Tag Archives: masyarakat

Kiprah Santri di Masyarakat: Antara Safari, Himasal dan Kiai Mushola

Berbicara tentang santri memang tidak akan ada habisnya. Keseharian dan kebiasaan para santri juga berbeda dengan orang-orang pada umumnya, namun sangat menarik dan unik.

Kesederhanaan kaum santri merupakan bentuk kerendahan hati dan merupakan suatu proses yang mengantarkan dirinya menuju insan yang berkualitas. Ciri khas yang biasa dijumpai di kalangan kang santri yaitu seperti sarung, songkok miring, sendal jepit dan kebiasaan yang  bersifat spontan seperti ketiduran saat ngaji atau sekolah, ngobrol di sela-sela musyawarah dengan topik terkini, ngopi tanpa batas dan over dalam bergurau. Ditambah lagi dengan kehidupan yang serba bersama seperti masak bersama, makan bersama dan tidur bersama dalam satu kamar yang SS (sempit, sumpek).

Akan tetapi di balik itu semua terkandung nilai-nilai yang luhur. Karena santri biasa dilatih dengan kebersamaan, kesederhanaan, kesabaran, dan keteguhan jiwa dalam menghadapi berbagai tantangan dan rintangan yang mengahadang. Sehingga membuat ikatan emosional antar santri terjalin kuat. Selalu teguh bagaikan karang di lautan yang tak pernah rapuh meskipun diterjang ombak.

Ikatan emosional yang kuat tersebut akan menumbuhkan solidaritas yang kuat, hingga sampai menjadi alumni tetap akan terjaga solidaritasnya. Fenomena ini terbukti saat mereka  para alumni dipertemukan dalam forum perhelatan akbar atau kalau di pondok ini yang biasa kita kenal dengan Munas Himasal yang diselenggarakan setiap 5 tahun sekali di Pondok Lirboyo. Acara ini dijadikan ajang reuni yang paling sakral oleh para alumni pada umumnya. Kebersamaan yang dipupuk kinii membuahkan hasil. Semangat gotong royong dan tolong menolong kini menjadi acuan menjalin silaturahim. Berjumpa dengan kawan lama akan mengingat ingat kembali memori masa silam saat masih belajar bersama di pesantren. Mereka akan saling menanyakan kabar dan status sosialnya. Disini para alumni akan tampak status sosialnya di masyarakat. Ada yang jadi kiai musholla, pemangku pesantren, pengurus NU bahkan menjadi pejabat pemerintah.

Kesuksesan alumni menjadi tolak ukur dari seorang santri yang akan menimba ilmu di sebuah pesantren, kondisi inilah yang akhirnya diikuti oleh santri lainnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri di pesantren. Mengapa demikian?

Itu terjadi karena karakter building dan revolusi mental telah lama dilakukan dan diterapkan oleh pondok pesantren . Hal ini tidak lepas dari jasa pesantren melalui programnya. Salah satunya program safari dakwah. Dengan menerjunkan para santri yang telah siap secara mental untuk berkiprah dii masyarakat dan lembaga formal. Program yang digiatkan ini bertujuan sebagai media syiar Islam dan praktek lapangan bagi santri untuk belajar bermasyarakat secara langsung.

Para santri tidak bisa menebak-nebak masyarakat seperti apakah yang nantinya akan mereka hadapi. Tidak hanya kondisi masyarakat yang plural seperti beda aliran, beda ras, beda adat, beda agama tapi juga  kondisi dan budaya yang berbeda harus benar-benar siap dipahami oleh setiap santri yang didelegasikan. Memang juga tidak bisa kita paksakan kepada masyarakat, untuk segera menerima perubahan. Meskipun perubahan itu juga berarti kebenaran. Mengubah tatanan masyarakat secara frontal justru akan lebih banyak punya potensi kegagalan. Dalam arti, dakwah harus dilakukan bertahap. Mengambil hati masyarakat terlebih dahulu, setelah mereka terpikat, baru naik tingkatan.

Dengan adanya program safari dakwah, setelah menyelesaikan belajarnya di pesantren, santri yang mondok tidak akan bingung kembali ke kampung halamannya. Kalau orang tuanya memiliki pesantren atau madrasah maka ia akan membantu mengurus lembaga tersebut. Secara otomatis yang dulunya menyandang status gus akan dinobatkan sebagai kiai. Sedangkan santri yang tidak mewarisi lembaga pendidikan agama, biasanya ia memanfaatkan masjid atau mushola di kampung sebagai sarana membagikan ilmu yang pernah dipelajari di pesantren. Dengan begitu mau tidak mau santri itu akan menyandang label kiai. Meskipun telah mendapatkan pendidikan dan bimbingan yang sama dari kiai pesantren masing-masing santri ketika kembali ke desa asalnya mempunyai peran yang berbeda-beda. Karena itu, hanya orang-orang yang terseleksi secara sosial yang pada akhirnya terpilih menjadi panutan masyarakat terutama yang menyangkut praktek-praktek keagamaan. Menjadi orang-orang terpilih dari pada alumni pesantren yaitu bagi siapa yang berdedikasi dan telah teruji berjuangan untuk agama dan melayani kepentingan masyarakat dengan semagat pengabdian. Itulah sebenarnya ruh pendidikan pesantren yang ditanamkan kiai. Di lingkungan pedesaan atau pedusunan kiai mushola memiliki peranan yang cukup besar mendampingi masyarakat, lebih-lebih menyangkut urusan peribadatan di di mushola atau masjid seperti merawat orang yang meninggal dunia.

Lembaga pengajian yang berbasis di mushola hanya diikuti oleh masyarakat atau santri di sekitar tempat ibadah tadi. Mereka tidak bermukim bersama kiai, tetapi langsung pulang ke rumah masing-masing selepas belajar mengaji. Dan pengasuh lembaga pengajian yang hanya berbasis di masjid disebut kiai masjid. Suatu mahkota kehormatan  yang diberikan masyarakat kepada seseorang yang menjadi panutannya.

Kata “Kiai” adalah sebutan kepada seseorang yang dimuliakan dalam adat pergaulan orang Jawa. Pada umumnya kata kiai digunakan untuk menyebut guru agama atau pengasuh yang alim serta dihormati dan berkharisma. Istilah pengasuh di Jawa disebut kiai, di Sunda disebut ajengan, di Madura disebut nun atau bendara yang disingkat ra, di Aceh disebut tengku, di Sumatera Utara atau Tapanuli disebut syaikh, di Minangkabau disebut buya, di Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, atau Kalimantan Tengah disebut tuan guru, dan beragam sebutan lagi di berbagai daerah di Nusantara.

Sedangkan kata “mushola atau masjid” secara terminologis merujuk sebuah teritori tempat beribadah sekelas di desa desa atau pedukuhan yang menjadi tempat menetap. Yang menjadi sorotan menarik kali ini adalah tokoh kiai mushola dan kiprahnya. Lebih dari kiprahnya itu, dia bisa mengawal pertemuan rutin majelis pengajian yang bersifat serikat gotong royong dalam ikhtiar mengem-bangkan ajaran ta’aawanu ‘ala al-birri wa at-taqwa. Apabila di antara warga  kedapatan sedang tertimpa kesulitan maka ia tampil menggerakan para anggota yang lain untuk memberikan bantuan dari uang  kas yang dipungut setiap acara pengajian. Dengan membantu meringankan beban kepada sesama menunjukkan mereka telah disatukan pula oleh nasib sosial yang sama. Sebenarnya untuk membumikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat, contoh implementasi kesalehan sosial sebagaimana yang diteladankan kiai musola menjadi pilar penopangnya. Di sinilah makna profetik dari pada misi Islam  rahmatan li al-‘alamin yang setiap saat bisa dirasakan umat meskipun tidak perlu mengibarkan banyak simbol.

Dalam konteks pembanguan sosial di pedesaan, peranan kiai mushola sangat strategis dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat sekitar dikarenakan hampir setiap hari ia bersetuhan langsung dengan mereka. Peran strategis ini membuktikan bahwa ia sangat leluasa untuk berpartisipasi dalam pembangunan pedesaan. Karena intensitas pergaulan sehari-hari yang dijalaninya, sudah barang tentu dengan misi utama yang dia emban bisa sangat leluasa untuk mewarnai pertemuan-pertemuan yang digelar di ruang terbuka. Katakanlah forum rembuk warga yang dipimpin kiai, maka pendapat-pendapat yang disampaikan kemungkinan besar menjadi bahan pertimbangan dan akan direspon oleh jama’ah.

Selain itu kiai tidak hanya memperhatikan urusan ibadah mahdhoh (formal) seperti sholat dan dzikir berjama’ah yang bersifat  non proft, hanya berharap  ridlo Allah SWT namun juga aktif membahas permasalahan di lingkungan tempat tinggal mereka. Jadi tidak melulu urusan ibadah atau hal-hal yang bersifat normatif.

Inilah jasa-jasa kiai pengampu desa tamatan pesantren yang tidak bisa kita pandang sebelah mata. Justru kontribusinya terhadap masyarakat sangatlah besar. Namun jarang dilirik sebagian orang pada umumnya bahkan dari pemerintah hanya dikarenakan statusnya yang informal. Sebagai santri kita harus membuktikan peran kita terhadap masyarakat majemuk. Walaupun menjadi kiai mushola sekalipun. Santri-santri tamatan pesantren yang sudah kembali ke desa dan memiliki kemauan yang kuat mengabdikan diri untuk kepentingan masyarakat menjadi faktor penting bagi kelestarian pembangunan sosial di pedesaan. Dalam konteks ini peranan kiai mushola dalam pembangunan masyarakat di pedesaan sangatlah nyata dan ikhlas.[]

Penulis: Luthfi Hakim (Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo)

Urgensi Fikih Kebangsaan di Tengah Derasnya Informasi Medsos

Rangkaian haul KH. Abdurrahim ke-21 Pendiri PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kujangsari Langensari Kota Banjar Jawa Barat tahun ini cukup spesial. Selain khataman Al Qur’an bil ghaib dan pengajian akbar yang menjadi rutinitas tahunan juga diselenggarakan halaqah kebangsaan dengan membedah buku Fikih Kebangsaan karya Himpunan Alumni Santri Lirboyo (HIMASAL).

Rencananya bedah Fikih Kebangsaan akan diselenggarakan pada Ahad 23 September 2018 Jam 08.00 WIB sampai selesai di PP Miftahul Huda Al Azhar Citangkolo Kota Banjar.

Gus Basitur Rijal selaku pihak keluarga pesantren menjelaskan: “Bedah Fikih Kebangsaan sangat penting untuk menguatkan wawasan kebangsaan bagi santri PP Citangkolo di tengah derasnya informasi di dunia maya yang sering menggerus nilai-nilai nasionalisme.”

Sementara Gus Muhammad Nailul Azmi sebagai Panitia Pelaksana menuturkan bahwa bedah buku akan diikuti 500an peserta dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, santri, undangan pesantren sekitar dan HIMASAL Kota Banjar Jawa Barat.

Dihubungi secara terpisah, Ust Ghufron anggota HIMASAL Kota Banjar yang juga menjadi fasilitator kegiatan ini mengatakan bahwa buku Fikih Kebangsaan sangat dibutuhkan untuk menjawab berbagai propaganda yang masih mempertentangkan antara semangat keagamaan dan kebangsaan.

sumber : aswajamuda.com

Problematika Hadiah Dalam Tradisi Walimah

Bukan menjadi rahasia lagi di masyarakat, berkembangnya sebuah tradisi untuk saling memberi hadiah ketika diselenggarakan semacam perayaan pernikahan, khitanan, dan lain-lain. Pemberian hadiah itu pun memiliki kebiasaan yang berbeda, ada yang berupa barang yang dikemas dalam sebuah kado, atau sejumlah uang yang dimasukkan dalam selembar amplop. Model pemberiannya pun sangat beragam, ada yang mencantumkan nama dan ada juga yang tidak mencantumkan nama sehingga tidak diketahui dari siapa pemberian tersebut.

Di suatu daerah tertentu, kebiasaan memberi hadiah itu menuntut bagi penerimanya untuk membalas apa yang telah diberikan apabila pihak yang memberi merayakan semacam perayaan serupa di waktu mendatang. Dengan artian, pemberian itu terkesan menjadi sebuah hutang yang dibebankan kepada penerima hadiah. Namun praktek itu sangat berbeda dengan di daerah lain, pemberian hadiah dalam sebuah acara perayaan tertentu murni merupakan hadiah tanpa adanya tuntutan untuk membalas di kemudian hari.

Secara otomatis, berbagai model tradisi pemberian tersebut akan menarik sebuah pertanyaan mengenai status hadiah tersebut. Apakah memang pemberian itu murni hadiah sehingga tidak ada tuntutan bagi penerimanya untuk mengembalikan di waktu mendatang, ataukah praktek tersebut justru merupakan praktek hutang piutang yang menuntut adanya balasan serupa sebagaimana yang telah terlaku dan mentradisis di berbagai daerah.

Dalam kitabnya, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, syekh Abi Bakar Utsman bin Muhammad Syato ad-Dimyati memberikan pencerahan yang sangat bijak terkait persoalan tersebut:

وَمَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِيْ زَمَانِنَا مِنْ دَفْعِ النُّقُوْطِ فِي الْأَفْرَاحِ لِصَاحِبِ الْفَرْحِ فِيْ يَدِهِ أَوْ يَدِ مَأْذُوْنِهِ هَلْ يَكُوْنُ هِبَّةً أَوْ قَرْضًا؟ أَطْلَقَ الثَّانِيَ جمْعٌ وَجَرَى عَلَى الْأَوَّلِ بَعْضُهُمْ الى ان قال- وَجَمَّعَ بَعْضُهُمْ بَيْنَهُمَا بِحَمْلِ الْأَوَّلِ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يُعْتَدِ الرُّجُوُعُ وَيَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ وَالْمِقْدَارِ وَالْبِلَادِ وَالثَّانِيْ عَلَى مَا إِذَا اِعْتِيْدَ وَحَيْثُ عُلِمَ اخْتِلَافٌ تَعَيَّنَ مَا ذُكِرَ

Perihal adat kebiasaan yang berlaku di zaman kita, yaitu memberikan semacam kado hadiah perkawinan dalam sebuah perayaan, baik memberikan secara langsung kepada orang yang merayakan atau kepada wakilnya, apakah hal semacam itu termasuk ketegori pemberian cuma-cuma atau dikategorikan sebagai hutang?. Maka mayoritas ulama memilih mengkategorikannya sebagai hutang. Namun sebagian ulama lain lebih memilih untuk mengkategorikan pemberian itu sebagai pemberian cuma-cuma…. Sehingga dari perbedaan pendapat ini para ulama mencari titik temu dan menggabungkan dua pendapat tersebut dengan sebuah kesimpulan bahwa status pemberian itu dihukumi Hibah atau pemberian cuma-cuma apabila kebiasaan di daerah itu tidak menuntut untuk dikembalikan. Konteks ini akan bermacam-macam sesuai dengan keadaan pemberi, jumlah pemberian, dan daerah yang sangat beragam. Adapun pemberian yang distatuskan sebagai hutang apabila memang di daerah tersebut ada kebiasaan untuk mengembalikan. Apabila terjadi praktek pemberian yang berbeda dengan kebiasaan, maka dikembalikan pada motif pihak yang memberikan” (lihat: Hasyiyah I’anah at-Thalibin, III/48, Maktabah Syamilah).

Dari pemaparan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian yang biasa dilakukan dalam momentum semacam pernikah, khitanan, dan lain-lain dibagi menjadi dua; Pertama, berstatus Hibah (pemberian cuma-cuma) apabila kebiasaan yang berlaku tidak ada tuntutan untuk mengembalikan. Kedua, berstatus Qordlu (hutang) apabila kebiasaan yang berlaku di daerah tersebut menuntut adanya pengembalian.

Dalam memandang problematika ini, syariat begitu memperhatikan praktek bagaimana sebenarnya hadiah itu diberikan dengan melihat indikasi-indikasi yang ada. Dengan begitu akan sangat jelas maksud dari pihak pemberi, apakah pemberiannya tersebut ditujukan untuk sedekah atau pemberian hutang yang menuntut balasan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masing-masing daerah. []waAllahu a’lam

_____________________

Referensi:

Hasyiyah al-Bajuri, II/187, cet. al-Haromain.

Al-Fatawi al-Fiqhiyah Al-Kubro, III/373, cet. Maktabah al-Islamiyah.

Hasyiyah al-Jamal, III/601.

Hasyiyah I’anah at-Thalibin, III/48, Maktabah Syamilah.

 

Gema Suara Tarhim

Di kalangan masyarakat umum, mereka tidak asing lagi dengan istilah yang disebut Tarhim. Biasanya, suara Tarhim bergema melalui radio maupun kaset yang diputar dengan pengeras suara di masjid atau surau sekitar enam sampai tujuh menit sebelum adzan subuh.

Di bulan Ramadhan, gema Tarhim dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tanda permulaan waktu Imsak (menahan dari makan dan minum). Di luar bulan Ramadhan, lantunan suara tersebut bermanfaat untuk membangunkan mereka yang hendak melakukan ibadah shalat subuh.

Sudah menjadi realita, kebiasaan serta adat istiadat yang ada di masyarakat seperti ini tidak akan pernah terlepas dari polemik, baik pihak yang pro ataupun yang kontra. Adapun pihak yang menilai negatif lantaran suaranya yang kadang begitu keras sangat mengganggu, terutama mereka yang membutuhkan istirahat di jam-jam tersebut. Namun di lain pihak, justru banyak yang menganggapnya sebagai tindakan yang positif karena dapat membantu membangunkan dan mengingatkan dalam rangka beribadah.

Terkait problematika yang menjamur ini, sebenarnya para ulama salaf telah membahasnya jauh-jauh hari sebelum polemik baru itu muncul di permukaan. Salah satunya adalah syekh Abdurrahman Al-Jaziri memaparkan dalam kitab Al-Fiqhu ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah sebagai berikut:

أّمَّا التَّسَابِيْحُ وَالْاِسْتِغَاثَاتُ بِاللَّيْلِ قَبْلَ الْأَذَانِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: إِنَّهَا لَا تَجُوْزُ، لِأَنَّ فِيْهَا إِيْذَاءً لِلنَّائِمِيْنَ الَّذِيْنَ لَمْ يُكَلِّفُهُمُ اللهُ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: إِنَّهَا تَجُوْزُ لِمَا فِيْهِ مِنَ التَّنْبِيْهِ، فَهِيَ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ عَلَيْهَا ضَرَرٌ شَرْعِيٌّ، وَالْأَوْلَى تَرْكُهَا، إِلَّا إِذَا كَانَ الْغَرْضُ مِنْهَا إِيْقَاظُ النَّاسِ فِيْ رَمَضَانَ، لِأَنَّ فِيْ ذَلِكَ مَنْفَعَةً لَهُمْ

Adapun mengenai bacaan tasbih dan istighosah pada malam hari sebelum adzan, sebagian ulama ada yang mengatakan tidak diperbolehkan. Karena terdapat unsur mengganggu terhadap orang-orang yang tidur yang pada dasarnya tidak terkena taklif (tuntutan syariat) dari Allah. Namun sebagian lagi ada yang mengatakan diperbolehkan, karena perkara tersebut tergolong memperingati hal yang baik. Meskipun tidak ada dampak negatif yang ditolerir syariat, kebiasaan ini lebih baik ditinggalkan kecuali ada tujuan yang baik, seperti membangunkan orang pada bulan Ramadhan. Hal yang demikianlah yang sangat bermanfaat bagi mereka” (lihat: Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, I/309, cetakan Darul Fikr).

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa memutar radio atau kaset yang berisi bacaan Al-Qur’an atau semacamnya sebelum waktu subuh dapat dibenarkan menurut kacamata Fiqih. Bahkan kebiasaan tersebut tergolong hal yang dianjurkan, memandang kemanfaatan yang didapat lebih besar daripada dampak negatif yang ditimbulkannya. Andai terjadi hal-hal negatif, tentunya masih tergolong kewajaran yang masih ditolerir oleh syariat.

Walhasil, gema suara Tarhim ini lebih dominan dikatakan perkara yang positif, karena di dalamnya mengandung unsur membantu orang lain dalam hal kebaikan. Saling membantu dalam hal kebaikan dan ketakwaan sangat dianjurkan oleh syariat, sebagaimana berfirman Allah Swt dalam Al-Qur’an:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرَّ وَالتَّقْوَى

 
Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa”, (QS. Al-Maidah: 02).

[]waAllahu a’lam.

 

 

 

Ngaji Tafsir; Memberdayakan Masyarakat

Berbicara soal peradaban, tentu akan membuka ruang dialog yang begitu intensif. Pasalnya, sebuah peradaban merupakan hal yang paling penting dalam tatanan dan perjalanan roda kehidupan. Sebuah masyarakat yang memiliki nilai peradaban akan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik daripada golongan masyarakat yang yang tidak beradab. Dan satu hal yang perlu dicermati, peradaban dalam pengaplikasiannya tidak pernah terlepas dengan pelaku-pelaku sosial yang menggerakkan, menumbuhkembangkan, serta memberdayakan masyarakat tersebut.

Dalam konteks realita ini, Allah Swt telah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”, (QS. At-Taubah: 122).

Dalam kitab tafsirnya yang berjudul Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Qur’an atau yang lebih sering dikenal dengan nama Tafsir At-Thabari, Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari menjelaskan begitu banyak perbedaan pendapat para ulama Ahli Tafsir dalam memahami ayat tersebut. Diantara mereka, ada yang menitikberatkan dalam kajian historis, pendekatan kritis sosial, dan aktualisasi isi kandungan ayat. Beberapa diantaranya terangkum dalam beberapa pendapat berikut:

Diriwayatkan dari sahabat Mujahid Ra, beliau berkata: “Dulu, para Sahabat Nabi banyak yang ditugaskan di daerah suku pedalaman tanah Arab. Di sana, mereka membangun interaksi yang baik dan memajukan sektor pertanian yang bermanfaat bagi penduduk setempat. Selain itu, para Sahabat Nabi tersebut juga mendakwahkan ajaran Islam kepada penduduk setempat. Setelah menapaki jalan kesulitan, akhirnya mereka kembali dan menemui Rasulullah Saw untuk menceritakan apa yang telah mereka alami. Sehingga turunlah ayat tersebut”.

Sahabat Qatadah Ra, mengambil pemahaman bahwa ketika Rasulullah Saw mengutus angkatan perang, hendaklah sebagian diantara mereka tetap tinggal bersama Beliau untuk lebih memperdalam pengetahuan agama mereka. Kemudian sebagai upaya tindak lanjut, mereka juga berkewajiban mendakwahkan apa yang telah didapat terhadap kaumnya. Ada juga ulama yang menafsiri dengan pola terbalik dari penafsiran sahabat Qatadah Ra, yaitu para angkatan perang itu lah yang memperdalam keilmuan secara umum demi pembangunan peradaban masyarakatnya setelah mereka kembali.

Sahabat Ibnu Abbas Ra, menceritakan sebuah kisah terkait dengan penafsiran ayat tersebut. Yaitu, pada zaman dahulu bangsa Arab memiliki kelompok-kelompok suku yang begitu banyak jumlahnya. Kemudian, sebagian diantara mereka menemui Rasulullah Saw seraya bertanya, “Apa yang Anda perintahkan untuk kami kerjakan, dan beri tahu kami terhadap apa yang harus kami sampaikan pada keluarga kami saat kami kembali pada mereka?”. Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah Saw menyuruh mereka untuk menyampaikan perintah shalat, zakat, dan kewajiban yang lain dan senantiasa taat terhadap Allah dan rasul-Nya. Setelah mereka kembali ke daerah masing-masing, mereka menyampaikan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah Saw dan mendakwahkan agama Islam di tengah-tengah masyarakatnya.

Secara garis besar, dari QS. At-Taubah ayat 122 dapat ditarik sebuah pemahaman. Kandungan dan penafsiran ayatnya bermuara pada kewajiban seorang muslim untuk bertanggungjawab atas keadaan umat yang ada di sekitarnya. Karena dalam konteks ini, pemberdayaan masyarakat sekitar merupakan sebuah amanah yang murni muncul dari kesadaran sosial semata. Sehingga, tidak berlebihan kiranya apabila membangun ruh keilmuan dan peradaban masyarakat merupakan sebuah keharusan yang menjadi lahan implementasi nyata dari tanggung jawab yang sebenarnya.[] waAllahu a’lam

 

_________

Disarikan dari kitab Jami’ Al-Bayan fii Ta’wil Al-Qur’an (Tafsir At-Thabari), karya Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari.