724 views

Kenapa Kita Harus Membeli Barang di Toko Kiai

Saat liburan pesantren beberapa waktu lalu, salah satu kegiatan yang saya lakukan adalah menjelajahi isi salah satu aplikasi jual beli di ponsel. Bermacam-macam barang dengan mudah kita jumpai di dalamnya. Mulai dari kebutuhan pokok sampai barang tak berguna, mulai dari yang berharga puluhan juta hingga yang harganya lebih murah dari ongkos kirimnya. Mulai dari yang kuno, sampai yang terbaru, semua ada di sana. Betapa zaman semakin memberikan kemudahan untuk kita.

Menjadi seorang santri mendorong saya untuk mencari kebutuhan primer pesantren: kitab. Saya cari dua kitab besar “wajib” para santri: Ihya’ Ulumuddin dan Hasyiyah Showi, dan yang saya temukan di aplikasi jual beli itu adalah puluhan penjual dua kitab tersebut. Harga dan kualitasnya pun beragam. Ada satu toko yang membuat saya tertarik, alasannya kitab yang dijualnya bagus (cetakan penerbit Mesir, kertas putih dengan teks kitab yang disertai paragaf, titik dan koma, sehingga mudah dibaca) dan harganya termasuk murah karena sedang promo.

Sebenarnya dua kitab yang saya cari itu tersedia di toko-toko di pesantren kita. Namun seperti yang kita tahu, toko-toko itu hanya menyediakan Ihya dan Showi dalam dua cetakan.

Pertama, cetakan penerbit Beirut yang kualitas kertasnya tidak cocok untuk dimaknai dan teks kitabnya, meski terdapat paragraf,, namun sering ditemukan kekurangan atau salah cetak.

Kedua, cetakan penerbit lokal yang kertasnya bagus untuk dimaknai, namun teks kitabnya memenuhi seluruh halaman tanpa disertai paragraf, titik, dan koma, hanya santri mempeng yang betah memutholaahnya.

Maka saya mengutarakan niat membeli dua kitab dari toko online itu kepada ayah saya, beserta alasan-alasan di atas. Ayah saya memberi jawaban singkat. “Beli di pesantren saja, toh yang jual juga kiai kamu sendiri.”

Saya tercekat mendengarnya. Satu, karena harapan membeli di toko online pupus. Dua, karena tidak pernah terpikirkan di otak ini untuk meramaikan toko kiai sendiri. Akhirnya, karena menaati perintah orang tua dalam kebaikan adalah kewajiban—dengan alasan yang baik pula— maka saya batal membeli dua kitab dari toko online itu.

***

Jika membalas jasa orang tua yang merawat jasmani kita sejak kecil sampai dewasa adalah suatu kewajiban, maka guru yang merawat rohani kita tentu lebih berhak untuk dibalas jasanya. Meskipun kita tidak mungkin membalas seluruh jasa mereka, paling tidak kita berusaha untuk membalasnya. Salah satunya dengan membeli barang di toko milik Kiai dan dzuriyyahnya.

Kalau dipikirkan, sebenarnya banyak manfaat yang kita dapat dari membeli barang di toko milik Kiai.

Manfaat Membeli Barang di Toko Kiai

Pertama, barang yang dijual jelas kehalalannya. Kita tahu, toko Kiai dikelola oleh para santri yang sudah mendalami kitab-kitab fiqh, maka kualitas barang yang dijual pun bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini sangat penting, karena halal tidaknya suatu barang akan mempengaruhi penggunanya, terlebih makanan yang menjadi sumber energi. Barang yang halal akan mendorong penggunanya melakukan kebaikan.

Kedua, Berkah. Kiai adalah orang yang dekat dengan Allah. Dan orang yang dekat dengan Allah selalu memancarkan berkah. Dalam membangun dan mengelola tokonya, Kiai selalu berpegang teguh dengan syariat. Mulai dari tujuan membuka toko semata lillahi ta’ala, modal usaha yang halal, sampai hasil usaha yang digunakan untuk kebaikan semata. Maka berkahnya pun sangat besar.

Ketiga, memberdayakan ekonomi pesantren. Kita tahu, dalam daftar pembayaran pondok setiap bulan tidak ada bagian untuk Kiai. Sementara beliau mengerahkan seluruh tenaga, waktu dan pikiran untuk setia ngopeni para santri, padahal beliau juga punya keluarga yang wajib dinafkahi. Maka rasanya kok tega sekali kita sebagai santrinya tidak mau meringankan beban beliau dengan membeli barang di toko beliau. Dengan membeli barang di toko Kiai, ekonomi pesantren akan menguat dan stabilitas pesantren akan tetap terjaga.

Demikianlah beberapa manfaat membeli barang di toko Kiai. Selain yang saya sebutkan, kalian bisa menambahkan daftar manfaat-manfaat lainnya.

Baca juga: Jangan Marah-marah!
Tonton juga: Teladan Almahgfurlah KH. Marzuqi Dahlan Pengasuh Pondok Lirboyo

Penulis: M. Irwan Zuhdi

*Santri Pondok Unit Haji Ya’qub Lirboyo, asal Semarang, Jawa Tengah

8

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.