Tag Archives: motivasi

Al Fatihah Untuk Saudara-Saudara Kita dan Para Relawan

Al Fatihah kita kirimkan untuk saudara-saudara kita yang tengah mengalami ujian, dengan harapan segera bisa melaluinya dengan sabar dan penuh kepasrahan kepada Allah swt. karena secara naluriah pun kita tentunya pasti merasa iba jika melihat saudara yang tengah mengalami kesusahan, lebih-lebih hal ini sangat dianjurkan di dalam Islam.  Maka tidak ada salahnya bila kita yang jauh, yang mungkin belum bisa membantu dengan materi untuk membacakan al Fatihah sebagai doa untuk kekuatan dan kebaikan bagi mereka. Sebagaimana disampaikan malaikat Jibril kepada Rasululah saw bersabda:

قَالَ: أَبْشِرْ بِنُورَيْنِ، أُوتِيتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ: فَاتِحَةُ الْكِتَابِ، وَخَوَاتِيمُ سُورَةِ الْبَقَرَةِ، لَنْ تَقْرَأَ بِحَرْفٍ مِنْهُمَا إِلاَّ أُعْطِيتَهُ

“Jibril berkata: Sampaikan kabar gembira atas dua cahaya yang dianugerahkan kepadamu, yang tidak diberikan kepada nabi sebelum kamu, yaitu surat al-Fatihah dan ayat-ayat akhir surat al-Baqarah. Engkau tidak membaca satu huruf darinya, kecuali akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Dianjurkan Takziah, Walau pun Korbannya Nonmuslim

Didalam Islam kita dianjurkan untuk melakukan takziahterhadap saudara-saudara kita yang tengah mengalami cobaan. Jangan tanya apa agamanya, karena kita pun diperbolehkan bertakziah kepada saudara-saudara kita yang nonmuslim dan bahkan sunnah jika ada harapan ia memeluk Islam. Hal ini sebagaimana penjabaran Syekh Sulaiman al-Jamal dalam kitabnya:

قوله و للمسلم تعزية كافر إلخ..) أي جوازا لا ندبا ما لم يرجى إسلامه و إلا فندبا)

“(Bagi muslim boleh takziah kepada orang kafir) hukum kebolehannya itu jika tidak diharapkan keislamannya. Namun jika ada harapan ia akan masuk Islam, maka sunnah hukumnya”

dan ada baiknya kita resapi apa yang dinasihatkan oleh Imam Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah al Asfihani dalam kitabnya, Hilyatul Awliya’:

لاتنظرو إلى إلى ذنوب الناس كأنكم أربابا ولكنكم أنظرو في ذنوبكم كأنكم عبيد, والناس رجلان معافي و مبتلى فارحموا أهل البلاء في بليتهم واحمدوا الله على العافية

“Jangan memandang dosa-dosa orang lain seakan engkau adalah tuhan, lihatlah dosa-dosamu sendiri seakan engkau seorang hamba. Manusia ada yang diberi kesehatan dan ada yang diberi cobaan, tunjukkanlah kasih sayang kepada mereka yang sedang terkena cobaan dan bersyukurlah kepada Allah atas kesehatan”

Akhiran, semoga saudara-saudara kita di Banten dan Lampung yang tengah mengalami ujian semoga senantiasa diberi kesabaran dan ketabahan yang penuh hingga bisa melewatinya dengan lapang dada. Dan doa kebaikan senantiasa mengalir untuk para relawan-relawan yang bergerak di sana.(IM)

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertakhta*

Lahum al fatihah..

*Puisi ‘Nisan’ karya Chairil Anwar

Jimat Anti Galau: Alon-Alon Waton Kelakon

Mungkin diantara kita sebagai para pencari ilmu/pelajar pernah merasakan suatu titik kejenuhan atau lebih tepatnya kejengkelan dengan kemampuan daya pikir atau daya hafalan kita, karena seringkali begitu sulit untuk menghafalkan, memahami  atau kalau sudah hafal dan paham paling-paling beberapa hari berikutnya sudah lupa lagi, yang lebih parah dari ini dinamakan dengan ilmu ‘barlen’ alias bubar klalen (selesai langsung lupa). Sehingga perasan-perasaan semacam ini pada akhirnya membuat malas untuk belajar atau minder melihat teman-teman yang begitu jago dan lebih maju dari kita bahkan mungkin dampak terburuknya akan membuat kita patah semangat.

masih wajar kalau semangat itu nantinya nyambung lagi, tapi kalau sudah putus dan tidak mau konek lagi, ini kan sudah gawat. Ibarat handphone yang kosong sinyal maka kegunaanya ya hanya muter-muter fitur dan file simpanannya saja. Tidak bisa menjangkau dan mencari hal-hal baru lagi. untuk menghindari hal demikian setidaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan.

1. Mulailah Berpikir Ulang

ada suatu kisah dimana Imam Ibnu Hajar al-Asqolani pengarang kitab Fathul bari syarah Sohih Bukhari, pada masa-masa belajarnya dulu pernah mengalami suatu titik ke-putusasa-an terhadap kemampuan pribadinya. Ibnu hajar muda merasa bahwa kesungguhan belajarnya tidak begitu menghasilkan apa-apa. Ia geram terhadap dirinya sendiri, dan karena dirasa belajarnya sudah tidak bermanfaat apa-apa lagi akhirnya Ibnu Hajar muda memutuskan untuk pulang. Berhenti sebagai seorang pelajar.

Disaat perjalanan pulangnya itulah Ibnu Hajar muda menemukan suatu peristiwa alam yang membuka kembali semangat belajarnya. Ia melihat sebuah batu yang terlubangi oleh tetesan air. Sekeras batu pun bisa terlubangi oleh air jika itu terus-menerus menetesinya, bagaimana kemampuannya tidak? Terbukalah beliau, bahwa ke-istiqomah-an adalah kunci dari kegalauannya selama ini. peristiwa ini menjadi titik balik yang mengantarkan Ibnu hajar muda menjadi seorang ulama besar yang sampai saat ini karya-karyanya masih senantiasa menjadi salah satu rujukan umat islam se-dunia.

Dari kisah Imam Ibnu Hajar ini setidaknya memberi pelajaran kepada kita bahwa tatkala tujuan sulit tercapai, mungkin masih ada hal-hal kunci yang terlewatkan. Oleh karenanya, mulailah berpikir ulang.

2. Waspadai Hal-hal Pemicu frustasi

Semua para ahli pada awalnya adalah pemula, pernah jatuh; Dan kesuksesan -dalam hal apapun- memerlukan suatu proses. Hal yang mesti dilakukan saat frustasi menyerang adalah dengan mengurangi target pencapaian. Diakui atau tidak, target yang terlalu tinggi seringkali membuat kita memaksakan suatu hal yang sebenarnya sulit untuk tercapai. Dari kegagalan inilah frustasi muncul, padahal secara tidak sadar kita telah mentargetkan sesuatu yang sulit untuk tercapai. Padahal, jika targetnya dikurangi besar kemungkinan akan mudah tercapai dan tidak menyebabkan kegagalan. Maka mengukur kemampuan diri dan menyesuaikan target akan membuat kita semakin terhindar dari yang namanya frustasi.

Diantara hal yang sering membuat seseorang frustasi adalah tidak menjadi diri sendiri, artinya dia ingin selalu seperti orang lain, tidak memiliki acuan langkah sendiri. Rasa persaingan didalam proses belajar itu baik, namun jika hal itu hanya membuat si pelajar tergesa-gesa dan jauh dari ketenteraman -karena mungkin takut kalah saing atau semacamnya- maka, alih-alih semangat yang didapat, hal itu hanya akan menjadi benalu dalam pikirannya dan mengganggu fokusnya dalam belajar atau pun mencapai hal lainnya. Sebagaimana seseorang yang hendak shalat berjemaah, dia disunahkan untuk berjalan dengan tenang tanpa tergesa-gesa. Hikmahnya apa? Hikmahnya adalah agar hatinya tetap tenang sehingga lebih mempermudah untuk Khusyuk Begitu pula dengan proses belajar atau pun proses-proses lainnya.

Atau singkatnya, jimat ampuh untuk terjaga dari gangguan galau, frustasi, atau pun benalu-benalu lainnya adalah alon-alon waton kelakon. Ya, pelan-pelan namun istiqomah.(IM)

Kisah Hikmah: Keistimewaan Istiqomah

Diceritakan, dahulu kala hiduplah seorang pemuda yang menjadi raja.  Dia tak pernah menemukan kenikmatan di dalamnya. Lantas  dia bertanya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya:

Apakah manusia juga mengalami hal yang sama sepertiku?

Sesungguhnya manusia-manusia itu istiqomah,” jawab mereka.

Lantas, siapakah yang bisa membuatnya istiqomah kepadaku?” sang raja kembali bertanya.

Hanya ulama lah yang bisa membuatnya istiqomah kepadamu,” jawab mereka.

Kemudian sang raja mengundang para ulama dan orang-orang shaleh di tersebar negaranya.  Lantas sang raja berkata kepada mereka:

Duduklah kalian di sebelahku.  Jika kalian melihat aku dalam ketaatan, maka tetaplah perintahkan aku. Dan jika kalian melihat aku dalam kemaksiatan, maka cegahlah aku,” perintah sang raja.

Setelah perintah itu, para ulama dan orang shaleh melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka. Sang raja pun istiqomah akan hal yang ia ucapkan selama 400 tahun.

Suatu saat, datanglah iblis menemui raja.  Kemudian ia bertanya:

Siapakah engkau?

Aku iblis. Tapi katakanlah kepadaku siapa dirimu sebenarnya?” jawab iblis tersebut membalas pertanyaan.

Aku adalah anak keturunan Adam,” jawab sang raja.

Apabila kamu ini adalah keturunan Adam, pasti kamu telah mati seperti keturunan Adam yang lain. Dan sesungguhnya kamu itu adalah tuhan. Maka ajaklah semua manusia untuk menyembahmu,” iblis mulai membujuk.

Ternyata, rayuan iblis telah merasukinya. Kemudian sang raja naik ke atas mimbar dan berkata, “Wahai para manusia, sesungguhnya aku mengkhawatirkan kalian atas satu perkara, sekarang tibalah waktunya kuperlihatkan sesuatu tersebut. Kalian semua tahu bahwa aku adalah raja kalian selama 400 tahun. Seandainya aku berasal dari keturunan Adam, maka sudah lama aku meninggal seperti halnya keturunan Adam yang lain. Akan tetapi aku ini adalah tuhan, maka sembahlah aku.

Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi yang ada di zaman itu agar memberi kabar kepada sang raja dengan demikian,

Sesungguhnya Aku (Allah) akan selalu istiqomah kepadanya selama ia masih istiqomah kepada-Ku. Maka ketika ia berpaling untuk bermaksiat kepada-Ku, maka demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku akan menaklukkannya lewat Bukhtanshor.

Akhirnya Allah memberi kekuasaan atas raja tersebut kepada Bukhtanshor. Lalu Bukhtanshor memenggal lehernya dan ia bisa menguasai seluruh barang-barang berharga milik sang raja yang berupa 70 perahu dari emas.

[]waAllahu a’lam

_____________________

Disarikan dari kitab An-Nawadir, karya Syekh Syihabuddin Ahmad bin Salamah Al-Qulyubi, halaman 15-16, cetakan Al-Haromain.

Jangan Remehkan Orang Lain

Dikisahkan, ada seorang yg hidup bergelimang dosa meninggal di pinggiran kota Bashrah. Perilaku buruknya membuat tetangganya acuh tak acuh dengan kematiannya. Sehingga istrinya tidak mendapati orang yg mau membantu membawa jenazahnya ke masjid dan pemakaman. Terpaksa istrinya mengupahi dua orang untuk membawa jenazah tersebut.

Dibawalah jenazah tadi ke masjid. Juga tidak ada seorangpun yg bersedia menyolatinya. Orang-orang seperti pura-pura seolah tidak terjadi apa-apa.
Istrinya memutuskan untuk segera membawa jenazah suaminya ke pemakaman.

Di sebuah bukit yg lokasinya bersebelahan dengan pemakaman, ada seorang ulama besar yang terlihat seperti menunggu seseorang. Ternyata beliau ingin menyolati jenazah yang akan melewati tempat tersebut. Berita ulama besar akan menyolati jenazah di tempat itu segera tersiar ke seantero Bashrah. Orang-orang berduyun-duyun untuk juga ikut menyolati, serta penasaran jenazah siapakah yg mendapat kehormatan disholati oleh ulama besar. Setelah selesai menyolati, orang-orang heran dan takjub. Ternyata jenazah yg mereka sholati adalah orang yg mereka kenal sebagai ahli maksiat. Mereka bertanya kepada ulama tsb.

“Apa yang membuat anda bersedia datang jauh-jauh ke tempat ini dan menyolati jenazah ini?”

“Ada yg berkata dalam mimpiku, “Datangilah bukit di sebelah pemakaman. Di sana kamu akan melihat jenazah yg pengiringnya hanya satu orang wanita. Sholatilah dia, karena dia orang yg mendapatkan ampunan.” jawab ulama.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Bertambahlah ketakjuban orang-orang yg hadir di tempat itu. Ulama tadi kemudian memanggil istri almarhum dan menanyakan keseharian suaminya dan perjalanan hidupnya. Istrinya menjawab, “Dia seperti yg sudah dikenal di kota ini. Sepanjang hari dia menghabiskan waktu untuk bermaksiat dan minum arak.”

“Coba anda perhatikan lagi, apakah ada amal kebaikan yg dia lakukan?” tanya ulama itu lagi.

“Iya setahuku tiga hal. Yang pertama, setiap dia sadar dari mabuknya pada waktu shubuh, dia mengganti bajunya, berwudhu dan melaksanakan shubuh berjamaah. Kemudian dia kembali mabuk dan berbuat maksiat.

Yang kedua, di rumahnya selalu ada dua atau satu anak yatim. Dia memperlakukan dengan baik anak yatim itu melebihi kepada anaknya sendiri.

Yang ketiga, jika dia sadar dari mabuknya di tengah gelap malam, dia menangis dan meratap, “Ya Allah, di bagian neraka jahanam mana Engkau akan menempatkan hambamu yg kotor dengan maksiat ini.”

Sang ulama kemudian pulang, karena dia sudah mengetahui dengan jelas peristiwa aneh yang terjadi di siang hari itu.

dikutip dari Ihya’ Ulumiddin.

*Jangan mudah berprasangka buruk kepada orang lain. Setiap orang punya kisah hidupnya sendiri yang kita tidak mengetahui hakikat sebenarnya.