Tag Archives: Sejarah

Membaca Sebagai Pilar Peradaban

Membaca Sebagai Pilar Peradaban | “Bacalah!” sebuah kalimat yang menjadi risalah pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW. Dari sekian banyaknya kosa kata yang dimiliki bangsa Arab. Kata “Baca” dipilih Allah SWT sebagai permulaan dari firman-firman-Nya.

Selain itu, sang pembawa pesan agung tersebut mengulang kalimat itu hingga tiga kali. Kebetulankah? Atau memang peristiwa ini mengandung arti yang tersembunyi? Yang jelas risalah tersebut menjadi awal kemajuan peradaban bangsa Arab serta bangsa-bangsa lain setelahnya.

Hal ini bisa kita lihat bagaimana hak dan kehormatan wanita dapat kembali, yang sebelumnya mereka hanya dianggap sebagai pelepas dahaga. Bagaimana orang-orang yang menjadi umatnya memiliki kualitas keilmuan yang tinggi.

Bila kita renungkan, ajaran Agama Islam begitu royal terhadap pemeluknya terkait urusan membaca. Hal ini bisa dilihat bagaimana Nabi memerintahkan sahabatnya untuk mempelajari bahasa asing disaat mereka akan menerima buku-buku dari negara luar Arab.

Dalam hadist yang disampaikan oleh Imam Thobari di dalam kitabnya, Ghayah Al-ahkam Fi Ahadist Al-Ahkam. Nabi SAW tidak menginginkan adanya buku yang terasing dan berdebu, karena tidak ada yang membacanya.

baca: Membaca Hati Santri Karomah Kiai Mahrus

Mengintip Sejarah

Kita intip apa yang ada di balik kejayaan Islam pada awal abad ke-7. Sejarah mencatat bahwa kemajuan peradaban bangsa Arab dan agama Islam didorong adanya penerjemahan buku-buku asing, seperti buku-buku para pemikir Yunani, baik dikarang oleh Aristoteles terkait logika dan filsafat serta kajian-kajian ilmiah yang lain.

Program tersebut diawali oleh khalifah Al-Ma’mun melalui perombakan bait Al-hikmah ditambah bangunan yang didirikan oleh Raja Harun Ar-Rosyid dari perpustakaan pribadi menjadi perpustakaan negara dan pusat kajian para cendikiawan dari berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Buah dari keputusan tersebut sangatlah banyak, di antaranya; perumusan nomenklatur nahwu (gramatika Arab) dan perkembangan ilmu mantiq (ilmu logika).

Selain itu, perpustakaan yang dibangun oleh Raja Harun Ar-rosyid berhasil mencetak ilmuan-ilmuan terkemuka. Bahkan banyak dari mereka menjadi guru bagi orang-orang barat, seperti; Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Idris, Ibnu Rusydi, Ibnu Bazah dal Al-Farabi.

Pada masa inilah agama Islam memiliki pengaruh yang sangat besar bagi dunia. Hal ini tidak lain budaya membaca sangat ditekuni.

tonton juga: Pentingnya Menghafal Dasar-dasar Agama I Almaghfurlah KH. Aziz Manshur

Penulis: M. Afsal

Membaca Sebagai Pilar Peradaban

Metode Sukses Membangun Karir

Metode Sukses Membangun Karir | Sebagai manusia pasti selalu menginginkan adanya perubahan dalam hidup. Perubahan yang menjadikan keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena semua orang tidak mau jika hidupnya terus-terusan dalam keadaan begitu-begitu saja (stagnan).

               Untuk itu, kita perlu bergerak. Mengambil langkah menuju perubahan yang diinginkan.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. (Ar-Ra’d [13]: 11)

               Bergerak menyongsong perubahan bisa digapai dengan meniti karir, usaha, atau yang lainnya. Tetapi perlu diingat  bahwa dalam meniti karir tidak serta-merta dapat berjalan lurus dan mudah. Ada saja cobaan dan rintangan yang menghadang.

               Bukan berarti dengan adanya cobaan itu kita berhenti melangkah dan tidak melanjutkan perjuangan yang telah berjalan. Justru hal tersebut merupakan kaidah sukses bagi orang-orang yang sedang berjuang.

baca juga: Kesuksesan Hakiki Menurut Rumi

               Mendapat komentar buruk, hasudan dari orang, dan lain sebagainya, adalah awal mengenyam manisnya perjuangan. Terus saja bergerak dan jadikan komentar negatif dari orang lain sebagai masukan untuk menjadi yang lebih baik. Yang terpenting niat kita untuk menyongsong perubahan itu memang benar-benar baik.

Pendapat Sejarah

               Dalam ‘Ucapan yang Diabadikan Sejarah’ menuliskan:

طَرِيْقَةُ النَّجَاحِ يَبْدَأُ مِنْ شَخْصٍ يَكْسِرُ مِنْ قَلْبِكَ، وَصَدِيْقُ يُخِيْبُ ظَنَّكَ، وَصَاحِبُ نُفُوْذُ يَظْلِمُكَ،

“Metode sukses diawali kehancuran dalam diri atau hatimu, teman yang mengecewakanmu dan orang yang berpengaruh menindasmu.”

               Ketika orang-orang tidak menyukai gerak perubahan kita, dan kita merasa bahwa diri kita berada pada posisi terendah, jangan sampai kita terlena dengan keadaan ini.

               Kemudian dalam kalimat di atas dilanjutkan:

حَتَّي تَيْأَسَ مِنَ النَّاسِ، وَتَلْجَأَ إِلَى اللهِ وَحْدَهُ فَيُغْنِيْكَ

“Sehingga ia memutus harapan kepada manusia dan hanya mengandalkan Tuhan yang mencukupinya.”

Tidak ada yang perlu diresahkan ketika banyak orang yang tidak suka dengan gerak kita. Sebab persepsi orang selalu tidak suka jika mereka merasa tersaingi atau terdapat orang yang berhasil dari dirinya. Terus saja berjuang, bangun karir dan buktikan bahwa Anda juga bisa sukses.

Hanya Allah Swt yang dapat mengamini perjuanganmu menjadi kenyataan. Maka ketika kita telah berjuang, jangan lupa untuk menyandarkan diri kepada Allah Swt bukan kepada manusia yang seringkali hanya membuat kita kecewa.[]

Metode Sukses Membangun Karir

tonton juga: Besarnya Perhatian KH. Marzuqi Dahlan Terhadap Putranya

Sejarah Kurban Idul Adha

Diriwayatkan bahwa Nabi Ibrahim bermimpi tiga malam berturut-turut, seakan ada yang berkata “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu ini. ” Pada pagi harinya beliau berfikir dan merenung. Apakah ini dari Allah atau dari setan? Oleh karena itu, hari ini disebut dengan hari berfikir (Tarwiyah).

Kemudian pada malam berikutnya beliau mengalami mimpi yang sama. Lalu beliau tahu bahwa mimpi tersebut adalah dari Allah. Maka hari itu disebut dengan hari ‘arofah (mengetahui).

Selanjutnya pada malam ketiganya beliau kembali mengalami mimpi yang sama. Maka pada hari itu beliau melaksanakan penyembelihan. Sehingga hari itu disebut dengan hari Nahr (penyembelihan).

Bagaimana berdebarnya perjalanan  kisah tersebut? Mari kita simak alurnya di bawah ini yang dinukil dari Kitab Tafsir Al-Khozin.

Pada tanggal 10 Dzul Hijjah Nabi Ibrahim AS memerintah Nabi Isma’il As agar mengambil tali dan pisau, kemudian mengajaknya mencari kayu bakar ke lereng gunung. Siti Hajar istri Nabi Ibrahim As juga menyangka bahwa kepergian mereka berdua untuk mencari kayu bakar.

Siti Hajar, Ibunda Nabi Isma’il As tidak luput dari godaan setan. Dikabarkan dari Ka’bul Akhbar dan Ibnu Ishaq, bahwa ketika setan melihat Nabi Ibrahim As hendak melaksanakan perintah penyembelihan ini, ia berkata: “Sungguh, jika aku tidak sanggup menggoda keluarga Ibrahim dalam masalah ini, niscaya setelah ini aku tidak akan mampu selamanya menggoda salah satu keluarganya. ” Setan kemudian menyamar sebagai seorang lelaki dan mendatangi ibu Nabi Isma’il As., yakni Siti Hajar, dan ia berkata: “Apakah kamu tahu ke mana Ibrahim membawa anakmu?” Siti Hajar menjawab: “Ia membawanya untuk mencari kayu bakar bersama di lereng gunung ini.” Setan berkata: “Tidak, demi Allah! Ia tidak membawanya melainkan untuk disembelih!” Siti Hajar menimpali: “Tidak akan! Dia lebih menyayanginya dan lebih mencintainya (dari pada aku).” Setan berkata: “Ia menyangka bahwa Tuhannya lah yang memerintahkan itu!” Siti Hajar menjawab: “Jika Tuhannya memerintahnya dengan itu, maka sungguh ia begitu baik dalam menaati Tuhannya.”

Keputusasaan Setan

Setan pun merasa putus asa dari Siti Hajar. Kemudian ia pergi menyusul Nabi Isma’il As yang ketika itu berjalan di belakang ayahnya. Setan berkata: “Wahai anak kecil (usia Nabi Isma’il mendekati baligh), apakah kamu tahu, kamu akan dibawa ke mana oleh ayahmu?” Nabi Isma’il menjawab: “Kami akan mencari kayu bakar bersama di lereng gunung ini.” Setan berkata: “Tidak, demi Allah, ia tidak menginginkan kecuali menyembelihmu.” Nabi Isma’il As Balik bertanya: “Mengapa?” Setan menjawab: “Sesungguhnya Tuhannya memerintahkan itu padanya.” Nabi Isma’il As Berkata: “Maka ayah harus melaksanakan perintah itu. Aku siap mendengarkan dan menaatinya. “

Ketika setan merasa putus asa dari Nabi Isma’il As ia pun menghadang Nabi Ibrahim As. Setan bertanya: “Wahai orang tua, engkau ingin ke mana?” Beliau menjawab: “Ke lereng gunung ini, karena ada sebuah keperluan.” Setan berkata: “Demi Allah, sungguh aku melihat setan telah datang dalam mimpimu dan memerintahmu untuk menyembelih anakmu ini.” Maka, Nabi Ibrahim As pun tahu bahwa lelaki itu adalah setan, lalu beliau berkata: “Menyikirlah dariku wahai musuh Allah. Maka demi Allah, sungguh aku akan melaksanakan perintah Tuhanku ini!” Dikabarkan bahwa Nabi Ibrahim Melempar setan tersebut ketika sampai di Jumrah ‘Aqobah dengan tujuh batu sampai ia menghilang. Kemudian setan menampakkan dirinya lagi di Jumroh Wustho, dan Nabi Ibrahim melemparinya kembali dengan tujuh batu sampai ia menghilang. Lalu setan menampakkan dirinya lagi di Jumroh Kubro, dan Nabi Ibrahim As. Melemparinya kembali dengan tujuh batu sampai ia menghilahng. Untuk mengenang peristiwa ini, disyariatkanlah melempar Jumroh saat pelaksanaan haji dan umroh.

Kesanggupan Nabi Isma’il

Pembaca yang Budiman, Nabi Isma’il pun menyanggupi ajakan Nabi Ibrahim As karena ia mengetahui akan ketinggian derajat ayahnya sebagai Nabi dan Rasul yang mimpinya tidak akan disisipi bisikan setan. Nabi Isma’il As tidak mengajukan banding kepada Allah agar perintah itu diperingan. Beliau sadar betul bahwa perintah Allah pasti akan mendatangkan kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, kata-kata Nabi Isma’il As yang diabadikan dalam Al-Quran:

ستجدني إن شاء الله من الصابرين

 “Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. “ juga merupakan usaha Nabi Isma’il As untuk mendorong ayahnya agar juga sabar dalam menerima dan menjalankan perintah Allah.

Bahkan, Nabi Isma’il As mendukung apa yang dilakukan Nabi Ibarahim dengan berkata: “Wahai ayahku, kuatkanlah tali ikatku supaya aku tidak bergerak meronta. Jagalah bajumu dariku supaya tidak ada bercak darah padanya, sehingga jika ibuku melihatnya ia akan sedih. Tajamkanlah pisaumu dan cepatlah dalam menjalankan pisaumu pada leherku supaya lebih mudah bagiku. Sungguh, kematian adalah hal yang berat. Jika engkau menemui ibuku, maka sampaikanlah salam padanya dariku. Jika engkau ingin mengembalikan bajuku pada ibuku, maka lakukanlah. Semoga hal itu lebih memudahkan Ibu (dalam menahan kesedihan). “

Nabi Ibrahim As berkata: “Engkau adalah pembantu terbaik dalam melaksanakan perintah Allah. “ Kemudian Nabi Ibrahim As menghadap Nabi Isma’il As seraya beliau menangis dan beliau mengikat Nabi Isma’il dan Nabi Isma’il juga menangis. Lalu Nabi Ibrahim meletakkan pisau pada leher Nabi Isma’il, tetapi apa yang terjadi? Leher Nabi Isma’il tidak tergores sama sekali. Kemudian Nabi Ibrahim menajamkan pisaunya kembali dua / tiga kali dengan batu. Akan tetapi tetap saja pisau tersebut tidak mampu menggoresnya sama sekali.

Ketika itu, Sang Putra berkata: “Wahai ayahku, telungkupkanlah aku, karena jika engkau melihat wajahku, aku khawatir engkau akan mengasihiku dan merasa tidak tega. Dan aku khawatir perasaan itu menghalangimu dari melaksanakan perintah Allah. “

Kemudian ketika Nabi Ibrahim meletakkan pisau pada tengkuk Nabi Isma’il, maka pisau tersebut terbalik dengan sendirinya. Saat itu juga Nabi Ibrahim dipanggil: “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah melaksanakan perintah dalam mimpimu. “

Kemudian sebagai ganti Nabi Isma’il, didatangkanlah domba besar dari surga yang pernah menjadi persembahan Habil, putra Nabi Adam As. Nabi Ibrahim pun menyembelih domba tersebut dengan membaca takbir.

Wallohu a’lam bishshowab. Betapa besar kepatuhan keluarga Nabi Ibrahim As. Semoga keluarga kita bisa meneladani Keluarga Nabi Ibrahim As. Amin.

# Sejarah Kurban Idul Adha

Baca juga:
BOLEHKAH SATU KAMBING UNTUK KURBAN SEKELUARGA?

Simak juga:
Prinsip dalam Beramal | KH. M. Anwar Manshur

# Sejarah Kurban Idul Adha # Sejarah Kurban Idul Adha

Tradisi dan Sejarah Yasinan pada Malam Nishfu Sya’ban

Tanggal 15 bulan Sya’ban sudah didepan mata. Untuk menyongsong malam Nisfu Sya’ban, hendaknya kita sesama saudara muslim meminta maaf kepada orang tua, sanak dan teman.

Selain itu, juga jangan sampai untuk melewatkan menghidupkan malam Nisfu Sya’ban. Sudah dikutip dalam tulisan sebelumnya, bahwa siapa yang mau mengisi malam Nishfu Sya’ban dengan amal ibadah, akan diampuni dosa-dosanya. Ukuran paling sedikit untuk “menghidupkan malam Nishfu Sya’ban” adalah dengan menjalankan sholat Isya’ berjama’ah dan ‘azm, atau niatan untuk mendirikan sholat Subuh secara berjamaah keesokan paginya.

Menurut Syaikh Yasir Al Kadamany dari Syiria, dalam rihlah beliau di Pondok Pesantren Lirboyo beberapa waktu silam, saat kita berhasil menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan amal kebaikan, maka itu akan menjadi energi yang sangat besar untuk menyambut datangnya bulan Ramadlan.

Berdoa

Selain mengisi malam Nishfu Sya’ban dengan salat isya berjamaah, kita juga diperkenankan melakukan banyak amaliah lain, seperti salat sunah witir, tahajud, hajat, serta banyak bacaan dzikir, seperti istighfar dan lain-lain. Yang paling utama adalah memperbanyak berdoa. Berharap agar semua hajat dikabulkan oleh Allah SWT. Sebab malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang mustajab untuk berdoa.

عن أبي أمامة الباهلي قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خمس ليال لا ترد فيهن الدعوة، أول ليلة من رجب، وليلة النصف من شعبان، وليلة الجمعة، وليلة الفطر، وليلة النحر.

Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Lima malam yang tidak akan ditolak saat berdoa di dalamnya adalah malam pertama bulan Rajab, malam Nishfu Sya’ban, malam Jumat, malam Idul Fitri dan Malam Idul Adha.”

Ulama salaf salih juga membiasakan membaca surat Yasin sebanyak tiga kali. Tidak diketahui dengan pasti siapakah ulama salaf yang memulai adat ini, namun dalam sebuah keterangan dalam kitab Asna al Mathâlib fi Ahâdits Mukhtalifah al Marâtib, ulama tersebut adalah Syaikh Ahmad bin Ali bin Yusuf, Abu al ‘Abbas al Buni (w. 622 H/1225 M).

وَأَمَّا قِرَاءَةُ سورة يٰسٓ لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُّعاَءِ الْمَشْهُورِ فَمِنْ تَرْتِيبِ بَعْضِ أَهْلِ الصَّلَاحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ. قِيلَ هُوَ الْبُونِيُّ وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ.

“Adapun tradisi Yasinan pada malam Nishfu Sya’ban setelah shalat Maghrib dan doanya yang masyhur, maka merupakan tartib dari salah seorang salih. Ada yang menyatakan bahwa yang dimaksud adalah al Buni. Mengamalkan tradisi seperti Yasinan Malam Nishfu Sya’ban itu tidak apa-apa (boleh).”

Ketika membaca surat Yasin tiga kali, diniatkan tiga hal baik yang berbeda dalam setiap kali bacaan. Kemudian setiap selesai membaca satu kali, dilanjutkan dengan doa. Doa tersebut bisa dibaca sendiri-sendiri atau berjamaah. Dengan satu imam yang membaca dan makmum yang lain cukup mengamini.

Ketika membaca surat Yasin

Yang pertama, diniati diberikan panjang umur dalam ketaatan. Saat membaca surat Yasin kedua, diniati agar terhindar dari musibah serta niat pula agar luas rizkinya. Dan pada waktu membaca surat Yasin yang ketiga kalinya, diniati agar tidak tergantung terhadap manusia, juga niat agar kelak husnul khotimah.

Doa yang dimaksud setelah membaca surat Yasin tersebut, sebagaimana dikutip dari kitab Kanzun Najah adalah,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَـحْبِهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلاَ يُمَنُّ عَلَيْهِ، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالْإِكْرَامِ، يَا ذَا الطَوْلِ وَالْإِنْعَامِ، لَا إلَهَ اِلَّا اَنْتَ، ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ، وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ، وَمَأْمَنَ الْخَائِفِيْنَ. اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُوْمًا أَوْ مَطْرُوْدًا أَوْ مُقْتَرًا عَلَيَّ فِي الرِّزْقِ، فَامْحُ الَّلهُمَّ بِفَضْلِكَ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِي وَطَرْدِيْ وَاِقْتَارَ رِزْقِيْ، وَأَثْبِتْنِيْ عِنْدَكَ فِيْ أُمِّ الْكِتَابِ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ، فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ، فِيْ كِتَابكَ اْلـمُنْزَلِ، عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ اْلـمُرْسَلِ، يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ. اِلَهِيْ بِالتَّجَلِّي اْلاَعْظَمِ، فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْباَنَ اْلـمُكَرَّمِ، الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا كُلُّ أَمْرٍ حَكِيْمٍ وَيُبْرَمُ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَكْشِفَ عَنَّا مِنَ الْبَلاَءِ مَا نَعْلَمُ، وَمَا لَا نَعْلَمُ، وَمَا اَنْتَ بِهِ أَعْلَمُ، اِنَّكَ أَنْتَ اْلأَعَزُّ اْلاَكْرَمُ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Khutbah jumat: Sejarah Seebagai Pembangkit Jiwa

Khutbah jumat: Sejarah, Sebagai Pembangkit Jiwa Menempuh Jalan Ridla-Nya

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

نَحْمَدُ اللهَ الرَّؤُوفَ الْمَنَّانَ, وَنُصَلِّي وَنُسَلِّمُ عَلَى أَفْضَلِ الإِنْسَانِ,
 وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الحِسَانِ, والَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ إِلَى آخِرِ الزَّمَانِ,
 ابْتِغَاءً مِنَ اللهِ الفَضْلَ وَالرِّضْوَانَ.
أمَّا بَعد. فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَموتُنَّ إَلَّا وَأنتُم مُسلِمُون.

               Jama’ah jumat rahimakumullah…
Marilah kita senantiasa meningkatkan kuwalitas iman dan takwa kita, selagi kita diberi kesempatan hidup di dunia.
               Dalam menjalani kehidupan, kita mendapat jatah menghuni dunia pada saat usianya sudah tua renta. Sebelum kita, telah banyak umat-umat yang menghuni dunia ini. Namun demikian, kita memperoleh anugrah yang sangat besar, menjadi sebaik-baik umat, menjadi umat Nabi terakhir.

               Sebelum Nabi Muhammad Saw., telah banyak para utusan yang mendapat amanah membawa pesan suci dari Sang Khaliq. Dan seperti masa sekarang, di antara umat-umat terdahulu ada yang beriman, ada pula yang kafir. Ada yang patuh  kepada perintah sang Rasul, ada pula yang membantah, bahkan memusuhi.

               Jama’ah jumat rahimakumullah…
               Atas semua ini, kita diperintahkan oleh Allah Swt untuk mempelajari kejadian-kejadian masa lalu, kisah-kisah sejarah umat terdahulu. Semuanya bertujuan agar kita bisa meneladani yang baik dan menghindari yang buruk dari perilaku mereka. Karena itulah Allah mengisyaratkan pentingnya belajar sejarah dalam firman-Nya:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ.

Artinya: “Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Qs. Al-Fatihah; 6-7)

               Dalam ayat ini Allah mengisyaratkan perintah untuk meneladani jalan lurus yang ditempuh oleh orang-orang yang mendapat nikmat, dan menghindari kesesatan orang-orang yang dimurkai Allah. Untuk dapat merealisasikan hal tersebut, tentu kita harus mencari tahu sejarah keberhasilan umat yang selamat. Begitu juga, kita harus mengetahui dan mengkaji sebab-sebab kesesatan dan kebinasaan umat yang celaka mendapat murka-Nya.

Baca Juga Khutbah Jumat ; Cara Merai Rida-Nya

               Dalam beberapa firman yang lain, bahkan secara tegas Allah memerintahkan umat manusia mengelilingi tempat-tempat bersejarah, untuk mengetahui betapa berat akibat yang ditimpakan kepada mereka yang tidak mematuhi para utusan.
Allah Azza Wa Jalla berfirman:

قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلُ ۚ كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُشْرِكِينَ

Artinya: “Katakanlah: Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana (akibat) orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).” (Qs. Ar-Rum; 42)

               Jama’ah jumat rahimakumullah…
               Pentingnya mengkaji sejarah bagi kehidupan umat, dapat juga kita buktikan dengan banyaknya ayat-ayat Al-Quran yang berisi tentang kisah-kisah sejarah. Imam ats-Tsa’labi menjelaskan bahwa ayat-ayat al-Quran yang membicarakan tentang sejarah (kisah-kisah) itu dua kali lipat lebih banyak dari pada ayat-ayat yang membicarakan tentang hukum halal haram.

               Dalam al-Qur’an kita bisa temukan kisah kaum Nabi Nuh yang ditenggelamkan oleh banjir bandang akibat kedurhakaan mereka pada sang Nabi, sedangkan mereka yang patuh diselamatkan dengan bahtera Nabi Nuh. Ada juga kisah bangsa ‘Ad (kaum Nabi Hud) yang dibinasakan dengan badai angin yang meluntuhlantahkan segala yang diterjangnya. Masih ada lagi kisah bangsa Tsamud (kaum Nabi Sholih) yang dibinasakan dengan hentakan suara malaikat hingga nyawa mereka melayang, meninggalkan raga. Dan masih banyak lagi kisah bangsa-bangsa terdahulu yang termaktub dan diabadikan dalam al-Quran.

               Mendengar dan mengkaji sejarah bangsa-bangsa ini tentu mengantarkan kita sadarkan diri, menumbuhkan motivasi dan kekuatan jiwa untuk selalu patuh dan taat pada perintah Allah yang diamanatkan pada para Rasul. Sejarah adalah cermin kehidupan masa lalu agar menjadi pelajaran dan teladan bagi generasi setelahnya.
               Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman mengenai pentingnya mengkaji sejarah:

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Maka ceritakanlah wahai Nabi kisah ini kepada kaummu agar mereka berfikir.”
(Qs. Al-A’raf; 176)

               Jama’ah jumat rahimakumullah…
               Selain mempelajari sejarah bangsa-bangsa yang dimusnahkan, dengan mengkaji sejarah kita juga bisa mengetahui kisah keberhasilan orang-orang yang dekat dan dicintai Allah. Kesabaran Nabi Nuh yang berdakwah selama 950 tahun, atau ketabahan nabi Ibrahim saat harus dibakar api. Lebih-lebih sirah nabawiyah (kisah perjalanan hidup Baginda Nabi Muhammad Saw) yang penuh dengan teladan dan hikmah, karena beliau adalah uswah (teladan) bagi umat manusia dalam segala sisi kehidupan.

Baca Juga Kumpulan Khutbah

               Melalui pemahaman sirah nabawiyyah yang tepat dan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, setiap muslim akan mendapatkan gambaran yang utuh dan paripurna tentang  bagaimana menjalani hidup. Baik mengenai hubungan seorang hamba dengan Sang Khaliq, hubungannya dengan sesama, maupun dalam mengatur kehidupan pribadi sekalipun.

               Terakhir, semoga kita bisa memahami kisah-kisah sejarah masa lalu sebagai bekal pembelajaran menjalani hidup sebagai generasi akhir, sebagai umat terbaik, umat Nabi Muhammad Saw. Terlebih lagi, semoga kita mampu meneladani kehidupan para pendahulu kita, para Nabi dan kekasih Allah, dengan mempelajari kisah perjalanan mereka.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُم فِى القُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ  بِمَا فيهِ مِن آيَةٍ وَذِكرِ الحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا  وَمِنكُم تِلَاوَتَهُ وَإنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ.
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيطَانِ الرَّجِيمِ. الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ. وَقُل رَّبِّ ٱغْفِرْ وَٱرْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَتكَ اْلمُقَرَّبِيْنَ اللّهُمَّ وَارْضَ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِيٍّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ
يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوهُ مِن فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أكبَر

Baca juga: Khutbah Jumat: Meraih Rida-Nya dengan Berdzikir