HomeAngkringTafakkur, Sebuah Solusi Menemukan Diri Sendiri

Tafakkur, Sebuah Solusi Menemukan Diri Sendiri

0 0 likes 20 views share

Tinggalkan pikiran rumit. agar dapat melihat jawab yang tersembunyi. Diamlah dalam kata-kata, agar dapat memperoleh percakapan abadi.”

Secuil kalam hikmah Jalaluddin Rumi di atas tidak sekedar lips service belaka, apalagi penghias kata- kata. Tapi sebuah refleksi pemikiran yang terbukti mampu dilaksanakan pelantunnya, sehingga ia (Rumi) bisa mencapai kearifan bak seorang nabi. Bahkan Jami, penyair besar Persia penerus Rumi menyatakan, “Rumi adalah seorang nabi, namun tidak membawa kitab suci.”

Percikan renungan dan pikiran yang merupakan respon atas berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita, lazimnya disebut tafakkur atau refleksi. Tafakkur dalam Islam merupakan salah satu konstruk religi yang sangat dianjurkan. Sebab, kebenaran, esensi dan hakikat hidup akan tersingkap hanya dengan kebeningan hati yang terakumulasi melalui proses tafakkur tadi. Bahkan, refleksi atau tafakkur menjadi wajib dilakukan seorang hamba jika ia ingin mengetahui dan menyingkap keberadaan Allah SWT dengan segala kebesaran-Nya. Namun demikian, tafakkur bukanlah sebuah resep instan yang mampu menawarkan solusi dari ribuan problema yang kita hadapi, melainkan hanya menawarkan sebuah perspektif untuk mencermati persoalan-persoalan yang rumit. Agar kita mampu menyikapinya secara jernih dan dewasa, sekaligus dapat mengambil hikmahnya.

Dengan kata lain, kebutuhan berefleksi dengan sendirinya sangat urgen ketika kita tengah berproses untuk menemukan hikmah dari beranekaragam fenomena yang ada. Untuk memperoleh hikmah dan kearifan itu memang tidak mudah. Tidak cukup hanya dengan mengaji, sekolah, membaca ,buku, menghafal teori, berdiskusi, dst. Tapi harus tampil langsung dalam perbuatan, sambil merenung (tafakkur) penuh kepekaan.

Para tokoh bijak (kaum sufi) masa silam dengan sangat lantang mengkritik kepongahan kaum intelektual yang hanya pandai berteori, bersilat Iidah dan berbicara muluk, namun tak pernah faham akan esensi yang dibicarakan. Lihat saja bagaimana mereka mengecam keras kaum Mu’tazilah yang terlalu rasional an-sich, atau kritik epistemologis mereka terhadap ulama ahli kalam dan fuqaha masa itu, yang hanya meletakkan kebenaran di ujung lidahnya saja dengan mengesampingkan hati nurani mereka sendiri. Dalam Ihya Ulumiddin nya, al-Ghazali bahkan membuat bab tersendiri dan dalam porsi yang sangat besar tentang masalah krisis hati nurani kaum ahli kalam dan fuqaha ini.

Dalam berbagai forum kajian ilmiah, dengan kemampuan olah kata yang memukau, mereka (ahli kalam dan fuqaha) mampu menyihir kaum awam kala itu dengan hanya teori kebenaran oralis (mulut), dan sekaligus menafikan kebenaran hati nurani. Kebenaran yang timbul kala itu, adalah kebenaran yang berasal dari ajang perdebatan yang panas dan emosi yang meluap-luap, bukan dari nurani mereka. Padahal kita hanya bisa bercermin pada air yang tenang, dan mustahil bisa bercermin di tengah air yang bergolak. Untuk itulah para sufi begitu menekankan hati nurani sebagai “mandor” segala tindakan kita sehari- hari, karena Nabi SAW telah bersabda: “istafti qalbaka”  (Bertanyalah pada hatimu). Artinya janganlah bertanya pada lidahmu, karena ia mudah kau pelintir sesuai keinginan nafsu busukmu.

Nah, dari hipotesa di atas akan memunculkan sebuah konklusi, bahwa kebeningan hati merupakan sarana awal untuk ber-refleksi, bertafakkur dan berkontemplasi yang kemudian akan menggiring kita untuk menemukan jawaban-jawaban rumit kehidupan sekaligus mengambil hikmahnva. Maka tak heran mengapa Islam begitu menekankan tafakkur ini, tidak lain karena ia merupakan sarana pencapaian hikmah yang akan memodifikasi kita menjadi manusia yang lebih dewasa dalam berfikir, arif dalam menilai dan bijaksana dalam bertindak. Tak peduli sarana apa yang di pakai, yang terpenting adalah bagaimana tafakkur itu bisa di lakukan hingga hikmah pun bisa di gapai. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda “Hikmah itu laksana suatu nilai berharga milik seorang muslim, yang bisa hilang kapan saja tapi bisa dipungut dari mana saja”.

 

Penulis, HM. Adibussoleh Anwar, Ketua I Pondok Pesantren Lirboyo.