Tag Archives: Kisah

Hakikat Kaya dan Miskin

Pada suatu hari, ada orang kaya hendak memberi hadiah uang senilai lima ratus dinar kepada imam Junaid. Uang itu diletakkan di depan ulama yang terkenal dengan kesufiannya tersebut.

Melihat hal itu, imam Junaid bertanya, “Engkau masih punya uang selain itu?”

Iya, uang saya sangat banyak.” jawab orang kaya tersebut.

“Apakah engkau masih terus bekerja untuk mendapatkan uang?” imam Junaid kembali bertanya.

“Iya.” orang kaya itu menjawabnya singkat.

“Engkau lebih berhak atas uang ini daripada saya. Saya tidak memiliki uang sebanyak ini. Alhamdulillah, aku tidak ingin mencari bahkan mendapatkannya.” terang imam Junaid kepada orang kaya tersebut.

Dari jawabannya memberikan kejelasan bahwa hakikat kaya adalah perasaan cukup dan mensyukuri atas apa yang dimiliki. Begitu pula sebaliknya, hakikat kefakiran adalah perasaan tamak dan tidak cukup dengan apa yang dimilikinya meskipun ia bergelimang harta.[1] []


[1] Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, hlm. 378.

Mengusir Pengemis

Pada suatu hari, ada seorang saudagar kaya yang sedang menikmati hidangan ayam bersama istrinya. Tiba-tiba, ada suara seseorang yang mengetuk pintu. Setelah dibuka, seorang pengemis laki-laki berdiri di depan pintu mengharap belas kasihannya.

Apakah engkau tak mau bersedekah makanan ini untuknya?” tanya sang istri kepada suaminya.

Oh, tidak. Kemarilah dan tinggalkan pengemis itu.” jawab sang suami.

Singkat cerita, suami tersebut bangkrut dan ia jatuh miskin. Dampak dari kemiskinan itu, akhirnya ia menceraikan istrinya. Selang beberapa saat, sang istri menikah dengan pria lain.

Pada suatu hari, sang istri tersebut duduk bersama suami barunya untuk menikmati hidangan ayam kesukaannya. Di saat itu pula, terdengar suara pengemis yang meminta-minta sambil mengetuk pintu.

Ambillah makanan ini dan berikan kepada pengemis tersebut.” perintah suami baru tersebut.

Setelah memberikan sepotong ayam tersebut, sang istri kembali seraya menangis sejadi-jadinya.

Mengapa engkau menangis istriku? Aapakah engkau menangis karena aku mensedekahkan makanan itu?” tanya suami baru tersebut heran.

Tidak, suamiku. Apakah engkau tau siapa pengemis tadi? Dia adalah suamiku yang dulu.” Jawab sang istri seraya mengusap air matanya.

Setelah menghela nafas, sang suami bari itu menjawab, “Apakah engkau tau siapa aku? Aku adalah pengemis yang dulu pernah diusir suamimu.”

_________________________________________

Dasarikan dari kitab Anis Al-Mu’minin hlm. 108 yang dikutip kembali dalam kitab Fawaid Al-Mukhtarah hlm. 176.

Aisyah dan Rembulan yang Jatuh di Rumahnya

Rumah Sayyidah Aisyah menjadi rumah terakhir yang ditinggali Rasulullah, sebelum beliau wafat. Dan Aisyah pun menjadi satu-satunya tumpahan isi hati Rasulullah menjelang kepergiannya. Di hari-hari akhir itu, Rasulullah berbisik kepada Aisyah. “Tidak ada seorang nabi pun yang dicabut nyawanya, kecuali setelah ia diperlihatkan tempatnya di surga kelak.”

Beberapa waktu kemudian, kala detik terakhir hampir tiba, beliau pingsan di pangkuan Aisyah. Ketika sadar, pandangan mata beliau terangkat. Beliau mendesahkan satu kalimat.

اللهم في الرفيق الأعلى

Duhai tuhanku, kekasih yang luhur…”

Rupanya beliau telah ditunjukkan oleh Allah tempat yang akan dihuninya di surga kelak. Setelah kalimat itu terucap, Aisyah memandangi wajah beliau. Ia menyandarkan kepala beliau di peraduan. Kabar duka kemudian menyebar: Rasulullah, sang manusia sempurna akhlaknya, telah paripurna usianya. Istri-istri beliau berkumpul. Aisyah begitu terpukul.

Di kemudian hari, Aisyah mengenang hari-hari itu. “Sungguh, sebagian dari nikmat nikmat Allah yang diberikan padaku adalah Rasulullah wafat di rumahku, di hariku, dan Allah menyatukan cintaku dan cintanya saat wafatnya.”

Ia bahagia, sekaligus menderita. Dan penderitaan-penderitaan yang berat datang silih berganti di kehidupannya. Apalagi ketika ayahnya dilanda sakit parah.

Kala Abu Bakar berada di titik itu, Aisyah lah yang menjadi teman hidup di detik-detik terakhir sahabat terbaik Rasulullah saw. itu. Abu Bakar menyanjung kebaikan hati putrinya. “Anakku, engkau adalah manusia yang paling kucinta. Aku meninggalkan untukmu tanah di sana dan disana, yang kau pun tahu…” Aisyah terus mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan ayahnya. Hingga Abu Bakar sampai pada kalimat yang menggetarkan hati, “Berapa lapiskah kalian mengkafani Rasulullah?”

Aisyah menjawabnya layaknya cinta anak kepada sang ayah,“Tiga lapis baju putih. Tanpa gamis. Tanpa imamah.” Aisyah menguatkan hatinya. Terutama untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ayahnya setelah itu.

“Hari apa Rasulullah wafat?”

Hari Senin.

“Ini hari apa?”

Hari Senin.

“Aku berharap aku wafat antara sekarang hingga nanti petang.”Abu Bakar kemudian memandang bajunya yang beraroma za’faran. “Cuci bajuku ini dan tambah dua baju lagi. Kafani aku dengannya.” Abu Bakar sangat menginginkan hari itu menjadi hari terakhirnya. Sebagaimana menjadi hari terakhir manusia yang dicintainya, Rasulullah saw.

Tetapi Allah lah penentu segala kehendak. Beliau wafat tidak pada hari itu. Beliau wafat besoknya, kala hari beranjak sore. Ia pun dimakamkan di kamar Aisyah, di dekat makam Rasulullah saw. Kepala Abu Bakar disejajarkan dengan pundak Rasulullah saw.

Dua peristiwa mengharukan ini, wafatnya Rasulullah dan Abu Bakar di pangkuan Aisyah, seakan menjadi wujud dari mimpi Aisyah suatu waktu dulu.

Ia bermimpi dalam tidurnya bahwa tiga rembulan jatuh di kamarnya. Ia menanyakan mimpi itu kepada ayahnya, Abu Bakar. “Wahai Aisyah. Jika mimpimu itu benar, akan terkubur di rumahmu tiga manusia terbaik di muka bumi ini.”

Ketika Rasulullah wafat dan dimakamkan di kamar Aisyah, Abu Bakar berkata, “Wahai Aisyah. Inilah salah satu rembulan itu. Ia rembulan yang terbaik.” Selain satu rembulan terbaik itu, dua rembulan lainnya adalah ayahnya dan Umar bin Khattab. Ketiganya dimakamkan bersandingan.

Sepeninggal Rasulullah, Sayyidah Aisyah hidup menjanda. Dan waktunya terlewat –40 tahun—dengan tetap menjanda. Ia menetap di kamarnya sepanjang sisa hidupnya, di samping makam al-mushtafa, kekasihnya. Ia tak pergi dari sana kecuali umrah, haji, dan berkunjung ke sanak saudara.

______________________________

Sirah al-Sayyidah ‘Aisyah Umm al-Mukminin. Sayyid Sulaiman al-Nadwi.  hal. 151-155.

Perempuan yang Dimuliakan di Bulan Rajab

Kemuliaan bulan Rajab bukan hanya milik manusia-manusia di Makkah. Atau orang-orang yang shalat di depan Ka’bah. Bulan Rajab itu, di sudut Baitul Makdis, seorang perempuan dengan tekun menghadap tuhannya. Bukan hanya bulan Rajab sebenarnya. Ia juga rajib beribadah di bulan-bulan sebelumnya. Namun khusus bulan itu, ia membaca surat al Ikhlas sebelas kali setiap harinya.

Demi mengagungkan mengagungkan bulan itu, ia juga enggan memakai pakaian yang indah. Ia menggantinya dengan pakaian lusuh. Dengan keengganannya itu ia seperti ingin melepaskan segala ego dan kepentingan duniawi, dan memilih mendedikasikan dirinya untuk beribadah dan berbakti.

Di tengah ketekunannya itu, ia jatuh sakit. Sakit yang parah. Sebegitu parahnya, ia bahkan merasa tak bakal sembuh. Ia pun berwasiat kepada putranya, barangkali maut menjemput sewaktu-waktu. “Anakku, ketika aku meninggal nanti, kuburkan aku dengan kain lusuh.” Ia sepertinya benar-benar telah memutus hubungannya dengan nafsu duniawi.

Dan tibalah waktu itu. ia meninggalkan dunia tempatnya memunajatkan harapan dan permohonan-permohonan. Sayangnya, satu permohonan yang ia pintakan pada anaknya ternyata tak terwujud. Sang anak tidak melakukan apa yang ibunya inginkan. Sebaliknya, ia memilih mengkafani ibunya denga kafan yang baru. Akan sangan memalukan bagi dirinya kalau saja ibundanya dikafani dengan kain lusuh. Apa kata masyarakat nanti.

Seusai pemakaman, ia terlelap. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu ibunya. “Anakku, mengapa tak kau tunaikan wasiat dariku?” sang anak merasa ada sesuatu yang mengganja hatinya: rasa bersalah. “Aku tak meridloimu.”

Seperti mendengar sambaran petir, ia sontak bangun dari tidur. Ia merenung. Sedih. Takut. Hatinya dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat. Tanpa menunggu waktu, ia bergegas menuju pemakaman ibunya. Ia gali kembali kuburan ibunya. Ia tak menemukan apapun selain tanah yang kosong. Jenazah ibunya tak ada. Kesedihannya semakin menjadi-jadi. Hatinya hancur. Jiwanya remuk. Ia hanya bisa menangis. Tersedu sedan.

Tiba-tiba ada suara yang berbicara di dekatnya. Barangkali suara itulah yang menghibur dirinya nanti. “Tak tahukah engkau bahwa bulan Rajab adalah bulan agung. Orang yang memuliakannya tak akan dibiarkan di dalam tanah sendirian.”

Ia masih bersedih. Ia menyesal karena tak memenuhi permohonan terakhir dari ibunya. Tetapi tentu ia juga bahagia. Kini ia tahu ke mana jenazah dan jiwa ibunya: ada di tempat istimewa di samping tuhannya.

_______________________________________

Penulis: M. Hisyam Syafiqir Rahman, Pengurus Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) P2L

Mensyukuri Jodoh

Pada suatu hari, Al-Atabi sedang berjalan di jalanan kota Bashrah, Irak. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang wanita berparas cantik jelita yang sedang bergurau dengan lelaki tua yang berwajah buruk. Ketika lelaki tua itu berbicara sang wanita, wanita tersebut pun lantas tertawa.

Melihat kemesraan tersebut, akhirnya Al-Atabi penasaran. Ia bertanya kepada sang wanita, “Siapakah dan apa hubungan lelaki tua ini denganmu?

“Dia adalah suamiku.” jawab wanita cantik tersebut.

Bagaimana kamu bisa sabar dengan kejelekannya, sementara engkau adalah wanita yang sangat cantik?. Ini bukan hal yang lumrah.” tanya Al-Atabi penasaran.

Ingatlah, ketika mendapatkan istri sepertiku, ia bersyukur. Begitu juga aku ketika mendapatkan suami seperti dia, aku bersabar. Orang-orang yang bersyukur dan bersabar dijamin masuk surga. Apakah engkau tidak ridho dengan pemberian Allah padaku?” pungkas wanita tersebut.


Disarikan dari kitab An-Nawadir, hal. 176, karya Imam Al-Qulyubi.