HomeDawuh MasyayikhSantri Harus Bisa Seperti Garam

Santri Harus Bisa Seperti Garam

0 3 likes 537 views share

Di zaman Nabi Muhammad SAW, saat Nabi telah hijrah menuju ke bumi Madinah, para sahabat dikelompokkan menjadi dua. Kaum Muhajirin, yaitu kaum yang ikut berhijrah bersama Nabi dari Mekah, dan kaum Anshâr. Yaitu kaum yang menetap di Madinah, dan menjadi anshâr, para penolong kaum yang berhijrah. Mereka berasal dari suku Aus dan Khazraj, suku asli kota Madinah. Jumlah mereka memang sedikit, namun mereka adalah orang yang sangat dicintai dan dibanggakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Syahdan, Nabi Muhammad SAW terkena sakit parah, beliau terjangkit demam yang hebat, hingga akhirnya beliapun wafat pada hari senin 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijriyyah. Waktu itu, beliau masih menyempatkan untuk keluar menemui para sahabat. Kondisi beliau saat itu sudah sangat lemah, beliau dipapah keluar. Dan disana telah menanti, para sahabat-sahabat beliau yang setia. Diceritakan dalam suatu hadis,

 حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ حَنْظَلَةَ بْنِ الغَسِيلِ، حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ، بِمِلْحَفَةٍ قَدْ عَصَّبَ بِعِصَابَةٍ دَسْمَاءَ، حَتَّى جَلَسَ عَلَى المِنْبَرِ، فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: «أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ النَّاسَ يَكْثُرُونَ وَيَقِلُّ الأَنْصَارُ، حَتَّى يَكُونُوا فِي النَّاسِ بِمَنْزِلَةِ المِلْحِ فِي الطَّعَامِ، فَمَنْ وَلِيَ مِنْكُمْ شَيْئًا يَضُرُّ فِيهِ قَوْمًا وَيَنْفَعُ فِيهِ آخَرِينَ، فَلْيَقْبَلْ مِنْ مُحْسِنِهِمْ وَيَتَجَاوَزْ عَنْ مُسِيئِهِمْ» فَكَانَ آخِرَ مَجْلِسٍ جَلَسَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Amma ba’du, umat manusia akan bertambah banyak, dan kaum anshor jumlahnya semakin sedikit. Sampai-sampai mereka ibaratkan garam ditengah-tengah makanan. Barang siapa mendapat kekuasaan atas suatu hal yang membahayakan suatu kaum, dan memberi manfaat kepada kaum lain, maka hendaklah kalian terima kebaikan mereka, dan maafkanlah keburukan mereka. ”  (HR. Bukhôri)

Hadis tersebut menjadi hadis dan majlis terakhir Nabi bersama para sahabat-sahabatnya, setelah itu beliau turun dari mimbar. Dan wafat tak berapa lama kemudian.

Menjadi niscaya, bahwa jumlah kaum Anshor kian hari semakin sedikit. Setelah Nabi wafat, mereka menyebar ke daerah-daerah lain. Mengenalkan dan membesarkan islam. Nabi telah memperkirakan hal tersebut. Dan oleh Nabi, mereka diumpamakan garam. Walaupun jumlahnya sangat sedikit, tapi bisa sangat bermanfaat dan memberi warna pada makanan. Makanan tanpa garam akan terasa hambar.

Sedikit mengutip hadis tersebut secara ringkas, kemarin dalam penutupan Bahtsul Masail Kubro dan Bahtsul Masail Himasal, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, selaku pengasuh Ponpes Lirboyo mengutarakan ibroh akan hal tersebut. Santri hari ini diumpamakan kaum Anshâr pada zaman Nabi. Jumlahnya memang sangat sedikit, namun itu bukan menjadi masalah. Justru itu menjadi keistimewaan. Dengan jumlah yang sangat sedikit inilah para santri diharapkan mampu mewarnai masyarakat.

Al-Anshâr bimanzilatil milhi, orang Anshar itu laksanakan garam. Dengan arti, ketika umat islam itu berkembang ke negara mana-mana, jumlah orang anshor itu sedikit, namun mewarnai. Seperti halnya garam, walaupun sedikit akan mewarnai rasa makanan. Begitupun orang Anshor demikian. Walaupun sedikit, namun jasanya sangat luar biasa.” Tutur KH. Abdullah Kafabihi Mahrus.

Orang Anshor sangat toleransi terhadap sahabat Muhajirin. Misalkan saya (orang Anshâr) punya kebun sekian, diparo (dibagi). Namun sahabat Muhajirin tidak mau. Ingin bekerja sendiri. Orang Muhajirin tidak mau, (mereka) menghargai kebaikan kaum Anshâr.” Tambah KH. Abdullah Kafabihi.

Harapan dari beliau, agar santri mampu mencontoh kebaikan-kebaikan kaum Anshar. Bisa menjadi suri tauladan yang baik, dan bisa menuntun masyarakat. “Supaya para santri di masyarakatpun bisa ‘bimanzilatil milhi’. Bisa toleran kepada masyarakat, dan bisa bermanfaat bagi masyarakat.” Pungkas beliau.[]