Tag Archives: mayit

Donasi yang Mentradisi

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sudah menjadi sebuah tradisi di wilayah Jember, di mana kala ada tetangga yang meninggal dunia, tetangga yang lain sama-sama berbondong-bondong mengantarkan si kemayit ke kuburan. Tidak hanya itu, prosesi mengantarkan mayit juga sambil membawa kardus untuk meminta sumbangan pada setiap orang yang berpapasan dengan iring-iringan pembawa mayit, baik pejalan kaki, pengendara motor, ataupun pengendara mobil. Uang yang terkumpul biasanya diberikan kepada shohibul musibah secara utuh. Namun ada pula yang sebagian diambil untuk sebatas membeli air mineral gelasan untuk memberi minuman bagi yang sudah bersusah-payah mengantarkan mayit sampai kuburan.

Yang kami tanyakan ialah bagaimana hukum meminta sumbangan dalam tradisi tersebut?. Dan bolehkah si penarik uang mengambil sebagian hasil uang sumbangan untuk dibelanjakan atau ditasharrufkan selain pada shohibul musibah? terimakasih.

(Arid– Jember, Jawa Timur)

________________________

AdminWa’alaikumsalam Wr. Wb.

Dalam tradisi yang ada di wilayah Jember tersebut ada dua hal yang perlu diperhatikan, yakni hukum meminta sumbangan yang dilakukan oleh para relawan dan hukum mengambil sebagian hasil uang sumbangan yang dilakukan oleh relawan penarik sumbangan.

Pada dasarnya, hukum meminta diperinci oleh para ulama. Sebagaimana keterangan imam an-nawawi dala, kitab Syarah Shahih Muslim yang kemudian dikutip oleh imam Ibnu Hajar dalam kitabnya, Fathul Bari ‘ala Shahih al-Bukhari:

قَالَ النَّوَوِيْ فِيْ شَرْحِ مُسْلِمِ اِتَّفَقَ الْعُلَمَاءُ عَلَى النَّهْيِ عَنِ السُّؤَالِ مِنْ غَيْرِ ضَرُوْرَةٍ قَالَ وَاخْتَلَفَ أَصْحَابُنَا فِيْ سُؤَالِ الْقَادِرِ عَلَى الْكَسْبِ عَلَى وَجْهَيْنِ أَصَحُّهُمَا التَّحْرِيْمُ لِظَاهِرِ الْأَحَادِيْثِ وَالثَّانِيْ يَجُوْزُ مَعَ الْكَرَاهَةِ بِشُرُوْطٍ ثَلَاثَةٍ أَنْ لَا يُلِحَّ وَلَا يُذِلَّ نَفْسَهُ زِيَادَةً عَلَى ذُلِّ نَفْسِ السُّؤَالِ وَلَا يُؤْذِي الْمَسْئُوْلَ فَإِنْ فُقِدَ شَرْطٌ مِنْ ذَلِكَ حَرُمَ

Imam an-Nawawi mengatakan dalam kitab Syarah Shahih Muslim bahwasanya para ulama telah sepakat melarang meminta-minta selain dalam keadaan darurat. Imam an-Nawawi juga berkata bahwa para ashab as-Syafi’i masih berbeda pendapat dalam kasus seseorang meminta-minta yang sebenarnya ia masih mampu bekerja. Pendapat yang lebih shahih menyatakan haram menimbang apa yang ada dalam keterangan hadis. Menurut pendapat kedua menyatakan boleh namun makruh. Kebolehan ini harus memenuhi tiga syarat, yaitu tidak dengan cara memaksa, tidak menghinakan dirinya, dan tidak menyakiti orang yang diminta. Apabila ketiga syarat ini tidak terpenuhi, maka hukumnya haram.”[1]

Pemilahan hukum tersebut hanya berlaku apabila seseorang meminta dengan kemauan serta untuk dirinya sendiri. Adapun relawan yang meminta sumbangan untuk orang lain yang membutuhkan hukumnya diperbolehkan karena hal tersebut termasuk ma’unah (membantu pada kebaikan). Sebagaimana keterangan dalam kitab Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin syarh Ihya’ ‘Ulumuddin:

إِعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ وَرَدَتْ مَنَاهٍ كَثِيْرَةٌ فِي السُّؤَالِ وَتَشْدِيْدَاتٌ عَظِيْمَةٌ تَدُلُّ عَلَى تَحْرِيْمِهِ وَالْمُرَادُ بِالسُّؤَالِ هُنَّا سُؤَالُ النَّاسِ عَامَّةً وَيَكُوْنُ ذَلِكَ لِنَفْسِهِ وَخَرَجَ بِذَلِكَ مَا إِذَا كَانَ يَسْأَلُ لِغَيْرِهِ فَهَذَا غَيْرُ دَاخِلٍ فِيْ تِلْكَ التَّشْدِيْدَاتِ بَلْ هُوَ مَعُوْنَةٌ

Ketahuilah bahwa sudah begitu banyak larangan untuk meminta-minta dan keterangan mengenai mengharamkannya. Akan tetapi yang dimaksud meminta di situ ialah hukum meminta secara umum yang mana hasilnya untuk dirinya sendiri. Sehingga apabila ada relawan yang meminta sumbangan yang hasilnya diberikan untuk orang lain tidak masuk dalam hukum larangan ini, karena hal itu termasuk praktek Ma’unah (membantu pada kebaikan)”.[2]

Dalam prakteknya, apabila relawan mengambil sebagian hasil sumbangan yang telah terkumpul maka hukumnya tidak diperbolehkan, kecuali ada dugaan (dzon) kuat bahwa shohibul musibah telah merelakannya. Sebagaimana ungkapan imam Ibnu Hajar dalam kitab al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro:

 (وَسُئِلَ) بِمَا لَفْظُهُ هَلْ جَوَازُ الْأَخْذ بِعِلْمِ الرِّضَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ أَمْ مَخْصُوصٌ بِطَعَامِ الضِّيَافَةِ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ كَلَامُهُمْ أَنَّهُ غَيْر مَخْصُوصٍ بِذَلِكَ وَصَرَّحُوا بِأَنَّ غَلَبَةَ الظَّنِّ كَالْعِلْمِ فِي ذَلِكَ وَحِينَئِذٍ فَمَتَى غَلَبَ ظَنُّهُ أَنَّ الْمَالِكَ يَسْمَحُ لَهُ بِأَخْذِ شَيْءٍ مُعَيَّنٍ مِنْ مَالِهِ جَازَ لَهُ أَخْذُهُ ثُمَّ إنْ بَانَ خِلَافُ ظَنّه لَزِمَهُ ضَمَانُهُ

Pertanyaan: apakah mengambil barang orang lain dengan mengetahui indikasi kerelaan hanya tertentu untuk jamuan tamu?. Jawaban: mengambil barang orang lain dengan mengetahui indikasi kerelaan tidak tertentu hanya untuk jamuan tamu. Para ulama menjelaskan bahwasanya dugaan adanya kerelaan itu sama dengan mengetahui kerelaannya. Maka dari itu, ketika seseorang menemukan indikasi kerelaan bahwa pemilik barang memperbolehkan untuk mengambil barangnya, maka bagi seseorang yang mengetahui indikasi tersebut boleh mengambilnya. Namun apabila realita berkata sebaliknya, maka harus mengganti rugi apa yang telah diambilnya”.[3] []waAllahu a’lam

 

_______________

[1] Fath al-Bari, X/408, Maktabah Syamilah.

[2] Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin Syarh Ihya’ ‘Ulumuddin, IX/302.

[3] al-Fatawi al-Fiqhiyyah al-Kubro, IV/116, Darul Fikr.

Kisah Sedekah dan Doa Untuk Jenazah

Dikisahkan dari Abi Qolabah:

Pada suatu hari, Abi Qolabah bermimpi melihat suatu pemakaman . Tiba-tiba, ia menyaksikan kuburan di situ seakan-akan terbelah. Mayat-mayat pun keluar dari kuburnya dan duduk di tepi kuburan. Seolah-olah di tangan masing-masing dari mereka terdapat nampan yang terbuat dari cahaya yang cemerlang. Di antara mereka, Abi Qolabah melihat seorang mayat laki-laki yang tidak memiliki nampan cahaya di tangannya.

Mengapa aku tak melihat cahaya diantara kedua tanganmu?”, tanya Abi Qolabah pada laki-laki tersebut.

Sesungguhnya mereka mempunyai anak dan kerabat yang mendoakan mereka dan bersedekah untuk mereka. Dan cahaya itu lah buah dari apa yang dipersembahkan untuk mereka. Sementara aku mempunyai anak yang tidak shaleh dan tidak mau mendoakan serta tidak bersedekah untukku. Oleh karena itu aku tidak memiliki nampan bercahaya. Dan aku sangat malu terhadap tetangga-tetanggaku di sini”, jawab laki-laki tersebut.

Kemudian, ketika Abi Qolabah terbangun dari tidurnya, segera dia menuju rumah si anak yang disebut oleh laki-laki dalam mimpinya itu. Dan menceritakan semua kejadian yang dialami dalam mimpinya.

Lalu anak itu berkata kepada Abi Qolabah, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya aku bertobat dan tidak akan kembali pada hal yang telah aku lakukan”.

Sejak sat itu, sang anak menyibukkan dirinya hanya untuk taat kepada Allah, berdoa dan bersedekah yang ditujukan kepada ayahnya.

Beberapa hari telah berlalu, Abi Qolabah kembali bermimpi berada di sekitar pemakaman yang dulu pernah muncul dalam mimpinya. Laki-laki yang dulu pernah dilihatnya, kini sudah memiliki nampan yang bercahaya pula. Bahkan nampan miliknya lebih berkilau daripada matahari dan lebih bersinar daripada yang lain.

Laki-laki itu berkata kepadanya,  “Wahai Abi Qolabah, semoga Allah membalas kebaikanmu. Karena berkat nasihatmu, anakku selamat dari api neraka dan juga aku terhindar dari rasa malu di antara tetanggaku, Alhamdulillah”.

[]waAllahu a’lam

____________

Disarikan dari kitab An-Nawadir, karya syech Ahmad Syihabuddin bin Salamah Al-Qulyubi, halaman 43, cetakan Al-Haromain.

Kesaksian Baik Pada Mayit

Kematian adalah sebuah kepastian bagi setiap yang hidup, kedatangannya tak di duga, bisa kapan saja, tidak peduli dengan kondisi empunya nyawa, sanak yang di tinggal, atau penyebabnya. Hanya bisa pasrah dan rela dengan hasil amal yang pernah di perjuangkan dulu, baik ataupun buruknya.

Disaat nyawa sudah terpisah dengan wadanya yakni tubuh, di situlah kewajiban-kewajiban bagi yang asih hidup di mulai menyangkut tindakan berikutnya kepada si mayat. Meliputi memandikannya, mengkafani, mensholati hingga mengkuburnya.

Setelah semua beres, sebelum mayit di bawa di pekuburan, hal yang lumrah terjadi di lingkungan kita adalah meminta persaksian baik, memohon bagi para hadirin yang masih mempunya sangkut paut urusan duniawi maupun ukhrowi dengan si mayyit agar menembusi dan menjelaskan perkaranya kepada pihak keluarga, yang biasanya hal ini di lakukan oleh perwakilan keluarga, atau tokoh masyarakat setempat.

Persaksian baik kepada para hadirin tentang perilaku mayik waktu di dunia, merupan kebiasaan yang baik, yang patut terus di lestarikan karena juga termasuk kearifan lokal kita. Hal ini bukanlah tanpa dasar, Nabi sendiri bersabda :

أَيُّمَا مُسْلِمٍ شَهِدَ لَهُ أَرْبَعَةٌ بِخَيْرٍ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ فَقُلْنَا وَثَلَاثَةٌ قَالَ وَثَلَاثَةٌ فَقُلْنَا وَاثْنَانِ قَالَ وَاثْنَانِ ثُمَّ لَمْ نَسْأَلْهُ عَنْ الْوَاحِدِ
صحيح البخاري                                                                                

“Tiadalah empat orang muslim bersaksi bahwa seorang jenazah itu orang baik, maka Allah masukkan ia ke sorga”, maka kami berkata : Bagaimana jika cuma 3 orang yg bersaksi?, beliau saw bersabda : “walau tiga”, lalu kami berkata : jika cuma dua?, beliau bersabda : “walau dua”. Lalu kami tak bertanya jika hanya satu” (Shahih Bukhari)

Dengan begitu ketika meminta persaksian kepada para hadirin, harapan terbesar keluarga yang di tinggal, persaksian tersebut di harap akan menolong dan mempermudah jalan panjang sang mayit di akhirat sana.

Selain itu, kita sebagai yang masih hidup, sangat di anjurkan supaya berprasangka baik kepada siapapun, bahkan kepada si mayit, entah kita memang benar-benar tahu perihal kenyataannya tatkala masih hidup ataupun tidak. Karena hanya allahlah yang tau baik buruknya seseorang, apalagi di saat sebelum kematian menjemput, yang merupakan saat penentu keselamatan atau celakanya seseorang.

Menyitir hadis di atas, pernah suatu ketika sayyidina umar bersama dengan shahabat yang lain berpapasan dengan segerombolan orang yang hendak membawa mayit ke pekuburan, para sahabat berkata bahwa “orang ini orang yang baik”.

maka berkatalah Sayyidina Umar bin Khattab ra:

“memang sepantasnya ia mendapatkan surga”.

Lalu lewat jenazah kedua, para sahabat berkata “ini orang yang tidak baik”.

 maka berkatalah Sayyidina Umar bin Khattab yaitu “pantas baginya kehinaan neraka”.

Para Sahabat bertanya tentang komentar beliau tadi, maka Sayyidina Umar meriwayatkan hadits ini lalu ada tambahannya : 

“antum syuhada’ullah fil ardh

 kalian adalah saksi – saksi Allah di muka bumi.

Menunjukkan dari bentuk kemuliaan hadits ini bagaimana eratnya hubungan muslimin – muslimat, satu sama lain menyaksikan kebaikan saudaranya maka itu menjadi dalil yang kuat baginya di hadapan Allah untuk diselamatkan dari kemurkaan Allah.

Semakin banyak orang menyaksikan ia berbuat baik di muka bumi maka semakin kuat bahwa ia kelak akan masuk surganya Allah.

Semoga kita bisa meraih husnul khotimah di akhir hidup kita kelak, amiin

 

Bahtsul Masail Shughro ke-4 PP HMQ

LirboyoNet, Kediri—Pernikahan lintas agama, jika memang terjadi, akan mengundang permasalahan segudang. Karenanya, untuk pernikahan jenis ini, celah di dalam ranah fikih pun demikian sempit, jika enggan mengatakannya tertutup samasekali.

Bahtsul Masa-il Shughro Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi-aat Al-Qur’aniyyah (HMQ) yang terlaksana Jumat (04/11) kemarin tertarik untuk mengupas beberapa diantara masalah itu. Akan terjadi dilema, ketika di dalam satu keluarga terdapat beberapa keyakinan yang dianut. Contohnya, ketika sang ayah yang muslim, meninggal, sementara keluarga menghendaki cara pemakaman non-islam, apa yang seharusnya dilakukan? Tentu, mempertahankannya, dan memaksa untuk tetap memakamkannya secara muslim. Tapi, bagaimana jika yang bisa mempertahankan hanya sang bungsu yang lemah, dan memilih mengalah?

Permasalahan ini, dan beberapa permasalahan lainnya, menjadi bahan diskusi bagi 70-an santri putri se-Karesidenan Kediri. Terselenggara di aula pondok, diskusi ini terbagi menjadi dua sesi (jaltsah): jaltsah ula dilaksanakan pagi, dan jaltsah tsaniyah terlaksana sore hari.

Bahtsul masail yang terlaksana ke empat kalinya ini dihadiri oleh KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus, sang pengasuh, dan beberapa dzuriyah lain yang berlaku sebagai mushahih (pengesah hasil diskusi).

Hasil bahtsul masail bisa didownload di sini.