses. Hal yang mesti dilakukan saat frustasi menyerang adalah dengan mengurangi target pencapaian. Diakui atau tidak, target yang terlalu tinggi seringkali membuat kita memaksakan suatu hal yang sebenarnya sulit untuk tercapai. Dari kegagalan inilah frustasi muncul, padahal secara tidak sadar kita telah mentargetkan sesuatu yang sulit untuk tercapai. Padahal, jika targetnya dikurangi besar kemungkinan akan mudah tercapai dan tidak menyebabkan kegagalan. Maka mengukur kemampuan diri dan menyesuaikan target akan membuat kita semakin terhindar dari yang namanya frustasi.

Diantara hal yang sering membuat seseorang frustasi adalah tidak menjadi diri sendiri, artinya dia ingin selalu seperti orang lain, tidak memiliki acuan langkah sendiri. Rasa persaingan didalam proses belajar itu baik, namun jika hal itu hanya membuat si pelajar tergesa-gesa dan jauh dari ketenteraman -karena mungkin takut kalah saing atau semacamnya- maka, alih-alih semangat yang didapat, hal itu hanya akan menjadi benalu dalam pikirannya dan mengganggu fokusnya dalam belajar atau pun mencapai hal lainnya. Sebagaimana seseorang yang hendak shalat berjemaah, dia disunahkan untuk berjalan dengan tenang tanpa tergesa-gesa. Hikmahnya apa? Hikmahnya adalah agar hatinya tetap tenang sehingga lebih mempermudah untuk Khusyuk Begitu pula dengan proses belajar atau pun proses-proses lainnya.

Atau singkatnya, jimat ampuh untuk terjaga dari gangguan galau, frustasi, atau pun benalu-benalu lainnya adalah alon-alon waton kelakon. Ya, pelan-pelan namun istiqomah.(IM)